04 September 2025

Pakaian Tradisional Masyarakat Indonesia Khususnya di Pulau Jawa

Pada zaman dahulu kala, sekitar tahun 1500 Masehi, kebaya merupakan pakaian kaum Keraton Jawa modern yang hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan, yang diadaptasi dari pakaian India dan Timur Tengah. Jauh sebelumnya para wanita hanya memakai kemben sebagai pakaian sehari-hari, yaitu selembar kain yang dililitkan di tubuh wanita yang memanjang hingga mata kaki.


Adalah seorang wanita yang menemukan kemben di tahun-tahun sebelum masehi. Nama wanita tersebut Adalah Gendhis. Dahulu nafsu birahi pria dengan wanita tidaklah terkontrol. Sering kali terjadi kasus pencabulan terhadap wanita yang saat itu belum mengenal kemben. Di Jawa Kuno, saat masa pra Sejarah, Gendhis Adalah seorang pahlawan wanita di zaman Kerajaan Majapahit Kuno.

Saat hendak berjalan-jalan keluar dari komplek istana, Gendhis melihat wanita-wanita nyaris telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka. Saat itulah Gendhis segera mencari para penjahit busana untuk kaum bangsawan dan mulai membayar agar para penjahit membuat kain kemben dengan modal yang sedikit agar kaum wanita bisa segera mengenakannya.

Kaum wanita-wanita itu bukannya tidak tahu memakai kemben, tetapi mereka tidak mempunyai uang untuk membeli kemben. Akhirnya Gendhis pun memberi tiga kain kemben yang terbuat dari pelepah pisang kepada setiap wanita di desanya. Kabar itu pun menyebar yang akhirnya membuat para kaum bangsawan pria berusaha memberikan hal yang terbaik untuk wanita-wanita di pulau Jawa.  Dari Jawa Timur (Malang) menyebar hingga ke Banten, kemudian menyebar ke Sumatera, Sulawesi, dan lainnya.

Penggunaan Kain Kemben sebagai pakaian tradisional khas Jawa bertahan cukup lama. Namun ternyata kedatangan Kebaya yang belakangan sebagai pakaian tradisional malah lebih populer dibanding kemben yang sering terlihat dikenakan oleh Dewa-Dewi Jawa di masa lalu (seperti Nyi Roro Kidul sering terlihat di berbagai lukisan memakai Kemben Hias).

Terinspirasi dari pakaian Dewi-Dewi Hindu India (terutama Dewi Lakshmi), sekelompok gadis-gadis muda Jawa itu boleh memakai kemben (saat itu bahan pelepah pisang telah berkembang menjadi kain batik yang indah) (tahun 1400 M) yang ditutupi oleh selembar kain katun bolong (yaitu kebaya).

Saat itu, sinar matahari begitu Terik, percobaan pertama mereka memakai kain rayon (tidak bolong) malah akhirnya membuat mereka gerah, dan kebaya menjiplak tubuh mereka hingga terlihat warna kulit mereka. Hal ini membuat mereka tidak leluasa dan gerah memakai kebaya berbahan rayon.

Oleh karena itu mereka mengubah bahan kain mereka dengan kain katun bolong yang dijahit mengikuti bentuk tubuh mereka (mereka terinspirasi pakaian adat wanita India) bedanya mereka menjahit hingga menutupi pinggul dan perut mereka.

25 August 2025

Khan Thi Minh



Seorang gadis dari klan keluarga khan menikah dengan laki-laki dari keluarga Nguyen. Khan Thị Minh.

Dahulu kala di Vietnam pada tahun 1800an, ada satu keluarga bermarga Khan memiliki empat orang putri Bernama Khan Thi Minh putri tertua, Khan Thi Xinh sebagai putri kedua, Khan Thi Sao sebagai putri ketiga, dan Khan Thi Sang sebagai putri terakhir. Masing-masing telah menikah dan memiliki keluarga yang Bahagia. Mereka semua bersepakat untuk tinggal di satu distrik dan membentuk Paguyuban besar Bernama “Ngôi sao sáng "Khan" (Bintang Terang Khan). Seluruh leluhur keluarga “Khan” Adalah pahlawan perang saudara yang terjadi di Vietnam pada tahun 1789 hingga 1802.

Dikatakan mereka keluarga yang Bahagia, juga tidak terlalu Bahagia. Mereka hidup terjaga, takut terjadi penyerangan oleh penduduk dari klan sebelah. Dan mereka sangat berhati-hati dan awas dalam menjalani kehidupan mereka.

Perang saudara yang terjadi di Vietnam sangat parah. Mereka bisa saling menghabisi hanya karena perebutan harta keluarga yang sebenarnya bukanlah hak mereka (kebanyakkan dari mereka memperebutkan tanah dan wilayah kekuasaan klan). Perang mereka mirip-mirip dengan perang saudara Madura dan Dayak, sehingga banyak korban yang meninggal secara tragis. Khan Ti Minh Adalah seorang putri dari keluarga Khan yang sangat heroik dan berjasa dalam melindungi klan mereka di desa Lentera Phu Binh.

Di suatu malam yang tenang, di rumah Khan Ti Minh seperti biasa sedang makan malam bersama di ruang keluarga. Baru suaminya hendak mengambil nasi di mangkuk tiba-tiba ada suara ribut-ribut dari luar rumah. Mendengar hal itu Khan Ti Minh tanpa ragu langsung keluar dari rumah untuk mengecek apa yang sedang terjadi (Khan Ti Minh merupakan putri tertua yang harus memperhatikan anggota keluarga mereka) (ayah dan ibu Khan Ti Minh telah tiada karena perang saudara, maka tanggung jawab menjaga keluarga otomatis jatuh pada putri tertua) (kehidupan mereka hanya sebagai petani padi, banyak klan yang iri dan mengincar ladang mereka sebagai satu-satunya mata pencaharian mereka).

Khan Ti Minh yang merasa sebagai putri tertua langsung berinisiatif untuk menghalangi keributan massa yang mulai melemparkan batu dan membawa api untuk menyerang rumah klan keluarga mereka. Suami dari Khan Ti Minh  langsung memanggil saudara-saudara mereka. Yang pria langsung menghadapi mereka yang ingin menyerang keluarga mereka. Dan yang wanita disuruh pergi meninggalkan Lokasi.

Khan Ti Minh yang juga disuruh kabur, malah bersikeras dalam nama leluhurnya. Ia langsung mengambil senjata bambu beracun dan memukul-mukul mereka yang menyerang keluarganya. Yang laki-laki pun juga mengeluarkan senjata bambu mereka. Berusaha menyerang tapi ternyata jumlah mereka kalah banyak.

Khan Ti Minh yang sudah terlanjur di baris depan, akhirnya menginstruksikan agar semua keluarga mereka (termasuk yang laki-laki) agar mereka semua lari ke tempat yang lebih baik meninggalkan dia sebagai pancingan. Dan di saat itu juga Khan Ti Minh ditusuk parang oleh salah satu dari mereka. Melihat hal itu suami Khan Ti Minh marah dan mulai menyerang secara membabi buta hingga akhirnya polisi datang. Namun, sayang sekali, ketika polisi datang, Khan Ti Minh telah meninggal dalam keadaan terpotong-potong (kaki dan tangannya terpisah dari tubuhnya). Sedangkan suaminya hanya mengalami luka tusukkan di lambung (namun beberapa hari kemudian meninggal karena sakit dan kesedihan yang tak terbendung).

Ketika keadaan sudah kondusif, keluarga Khan kembali ke rumah mereka. Mereka sangat sedih melihat keadaan jasa Khan Ti Minh. Masih sekitar pukul empat pagi, ketiga saudara Perempuan Khan sambil menangis menyusun kembali jasad Khan Ti Minh di peti mati. Semerbak asap dupa menyebar mengalahkan bau kemenyan. Dini hari ini dengan hujan rintik mengiringi tangisan anggota keluarganya yang merasakan sendiri pengorbanan seorang putri sulung wanita yang menjaga keutuhan keluarganya.

Seluruh anggota keluarga berputar berjalan mengelilingi jasad Khan Ti Minh sambil menyiramkan air bunga sehingga jasadnya tetap harum. Bunga, uang kertas, barang-barang cantik nan mewah semua diberikan, namun semua percuma, tak bisa mengembalikan nyawa Sang Putri Sulung Khan. Di depan peti jenazah terpampang rupang Dewi Kwan Im (keluarga ini tidak mengenal ajaran Buddha tapi bersembahyang pada Dewi Kwan Im, sehingga zaman dahulu lebih banyak orang Vietnam belajar ajaran Dewi Kwan Im dan tidak tahu bahwa Kwan Im merupakan bagian dari ajaran Buddha sehingga terciptalah kelompok yang hanya berdevosi pada Dewi Kwan Im).

Para keluarga yang tidak mengerti biksu atau pemuka agama, hanya mampu terus memohon kepada Dewi Kwan Im, agar arwah Khan Ti Minh dituntun oleh Dewi Kwan Im pergi ke surga dan menjaga keluarga mereka dari Langit.

Sang Suami hanya mampu menangis duduk di kursi sandar dan memaki dirinya sendiri tidak menjaga keluarga dengan baik.

Sekitar pukul enam pagi, peti Khan Ti Minh pun dibawa ke peristirahatan terakhir.

Kisah Li Qiang, Dewa Penjaga Keluarga

Pada zaman dinasti Qing (kurang lebih tahun 1700-an) hiduplah seorang anak laki-laki yang berbakti kepada keluarganya (bukan hanya kepada ayah atau ibunya saja, tetapi juga kepada Sembilan kakak perempuannya).

