09 June 2026

Kisah Yue Liang, Dewi Bulan Pertama Di Dunia Bersama Tai Yang, Dewa Matahari Pertama Di Dunia


Lahirnya Dewi Bulan pertama, adalah berasal dari bencana kelaparan yang terjadi di Fu Jian, Tiongkok Daratan, berkalpa-kalpa tahun yang lalu.

Di tahun-tahun awal, setelah wafatnya Yue Nii Gu Niang. Lima ratus tahun kemudian, Yue Nii Gu Niang kembali bereinkarnasi menjadi seorang wanita Bernama Yue Liang.


Tai Yang dan Yue Liang adalah sepasang suami istri yang baru menikah selama dua minggu. baru dua minggu sejak hari pernikahan mereka berdua, Tiongkok Daratan diserang gagal panen akibat musim gugur panas yang tiba-tiba terjadi di daerah Tiongkok Daratan. Tiba-tiba tanah menjadi tandus, kering, dan retak. Rumput-rumput ilalang menguning, dahan dan daun-daun berguguran menjadi begitu kering. Banyak pohon yang mendadak menjadi mati kekeringan.

Meskipun tanah dan udara kering mencoklat seperti kepanasan, tetapi sebenarnya udara cukup sejuk. Hal ini sangat aneh bagi Yue Liang dan Tai Yang, karena hal ini baru terjadi saat ini. 

Banyak orang tua dan anak-anak yang kelaparan dan kehausan. Yue Liang dan Tai Yang, sudah tiga hari yang lalu sejak makan terakhir. Sayur-sayuran yang disimpan masyarakat ternyata sudah menguning dan mengering. Beberapa nenek-nenek akhirnya merendam sayuran yang menguning tersebut dengan air laut dan batang tebu selama tiga hari (untuk membuat manisan supaya bisa disimpan lebih lama lagi sehingga tidak membuang-buang sayuran di saat musim kering) dan dijemur lagi selama tiga sampai empat hari di atap rumah beralaskan sebuah nampan. Yang kelak kemudian hari, kita sebut sayuran kering berwarna cokelat tersebut dengan nama Ham Choi Kon.

Saat itu Yue Liang dan Tai Yang memutuskan untuk membuat panganan kue pia kering. Saat itu, gagal panen padi membuat penggilingan beras desa terhenti. Membuat Yue Liang dan Tai Yang mencari pengganti tepung beras untuk membuat sebuah panganan pengganti nasi dan jagung yang mengering. Yue Liang tertatih-tatih berjalan mencari bahan tepung pegganti, langkahnya yang tertatih membawa ia pergi ke kuburan penuh ilalang.


Di tempat itu, ia melihat ilalang yang sepertinya mudah digiling menjadi tepung. Yue Liang dan Tai Yang akhirnya memotong ilalang-ilalang tersebut dan menggilingnya menjadi tepung. 

Setelah menggilingnya menjadi tepung, Yue Liang mencairkan tepung ilalang tersebut dengan air sumur di belakang rumahnya. Dan kemudian memanggangnya hingga membentuk kulit lumpia untuk diisi Ham Choi Kon yang dicincang hingga hancur dalam keadaan kering. Kemudian lumpia isi Ham Choi Kon tersebut dapat dikukus atau dipanggang lagi di kuali di atas perapian kayu bakar sehingga sangat wangi.

Karena kulit lumpia sangat tipis, sehingga ia bisa membuat lumpianya sangat banyak, bahkan bisa membuat satu desa merasa kenyang setelah memakan lumpia tersebut.

Akan tetapi tiga hari kemudian, banyak sekali warga yang mengeluhkan gatal-gatal pada tenggorokan dan tubuhnya. Yue Liang dan Tai Yang juga merasakan hal yang sama. Mereka juga merasa gatal-gatal, akan tetapi Yue Liang tidak bisa pergi beristirahat begitu saja melihat banyak masyarakat yang sekarat dan mati karena kelaparan.

Ia kemudian mencari alternatif lagi, yaitu mengumpulkan sisa umbi-umbian kering di tanah dan digiling dengan penggilingan beras hingga akhirnya penggilingan beras tersebut rusak dan harus direparasi. Penggilingan beras itu akhirnya direparasi oleh tetangganya, Han Xiang Ci, bisa dibilang seorang Ketua RT di lingkungan rumahnya.

