14 March 2025

Motivasi Membaca Paritta

"Nan wu Da Ci Da Bei Guan Shi Yin Pu Sa"



"Dahulu, aku tidak terlalu termotivasi untuk membaca Paritta. Sampai aku mengunjungi sebuah Kelenteng yang bersembahyang kepada Dewi Kwan Im, semuanya pun berubah".


Ketika terlahir namaku adalah Wang Bing Sheng (王炳盛)yang maknanya subur dan panas. Saat itu nama Bing Sheng didapatkan dari hasil perhitungan BaZi. Namun saat itu, aku menjadi sering sakit dan menangis. Menurut orang zaman dahulu, hal itu terjadi karena namaku mempunyai makna yang sangat berat dan tubuhku belum cukup kuat untuk menerimanya. Beberapa orang menyarankan orang tua ku untuk pergi ke sebuah Kelenteng Dewi Kwan Im di daerah Taman Cibodas untuk memeriksa kesehatan dan mengganti namaku.


Singkat kata, kedua orang tuaku pergi ke Kelenteng Dewi Kwan Im untuk menanyakan nama apa yang cocok untukku. Saat itu pemilik Kelenteng itu "dipinjam raga"nya oleh Dewi Kwan Im lalu merekomendasikan beberapa nama untukku, Xiao Die atau Xiao Di? Saat itu ibuku berpikir, "anakku laki-laki tidak mungkin pakai nama Xiao Die." Semenjak saat itu nama panggilanku berganti menjadi Xiao Di, yang berarti adik laki-laki yang paling kecil. Sejak saat itu pun kesehatan berangsur-angsur pulih.


Seiring berjalannya waktu, anak yang bernama Xiao Di itu beranjak dewasa. Banyak hal yang dilalui tapi tak bisa mengelak bahwa aku adalah "anak yang terpilih".


Usai lulus dari SMK, aku kuliah. Dan saat semester empat, secara mendadak aku sakit yang didiagnosa medis adalah Skizofrenia. Mendadak aku menjadi mendengar banyak suara. Mendadak aku merasa pikiran ku seperti dibaca orang. Apa yang kupikirkan saat itu tiba-tiba menjadi nyata. Aku sangat ketakutan dengan "kebetulan" itu dan terus histeris ketakutan.


Tahun 2015 dan 2016 adalah bintang gelap bagiku. Aku sangat ketakutan, bahkan sudah minum obat penenang yang diresepkan oleh psikiatri saat itu yang juga tak kunjung membuat kesehatan mentalku membaik. Kalau kata orang pintar, aku adalah orang yang bisa "lo thung" dan mempunyai misi menyembuhkan penyakit orang yang berjodoh. Tapi saat itu keadaanku yang belum bisa menerima hal itu menjadi magnet bagi hawa negatif untuk terus mendekatiku.


Saat itulah, ibuku ingat. Dahulu waktu kecil, aku pernah "disembuhkan" Dewi Kwan Im di daerah Taman Cibodas. Sehingga pada malam Che It atau Cap Go saat itu diajak kedua orang tuaku pergi ke Kelenteng tersebut lagi.


Sesampainya di Kelenteng Dewi Kwan Im, kami harus mengantri cukup lama. Dan itu tidak mengherankan, karena waktu itu adalah hari Che It atau Cap Go. Saat itu bukan saat pengobatan yang paling kuingat, melainkan saat aku mengantri untuk pengobatan. Aku melihat sesuatu yang nyatanya hingga saat ini masih memotivasiku untuk membaca Paritta.



Saat itu, di teras Kelenteng ada sebuah Altar Mak Kwan Im, tidak terlalu mewah. Tapi banyak sekali anak-anak kecil hingga remaja yang duduk dan berlutut membaca Da Bei Zou untuk Dewi Kwan Im. Membaca dengan sangat keras dan membuatku sedikit tersenyum. Entah mengapa, hatiku sangat senang dan sejak saat itu aku termotivasi untuk bersembah-sujud juga kepada Sang Buddha dan membaca Paritta untuk memuja Sang Buddha.


Di rumahku juga ada Altar yang memuja Sang Buddha. Bersembahyang menggunakan tata cara Yi Guan Dao dan tak lupa melantunkan Milezhenjing 3x, Moheboriboluomiduoxinjing 3x Baisuilaorenbaixiaojing 1x, Jingtiandishencou 3x, dan Huixiangji 3x untuk pelimpahan jasa membacakan Paritta. Semua kubacakan ketika sembahyang sore hari.