Namanya Adalah Chen Li Qiang (陈力强). Li Qiang merupakan anak laki-laki yang diharap-harapkan, setelah ibunya melahirkan Sembilan anak Perempuan, dan yang ke-sepuluh Adalah Li Qiang.

Li Qiang sangat heroik sekali dalam menjaga keutuhan keluarganya. Li Qiang di usia delapan tahun pernah menolong kakak perempuannya yang ke delapan yang hendak dijual ke rumah bordil oleh ayahnya hanya karena tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Li Qiang yang melihat kakak perempuannya diseret untuk diserahkan kepada mucikari, langsung mengejar ayahnya dan langsung merebut tangan kakak perempuannya dari tangan ayahnya.

Ayahnya cukup stress dengan kondisi keuangan keluarganya dan akhirnya merasa tindakannya menjual anak perempuannya yang ke delapan Adalah jalan satu-satunya yang terbaik untuk memenuhi kehidupan keluarga mereka.

Di antara Sembilan kakak perempuannya, tujuh dari sepuluh kakak perempuannya telah menikah dengan orang yang mereka cintai. Hanya kakak yang ke delapan hidupnya agak sulit, karena beliau memikirkan ibunya yang sudah sangat tua dan renta. Namun karena belum menikah, sering sekali diejek oleh tetangga dan ayahnya merasa sangat malu.

Melihat ejekkan tetangganya, Li Qiang tidak tinggal diam. Ia sering  membalas ejekkan tersebut dengan mengerjai tetangganya sehingga tak jarang tetangga melaporkan kelakuan Li Qiang kepada ayahnya dan Li Qiang dipukul oleh ayahnya. Akan tetapi itu tidak merubah rasa hormatnya kepada ayah dan ibu Li Qiang. Ia dikenal oleh satu desa sangat membela keluarganya dan melindungi kakak perempuannya.

Di usia Li Qiang yang ke dua belas tahun, akhirnya kakak perempuannya yang ke delapan menemukan tabatan hatinya dan menikah. Saat itu Li Qiang telah bekerja sebagai penempel poster (selembaran iklan produk kecantikkan wanita) di tembok-tembok pasar dan mengumpulkan uang untuk memberi angpau kepada pernikahan kakak perempuannya yang ke-delapan sebagai tanda agar keluarga Li Qiang tidak diremehkan oleh pihak mempelai laki-laki. Hal itu membuat mempelai pria sangat menghormati keluarga Li Qiang dan satu keluarga Li Qiang pun sangat terharu dan kakak ipar Li Qiang berjanji akan menjaga baik-baik kakak perempuannya.

Selain kakak perempuannya yang ke-delapan. Ada satu lagi kakak Perempuan Li Qiang yang pada akhirnya menjadi salah satu tanggung jawab Li Qiang hingga akhir hayatnya. Nama kakak perempuannya yang ke-sembilan Adalah Li Xiu (丽秀). Li Xiu merupakan anak Perempuan yang mengalami down syndrome. Sangat dijaga ketat oleh ibu dan Li Qiang sendiri sangat memaklumi kekurangan kakak perempuannya. Di usia ke-lima belas tahun ibunya mangkat dan Li Qiang di tahun yang sama juga membina rumah tangga dengan istrinya. Li Qiang di usia ke-lima belas tahun mampu membangun rumahnya yang tadinya gubuk kecil menjadi rumah semi-permanen. Tinggal bersama istri, ayah, dan Li Xiu, mereka saling menjaga hingga akhir hayatnya. Li Qiang memilik dua orang anak laki-laki dan satu anak Perempuan.

Li Qiang sendiri merasa dikaruniai kecerdikkan yang baik oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga Li Qiang memeluk agama Katolik. Di usia ke-empat belas tahun, Li Qiang mulai bekerja di pabrik susu bubuk kacang kedelai. Kedelai kering yang dijadikan bubuk merupakan terobosan baru minum susu kacang tanpa takut basi. Hanya dalam dua tahun ia dipercaya boss pabrik susu tersebut menjadi wakil direktur pabrik susu tersebut dan bekerja dengan sangat setia. Sehingga di usia ke-tiga puluh tahun, Li Qiang mencoba merintis pabrik susu bubuk dari sapi yang berlisensi dari luar negeri dan memproduksi susu bubuknya sendiri.

Dari sini kita bisa memetik pesan moral. Anak yang berbakti dan menghormati orang yang lebih tua, kelak pasti akan menjadi anak yang berguna dan berpengaruh di dunia. Tuhan sangat menyayangi anak yang berbakti dan menghormati orang tuanya.

Lalu bagaimana Li Qiang menjalankan bakti kepada Sembilan kakak perempuannya? Ketika usianya menginjak tiga puluh tahun, empat kakak perempuannya telah menjadi janda, sehingga Li Qiang sendiri sering mengirimkan uang bulanan dan barang kebutuhan kakak perempuannya setiap bulan. Tak lupa meski pun ia seorang Katolik sendiri, tetapi Li Qiang tetap melakukan salam tahun baru ke rumah Sembilan kakak perempuannya secara berurutan dari yang paling tua hingga yang paling akhir. Pastur juga mengajarkan untuk menghormati tradisi sembahyang leluhur, sehingga beliau sering melakukan hal tersebut di hari kematian ayah dan ibunya serta melakukannya di hari Cheng Ming.

14 August 2025

Si Mian Fo Dalam Empat Kepribadian Manusia

Dalam psikologi, terdapat empat kepribadian manusia yang menonjol. Dari empat kepribadian tersebut terdapat dua kepribadian manusia yang menonjol. Ada pun empat kepribadian tersebut:


1. Plegmatis

Plegmatis adalah kepribadian yang cenderung tenang dan cinta damai. Orang-orang dengan kepribadian ini cenderung menghentikan segala pertikaian di dalam dirinya. Misalnya jika ada keributan, plegmatis akan cenderung untuk berdiam diri (mencari aman) tidak ikut keributan.


2. Sanguin

Orang yang memiliki tipe kepribadian sanguin adalah orang yang sangat ceria dan juga banyak bercerita. Orang dengan kepribadian ini biasa memecah kesunyian dan mengundang banyak tawa. Orang sanguin tidak suka jika berlarut-larut dalam kesedihan. Dan cenderung ingin hidup dengan bebas sesuai dengan keinginan hati mereka.


3. Melankolis


Hati-hati dengan orang berjiwa melankolis. Mereka suka melakukan segala hal dengan sempurna dan cenderung mudah stress dan sedih jika ada yang menyinggung atau mengkritik mereka. Kehadiran mereka berlawanan dengan kepribadian sanguin. Maka seringkali orang yang melankolis tidak cocok dengan orang yang berkepribadian sanguin. Mereka cenderung menganggap sanguin sangat mengganggu. Bahkan mereka bisa berpura-pura bahagia hanya demi menghibur orang-orang yang berada di lingkungannya padahal mereka sedang merasa sedih.



4. Koleris
Adalah orang-orang yang siap memimpin dunia. Adalah orang-orang yang percaya dengan keberadaan campur tangan mereka dunia bisa lebih baik. Akan tetapi jika kepribadian ini mendominasi dan terlalu menuruti sifat ini, akan menyebabkan arogansi yang cukup membahayakan. Mereka lebih suka untuk memerintah, daripada turun tangan langsung ke lapangan.

Itu adalah sifat atau kepribadian kita dalam ilmu psikologi.



Dalam Buddhisme dan Hinduisme, ada seorang Dewa atau Buddha bernama Brahmana (Si Mian Fo). Dalam ajaran Hinduisme, Brahma adalah Dewa yang sangat sempurna yang juga merupakan kasta tertinggi dalam kasta-kasta yang tertulis di agama Hindu. Brahmana dalam dunia manusia bagaikan orang-orang yang sudah meninggalkan keduniawian dan juga merupakan orang-orang suci yang selalu memberi petunjuk atau arahan dalam kehidupan.

Dalam agama Buddha ada seorang Brahma yang bisa kita sebut sebagai Buddha Empat Wajah (Si Mian Fo). Setiap wajah Brahma mewakili aspek permohonan yang berbeda, seperti cinta kasih, belas kasihan, kebahagiaan, dan ketenangan. Namun setelah saya pelajari dan saya amati, Buddha Si Mian Fo setiap wajahnya juga bisa mewakili empat kepribadian manusia itu sendiri.

Namun, pada dasarnya empat kepribadian tersebut hidup berdampingan di dalam diri kita, tetapi hanya dua yang menonjol di dalam diri kita. Figur Si Mian Fo adalah figur seorang manusia yang sempurna (secara kepribadian) dengan mengatur empat kepribadian tersebut sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi.

Saya percaya, dengan mengatur empat kepribadian dalam diri kita sendiri, otomatis kita bisa menjadi manusia yang seimbang dalam mengatur emosi. Empat emosi tersebut sangat diperlukan dalam mengatur kehidupan sehari-hari, apalagi bagi kepribadian seorang pemimpin.


Kepribadian Ganda


Kepribadian ganda adalah di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian dalam tubuhnya. Misalnya ada seseorang yang taat beribadah namun ketika ia keluar dari tempat ibadah, ia berubah menjadi predator seks (para pemuka agama yang terkena kasus asusila di Indonesia cukup banyak terjadi).

Lalu bagaimana kepribadian ganda tersebut terjadi?

