Swadika lahir dari
pasangan Ghandy Rap (pria blasteran Mongolia dan Arab yang merupakan Buddha
Tanhankanra) dan Huang Mei Yi (wanita Tiongkok Daratan yang merupakan titisan
Buddha Maitreya di masa lalu).
Ghandy adalah seorang
pandai besi yang suka membuat pedang pendekar untuk para prajurit. Sedangkan
Mei Yi hanyalah ibu rumah tangga biasa, yang suka memunguti batu-batuan mulia
di Sungai untuk dijual (kalau menemukan batu-batuan mulia tersebut di Sungai).
Suatu ketika, Swadika
terlahir. Swadika yang merupakan kelahiran pertama Sang Buddha, suka
sakit-sakitan. Selalu demam tinggi dan juga suka sesak nafas. Ayah dan Ibunya
selalu menjaganya sepanjang hari. Ibunya sampai tidak bisa tidur sepanjang
tahun karena mengkhawatirkan Swadika.
Meskipun Swadika
sakit-sakitan dan menghabiskan banyak uang, tetapi ayahnya selalu mengatakan, “Swadika
anak pembawa rezeki bagi keluarga dan rakyat”.
Terbukti, dibukanya
pertambangan emas di dekat desa mereka. Sang Ibu menjadi sering memunguti
serpihan-serpihan emas yang sudah tidak bisa dipakai lagi oleh pertambangan
emas bersama ibu rumah tangga lainnya. Mereka menyimpannya dalam kantong kain
berukuran kecil untuk sewaktu-waktu kalau membutuhkan uang mereka bisa menjual
serpihan emas tersebut kepada Tuan Monggotong.
Tuan Monggotong bekerja
sama dengan pemerintah untuk mendaur-ulang serpihan emas menjadi Tail emas. Sehingga
menerima pembelian serpihan emas dengan harga yang terbilang lumayan tinggi.
Ibunya Swadika sering
menjual serpihan-serpihan emas tersebut untuk biaya anaknya berobat. Maka Tuan Monggotong
sering diam-diam membeli dengan harga tinggi ketika Ibunya Swadika menjual
serpihan emasnya.
Suatu ketika Ibunya
Swadika jatuh sakit. Ia kebanyakkan kesal dengan keadaan Swadika yang
sakit-sakitan dan melampiaskannya dengan mencuci pakaian.
Ibunya Swadika sakit asma
dan akhirnya meninggal karena sesak pernafasan di usia ke tiga puluh Sembilan disaat
Swadika berusia empat tahun.
Semasa ibunya masih hidup,
Swadika sering dipeluk oleh ibunya sehingga sangat suka dengan bau ibunya.
Saat ibunya Swadika hendak
dikuburkan, Swadika melompat ke liang kubur ibunya dan sempat ditimpah dengan tanah
sambil berkata, “aku mau ikut ibu saja! Aku berdosa sama ibu, aku tidak pernah
berbakti kepada ibu!”
Melihat hal itu, Ghandy,
Sang Bapak langsung mengambil Swadika dari liang kubur ibunya sambil berkata, “Putra
yang bodoh! Kenapa kamu masih membuat ibumu sedih!? Ayo bangkit, ikut ayah
untuk membuktikan rasa baktimu kepada Sang Ibu”.
Sejak saat itu Swadika pun
hidup mengikuti Sang Ayah dan akhirnya menjadi pendekar yang membela negara dan
rakyat. Berbekal pedang terbaik yang dibuat Ayahnya dan warisan usaha pandai besi
yang diwariskan Sang Ayah untuk diriNya.