Lalu apa manfaat membaca banyak Paritta? Bagi orang-orang membaca Xin Jing adalah Paritta yang menenangkan hati. Sedangkan Milezhenjing adalah Paritta akhir zaman untuk melawan kegelapan. Sehingga bagi orang-orang yang sering diganggu oleh makhluk astral dan menolak bala, bencana, dan musibah, melantunkan Milezhenjing adalah yang paling baik. Paritta untuk mendoakan orang tua, sanak saudara dan keluarga adalah Baisuilaorenbaixiaojing.

Nasi Campur Che It dan Cap Go

 

Gambar Hanya Ilustrasi

Saat aku mulai tinggal di Liga Mas, ada hal yang baru. Bukan hanya adanya kantor pemasaran dan kolam renang atau banyaknya bunga Terompet Emas yang menjalar sepanjang pagar kolam renang. Tetapi setiap Che It atau Cap Go, ibuku membawa beberapa bungkus nasi campur vegetarian dari Pasar Lama.

“Hmm… sejak kapan Pasar Lama ada nasi campur medan vegetarian?” bingungku dalam hati.

Nasi campur itu sangat enak dan keberadaannya yang hanya Che It dan Cap Go membuatku merasa Che It dan Cap Go itu adalah hari yang spesial. Saat itu, ibuku bilang itu adalah Nasi Campur Lim Cie. Harganya saat itu lumayan, tanpa tambahan daging-dagingan vegetarian hanya Rp15,000,- per porsi. Sejak saat itu Che It dan Cap Go langsung menjadi hari yang spesial buatku.

Beberapa tahun kemudian, aku baru menyadari Lim Cie ternyata adalah tetanggaku di Liga Mas (sekarang berubah nama menjadi Victoria Park). Kalau Che It dan Cap Go setiap pagi Lim Cie berjualan Nasi Campur di Pasar Lama. Kalau sore, pulang dari jualan, Lim Cie segera masak untuk Che It dan Cap Go di Vihara Guang Sheng. Beberapa makanan favoritku dari Lim Cie adalah seperti asam manis, acar kacang, tempe orek khas Medan, sambal tauco khas Medan,  kaki babi yang terbuat dari tepung didalamnya digulung jamur kuping, nasi tim, dan lain-lain.

Lim Cie sangat baik, kalau ada sisa makanan dagang, beliau membagikannya kepada keluarga ku. Dan terkadang jika ada pesanan dari orang lain, beliau memasak lebih banyak untuk dibagikan kepadaku.

Setelah bertahun-tahun telah berjualan di Pasar Lama. Lim Cie akhirnya harus pindah karena masalah uang sewa tempat yang semakin tinggi. Lim Cie akhirnya pindah berjualan di rumah keponakkannya, Shen Cie yang juga membuka tempat makan di sebelah rumahnya.

Sebenarnya tempat tinggal Lim Cie dan Shen Cie sangat berdekatan. Hanya jalan beberapa Langkah bisa segera sampai. Walau setiap hari Shen Cie berjualan makanan non vegetarian tetapi ada beberapa makanan yang tidak dipakaikan bawang, seperti semur kentang, sambal tauco khas Medan, keripik pangsit balado, rendang telur dan kentang dan tempe orek. Shen Cie juga menerima pesanan kwetiauw goreng, bihun goreng, juga mie goreng. Ada juga emie yang bisa request vegetarian pada hari-hari tertentu. Kuah emie, kerupuk emping dan sambal hijaunya adalah yang tak tergantikan.

Sejak Lim Cie pindah berjualan di rumah sendiri, setiap Che It dan Cap Go, di tempat Shen Cie semua berjualan Vegetarian. Aku pun jadi semakin senang karena untuk membeli nasi campur Lim Cie tidak perlu ke Pasar Lama, cukup berjalan kaki sudah sampai.

Lim Cie adalah sosok yang mendukung vegetarian. Walaupun sehari-hari beliau tidak vegetarian tetapi setiap Che It dan Cap Go berjualan makanan vegetarian dengan tulus. Beliau harus bangun pagi-pagi sekali untuk memasak banyak varian lauk vegetarian.