Kepribadian ganda berasal dari perasaan sedih, menderita, yang terakumulasi bertahun-tahun. Dan mereka berpikir, perlu super power untuk menghadapi itu semua. Karena mereka merasa terdesak, tidak ada orang lain yang menolong mereka, selain diri mereka sendiri, maka kepribadian kedua itu muncul. Sehingga tidak heran dalam kasus ini banyak sekali kasus pembunuhan (kasus pembunuhan juga salah satu yang disebabkan oleh kepribadian ganda).


Ada dua kemungkinan:

1. Penderita tidak sadar

Biasanya dalam kondisi ini penderita disebut “gelap mata”. Kebanyakkan disebabkan karena “zona nyaman” penderita terganggu. Misalnya saat sedang bertengkar hebat, penderita gelap mata membunuh lawan bicaranya. Sehingga dalam menghadapi penderita ini, butuh pengendalian emosi yang baik.

 

2. Penderita sadar

Misalnya seseorang yang menjadi gay atau lesbi itu kebanyakkan adalah kepribadian ganda. Masa kecil mereka kebanyakkan kehilangan figur ayah (untuk gay) dan ibu (untuk lesbi). Sehingga ketika dewasa, trauma dan rasa “butuh kasih sayang akan sosok orang tua” itu keluar. Dan mereka “haus” akan kasih sayang ayah dan ibu. Dan ketika mereka berada di lingkungan yang salah atau salah pergaulan, mereka bisa memiliki kepribadian kedua yaitu menjadi gay atau lesbi. Dan mereka haus akan atensi dan perhatian, sehingga merasa dengan menjadi demikian mereka menjadi unik.

 

Lalu bagaimana membuat penderita kepribadian ganda menjadi lebih baik?

Kepribadian ganda tidak bisa disembuhkan. Kepribadian itu bisa datang lagi sewaktu-waktu meski pun sudah lama tidak muncul. Butuh lingkungan atau orang-orang yang mendukung penderita tersebut untuk kembali normal. Faktor pendukung seperti stress dan depresi juga dapat menyebabkan muncul atau kambuhnya kepribadian kedua.

Ada baiknya jika mengalami gejala kepribadian ganda seperti lupa sehabis melakukan sesuatu, atau merasakan emosi yang meledak-ledak di dalam diri anda dan tiba-tiba anda merasa emosi itu hilang secara mendadak. Segera konsultasikan keadaan jiwa mu ke psikolog atau psikiatri terpercaya.

Saya pribadi menyadari diri saya kepribadian ganda. Saya berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berdoa setiap kali saya merasa kepribadian kedua saya ingin muncul. Saya kembali kepada “diri saya sendiri” yang saya pahami itu adalah Tuan Rumah saya sendiri. Jangan lupa untuk menjauhkan diri dari hiruk pikuk barang sebentar, untuk mengembalikan energi yang selama ini terkuras. Meditasi di tengah keramaian kota juga merupakan hal yang baik (healing) (mengembalikan suasana hati mendapatkan kedamaian dalam ketenangan).

09 August 2025

Lahir Lebih Awal

Penulis: mesYas

Inspirasi: Born Too Late


Aku, mengharapkan Maitreya

Lahir lebih awal

Dan memperhatikan aku

Karena aku merasa sudah tidak sanggup

Dan Dialah, Mesias yang dieluh-eluhkan


Aku, mengharapkan Maitreya

Mengadakan revolusi

Atas dunia dan cintaNya

Menjawab semua keimanan ku

Dan aku terlahir bersamaNya


Aku melihat langkahNya

Dan aku mengikutiNya

Ia membawaku ke Taman Firdaus

Dan tak pernah kusesali

Doa ku di Taman Getsemani

 

Aku, mengharapkan Maitreya

Lahir lebih awal 

Hapus, Dia menghapus darahku

Hanya karena cintaNya

Ketika aku menangis


Aku, mengharapkan Maitreya

Lahir lebih awal

Aku tak bisa menunggu lagi

Entah kapan, aku bisa bertemu

Dengan Mesias di Masa Depan? 

Rhythm of the Rain

Penulis: Daoji

Inspirasi: Rhythm of the Rain


Aku teringat sesuatu saat hujan turun

Itu membuka nostalgia di kepalaku

Aku merindukan seseorang saat menangis

Tetapi tidak jelas seseorang itu siapa? 


Aku mendengar suara hujan dan mencium bau tanah

Kadang bercerita tentang duka atau bisa jadi hanya termenung

Memikirkan sesuatu di masa lampau dengan warna sepia

Siapa itu? Aku memohon dengan kearifan kepada hujan


Hujan Yang Adil tolong beritahu aku! 

Kapan guru dan murid bisa berkumpul bersama lagi? 

Guru dan murid bersama menitis

Tapi tak lagi saling mengenal


Kebersamaan hanya seperti cerita nostalgia

Bertanya kepada Tuhan; "apakah membina diri selama ini sia-sia? "

Jika hanya tertinggal kesan penderitaan, untuk apa membina diri? 


Ah, hujan mengingatkan kenangan! 

Pitter patter, pitter patter! 

Dengarkan suara hujan turun

Kamu Polos Seperti Bayi

Penulis: Matre

Inspirasi: Pretty Little Baby


Pretty little baby

(Ya ya ya!) 

Pretty little baby

(Ya ya ya!) 

Wajah yang benar-benar jujur

Yang benar-benar aku sayangi

Wajah yang begitu polos

Aku benar-benar bahagia

Pretty little baby

Melindungi mu seumur hidup


Kamu bisa tanyakan harga bunga di toko

Tapi setiap hari kau berikan "bunga" kepadaku

Seperti burung gereja yang memanggil burung pipit

Pretty little baby

Aku benar-benar menyayangi mu


Sekarang adalah masa pancaran putih

Saat jodoh baik atau buruk datang harus dengan hati bahagia menyambut

Tidak peduli terasa canggung atau menyenangkan

"While our heart is young and gay"


Temukan Aku di depan altar

Saat ikrar kita telah diucapkan

Maka seluruh hidup harus bertanggung jawab 

Pretty little baby

Ku mohon jangan tinggalkan Aku


Pretty little baby

Aku bilang: "kamu polos seperti bayi"

Pretty little baby

08 August 2025

Aku Yakin Bisa Menemukan Bunga Yang Indah

Penulis: Xie Yong Da Shi

Nada serapan: 부용화


Berjalan di tengah rumput ilalang 

Berjalan di tengah musim gugur

Pergi menuju, pergi menuju lembah

Melewati sungai


Di aliran sungai yang sejuk

Pergi meminum air dan mencuci wajah

Melalui setapak jalan penuh pohon-pohon tua

Aku yakin aku bisa menemukan Bunga yang indah


Bodhisatva Ti Cang Wang

Bodhisatva Ti Cang Wang

Awal mula surga terbentuk...

Di ujung kehidupan aku pasti menemukan Bunga yang indah

Bunga yang berharga....


Bodhisatva Ti Cang Wang pun tersenyum

Penuh welas asih menemani di setiap perjalanan

Melalui setapak jalan penuh kerikil

Aku yakin aku bisa menemukan Bunga yang indah


Bodhisatva Ti Cang Wang

Bodhisatva Ti Cang Wang

Awal mula surga terbentuk...

Di ujung kehidupan aku pasti menemukan Bunga yang indah

Bunga yang berharga...

Bunga yang sangat indah...

Serba-serbi Sekolah Minggu Du Jing Ban

Penulis: Xiaodi Wang

Nada serapan: 童年


Hari ini hari Minggu, saat ayah dan ibuku pergi ke Kampung Melayu

Aku berada di Vihara, di kelas favorit ku membaca paritta

Papan tulis yang selalu penuh tulisan yang tidak begitu ku mengerti

Kadang guru ku galak tapi beliau menjagaku sangat baik

Tak heran ketika ku besar beliau masih melihatku seperti anak kecil


Bila membaca paritta telah selesai, kami semua menonton tv dan bernyanyi bersama

Kami mengumpulkan uang Kas setiap minggu, supaya suatu hari bisa Fang Sheng bersama Umat Umum

Ruangan lega yang dipenuhi gambar-gambar biksu-biksu kecil mengapa bisa begitu mengesankan?

Pergi ke Vihara tiada bosan-bosannya karena bertemu dengan umat yang bermacam-macam


Bila kelas telah selesai, aku akan menunggu ayah-ibu ku menjemput di sore hari

Ibuku menjadi Pembawa Acara di Cetya Kampung Melayu dan ayahku yang mengantarnya

Pernah aku ikut antar-jemput mobil Vihara tapi aku merasa lebih baik menunggu ayah-ibu ku

Karena dari siang hingga senja banyak cerita tentang remaja Guang Sheng


Ko Aming meminjamkan ponsel nya kepadaku dan ponselnya menjadi milikku selama setengah hari

Ko Andri membonceng ku dengan motor Supra melewati rel Kereta Api pergi membeli "Jus Kode" untuk umat

Kalau berada lebih sore di Vihara, bisa melihat Koko dan Cie-cie sedang sibuk mempersiapkan acara Vihara

Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun

Tahun-tahun yang kita lalui bersama tidak akan pernah kusesali

Gadis Pembawa Lentera

Pada jaman dahulu kala dinasti Song akhir, ada seorang gadis bernama 张繡恩 (Zhang Xiu En) yang hidup bersama kakeknya. Sejak kecil orang tua Xiu En telah meninggal karena sakit sehingga akhirnya sejak berusia lima tahun harus tinggal bersama kakeknya di sebuah gunung bernama Pu Tuo Shan. 

