26 August 2024

Arti Guru Bagiku

Kulihat, lampion terang benderang

Rembulan yang indah, tapi melukiskan rasa kesepian

Hatiku menjadi sangat resah jika menatapnya berlama-lama

Ada banyak kata-kata yang kusimpan

Saat aku mengejar bayangan Guru yang bahkan entah di mana?


Bagai mengejar rembulan di dalam danau

Hari ini semua handai taulan menikmati kue bulan dengan bahagia

Hanya aku menyesalkan Guru sudah tiada di sisi ku lagi

Kuingat di masa lalu, saat Guru dan murid masih bersama


Sebelum kehidupan seperti sekarang

Mungkin aku masih bisa menikmati kue bulan bersama Guru

Menggantungkan lampion saling mengucapkan harapan

Betapa bahagia diriku saat Guru ada di sisiku

Saling mengucapkan "selamat hari musim gugur"


Hingga saat ini, bayangan Guru masih lekat di benak ku

Tuhan, biarkan aku sekali lagi melihat wajah Guru

Mata Guru yang indah bersinar, bagaikan Mentari pagi

Bagai membangunkan jiwaku yang tertidur


Saat aku melihat Bulan Purnama bulat sempurna

Duduk di balkon sekolah yang penuh lampion

Semua orang bersuka cita penuh harapan

Hanya aku yang berduka mengingat

Guru yang sudah tiada di dunia ini


Waktu cepat berlalu, tanpa terasa sudah 80 tahun guru tiada

Meski pun kadang merasa tak kuat berpijak

Merasa fondasi keimanan belum kuat

Tapi aku yang senantiasa diterpa badai masih percaya

Semangat Guru masih bersama ku hingga selamanya

Hua Gong Berduka

Daun-daun berguguran di depan Hua Gong

Aku tidak pernah melihat bunga di pekarangan

Tapi ia datang karena seseorang yang berharga telah pergi

Bunga-bunganya sangat banyak 

Dan pekarangan yang gersang mencerminkan kesedihan


Aku melihat sosok terakhirNya berdiri di depan Hua Gong

Guru mencapai sempurna di tengah padang lotus

Yang lebih indah daripada pekarangan yang tandus

Apalah arti tempat yang megah jika tiada Guru?


Karena aku telah kehilangan seorang Guru Besar

Dan tiada yang bisa mengerti kesedihan hatiku

Hua Gong terlihat muram saat musim gugur

Dan rasa kue bulan yang perlahan menjadi hambar

Hilangnya semangat untuk membina diri

Semua berpakaian gelap melambangkan kesedihan selamanya


Kebahagiaan festival musim gugur yang berganti dengan air mata

Saat Hua Gong tidak lagi menggantung lampion pada tanggal 15

Menutup altar Buddha dengan kain merah

Di bulan 8 saat musim gugur

Angin berhembus dengan nafas bercampur air mata

Sungguh perpisahan yang menyayat hati