07 March 2025

Mari Membangun Wadah Ketuhanan

Nada Serapan: 雨中即景

Wejangan: Lan Da Xian & Ge Wei Xiao Xian Tong


Hualalala, hujan gerimis

Para Buddha memanggil nama mu

Hahaha, seperti truk yang datang

Jika Buddha memanggil nama mu, apakah kamu takut?

Dewa Kecil: (Apalagi yang belum dituntaskan?) 


Dewa Kecil: (Hualalala apa Kuil Ling Shi telah dibangun?) 

Tanggung jawab mu apakah telah dipenuhi? 

Jangan sedih, takut lalu menggerutu

Semua direncanakan Yang Maha Kuasa matang-matang


Lan Da Xian: Hari ini kamu marah pada saya

Saya masih tidak apa-apa

Masih menganggap saya berhutang pada dewa ini sehingga saya ditegur

Dewa Kecil: (Aku takut! ) 


Hualalalala, kembalilah

Iblis pun takut kalau selalu disebut-sebut

Dewa Kecil: (Takut!) 

Lao Mu punya rencana lain, apakah itu telah menguji kesabaran mu? 


Hualalala, lihatlah!

Maitreya berkalpa-kalpa selalu diuji masalah pembangunan Wadah Ketuhanan

Huahahaha, membawa truk, terus melalui dengan banyak proses

Dewa Kecil: (Hari ini kalau belum berjalan 20 tahun belum seberapa) 


Hahahaha, masih banyak rencana Lao Mu

Untuk membangun Bait Pelindung umat manusia

Agar saat hujan dan terik bisa memberi tempat berlindung bagi umat-umat


Berharap dengan lahirnya Vihara-vihara ini 

Bisa menjadi pelindung bagi umat banyak

Jangan pusingkan masalah yang belum terjadi

Semua adalah anak-anak Lao Mu

Dewa Kecil: (Takut!) 


Dewa Kecil: (Holonglong Naga telah datang!)

Hanya saja tempat berjodoh berbeda-beda

Dewa Kecil: (Takut!) 

Tak cocok dengan tempat kamu

Lao Mu membawanya ke tempat yang lebih sesuai

Yang penting bisa menguntai tasbih-tasbih Ketuhanan secara perlahan

Makna Kehidupan

Nada Serapan: 叫你一声my love

Wejangan: Abdi Sang Hyang Buddha, Bodhisattva Maitreya

Masa muda bagaikan irama musik

Terkadang terdengar tidak cocok di hati ayah dan ibu

Tapi anak muda semua menyukainya


Bingung, saat masuk ke tempat dansa

Sebenarnya apa yang dicari anak-anak ini? 

Lebih baik melakukan hal yang lebih bermakna


Melakukan hal yang lebih baik

Mencari makna hidup yang sebenarnya tidak bersenang-senang melulu

Belajar untuk merasakan segala rasa kehidupan


Kehidupan memang tidak menentu bagaikan denyut nadi

Tapi kita bisa membuatnya stabil

Waktu yang mengalir bagaikan aliran darah


Jangan sia-siakan masa muda terkurung dalam kesenangan sesaat

Untuk apalah rezeki yang berlimpah

Itu hanya akan memberi mu jalan buntu pada suatu hari

Jadi manusia haruslah ceria-ceria

Jangan selalu sedih karena semua yang tidak bisa kita miliki


Rezeki umat manusia adalah milik Yang Maha Kuasa

Kita diberikan lebih banyak, itu hanyalah agar kita lebih banyak memberi

Mengatur segala hal perlu rezeki yang lebih banyak

Sehingga katakanlah bukan demi keuntungan sendiri

Semua demi berbagi dengan sesama agar kehidupan lebih lancar


Memberi umat yang belum paham makna hidup

Membina hidup untuk saling bergotong-royong

Rajin-rajinlah mendengar irama yang positif

Mengembalikan wajah mu kepada wajah Malaikat


Selalu tersenyum dan tegar dalam kehidupan silih berganti

Nasib kadang berada di atas dan juga bisa di bawah

Perasaan kalau sudah berwisata, tarik kembali ke semula

Jangan biarkan pikiran asyik berkecamuk di kepala sendiri

Cita-cita

Nada Serapan: 蝴蝶飞呀!

Wejangan: Zhong Hua Sheng Mu


Sekelompok anak kecil berlari

Daun hijau yang berguguran di musim kemarau

Semangka pun tidak pernah habis dimakan

Alam pemberian Yang Maha Kuasa sangat indah

Kalau mencari ketenangan selalu merujuk pada semesta


Kalau cuaca panas wajah pun memerah

Gejolak hati bagaikan masa remaja

Teringat baik-baik dibenak anak-anak

Ayah yang tegas dan Ibu yang lembut

Tak menghalangi langkah generasi muda

Mencari jalan atas kemerdekaan

Dan ujung dunia yang sebenarnya tak terbatas


Sinar mata saat orang tua berjemur di bawah mentari

Siang yang selalu hanya terdengar burung bersiul

Membuat diriku merefleksikan bayangan ku sendiri di dalam danau yang jernih


Mentari yang bersinar membuatku merasa tak pernah sendiri

Duduk sendiri di batu di tepi danau

Kalau keluar rumah kadang semenyenangkan itu yah? 


Saat melihat semuanya baik-baik

Hati merasa terpuaskan, air mata pun berubah menjadi senyuman

Gusar hati puluhan tahun menjadi bunga Melati yang bermekaran

Kalau begini rasanya hari tak akan pernah berakhir