Sejak berusia sebelas tahun En-en (nama kecil Xiu En) menyadari banyak sekali petapa Buddhisme ingin bertapa di gunung Pu Tuo Shan. Konon katanya, di Puncak Pu Tuo Shan ada seorang biksu yang berhasil mencapai kesadaran tertinggi dan orang-orang ingin berguru dengan biksu tersebut. 

Selama tinggal di kaki gunung tersebut, kakeknya tahu bahwa kabar itu benar. Tetapi pergi mendaki gunung hanya untuk membuktikan kebenaran itu justru malah membuat nyawa sia-sia. Banyak sekali pembina diri yang tidak berhasil pergi ke puncak gunung tersebut dan akhirnya mati sia-sia. 

Untuk itu sejak En-en masih kecil, kakeknya sudah mampu menguasai dan melacak pembina diri yang membutuhkan pertolongan ketika mendaki gunung Pu Tuo Shan. Dan En-en menyadari hal itu ketika berusia sebelas tahun. 

En-en mulai aktif menolong dan mencegah orang-orang untuk mendaki puncak gunung Pu Tuo Shan. Dan berusaha agar mereka menghentikan pertapaan ekstrim yang membuat nyawa mereka melayang. Mereka semua adalah laki-laki yang ingin membina sempurna. Namun kebanyakan celaka karena pendakian yang curam. 

Mengetahui kabar kakek dan En-en yang selalu mencegah pembina diri mendaki gunung. Mereka (pembina diri) pergi ke gunung di tengah malam yang mana juga memperbanyak jatuhnya korban jiwa. En-en dan kakeknya entah telah berapa banyak menguburkan pembina diri yang meninggal akibat mendaki gunung di tengah malam. 

Mengetahui hal itu, En-en pun mulai fokus menyatukan pikiran dan perasaan. Mempertajam insting dan firasat. Pergi keluar rumah setiap jam dua tengah malam dan membawa lentera untuk mencegah dan menolong para pendaki gunung. 

Hasilnya banyak sekali pendaki gunung yang dibawa pulang oleh En-en ke rumah kakeknya. Kebanyakkan dari mereka mengalami kelelahan ekstrim dan hiportemia akibat mendaki gunung tengah malam. Yang merupakan penyebab mereka meninggal di pagi hari. 

Bagi keluarga para pembina diri yang mendaki ke gunung Pu Tuo Shan, En-en dan kakeknya adalah harapan hidup orang-orang yang mereka sayangi. Meskipun tidak pernah melihat langsung, tapi keluarga pendaki gunung tersebut sangat berterima kasih pada Niang-niang (En-en disebut Niang-niang atau titisan Dewi Guan Yin) telah melindungi anggota keluarganya yang tersesat pandangannya. Sejak saat itu, membina diri tidak lagi identik dengan bertapa dan pergi menyendiri mencari ilmu di gunung atau di hutan-hutan. 

Di usia ke lima belas di bulan 7 tanggal 6, En-en harus merampungkan misinya sebagai penolong umat manusia yang sesat pemikirannya sebagai pembina diri. En-en meninggal dalam misinya ketika mencari pendaki gunung tengah malam. Ia terperosok jatuh ke jurang yang dalam dan meninggal di tengah hujan yang deras. Dan tragisnya, jenazahnya tak bisa diketemukan oleh kakeknya. 

Banyak pembina diri yang menginap di gubuk kakeknya berpikir pasti En-en adalah Dewi Guan Yin yang telah kembali ke surga dan tidak akan kembali lagi. Sontak kabar ini menyebar dan muncullah istilah "Guan Yin Pu Sa Pembawa Lentera". Karena En-en selalu membawa lentera setiap kali pergi menolong pembina diri di tengah malam. 


26 July 2025

Kisah Ma Xiu Niang dan Zhan Yu He

Ilustrasi Zhan Yu He

Ilustrasi Ma Xiu Niang

Aku akan menceritakan bagaimana seorang pacar yang belum sempurna menyempurnakan kekasihnya yang berpendidikan Konfusius.

Pada zaman dinasti Han Akhir, hidup seorang gadis Bernama Ma Xiu Niang (馬秀娘). Ma Xiu Niang adalah seorang putri dari Ma Wen Hua (馬文化), seorang yang kehidupannya lumayan berkat menjual pangsit vegetarian di pasar di kota Chongqing, di distrik Yu Zhong. Istrinya yang Bernama Zhang Xiu Cai(张修才), sangat rajin membantu suaminya membuat kulit pangsit.

Ma Xiu Niang sedari kecil sering diajak orang tuanya pergi ke Vihara yang beraliran Mahayana. Sejak kecil, meskipun seorang putri yang sangat disayang ayahnya tapi sangat berkemauan keras dalam menghafal sajak-sajak sederhana dan selalu berinisiatif ke Vihara untuk membaca Paritta semenjak berusia dua tahun.

Ma Wen Hua yang juga agak irit melihat di Vihara bisa belajar begitu banyak, memilih untuk membiarkan A Niang pergi ke Vihara belajar sajak, syair, dan puisi. Sehingga jadilah A Niang seorang anak yang bijak namun juga sangat cekatan.

Di usia A Niang yang ke tujuh tahun bertemu dengan Zhan Yu He (曾玉河)yang berusia dua tahun lebih tua darinya di Vihara. Yu He dan keluarga baru pindah dari Peking karena ayahnya yang seorang pejabat yang di mutasi ke daerah Chongqing untuk mengurus perpajakkan Negara Bagian Chongqing (saat itu pemerintahan Tiongkok Kuno masih belum bersatu menjadi Tiongkok Daratan, Chongqing masih mengakui dirinya sebagai negara yang terpisah yang berbeda dengan Tiongkok, sehingga kedatangan ayah Yu He ke sana adalah sebagai seorang yang memastikan hubungan terpusat antara pemerintahan daerah dengan pemerintahan pusat di Peking).

Yu He semenjak pindah ke Chongqing, selalu diajak ibunya setiap hari ketujuh untuk belajar syair dan membaca Paritta di Vihara Luo Han tempat keluarga A Niang yang juga sangat aktif sebagai salah satu pengurus Vihara di Vihara Luo Han. Tak butuh waktu lama, namanya anak-anak, mereka berdua dan teman-teman yang lain langsung akrab, bermain bersama tanpa membedakan mana pria dan mana wanita.

Di usia ke 11 tahun, A Niang mulai menyadari adanya perbedaan pria dan wanita. Begitu juga Yu He, di usia 13 tahun merasa lebih tertarik melihat A Niang dan seperti sudah merasakan naluri pria dewasa, Yu He sangat ingin menjaga A Niang. Tanpa disadari A Niang dan Yu He mulai suka berjalan-jalan bersama hanya untuk makan Cincau atau mungkin Minum Kolagen Main-main (kalau sekarang namanya Peach Gum).

Di usia sepuluh tahun, A Niang suka membuat keranjang yang berasal dari bambu dan rotan batang kecil yang kaku dan susah untuk dibentuk. Akan tetapi, A Niang sangat sabar dan secara kreatif dan pelan-pelan membentuknya persis seperti sarang burung. Tak butuh waktu lama, tantenya atau tetangganya melihat keunikkan keranjang tersebut dan mulai memesan keranjang yang berukuran tanggung dan besar untuk proses lamaran (Sang Jit) Masyarakat saat itu. Segera keranjang tersebut menjadi sangat populer dan banyak sekali penyedia jasa paitu dan sangjit mengikuti desain keranjang tersebut.

Saat itu, Yu He yang berusia dua belas tahun yang akrab dengan A Niang juga sering mampir ke rumah A Niang untuk bermain hingga sore hari. Setiap hari membantu A Niang membuat keranjang. Akan tetapi, pada awalnya, Yu He sering mematahkan batang-batang kecil rotan tersebut. Meski pun begitu A Niang tidak marah justru mendukungnya untuk terus berusaha. Dari sana bibit-bibit asmara pun tumbuh di hati Yu He.

Di usia A Niang yang ke 11 tahun, beliau “ditembak” oleh Yu He yang berusia 13 tahun untuk berpacaran. Pada awalnya A Niang tidak terlalu paham, namun perlahan tapi pasti A Niang mulai sadar bahwa memanglah benak A Niang selalu dipenuhi wajah Yu He. Hari-hari A Niang juga selalu diawasi oleh Yu He. Hingga di usia ketiga belas, A Niang yang juga anak seorang pengurus Vihara Luo Han mulai berencana dan tanpa sadar menjadi pencetus Sekolah Minggu Buddha pertama di dunia bagi anak-anak yang tidak mampu di Vihara Luo Han.

 

Kekuatan Karma dan Ikrar yang sama-sama menguji keyakinan dan keteguhan Hati

A Niang mengajukan gagasan untuk membuka sekolah Minggu untuk anak-anak kurang mampu kepada Kepala Biksu di Vihara Luo Han. Ternyata itu harus melalui serangkaian ujian oleh Kepala Biksu di Vihara Luo Han.

Bagaimana ujiannya? Beberapa romo dan biksu-biksu mulai menguji apakah A Niang dapat menjadi seorang Guru? Mengingat latar belakangnya yang tidak menempuh Pendidikan Formal. Yang ditakutkan adalah A Niang malah salah dalam mengajar anak-anak kecil.

A Niang mempersiapkan presentasinya yang juga dibantu Yu He yang seorang mahasiswa Sastra dan Budaya Tiongkok. Hal itu bagaikan membuat sebuah skripsi. A Niang yang ia pikir hanya tinggal menulis kata-kata yang baik untuk ditunjukkan kepada para Biksu dan Romo, ternyata malah diberi petunjuk oleh Yu He untuk melakukan pengamatan ke lingkungan kumuh di distrik tersebut.