Pernah sekali, karena aku sedang menjalani pengobatan alternatif, beliau (Lim Cie) memberikan ku angpao sebagai bantuan biaya pengobatan. Dan tidak pernah kulupakan sama sekali kebaikkan beliau yang memberikan ku banyak makanan gratis diluar dagangannya seperti Kua Chai Peng, Nasi Tim, Nasi Ulam dan lain-lain yang menurutku itu semua sangat mahal dan mewah.

Akan tetapi sangat disayangkan, karena kurangnya minat konsumen terhadap makanan vegetarian, berjualan di rumah tidak berlangsung lama. Karena ada urusan lain juga, Lim Cie sudah tidak boleh berjualan lagi oleh suaminya. Tak berapa lama pun Shen Cie pindah berjualan di Poris. Dan di rumah Shen Cie tidak ada lagi yang berjualan.

Sekarang aku sekeluarga sudah pindah ke Bukit Dago, sudah tidak lagi bertetangga dengan Lim Cie dan Shen Cie. Semoga Lim Cie dan Shen Cie selalu dalam keadaan sehat dan baik. Selalu kangen masakkan Lim Cie dan Shen Cie. Tidak akan tergantikan.

13 March 2025

Es Teh Sehabis Kelas

Kegiatan yang sedang berlangsung

Hari ini hari Minggu, tahun 2023. Hari ini untuk pertama kalinya aku diajak Pandita Huang untuk pergi membantu Vihara cabang Vihara ku, yaitu Vihara Guang Shu. Yah, ada kegiatan Pekan Pengembangan Jiwa anak-anak di sana dan meminta beberapa pengabdi dari Vihara ku, yaitu Guang Hang, untuk membantu kegiatan di sana. Termasuk salah satunya adalah aku yang langsung dibawa oleh Pandita Huang ke Vihara Guang Shu untuk membantu bagian dokumentasi.

Sesampainya di sana, aku langsung berinisiatif membantu dokumentasi kegiatan yang sedang berlangsung. Banyak sekali wajah anak-anak yang polos dan lucu. Beberapa kegiatan dan permainan diadakan untuk melatih kemandirian anak-anak dan beberapa permainan di antaranya diadakan untuk melatih kepekaan anak terhadap perasaan ibu yang sedang hamil mau pun perasaan ibu saat merawat bayi


Anak-anak sejak dini diajarkan untuk bersih-bersih oleh Penceramah Chen

Salah satu peserta dilatih untuk belajar mengurus bayi

Acara berlangsung sangat seru dan menarik sekali. Banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang dapat diambil dari kegiatan Pekan Pengembangan Jiwa Anak-anak tersebut. Secara pribadi, aku suka sekali saat anak-anak disuruh mengurus boneka bayi. Benar-benar terlihat, mereka sangat serius dan sangat mendalami peran mereka sebagai orang tua.

Singkat kata, kegiatan pun berakhir. Dan seperti biasa, Vihara kami tidak lengkap rasanya kalau pulang rumah tidak dibawakan makan malam dan hadiah bingkisan dari kegiatan tersebut. Setelah anak-anak dan orang tua pulang adalah saatnya bagi kami pengabdi untuk membereskan Vihara.

Saat sedang membereskan Vihara Guang Shu, salah seorang penceramah berinisiatif untuk membelikan kami minuman. Penceramah tersebut adalah Penceramah Chen yang merupakan penanggung jawab Vihara Guang Shu. Penceramah Chen merupakan istri dari Penceramah Chai yang sangat terkenal satu Indonesia di Vihara kami di seluruh Indonesia bahkan hingga ke Taiwan. Meski pun begitu istrinya selalu bersikap seperti biasa dan rendah hati.

Beliau mengiyakan semua keinginan pengabdi yang juga merupakan anak remaja Guang Hang dan Guang Shu. Mereka semua dibelikan Es Teh Indonesia yang mereka pilih sendiri meskipun itu agak mahal. Dan aku juga dibelikan es teh oleh Penceramah Chen dan yang kupilih adalah varian teh yang paling murah dan aku pikir aku akan membayarnya sendiri. Saat itu Penceramah Chen berkata tidak apa-apa dan agak “nge-dumel” dan akhirnya aku mengurungkan niatku untuk membayar sendiri.

Ini pertama kalinya, aku ditraktir oleh Penceramah tersebut dan sangat tersentuh. Karena aku dengan mereka berbeda Vihara. Dan aku juga termasuk baru mengabdi di Vihara Jakarta setelah telah lama mengabdi di Vihara Tangerang. Tak berapa lama, minuman yang diantar dengan Go Food itu datang dan anak-anak remaja di sana pun sangat senang termasuk aku yang juga sangat senang karena itu pertama kalinya aku ditraktir minum es teh.

