26 July 2025

Kisah Ma Xiu Niang dan Zhan Yu He

Ilustrasi Zhan Yu He

Ilustrasi Ma Xiu Niang

Aku akan menceritakan bagaimana seorang pacar yang belum sempurna menyempurnakan kekasihnya yang berpendidikan Konfusius.

Pada zaman dinasti Han Akhir, hidup seorang gadis Bernama Ma Xiu Niang (馬秀娘). Ma Xiu Niang adalah seorang putri dari Ma Wen Hua (馬文化), seorang yang kehidupannya lumayan berkat menjual pangsit vegetarian di pasar di kota Chongqing, di distrik Yu Zhong. Istrinya yang Bernama Zhang Xiu Cai(张修才), sangat rajin membantu suaminya membuat kulit pangsit.

Ma Xiu Niang sedari kecil sering diajak orang tuanya pergi ke Vihara yang beraliran Mahayana. Sejak kecil, meskipun seorang putri yang sangat disayang ayahnya tapi sangat berkemauan keras dalam menghafal sajak-sajak sederhana dan selalu berinisiatif ke Vihara untuk membaca Paritta semenjak berusia dua tahun.

Ma Wen Hua yang juga agak irit melihat di Vihara bisa belajar begitu banyak, memilih untuk membiarkan A Niang pergi ke Vihara belajar sajak, syair, dan puisi. Sehingga jadilah A Niang seorang anak yang bijak namun juga sangat cekatan.

Di usia A Niang yang ke tujuh tahun bertemu dengan Zhan Yu He (曾玉河)yang berusia dua tahun lebih tua darinya di Vihara. Yu He dan keluarga baru pindah dari Peking karena ayahnya yang seorang pejabat yang di mutasi ke daerah Chongqing untuk mengurus perpajakkan Negara Bagian Chongqing (saat itu pemerintahan Tiongkok Kuno masih belum bersatu menjadi Tiongkok Daratan, Chongqing masih mengakui dirinya sebagai negara yang terpisah yang berbeda dengan Tiongkok, sehingga kedatangan ayah Yu He ke sana adalah sebagai seorang yang memastikan hubungan terpusat antara pemerintahan daerah dengan pemerintahan pusat di Peking).

Yu He semenjak pindah ke Chongqing, selalu diajak ibunya setiap hari ketujuh untuk belajar syair dan membaca Paritta di Vihara Luo Han tempat keluarga A Niang yang juga sangat aktif sebagai salah satu pengurus Vihara di Vihara Luo Han. Tak butuh waktu lama, namanya anak-anak, mereka berdua dan teman-teman yang lain langsung akrab, bermain bersama tanpa membedakan mana pria dan mana wanita.

Di usia ke 11 tahun, A Niang mulai menyadari adanya perbedaan pria dan wanita. Begitu juga Yu He, di usia 13 tahun merasa lebih tertarik melihat A Niang dan seperti sudah merasakan naluri pria dewasa, Yu He sangat ingin menjaga A Niang. Tanpa disadari A Niang dan Yu He mulai suka berjalan-jalan bersama hanya untuk makan Cincau atau mungkin Minum Kolagen Main-main (kalau sekarang namanya Peach Gum).

Di usia sepuluh tahun, A Niang suka membuat keranjang yang berasal dari bambu dan rotan batang kecil yang kaku dan susah untuk dibentuk. Akan tetapi, A Niang sangat sabar dan secara kreatif dan pelan-pelan membentuknya persis seperti sarang burung. Tak butuh waktu lama, tantenya atau tetangganya melihat keunikkan keranjang tersebut dan mulai memesan keranjang yang berukuran tanggung dan besar untuk proses lamaran (Sang Jit) Masyarakat saat itu. Segera keranjang tersebut menjadi sangat populer dan banyak sekali penyedia jasa paitu dan sangjit mengikuti desain keranjang tersebut.

Saat itu, Yu He yang berusia dua belas tahun yang akrab dengan A Niang juga sering mampir ke rumah A Niang untuk bermain hingga sore hari. Setiap hari membantu A Niang membuat keranjang. Akan tetapi, pada awalnya, Yu He sering mematahkan batang-batang kecil rotan tersebut. Meski pun begitu A Niang tidak marah justru mendukungnya untuk terus berusaha. Dari sana bibit-bibit asmara pun tumbuh di hati Yu He.

