21 May 2026

Kisah Kelahiran Pertama Buddha Gautama Sebagai Manusia


Sebelum menitis menjadi Buddha Gautama, berkalpa-kalpa lalu tepatnya di Mongolia, ada sebuah keluarga sederhana. Keluarga tersebut melahirkan seorang anak Bernama Swadika. Swadika adalah kelahiran pertama dari Buddha Gautama berkalpa-kalpa sebelum mencapai penerangan Sempurna menjadi Sang Buddha.

Swadika lahir dari pasangan Ghandy Rap (pria blasteran Mongolia dan Arab yang merupakan Buddha Tanhankanra) dan Huang Mei Yi (wanita Tiongkok Daratan yang merupakan titisan Buddha Maitreya di masa lalu).

Ghandy adalah seorang pandai besi yang suka membuat pedang pendekar untuk para prajurit. Sedangkan Mei Yi hanyalah ibu rumah tangga biasa, yang suka memunguti batu-batuan mulia di Sungai untuk dijual (kalau menemukan batu-batuan mulia tersebut di Sungai).

Suatu ketika, Swadika terlahir. Swadika yang merupakan kelahiran pertama Sang Buddha, suka sakit-sakitan. Selalu demam tinggi dan juga suka sesak nafas. Ayah dan Ibunya selalu menjaganya sepanjang hari. Ibunya sampai tidak bisa tidur sepanjang tahun karena mengkhawatirkan Swadika.

Meskipun Swadika sakit-sakitan dan menghabiskan banyak uang, tetapi ayahnya selalu mengatakan, “Swadika anak pembawa rezeki bagi keluarga dan rakyat”.

Terbukti, dibukanya pertambangan emas di dekat desa mereka. Sang Ibu menjadi sering memunguti serpihan-serpihan emas yang sudah tidak bisa dipakai lagi oleh pertambangan emas bersama ibu rumah tangga lainnya. Mereka menyimpannya dalam kantong kain berukuran kecil untuk sewaktu-waktu kalau membutuhkan uang mereka bisa menjual serpihan emas tersebut kepada Tuan Monggotong.

Tuan Monggotong bekerja sama dengan pemerintah untuk mendaur-ulang serpihan emas menjadi Tail emas. Sehingga menerima pembelian serpihan emas dengan harga yang terbilang lumayan tinggi.

Ibunya Swadika sering menjual serpihan-serpihan emas tersebut untuk biaya anaknya berobat. Maka Tuan Monggotong sering diam-diam membeli dengan harga tinggi ketika Ibunya Swadika menjual serpihan emasnya.

Suatu ketika Ibunya Swadika jatuh sakit. Ia kebanyakkan kesal dengan keadaan Swadika yang sakit-sakitan dan melampiaskannya dengan mencuci pakaian.

Ibunya Swadika sakit asma dan akhirnya meninggal karena sesak pernafasan di usia ke tiga puluh Sembilan disaat Swadika berusia empat tahun.

Semasa ibunya masih hidup, Swadika sering dipeluk oleh ibunya sehingga sangat suka dengan bau ibunya.

Saat ibunya Swadika hendak dikuburkan, Swadika melompat ke liang kubur ibunya dan sempat ditimpah dengan tanah sambil berkata, “aku mau ikut ibu saja! Aku berdosa sama ibu, aku tidak pernah berbakti kepada ibu!”

Melihat hal itu, Ghandy, Sang Bapak langsung mengambil Swadika dari liang kubur ibunya sambil berkata, “Putra yang bodoh! Kenapa kamu masih membuat ibumu sedih!? Ayo bangkit, ikut ayah untuk membuktikan rasa baktimu kepada Sang Ibu”.

Sejak saat itu Swadika pun hidup mengikuti Sang Ayah dan akhirnya menjadi pendekar yang membela negara dan rakyat. Berbekal pedang terbaik yang dibuat Ayahnya dan warisan usaha pandai besi yang diwariskan Sang Ayah untuk diriNya.