Di sana Yu He mengajak A Niang untuk melakukan wawancara untuk mengetahui isi kepala Masyarakat dan anak-anak di sana. Hasilnya sungguh mencengangkan. Mereka merasa anak-anak hanya perlu memperhatikan dan membantu orang tuanya bekerja saja dan lebih memilih supaya anaknya menjadi pekerja kasar di Pasar.

Melihat demikian A Niang dan Yu He tidak bisa tinggal diam. Mereka segera menyusun rencana untuk segera mengubah paradigma ini. Maka presentasi yang semula disiapkan A Niang yang tadinya hanya untuk menjelaskan dan bercerita malah membuatnya membawa lima anak dari pedesaan itu pergi Vihara di hari ke-enam sesuai yang ia janjikan kepada para biksu dan romo .

Para biksu dan romo tercengang melihat anak-anak yang penampilannya sangat kumuh. Anak-anak tersebut dituntun Yu He untuk duduk di bangku kecil yang telah dipesan Yu He kepada tukang kayu terbaik di distrik Yu Zhong. Saat itu juga yang terpikir oleh A Niang adalah mengajarkan aksara Han seperti “Wo ()” “Ni (你)” “Ta (他)”. Dan berkat keajaiban ikrar suci A Niang yang ingin membuka Sekolah Minggu, mereka bisa mengerti dan langsung bisa menulis dalam satu kali pengajaran. Sontak saat itu kepala biksu memahami, inilah semangat Bodhisattva yang cinta tanah air. Sehingga akhirnya mulai merintis Sekolah Minggu Buddha pertama di dunia.

Bukan hanya anak-anak miskin bahkan anak-anak yang mendapatkan Pendidikan formal pun juga tertarik untuk mengikuti Sekolah Minggu ini. Akhirnya A Niang membentuk tim kurikulum yang beranggotakan 12 remaja putri dari berbagai kalangan kemudian memutuskan untuk mengajarkan syair bagi anak-anak yang “pernah belajar membaca” dan menjelaskan makna Paritta bagi anak-anak yang berusia 9-12 tahun yang sedang menempuh Pendidikan formal.

Yu He melihat itu juga tidak tinggal diam. Ia mulai mengajarkan anak laki-laki yang putus sekolah yang usianya beranjak remaja. Yu He mengajar tentang sastra dan budaya Tiongkok kuno di Vihara tersebut. Sontak setiap hari Sabtu dan Minggu, Vihara dipenuhi tawa dan suara anak-anak yang sedang merapal sayir dan paritta sehingga membuat para biksu dan romo semangat mengumpulkan dana untuk membuka lebih banyak ruangan di Vihara tersebut. Romo pun juga senang, banyak sekali orang tua murid-murid sekolah Minggu yang mulai terdidik dengan adanya kelas Dharma Umum di hari Minggu dan kelas Dharma di setiap tanggal 1 dan 15 setiap bulan.

Tak jarang karena kemajuan ini, membuat A Niang hampir setiap hari pergi ke Vihara dan pulang larut malam. Karena masalah ini juga akhirnya A Niang dan Yu He memutuskan untuk menjaga jarak jika di lingkungan Vihara. Akan tetapi Yu He masih selalu pergi ke rumah A Niang selepas pulang sekolah untuk membantu ibunya membuat pangsit vegetarian.

Suatu malam (kira-kira pukul delapan) A Niang baru pulang dari sebuah toko tinta dan mao pik. Vihara ingin membuat sebuah kegiatan lomba membaca syair dan sajak. Saat itu, A Niang mulai sering batuk-batuk. Dan saat sedang batuk, A Niang menutup mulutnya dengan tangan. Saat membuka tangannya, ia mendapati darah di tangannya.

Di saat bersamaan, Yu He yang tadinya ingin menjemput A Niang untuk mengantarnya pulang, menyaksikan hal itu dan sangat terkejut. Yu He segera mengambil sapu tangannya dan membersihkan tangan A Niang dari darahnya.

Yu He langsung membawa A Niang ke tabib dan membelikannya obat. Segera ia melaporkan kepada orang tua A Niang. Saat itu untuk pertama kalinya seorang Yu He menginap di rumah A Niang dengan izin orang tua A Niang untuk menjaga A Niang. Yu He menjaga A Niang hingga beberapa hari.

Yu He akhirnya selalu memberikan A Niang ramuan penguat paru-paru dan sering membelikan umbi akar Teratai agar paru-parunya membaik.

A Niang yang sibuk tidak selalu menuruti saran Yu He untuk meminum ramuan karena A Niang tidak ada waktu untuk merebusnya. Akhirnya Yu He merebuskan ramuan penguat paru-paru itu di rumahnya dan menuangkannya ke dalam sebuah baki tanah liat dan membawakannya ke rumah A Niang untuk diminum A Niang.

Yu He benar-benar khawatir. Sehingga mulai membicarakan hubungannya ke jenjang yang lebih serius dengan A Niang. A Niang sontak syok dan ketakutan, ia belum siap. Saat itu A Niang baru berusia 13 tahun dan Yu He berusia 15 tahun. A Niang berkata “kita masih terlalu muda dan aku baru saja membuka Sekolah Minggu. Masih banyak hal yang harus kuurus”, jelas A Niang disertai batuk-batuk.

“Aku harus bagaimana? Aku benar-benar khawatir. Aku benar-benar mencintaimu!” jelas Yu He

A Niang semakin kacau dan ia hanya bisa menangis. Di pikirannya yang masih belia, masih terbayang wajah ayah dan ibunya yang juga pasti belum siap kehilangan putrinya yang semata wayang yang juga kalau menikah pasti harus berpindah tempat tinggal ke rumah Yu He.

Melihat hal itu, Yu He mulai menggenggam kedua tangan A Niang dan mengusap air matanya. “Maafkan aku”, jelas Yu He kemudian mengecup pipi A Niang dan memeluknya.

Di suatu siang yang panas, di tengah kota Chongqing yang hanya seperti itu. Seperti menjadi kota yang baru saat hendak pergi melihat-lihat barang-barang pernikahan. Anting, gelang, dan kalung emas yang beragam. Hingga akhirnya, Langkah mereka berdua mengantar ke suatu toko kain milik sahabat A Niang, Bernama Ci Ai (慈愛).

“Bolehkah melihat kain berwarna merah yang motifnya bagus?”, tanya Yu He.

Ci Ai yang juga sahabat A Niang mulai menerka-nerka dan tertawa kecil.

“baiklah, akan kuberikan kain sutra merah terbaik di kota ini. Dengan motif burung Hong yang terkenal. Sebagai sahabat yang kalian kenal baik, aku merestui kali dengan memberi harga spesial pada kain ini. Hanya 5 tail emas per meter”, jelas Ci Ai sambil tersenyum manis.

“Ah memberi restu apanya!?”, jelas Yu He malu sambil menahan senyum bangga.

Setelah puas melihat-lihat hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan tanpa memesan atau membelinya. A Niang melihat-lihat aksesoris wanita yang dijual oleh seorang pedagang yang berasal dari Tiongkok Timur. Giok-giok sisa pecahan yang diukir membentuk Ju Lai Hut dan beberapa gelang giok, kerajinan simpul khas Tiongkok Timur dan gantungan-gantungan yang sangat cantik dan lucu.

Yu He yang berada di samping A Niang yang sedang tersenyum puas tiba-tiba jari kelingkingnya disentuh oleh seorang anak kecil laki-laki.

“Ada apa, dek?”, tanya Yu He sembari membungkukkan tubuhnya. Anak kecil itu membisik kepada Yu He, “Ayo ko, beli gelang giok Kerajaan itu dan kenakan kepada kekasih mu. Niscaya pasti dapat membuatnya terhindar dari musibah”.

Mendengar hal itu, tanpa pikir Panjang Yu He langsung membelikan A Niang gelang giok itu. Dan saat itu juga Yu He ingin memberi sedikit koin pada anak kecil itu, ternyata anak kecil itu telah hilang entah ke mana?

Saat A Niang telah selesai memilih dan hendak membayar, Yu He langsung memberi beberapa tail perak kepada pedagang dan langsung menyentuh tangan A Niang dan memberikan gelang giok Kerajaan kepada A Niang.

A Niang sangat terkejut melihat gelang giok tersebut. Sontak saja ia langsung bertanya, “haha… ini mau diberikan kepada ibuku atau bagaimana?”

“Banyak yang bilang gelang giok ini bisa menjaga seorang putri dari musibah. Ayo pakai”, jelas Yu He.

“Tidak ah! Tapi akan aku simpan untuk diberikan kepada ibuku. Saya akan memberikannya kepada ibuku”, jelas A Niang.

“Hei, itu kubelikan untuk mu!”, jelas Yu He sambil membuntuti A Niang.

Di suatu Rabu Siang, ketika anak-anak sekolah Minggu diajak duduk di depan kedai pangsit milik ayah A Niang untuk menganyam keranjang kayu yang akan dijual sebagai uang jajan anak-anak tersebut. Yu He bertanya kepada A Niang, “kamu juga suka mengumpulkan bunga-bunga, mengapa tidak sekalian mengisi keranjang-keranjang ini dengan sedikit bunga? Supaya harga keranjang lebih tinggi?”