Tepung hasil penggilingan umbi-umbian berbeda dengan hasil tepung penggilingan ilalang. Penggilingan Ilalang menghasilkan tepung yang tidak mengikat (alias tidak bisa diuleni dan mencair). Berbeda dengan tepung umbi-umbian yang bisa diuleni dan teksturnya lebih padat.

Tepung hasil umbi-umbian tersebut akhirnya dibasahi dengan sedikit air dan dipipihkan. Diisi dengan kacang hijau (bukan kacang hijau kupas, tapi benar-benar kacang hijau). Karena Cuma itu saja sisa sembako yang kurang laku di musim panas, saat itu. Kemudian dipanggang bolak-balik di atas wajan cetek menggunakan kape.

Selama tiga bulan berjuang mencari umbi-umbian kering di setiap sawah. Di seminggu terakhir, ia menemukan tanaman sejenis ilalang, tetapi tanaman tersebut tampak lebih padat dan kalau dilihat-lihat seperti perkahwinan silang antara ilalang dengan tanaman padi. Itu seperti ilalang, tapi itu terlihat sangat padat seperti padi tapi isinya tidak ada beras. Bulu-bulunya pun tidak Nampak banyak seperti ilalang.

Tumbuhan itu banyak ditemukan di tengah ladang liar terbuka di tengah hutan. Pergi ke pedalaman hutan di dekat desa, pergi agak jauh, baru Nampak satu padang ilalang yang jenis ilalangnya berbeda (yang kelak kita namakan itu gandum). Yue Liang dan Tai Yang pun segera memanennya dan menggilingnya. Yue Liang mempelajari tekstur tepungnya saat diuleni. Ketua RT, Han Xiang Ci melihat peluang ini. Membawa bibit gandum ke desa dan menanam dan membudi-dayakannya di ladang desa.

Tepung gandum ini tidak boleh terlalu banyak air agar mereka bisa merekat satu sama lain. Yue Liang pun harus menggiling gula batu menjadi halus untuk merekatkan tepung gandum agar lengket satu sama lain. Kemudian ia membentuknya menjadi seperti perkedel dan mencobanya memanggang di oven dari bahan batu bata yang ditindih dengan besi yang di atasnya dibakar kayu bakar.

Saat dipanggang, biscuit tepung gandum sangat harum. Saat disajikan, awalnya dikira akan lunak teksturnya, ternyata malah mengeras dan agak rapuh. Beberapa ayi-ayi menyarankan untuk menggunakan telur dan susu untuk menjadikannya lebih harum. Tetapi sisa tepung gandum itu akhirnya dibagi-bagikan kepada ayi-ayi yang selama tiga bulan ini membantu membuat lumpia, pia, dan biscuit di akhir musim gugur. Dan ayi-ayi yang punya peternakan telur ayam pun, akhirnya mencampurkan telur ke dalam nya kemudian memanggangnya dan kemudian akhirnya menjadi sesuatu yang disebut cookies hingga saat ini. Mereka banyak berkreasi dari tepung gandum ini dan membuat gorengan kucai yang bisa dijual cukup mahal dari tepung gandum ini (digoreng menggunakan minyak kelapa).

Sejak saat itu, Yue Liang  dan Tai Yang menjadi tokoh Masyarakat yang paling ditunggu-tunggu setiap musim gugur, menggantikan kisah sedih Yue Nii Gu Niang yang wafat dalam kesendirian. Masyarakat mengibaratkan Tai Yang bagaikan Matahari, yang selalu siap siaga membantu Masyarakat mencari bahan makanan. Yue Liang bagaikan Bulan di tengah gelap, yang selalu mencari cara terbaik di tengah kondisi Masyarakat yang mendesak.

Mereka menjadi Dewa Matahari dan Dewi Bulan pertama dalam Sejarah romansa Masyarakat Tiongkok Kuno. Berkalpa-kalpa jauh sebelum kisah Dewi Chang ‘E dan Dewa Er Lang diterbitkan.