Entah sejak kapan, kalau anak muda itu berkaitan dengan kata “ditraktir” atau “dijajanin” rasa senangnya membuncah begitu saja. Antara pikiran “apa iya ditraktirin?” atau “beneran nih?” ingin senang tapi juga malu-malu. Dan itu menaikkan rasa bersyukur kami berkali-kali lipat.

Es Teh Indonesia rasa Melati


Minum Teh Solo

 

Ilustrasi Teh Solo

Akhir-akhir ini minum Teh Solo menjadi tren tersendiri bagiku. Selain murah juga rasanya yang pekat dengan wangi Melati sangat membuat hampir setiap orang suka. Kalau baca di internet ada beberapa manfaat minum Teh Solo yang juga masuk golongan Teh Hitam, misalnya:

  • Antioksidan yang tinggi
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Membantu pencernaan
  • Meningkatkan metabolisme
  • Meredakan stress
  • Membantu mengontrol gula darah, terutama jika dikonsumsi tanpa gula tambahan
  • Mendukung kesehatan jantung dengan membantu menurunkan kolestrol dan tekanan darah
  • Membantu hidrasi tubuh, meskipun mengandung kafein, Teh Solo tetap berkontribusi pada asupan cairan harian (sumber: liputan6)


Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Minum Teh Solo berlebihan ternyata bisa membuat ku sakit pinggang. Selama tiga hari berturut-turut menyeduh Teh Solo sepanci-sepanci. Hingga hari ke-empat, aku mengalami sakit pinggang.

Bagiku ini adalah sebuah peringatan, minuman Teh Solo yang pekat tanpa gula pun bisa membuat sakit pinggang yang mungkin juga berhubungan dengan ginjal.

Alangkah baiknya, jika kita tetap mengonsumsi air putih sembari mengonsumsi Teh Solo. Karena mengonsumsi air putih lebih banyak manfaatnya dibanding mengonsumsi Teh Solo.

07 March 2025

Mari Membangun Wadah Ketuhanan

Nada Serapan: 雨中即景

Wejangan: Lan Da Xian & Ge Wei Xiao Xian Tong


Hualalala, hujan gerimis

Para Buddha memanggil nama mu

Hahaha, seperti truk yang datang

Jika Buddha memanggil nama mu, apakah kamu takut?

Dewa Kecil: (Apalagi yang belum dituntaskan?) 


Dewa Kecil: (Hualalala apa Kuil Ling Shi telah dibangun?) 

Tanggung jawab mu apakah telah dipenuhi? 

Jangan sedih, takut lalu menggerutu

Semua direncanakan Yang Maha Kuasa matang-matang


Lan Da Xian: Hari ini kamu marah pada saya

Saya masih tidak apa-apa

Masih menganggap saya berhutang pada dewa ini sehingga saya ditegur

Dewa Kecil: (Aku takut! ) 


Hualalalala, kembalilah

Iblis pun takut kalau selalu disebut-sebut

Dewa Kecil: (Takut!) 

Lao Mu punya rencana lain, apakah itu telah menguji kesabaran mu? 


Hualalala, lihatlah!

Maitreya berkalpa-kalpa selalu diuji masalah pembangunan Wadah Ketuhanan

Huahahaha, membawa truk, terus melalui dengan banyak proses

Dewa Kecil: (Hari ini kalau belum berjalan 20 tahun belum seberapa) 


Hahahaha, masih banyak rencana Lao Mu

Untuk membangun Bait Pelindung umat manusia

Agar saat hujan dan terik bisa memberi tempat berlindung bagi umat-umat


Berharap dengan lahirnya Vihara-vihara ini 

Bisa menjadi pelindung bagi umat banyak

Jangan pusingkan masalah yang belum terjadi

Semua adalah anak-anak Lao Mu

Dewa Kecil: (Takut!) 


Dewa Kecil: (Holonglong Naga telah datang!)

Hanya saja tempat berjodoh berbeda-beda

Dewa Kecil: (Takut!) 

Tak cocok dengan tempat kamu

Lao Mu membawanya ke tempat yang lebih sesuai

Yang penting bisa menguntai tasbih-tasbih Ketuhanan secara perlahan

Makna Kehidupan

Nada Serapan: 叫你一声my love

Wejangan: Abdi Sang Hyang Buddha, Bodhisattva Maitreya

Masa muda bagaikan irama musik

Terkadang terdengar tidak cocok di hati ayah dan ibu

Tapi anak muda semua menyukainya


Bingung, saat masuk ke tempat dansa

Sebenarnya apa yang dicari anak-anak ini? 