Saat itulah sekejap A Niang terdiam dan pandangan tiba-tiba hampa, kemudian dengan segala kebijakkannya ia menjawab”, biarlah keranjang ini kosong. Sebab keranjang ini sebenarnya telah diisi oleh ide dan pikiran orang yang menggunakannya dan hal itu tak terlihat”.

Yu He seorang mahasiswa sastra budaya Tiongkok Kuno tidak pernah menyangka bahwa A Niang lebih sempurna dari dirinya. Sesaat itu bagaikan cangkir teh yang pecah memuncratkan isinya tanpa rasa bersalah. Ia menyadari ada hal kosong tepat di kepalanya.

Saat itu juga pembicaraan ini menjadi suara anak-anak yang sibuk menganyam keranjang. Dan sejak saat itu pula, wajah A Niang menjadi pucat dan kesehatannya menurun drastis.

Tepat di usia 13 tahun di musim peralihan panas dan gugur. Pohon pinus harus memisahkan daun-daun yang kering dari ranting. Masih ada sedikit hijau, tapi teriknya matahari membuat itu semua perlahan menguning.

Di tanggal 26 bulan 7, A Niang batuk parah tak berhenti. Hal itu membuat sekujur tubuhnya kejang-kejang dan semua otot ditubuhnya kram. Komplikasi penyakit saraf dan infeksi paru-paru memicu jantung bekerja sangat cepat hingga akhirnya tak bisa bertahan dan akhirnya waktu A Niang terhenti.

A Niang meninggalkan ayah, ibu, dan Yu He begitu saja tanpa sedikit pun pesan. Awalnya ingin disemayamkan di rumah sendiri dan langsung dikubur. Tetapi karena jasanya yang begitu besar, Sang Kepala Biksu memindahkan tubuh A Niang lengkap dengan dalam petinya ke Vihara Luo Han untuk dibacakan paritta selama tujuh hari penuh.

Semua pasangan suami istri yang pernah memakai jasa paitu dan sangjit dari A Niang, membawa anak-anak mereka yang masih bayi, berharap arwah dari A Niang bisa memberi berkat kepada anak-anak mereka (saat itu, A Niang telah dianggap memiliki kekuatan Dewi yang luar biasa).

Anak-anak semua yang menangis  berinisiatif membaca Sutra Hati berulang kali hingga tujuh hari lamanya. Mengantar seorang perawan suci ke peristirahatan terakhir. Yu He bagaikan orang yang mati separuh. Bingung, linglung, semua tidak dapat dijelaskan. Menangis hingga air mata kering. Ma Xiu Niang telah tidur abadi selamanya. Yah, telah tidur abadi selamanya.

Suatu ketika di peringatan tiga tahun kepergian A Niang, ayah ibunya membersihkan kubur dan memberi persembahan. Kedua orang tua A Niang juga masih kebingungan mencari keberadaan Yu He.

Sejak dari upacara mengantar ke peristirahatan terakhir hingga sekarang, Yu He tidak pernah lagi menampakkan dirinya. Bahkan ayah dan ibu Yu He juga sangat frustasi mencari Yu He yang hilang. Yu He merasa semua ilmu yang ia pelajari percuma hingga akhirnya menjadi setengah gila dan pergi mengemis sambil bernyanyi di tengah kota membawa sebuah keranjang kosong yang ia curi dari rumah pacarnya.

“Hahaha… Zhan Yu He bukan lagi Zhan Yu He. Keberadaan kekasih bagaikan negeri dongeng. Bisa bertemu tapi tak bisa berjodoh. Pada akhirnya apa yang kupelajari bagaikan keranjang kosong ini. Terakhir aku penuhi ini dengan bunga-bunga, sepertinya aku begitu serakah menginginkan kebahagiaan yang lebih. Aku tidak benar-benar jahat kan? Aku hanya ingin kekasihku bangkit kembali. Biarlah syair-syair konyol yang kupelajari kunyanyikan terus dengan nada sembarang. Ideku tiada bedanya seperti keranjang kosong. Keserakahan ku penyebab semua ini. A Niang jangan salah paham, kupersembahkan sekeranjang bunga ini bukan berarti meminta rezeki dari mu. Tapi aku benar-benar tidak mengerti mengapa aku begitu menyayangi mu. Biarkan aku menjagamu hingga selamanya. Aku mencintai mu…”

 

Catatan kaki:

Selepas itu, Zhan Yu He menjadi pengemis dan pengamen yang sinting selama sepuluh tahun. Ia tidak dapat melanjutkan pendidikkannya yang sebenarnya mempelajari pajak negara sembari membantu ayahnya menyelidiki kasus yang terjadi di pemerintahan Chong Qing.

Pada sisa-sisa kehidupannya, ia kembali kepada keluarganya dan menolong rakyat dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Ia bahkan bisa menginap di rumah warga hingga berbulan-bulan hanya untuk menyelidiki kemiskinan yang melanda sebuah desa secara tiba-tiba.  

Zhan Yu He hidup dan berjasa di era pemerintahan yang korup. Bahkan ia berhasil menyelidiki suplai beras dan terigu yang tiba-tiba menjadi langka dan mahal ketika sampai di Masyarakat.

Dia berusaha untuk fokus dan melupakan kisah cintanya yang kelam dengan bernyanyi. Setiap ia merasa sedih dan hampa, ia selalu bernyanyi.

Setiap tahun memperingati hari kematian A Niang dengan mengintip kegiatan Ayah Ibu A Niang yang membersihkan kubur hingga selesai. Lalu ia baru muncul di hadapan A Niang dengan keranjang rotan yang ia sulam sendiri yang telah diisi banyak bunga-bunga liar.

25 July 2025

CARA KAMU MELIHAT SURGA

Pertanyaan: “Teman, surga itu seperti apa?”

Baiklah saya membantu memberi penjelasan;

Surga itu relatif, sesuai jodoh

Kalau kamu melihat bentuk artinya kamu penuh kepedulian terhadap sesama makhluk

Kalau kamu melihat energi artinya kamu seorang yang berdasarkan pengamatan (pilih kasih)

Kalau kamu melihat kegelapan dan merasakan nyaman artinya kamu sudah mencapai kekosongan batin sesuai yang kamu suka lakukan semasa hidup (meditasi).

Jadi surga itu harusnya seperti apa?

Surga Nan Phing San adalah surga yang disebut bagaikan tinggal di dalam dunia dongeng. Semuanya bisa dinikmati sampai masa tinggal kita selesai (dalam hal ini, apakah ini surga yang melekat pada bentuk?) (pertanyaan ini biasa diberikan oleh para pembina diri Pancaran Merah kepada Pembina Pancaran Putih?)

Di sini ada pertanyaan; “kalau begitu, surga dan neraka sama atau berbeda bagi Anda?”

Saya bantu jelaskan; Bagi Bodhisattva Maitreya yang berada di surga Tusita; “Surga bagaikan penjara yang menyenangkan, neraka bagaikan penjara yang menyakitkan. Yang paling baik adalah bisa menjadi manusia. Mengapa? Karena raga kasar manusia menyeimbangkan semua hawa positif dan negatif. Karena Yin dan Yang, tubuh manusia bisa terbentuk menjadi makhluk yang paling mulia dan menjadi penengah bagi Langit dan Bumi (setiap manusia adalah Triduta yang mewakili Langit dan Bumi berbicara).

Jadi, bagi Maitreya sendiri, bumi adalah Taman Firdaus yang sejati. Kalau kamu masih hidup di masa pancaran merah maka yang kamu dapatkan adalah kenyamanan dalam kekosongan dan masih mendapatkan itu setelah meninggal. Kalau kamu membina diri dengan metode Maitreya, maka ke mana kamu pergi semua bisa berubah menjadi surga (kamu membawa hawa positif ke mana pun kamu pergi).

Jadi konfusius bersabda; “untuk apa memperdebatkan kehidupan setelah kematian?”

Bagi Maitreya yang mempelajari Konfusianisme, hal itu justru tidak begitu penting. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersumbangsih dan berusaha untuk kehidupan setiap makhluk dan menyeimbangkan alam semesta di dalam diri manusia itu sendiri.

Berusahalah untuk membuat hidup mu bermakna.

Kisah Sebelas Pembina Diri


Pada zaman dahulu kala, periode dinasti Tang (Tiongkok) tepatnya di Gunung Chiseosan (yang sekarang termasuk negara Korea Selatan), ada sepuluh biksu mengembara dari Tiongkok ke provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan untuk mengembangkan ajaran Buddhisme. Tepatnya seorang biksu yang dituakan oleh biksu-biksu muda lainnya Bernama Jajang pergi ke arah Korea yang saat itu masih termasuk wilayah oriental Tiongkok.

Di sana membangun sebuah Vihara sederhana dengan bangunan yang lebih tepatnya dikatakan sebuah gubuk. Sepuluh biksu mengembara demi ajaran Buddha dan bertapa, merapal Paritta, dan memberi ceramah bagi Masyarakat di sana.

Kalau diceritakan awal mulanya, dari mana sepuluh biksu ini berasal. Adalah dari Kuil Shaolin yang berpusat pada Peking dan tetua biksu di sana mengutus sepuluh biksu ini pergi ke bagian Korea Selatan untuk mengembangkan keboddhian tanpa memilih tempat.

Perjalanan ke sana dilakukan selama hampir kurang lebih seratus hari dengan berjalan kaki. Kemudian meminta beberapa tukang kayu di daerah sana untuk “menyumbang” mendirikan sebuah bangunan sederhana (pada zaman dahulu kala pindapatta bukan sekedar tentang makanan, bahkan juga bisa berupa sumbangan material untuk tempat tinggal biksu).