Di usia A Niang yang ke 11 tahun, beliau “ditembak” oleh Yu He yang berusia 13 tahun untuk berpacaran. Pada awalnya A Niang tidak terlalu paham, namun perlahan tapi pasti A Niang mulai sadar bahwa memanglah benak A Niang selalu dipenuhi wajah Yu He. Hari-hari A Niang juga selalu diawasi oleh Yu He. Hingga di usia ketiga belas, A Niang yang juga anak seorang pengurus Vihara Luo Han mulai berencana dan tanpa sadar menjadi pencetus Sekolah Minggu Buddha pertama di dunia bagi anak-anak yang tidak mampu di Vihara Luo Han.

 

Kekuatan Karma dan Ikrar yang sama-sama menguji keyakinan dan keteguhan Hati

A Niang mengajukan gagasan untuk membuka sekolah Minggu untuk anak-anak kurang mampu kepada Kepala Biksu di Vihara Luo Han. Ternyata itu harus melalui serangkaian ujian oleh Kepala Biksu di Vihara Luo Han.

Bagaimana ujiannya? Beberapa romo dan biksu-biksu mulai menguji apakah A Niang dapat menjadi seorang Guru? Mengingat latar belakangnya yang tidak menempuh Pendidikan Formal. Yang ditakutkan adalah A Niang malah salah dalam mengajar anak-anak kecil.

A Niang mempersiapkan presentasinya yang juga dibantu Yu He yang seorang mahasiswa Sastra dan Budaya Tiongkok. Hal itu bagaikan membuat sebuah skripsi. A Niang yang ia pikir hanya tinggal menulis kata-kata yang baik untuk ditunjukkan kepada para Biksu dan Romo, ternyata malah diberi petunjuk oleh Yu He untuk melakukan pengamatan ke lingkungan kumuh di distrik tersebut.

Di sana Yu He mengajak A Niang untuk melakukan wawancara untuk mengetahui isi kepala Masyarakat dan anak-anak di sana. Hasilnya sungguh mencengangkan. Mereka merasa anak-anak hanya perlu memperhatikan dan membantu orang tuanya bekerja saja dan lebih memilih supaya anaknya menjadi pekerja kasar di Pasar.

Melihat demikian A Niang dan Yu He tidak bisa tinggal diam. Mereka segera menyusun rencana untuk segera mengubah paradigma ini. Maka presentasi yang semula disiapkan A Niang yang tadinya hanya untuk menjelaskan dan bercerita malah membuatnya membawa lima anak dari pedesaan itu pergi Vihara di hari ke-enam sesuai yang ia janjikan kepada para biksu dan romo .

Para biksu dan romo tercengang melihat anak-anak yang penampilannya sangat kumuh. Anak-anak tersebut dituntun Yu He untuk duduk di bangku kecil yang telah dipesan Yu He kepada tukang kayu terbaik di distrik Yu Zhong. Saat itu juga yang terpikir oleh A Niang adalah mengajarkan aksara Han seperti “Wo ()” “Ni (你)” “Ta (他)”. Dan berkat keajaiban ikrar suci A Niang yang ingin membuka Sekolah Minggu, mereka bisa mengerti dan langsung bisa menulis dalam satu kali pengajaran. Sontak saat itu kepala biksu memahami, inilah semangat Bodhisattva yang cinta tanah air. Sehingga akhirnya mulai merintis Sekolah Minggu Buddha pertama di dunia.

Bukan hanya anak-anak miskin bahkan anak-anak yang mendapatkan Pendidikan formal pun juga tertarik untuk mengikuti Sekolah Minggu ini. Akhirnya A Niang membentuk tim kurikulum yang beranggotakan 12 remaja putri dari berbagai kalangan kemudian memutuskan untuk mengajarkan syair bagi anak-anak yang “pernah belajar membaca” dan menjelaskan makna Paritta bagi anak-anak yang berusia 9-12 tahun yang sedang menempuh Pendidikan formal.

Yu He melihat itu juga tidak tinggal diam. Ia mulai mengajarkan anak laki-laki yang putus sekolah yang usianya beranjak remaja. Yu He mengajar tentang sastra dan budaya Tiongkok kuno di Vihara tersebut. Sontak setiap hari Sabtu dan Minggu, Vihara dipenuhi tawa dan suara anak-anak yang sedang merapal sayir dan paritta sehingga membuat para biksu dan romo semangat mengumpulkan dana untuk membuka lebih banyak ruangan di Vihara tersebut. Romo pun juga senang, banyak sekali orang tua murid-murid sekolah Minggu yang mulai terdidik dengan adanya kelas Dharma Umum di hari Minggu dan kelas Dharma di setiap tanggal 1 dan 15 setiap bulan.