Lebih baik melakukan hal yang lebih bermakna


Melakukan hal yang lebih baik

Mencari makna hidup yang sebenarnya tidak bersenang-senang melulu

Belajar untuk merasakan segala rasa kehidupan


Kehidupan memang tidak menentu bagaikan denyut nadi

Tapi kita bisa membuatnya stabil

Waktu yang mengalir bagaikan aliran darah


Jangan sia-siakan masa muda terkurung dalam kesenangan sesaat

Untuk apalah rezeki yang berlimpah

Itu hanya akan memberi mu jalan buntu pada suatu hari

Jadi manusia haruslah ceria-ceria

Jangan selalu sedih karena semua yang tidak bisa kita miliki


Rezeki umat manusia adalah milik Yang Maha Kuasa

Kita diberikan lebih banyak, itu hanyalah agar kita lebih banyak memberi

Mengatur segala hal perlu rezeki yang lebih banyak

Sehingga katakanlah bukan demi keuntungan sendiri

Semua demi berbagi dengan sesama agar kehidupan lebih lancar


Memberi umat yang belum paham makna hidup

Membina hidup untuk saling bergotong-royong

Rajin-rajinlah mendengar irama yang positif

Mengembalikan wajah mu kepada wajah Malaikat


Selalu tersenyum dan tegar dalam kehidupan silih berganti

Nasib kadang berada di atas dan juga bisa di bawah

Perasaan kalau sudah berwisata, tarik kembali ke semula

Jangan biarkan pikiran asyik berkecamuk di kepala sendiri

Cita-cita

Nada Serapan: 蝴蝶飞呀!

Wejangan: Zhong Hua Sheng Mu


Sekelompok anak kecil berlari

Daun hijau yang berguguran di musim kemarau

Semangka pun tidak pernah habis dimakan

Alam pemberian Yang Maha Kuasa sangat indah

Kalau mencari ketenangan selalu merujuk pada semesta


Kalau cuaca panas wajah pun memerah

Gejolak hati bagaikan masa remaja

Teringat baik-baik dibenak anak-anak

Ayah yang tegas dan Ibu yang lembut

Tak menghalangi langkah generasi muda

Mencari jalan atas kemerdekaan

Dan ujung dunia yang sebenarnya tak terbatas


Sinar mata saat orang tua berjemur di bawah mentari

Siang yang selalu hanya terdengar burung bersiul

Membuat diriku merefleksikan bayangan ku sendiri di dalam danau yang jernih


Mentari yang bersinar membuatku merasa tak pernah sendiri

Duduk sendiri di batu di tepi danau

Kalau keluar rumah kadang semenyenangkan itu yah? 


Saat melihat semuanya baik-baik

Hati merasa terpuaskan, air mata pun berubah menjadi senyuman

Gusar hati puluhan tahun menjadi bunga Melati yang bermekaran

Kalau begini rasanya hari tak akan pernah berakhir

04 March 2025

Kenangan Stik Jagung Rasa Keju

Gambar hanya ilustrasi


Mungkin tahun itu sekitar tahun 2002 atau 2003. Saat itu beredar cerita di vihara ku; jika vegetarian tidak boleh memakan keju. Wajarlah, keju saat itu kebanyakkan mengandung rennet hewani, tapi ada umat di vihara ku yang meneliti bahwa saat itu keju yang boleh dikonsumsi adalah merek KRAFT. Meski pun begitu, tetap saja tidak boleh sembarang memakan snack yang mengandung keju/bubuk keju.

Saat itu, aku, ibuku, Penceramah Huang, dan Pandita Zhang pergi membeli buah untuk sembahyang Che It atau Cap Go untuk viharaku. Aku diajak ke sebuah supermarket yang seperti tempat jual grosir bernama Alfa. Aku tidak tahu itu termasuk Alfa Mart atau Alfa Midi atau yang lainnya. Saat itu Alfa lebih besar dari Alfa Mart yang sekarang. Kalau bisa ambil contoh zaman sekarang seperti Lotte Grosir kurang lebih keadaannya. Pokoknya seperti itu.