Di sana setelah bangunan didirikan, Biksu Jajang dan Sembilan muridnya bermeditasi dan berpuasa sepuluh hari dalam diam untuk meminta petunjuk Alam Semesta darimana Dhamma Buddha harus dibabarkan. Tiga bulan pertama untuk mempelajari bagaimana kehidupan Masyarakat serta menyimpulkan Dhamma apa yang sekiranya cocok dibabarkan untuk Masyarakat.

Biksu Jajang adalah bagian dari aliran Mahayana, sehingga terbiasa membuat sup tahu yang hanya sebalok kecil tahu putih yang disiram air panas sebagai makanan paling mewah dan sayuran hijau sebagai makanan sehari-hari. Membimbing dirinya dan Sembilan murid lainnya dengan rasa hambar yang kadang membuat orang yang melihatnya sangat iba yang akhirnya membuat Masyarakat rela membangun kembali Vihara gubuk yang kecil menjadi permanen.

Karena kesalehan sepuluh biksu dan ceramah yang menjawab banyak permasalahan Masyarakat tak lama Masyarakat di sana sering pergi ke Vihara untuk menanyakan pendapat dan mendapat petunjuk. Sepuluh Biksu yang sederhana tersebut juga sangat diterima oleh Masyarakat Korea yang saat itu berkomunikasi dengan mandarin yang kalau anda dengar logatnya mungkin agak sedikit seperti melayu.

Suatu hari, Biksu Jajang seperti mendapat petunjuk untuk pergi ke arah pasar. Padahal sayuran hijau semua sudah cukup, tapi hatinya seperti mendengar bisikkan untuk pergi ke arah pasar. Katanya digerbang batas Tiongkok dan Korea ada yang sedang menunggu Biksu Jajang. Saat sedang berjalan melihat seseorang berambut lebat dan berjalan sambil tertawa-tersenyum tapi berpakaian biksu abu-abu menjadi pusat perhatian orang-orang di pasar. Saat itu Biksu Jajang paham betul, itulah Biksu yang sepertinya agak dungu dan sepertinya akan membuat malu perkumpulan sangha jika tidak ditolong. Akhirnya dari keramaian itu biksu Jajang segera menariknya dan membawanya pergi dengan cepat kembali ke Vihara.

Sesampainya di Vihara, Biksu Jajang mencukur rambutnya tapi sepertinya dia terlalu sensitif jika kepalanya digunduli.

“astaga, kenapa bisa begini? Kamu biksu dari sangha mana? Mengapa dirimu menjadi seperti ini?”

“Dhamma bersifat lentur, berdasarkan apa kamu mengatakan kamu sudah menjadi Pembina Diri yang baik? Apakah dengan penampilan yang agung dan cara berdoa yang agung semuanya sudah diterima Sang Buddha? Apakah penampilan mu mewakili hati mu? Aku bisa lihat kamu sangat sempurna tapi apa bedanya dengan berkaca pada cermin berstandard (Menyangkut pada patriat Zen ke-enam Hui Neng)? Apakah kamu mau menjadi gila karena mengawasi dirimu sendiri dan marah ketika kamu hanya melakukan satu kesalahan?”, jelas biksu gila itu.

Saat itu Biksu Jajang berhenti untuk mencukur dan “kamu… baiklah ceramah mu sangat bagus sekarang bagaimana pun kamu juga adalah bagian dari Sangha ini”. (Sebenarnya biksu gila ini menyempurnakan Biksu Jajang (kalau dalam Yi Guan Dao adalah Khai Kuang Chiu  Tao menyadari Nurani sendiri letaknya di mana) sehingga kalau dalam Buddhisme sudah mencapai tataran yang sangat tinggi dalam sutra intan berbicara tentang bagaimana bentuk roh suci kita sendiri.

“Sangha? Apakah kamu terikrat dengan Sangha? Bahkan aku pun berseragam abu-abu tapi menjalankan apa yang Bhante Agung (Sang Buddha) ku ajarkan padaku (berbicara tentang perbedaan aliran (Biksu Gila ini bagian dari Theravada) ? Aku pencela kamu? Masih mau memelihara ku?”

“kalau kamu demikian berbicara padaku, maka jadilah yang kamu katakan. Sangha bukan hanya sekelompok ini saja kan!? Oleh karena itu bagaimana pun aku harus menjaga saudara ku yang sama-sama berpedoman pada Sang Tri Ratna. Tak membeda-bedakan”.

“Haha… Bahkan hanya berdasarkan pakaian ini kamu mengatakan aku seorang Pembina diri yang membina pada Sang Buddha. Baiklah aku akan tinggal di sini dan berpindapatta sendiri”, jelas biksu Gila itu.

“Kamu harus bermeditasi (menenangkan diri) dan memperkecil rasa di lidah mu. Kembali lah, dan makanlah makanan vegetarian yang ada di Vihara! Jangan merepotkan umat! (saat itu biksu masak sendiri karena tidak ingin merepotkan umat berpindapatta (sengaja masak  untuk dipersembahkan kepada bhante))”, jelas biksu Jajang.

Akhir kata Biksu Gila itu tinggal di Vihara tersebut dirawat oleh biksu Jajang. Bagi biksu Jajang, meski pun merepotkan tapi ini adalah sebuah perkembangan. Yang menjadi biksu bertambah satu, semua total menjadi sebelas. Walaupun biksu gila itu tetap mempertahankan prinsip aliran Theravada. Lalu bagaimana dengan rambut biksu gila tersebut? Biksu Jajang hanya merapikannya minimal menjadi cepak sehingga kelihatan lebih rapi. Karena setiap akan dicukur habis, pisau cukur langsung mengenai kulit kepala Biksu Gila tersebut dan dia langsung tertawa kegelian. Sehingga mau tidak mau hanya merapikan rambutnya saja supaya tidak terlihat gondrong.

Suatu saat, biksu Jajang mendapat pertanyaan dari kaum cendekiawan korea Konfusius yang senang mempelajari agama Kristen. Kadang dari satu pertanyaan ini sering muncul hal-hal yang ada di masa depan. Artinya Biksu Jajang tidak bisa menjawab hati cendekiawan ini. Tapi tiba-tiba Biksu Gila ini memotong pembicaraan dan langsung berkata; “yang terpenting adalah diri sendiri berbuat baik dan benar. Memastian diri sendiri berada di rel yang tepat, tidak perlu bergantung dan didikte oleh sesuatu yang dinamakan tuhan! Sadarlah!”, hal itu membuat cendekiawan itu sangat geram dan pergi tanpa pernah kembali ke Vihara itu.

Bukannya marah atau apa, biksu Jajang mengerti, cendekiawan itu memang sengaja mau menguji. Karena bagaimana pun cendekiawan itu sudah terlanjur percaya Kristen. Pada intinya pembicaraan itu tidak akan pernah ada titik temu dan titik akhir. Tapi Biksu Jajang sangat percaya, lagi-lagi Biksu Gila ini menyentuh area sensitif yang kalau diketahui hanya dipelajari dan dimengerti oleh biksu-biksu yang sudah sangat tua.

“Baiklah Lie Xiong (Marga Sang Biksu Gila), kamu boleh mulai berceramah di setiap hari ketujuh”, kata Biksu Jajang.

“Wah, sebuah kejutan. Kamu sudah menyadari aku tidak dungu atau apa? Bagaimana kalau aku bermain-main di hari ke-tujuh? Hahahaha…”, jelas Biksu Lie.

Biksu Jajang hanya bangun dari tempat duduknya dan pergi ke kamar. Hati kecilnya percaya, Biksu Lie tidak akan sembarangan berbicara. Apa yang terjadi padanya hari ini adalah justru dari perlakuan Sangha nya yang lalu yang senantiasa menghukum pikirannya secara terus-menerus. Meski pun terlihat gila dan sinting tapi kata-katanya sudah dipenuhi Buddha. Artinya Buddha selalu di sampingnya, Buddha selalu di hatinya, menjaga semua dirinya karena ia sudah ditahbiskan sebagai Biksu. Umurnya juga sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Biksu Jajang berusia 56 tahun, sedangkan Biksu Lie berusia 50 tahun. Sebagai biksu, hal yang harus dilakukan adalah memberi nasehat berupa ceramah. Kalau tidak melakukan hal tersebut maka tidak pernah ada perkembangan.

Buah dari kepercayaan berbuah manis. Biksu Lie menjadi sosok yang sering didengar orang-orang dalam berceramah. Melihatnya sungguh sangat jenaka, inilah awal dari sebuah kelenturan Dhamma. Kalau dahulu biksu berceramah semua harus agung, peserta ceramah menjadi sangat tegang. Semenjak era biksu Jajang yang membawa biksu Lie, entah sejak kapan tawa umat kembali memenuhi Vihara ini. Biksu Lie yang berceramah sangat berbeda dengan kehidupan Biksu Lie sehari-hari yang terlihat benar sering tertawa dalam keputus-asaan dan merasa hidupnya sangat konyol. Biksu Jajang tanpa bertanya lebih lanjut bisa melihat kehidupan Biksu Lie semasa masih akil balik dan hal itu berkaitan dengan wanita.

 

Dalam kesaktian Biksu Jajang yang mampu menelusuri kehidupan masa lalu orang-orang yang berjodoh kepadaNya. Beliau tidak pernah membocorkan ini semua, beliau hanya tahu dan mengerti alasan mengapa orang-orang ini bisa menjadi seperti itu.