Viharaku (Yayasan Pancaran Metta Karunia) terletak di Jalan Lio Baru Nomor 18, di daerah Batu Ceper – Kalideres. Pergi ke toko ritel tersebut terletak di tepi jalan Kebon Nanas, Serpong. Dahulu kalau tak salah itu disebut Alfa Gudang tapi kalau sekarang telah jadi Alfa Mart pusat.

Yah, saat itu pertama kalinya saya membeli buah di supermarket Alfa. Agak terkejut dan dalam kepala ku berpikir, “sekarang Alfa ada supermarketnya. Padahal Alfa ‘kan cuma minimarket saja saat itu”.

Sesampainya di Alfa tersebut, ibu ku dan pendahulu tidak langsung menuju ke bagian buah. Kami berjalan-jalan hendak melihat-lihat Alfa tersebut. Takjub karena Alfa ini mirip Indo Grosir dekat rumah ku yang biasa jualan barang grosiran. Tidak seperti supermarket atau mall populer yang bersih dan putih. Ini seperti gudang grosir.

Hingga tibalah pada bagian snack. Aku melihat-lihat snack yang tak pernah kulihat mereknya di supermarket biasa. Beberapa produk snack berasal dari luar neg’ri. Aku tertuju pada sebungkus snack bertuliskan aksara China yang sepertinya kutahu itu snack kesukaanku. Snack itu adalah stik jagung.

Ibuku mengizinkan ku mengambil beberapa varian rasa stik jagung tersebut. Tapi satu hal yang tak kusadari, aku telah mengambil stik jagung rasa keju… aku yang polos tidak tahu telah mengambil stik jagung rasa keju. Tak berapa lama, kami pergi ke bagian buah dan membayarnya di kasir dan kembali ke vihara.

Saat di mobil aku duduk bertiga di tengah dengan aku, ibuku dan Pandita Zhang. Aku ingin makan stik jagung tersebut, saat ibuku mengambil salah satunya, ibuku menyadari; ternyata salah satu stik jagung tersebut rasa keju.

Aku yang sangat anti keju saat itu menangis sejadi-jadinya. Perasaan takut dan gelisah, rasanya sedih sekali karena aku telah salah mengambil cemilan. Ibuku terus berkata bahwa aku boleh saja memakan stik jagung rasa keju itu. Pandita Zhang juga berkata tidak apa-apa. Tapi aku tidak percaya dan terus menangis ketakutan. Aku begitu takut dan panik, sedangkan stik jagung rasa keju tersebut sudah dibuka kemasannya.

Akhirnya untuk meyakinkan stik jagung rasa keju itu boleh dimakan, Pandita Zhang akhirnya memakan stik tersebut di depan mataku. Kalau tidak salah aku bertanya, “apa itu boleh dimakan?” Pandita Zhang hanya berkata, “tentu saja boleh” dan tersenyum.

Melihat hal itu aku merasa tergugah. Entah mengapa di hatiku ada perasaan, “inilah pengorbanan Khai Fang Ren Yuan dari Taiwan. Demi menenangkan seorang anak yang berumur tujuh tahun akhirnya memakan stik jagung rasa keju di depannya”. Aku berhenti menangis dan karena sudah dimakan aku pun merasa tidak perlu terbebani lagi dengan snack rasa keju yang telah dibuka kemasannya.

Pandita Zhang adalah seseorang yang sangat rendah hati. Beliau adalah pendahulu dari Taiwan yang sangat dikenang oleh ibuku dan diriku secara pribadi. Pembawaan beliau yang lembut dan selalu tersenyum dalam menghadapi masalah. Bisa dibilang, beliau adalah inspirasiku hingga saat ini atau bisa juga untuk selamanya.

Saat beliau memakan stik jagung rasa keju itu, aku yang masih kecil benar-benar sangat tergugah. Dan entah bagaimana, sejak saat itu juga snack yang mengandung keju boleh dimakan secara bebas.

Yah, saat ini kebanyakkan keju terbuat dari pengental nabati dan rennet nabati, sehingga sekarang orang vegetarian boleh memakan keju merek lain selain merek KRAFT. Kalau dulu di tahun tersebut hanya boleh memakan keju merek KRAFT. Saat itu keluarga ku sangat sayang membelinya sebab keju merek KRAFT juga merupakan keju terkenal yang juga sangat mahal. Di sisi lain, keluarga ku saat itu juga masih takut-takut membeli keju. Bagi kami lebih baik tidak makan daripada salah makan.