Dalam kasus biksu Lie, semasa remaja biksu Lie ini sudah dijodohkan dengan seorang wanita yang kaya raya dan bangsawan. Background biksu Lie ini juga berasal dari keluarga kaya yang berpendidikan. Tapi karena Biksu Lie ingin mempelajari Dhamma maka menolak perjodohan itu. Biksu Lie kabur dengan menjadi biksu dan masuk Sangha Theravada. Sang wanita sangat licik sehingga menjebak biksu Lie dengan masuk ke kamar biksu Lie pada siang hari dan mengatakan Biksu Lie telah melecehkannya.

Seketika pandangan sangha kepada Biksu Lie benar-benar tidak mengizinkan dirinya berkembang lagi. Ia sering dijadikan contoh yang buruk pada ceramah-ceramah biksu yang lainnya. Dia dikucilkan dan dihukum layaknya tidak pantas mendapatkan hal-hal baik yang didapatkan biksu lainnya. Dia pun akhirnya menjadi sinting dan pergi mengemis dengan berpakaian biksu. Selama umurnya dari lima belas tahun hingga lima puluh tahun. Ia senantiasa hadir dalam ketidak-beruntungan orang-orang yang terzolimi tanpa meninggalkan jejak apa-pun. Dalam ketidak-stabilan jiwanya dia selalu mengupayakan untuk membantu orang-orang yang dia temui ketika dalam kesulitan. Sehingga tak jarang orang-orang yang dia tinggalkan setelah ditolong olehnya menyebut biksu Lie sebagai “Buddha Yang Hidup”,

Biksu Jajang berdiam menahan kegelisahan dengan menggertakkan giginya. Ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Sebenarnya Biksu Jajang telah mengistimewakan Biksu Lie tanpa sepengetahuan Sembilan biksu lainnya. Di sini terlintas, entah siapa duluan yang wafat tapi ini membuat hati biksu Jajang gelisah.

Dan, entah sejak kapan Biksu Lie mulai jarang pulang ke Vihara. Dia melakukan pindapatta ke rumah-rumah umat, tapi ada satu rumah umat yang sepertinya membawa isu yang tidak baik bagi anggota sangha. Biksu Jajang seketika langsung menyadari dan langsung pergi ke rumah umat tersebut menjemput Biksu Lie.

Yah Biksu Lie sering mendapatkan pindapatta Paha Ayam Kecap dari rumah umat yang juga merupakan seorang janda stress. Kegelisahan Sang Janda membuat dirinya selalu memutuskan untuk berpindapatta daging-dagingan dan saat itu kebetulan Biksu Lie memperbolehkan dirinya menerima itu semua (karena dia berprinsip pada Sangha Theravada sehingga tidak terlalu mengikuti Sangha Mahayana tempatnya bernaung).

Hampir setiap hari Biksu Lie pergi ke rumah Sang Janda untuk menerima pindapatta tersebut. Sehingga mulai muncul isu-isu yang kurang mengenakkan. Dan akibat kelakuan Biksu Lie menurunkan elektabilitas kepercayaan Masyarakat kepada biksu dan kembali ke ajaran semula yaitu Taoisme, Cheondisme, dan Shamanisme.  Di sinilah penyebab agama Buddha tidak begitu berkembang di Korea Selatan karena masalah ini sebenarnya.

Biksu Jajang menjemput paksa Biksu Lie dan kemudian mengurungnya di Vihara. Ia benar-benar diminta untuk bertobat dan menyuruhnya untuk bervegetarian. Selama sebulan benar-benar diterapi ekstrim oleh biksu Jajang dan hasilnya ia kembali menjadi seperti biasa namun ada berubah, pandangan mata biksu Lie menjadi kosong. Dan sejak saat itu pula, ceramah dan kegiatan biksu Lie menjadi sangat terbatas.

Perlakuan biksu Jajang terhadap biksu Lie selama sebulan terakhir juga menjadi sorotan dan isu yang sangat ekstrim di antara Masyarakat. Seorang dukun tradisional terkenal yang kehilangan pengikut akibat sekumpulan biksu ini pun juga turut melakukan keajaiban yang semakin membuktikan kehancuran manusia ketika menjadi pengikut Buddha. Hanya dalam waktu sebulan kepopuleran Vihara menjadi hancur dan Sembilan biksu lainnya menjadi gusar. Tetapi biksu Jajang menenangkan para biksu dengan kembali mengingatkan bagaimana dulu kita merintis Vihara dengan kesabaran. Sehingga akhirnya kembali ke titik semula, di mana biksu semua merenung, bermeditasi, bertobat, membaca paritta, dan berpuasa selama sebulan lamanya.  Dan hasilnya, beberapa umat yang tulus bisa bertahan dan kembali rutin mendengarkan Dhamma. Meski pun sudah tidak sebanyak dulu lagi.

Di suatu musim panas yang sangat panas. Biksu Jajang duduk di dapur sambil menganyam sebuah kipas. Melihat biksu Lie akhir-akhir ini berkelakuan baik. Ia memutuskan untuk menganyam sebuah kipas sebagai permintaan maaf dan juga berharap ia bisa memakai kipas ini untuk membuat dirinya merasa lebih sejuk.

Di saat bersamaan, biksu Lie masuk ke dapur untuk minum. “Guru membuatkan kipas untuk siapa?” tanya biksu Lie. “untuk kamu, tapi kipas nya belum jadi”, jelas biksu Jajang sambil tersenyum.

Pandang biksu Lie melihat biksu Jajang sedang menganyam kipas menjadi menerawang. Ia tidak bilang apa-apa dan pergi berlalu ke rumah Sang Janda untuk berpindapatta.

Di waktu sore hari, anyaman kipasnya sudah selesai. Tapi di saat itu juga, tiba-tiba sang janda berlari ke Vihara dan menangis memanggil, “Guru, guru! Sangat gawat! Guru Lie tak sadarkan diri sehabis memakan ayam yang kupersembahkan!” tanpa berkata apa-apa Biksu Jajang langsung berlari ke rumah Sang Janda dan mendapati tubuh Biksu Lie telah membiru akibat tersedak ceker ayam yang melukai tenggorokannya dan juga terkena serangan jantung sehingga tubuhnya membiru.

Ini sangat menyedihkan dan membuat kesembilan biksu benar-benar simpang siur. Seorang tukang reparasi kayu yang hanya mampu membuat peti dari empat papan triplek yang tipis dan menjadikannya persembahan terakhir bagi Biksu Lie. Biksu Lie pun disemayamkan di depan altar Buddha yang kecil di Vihara tersebut. Sebelum tutup peti, melihat rambut Biksu Lie yang Panjang membuat biksu Jajang menyesali tidak sempat mencukur rambut Biksu Lie di saat terakhir. Biksu Jajang pun akhirnya hendak berlari pergi ke pasar mencari Kim Cua yang besar (uang kertas dalam ajaran Taoisme yang biasa digunakan untuk persembahan arwah. Saat itu dalam ajaran Buddha belum memakai uang kertas, sehingga hal ini merupakan hal baru (saat itu) di mana tradisi Masyarakat dan ajaran Buddha bersatu). Segera membuat bentuk perahu kertas dan memakaikan di kepala jasad biksu Lie untuk menutupi rambut Biksu Lie (agar lebih rapih, karena tradisi Masyarakat saat itu, jika kematian mendadak dan kurang wajar harus segera dikuburkan sebelum sore hari dan dalam hari itu juga harus beres. Karena Biksu Lie dianggap masih muda).

Biksu Jajang mencoba menenangkan Sembilan biksu muda yang gusar dan menginstruksikan untuk melafalkan nama buddha Amitabha sebanyak-banyaknya hingga waktu penguburan.

Dan dibantu para pekerja kasar (perajin kayu-kayu) membawa peti berisikan jenazah Biksu Lie pergi ke peristirahatan terakhir dibawa pohon Boddhi (saat itu ada sebuah pohon Boddhi yang di tanam oleh biksu Jajang dekat dengan vihara dan sudah cukup besar sehingga membuat liang kubur Biksu Lie di sana).  Masyarakat yang terharu mengadakan sembahyang tancap tiga dupa (Taoisme) di depan kubur Biksu Lie dan lantunan nama Buddha Amitabha tak putus-putus dilantunkan mengantar kepergian Biksu Lie.

Tahun-tahun berlalu, biksu Jajang kembali ke Peking atas permintaan kepala Biksu di sana. Keberhasilannya dalam mengembangkan ajaran Buddha di Korea Selatan membuatnya ingin ditahbiskan menjadi biksu yang lebih senior lagi. Namun, biksu Jajang mengingat sahabatnya, Biksu Lie. Hingga akhirnya membuatnya menolak pentahbisan itu dan lebih memilih berpakaian abu-abu dengan celana hingga akhir hidupnya.

Tiga bulan sebelum biksu Jajang wafat, biksu Jajang kembali melakukan perjalanan ke Vihara yang membuat dia selalu abadi. Sebagai biksu yang menyamakan dirinya dengan sahabatnya Biksu Lie, ia membawa sebuah arak beras di guci hijau dan menuangkannya layaknya orang awam biasa di depan kuburan biksu Lie.

Sepanjang hidup, baru hari itu Biksu Jajang melanggar pantangan bermabuk-mabukkan. Sungguh dalam arak beras itu, ia sungguh merindukan masa-masa heroiknya bersama kesembilan muridnya dan sahabatnya yang ia temukan di gerbang perbatasan Tiongkok dan Korea. Baginya ia sangat rindu untuk merawat dan menjaga Biksu Lie yang sangat kasihan.