Tak jarang karena kemajuan ini, membuat A Niang hampir setiap hari pergi ke Vihara dan pulang larut malam. Karena masalah ini juga akhirnya A Niang dan Yu He memutuskan untuk menjaga jarak jika di lingkungan Vihara. Akan tetapi Yu He masih selalu pergi ke rumah A Niang selepas pulang sekolah untuk membantu ibunya membuat pangsit vegetarian.

Suatu malam (kira-kira pukul delapan) A Niang baru pulang dari sebuah toko tinta dan mao pik. Vihara ingin membuat sebuah kegiatan lomba membaca syair dan sajak. Saat itu, A Niang mulai sering batuk-batuk. Dan saat sedang batuk, A Niang menutup mulutnya dengan tangan. Saat membuka tangannya, ia mendapati darah di tangannya.

Di saat bersamaan, Yu He yang tadinya ingin menjemput A Niang untuk mengantarnya pulang, menyaksikan hal itu dan sangat terkejut. Yu He segera mengambil sapu tangannya dan membersihkan tangan A Niang dari darahnya.

Yu He langsung membawa A Niang ke tabib dan membelikannya obat. Segera ia melaporkan kepada orang tua A Niang. Saat itu untuk pertama kalinya seorang Yu He menginap di rumah A Niang dengan izin orang tua A Niang untuk menjaga A Niang. Yu He menjaga A Niang hingga beberapa hari.

Yu He akhirnya selalu memberikan A Niang ramuan penguat paru-paru dan sering membelikan umbi akar Teratai agar paru-parunya membaik.

A Niang yang sibuk tidak selalu menuruti saran Yu He untuk meminum ramuan karena A Niang tidak ada waktu untuk merebusnya. Akhirnya Yu He merebuskan ramuan penguat paru-paru itu di rumahnya dan menuangkannya ke dalam sebuah baki tanah liat dan membawakannya ke rumah A Niang untuk diminum A Niang.

Yu He benar-benar khawatir. Sehingga mulai membicarakan hubungannya ke jenjang yang lebih serius dengan A Niang. A Niang sontak syok dan ketakutan, ia belum siap. Saat itu A Niang baru berusia 13 tahun dan Yu He berusia 15 tahun. A Niang berkata “kita masih terlalu muda dan aku baru saja membuka Sekolah Minggu. Masih banyak hal yang harus kuurus”, jelas A Niang disertai batuk-batuk.

“Aku harus bagaimana? Aku benar-benar khawatir. Aku benar-benar mencintaimu!” jelas Yu He

A Niang semakin kacau dan ia hanya bisa menangis. Di pikirannya yang masih belia, masih terbayang wajah ayah dan ibunya yang juga pasti belum siap kehilangan putrinya yang semata wayang yang juga kalau menikah pasti harus berpindah tempat tinggal ke rumah Yu He.

Melihat hal itu, Yu He mulai menggenggam kedua tangan A Niang dan mengusap air matanya. “Maafkan aku”, jelas Yu He kemudian mengecup pipi A Niang dan memeluknya.

Di suatu siang yang panas, di tengah kota Chongqing yang hanya seperti itu. Seperti menjadi kota yang baru saat hendak pergi melihat-lihat barang-barang pernikahan. Anting, gelang, dan kalung emas yang beragam. Hingga akhirnya, Langkah mereka berdua mengantar ke suatu toko kain milik sahabat A Niang, Bernama Ci Ai (慈愛).

“Bolehkah melihat kain berwarna merah yang motifnya bagus?”, tanya Yu He.

Ci Ai yang juga sahabat A Niang mulai menerka-nerka dan tertawa kecil.

“baiklah, akan kuberikan kain sutra merah terbaik di kota ini. Dengan motif burung Hong yang terkenal. Sebagai sahabat yang kalian kenal baik, aku merestui kali dengan memberi harga spesial pada kain ini. Hanya 5 tail emas per meter”, jelas Ci Ai sambil tersenyum manis.

“Ah memberi restu apanya!?”, jelas Yu He malu sambil menahan senyum bangga.

Setelah puas melihat-lihat hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan tanpa memesan atau membelinya. A Niang melihat-lihat aksesoris wanita yang dijual oleh seorang pedagang yang berasal dari Tiongkok Timur. Giok-giok sisa pecahan yang diukir membentuk Ju Lai Hut dan beberapa gelang giok, kerajinan simpul khas Tiongkok Timur dan gantungan-gantungan yang sangat cantik dan lucu.

Yu He yang berada di samping A Niang yang sedang tersenyum puas tiba-tiba jari kelingkingnya disentuh oleh seorang anak kecil laki-laki.

“Ada apa, dek?”, tanya Yu He sembari membungkukkan tubuhnya. Anak kecil itu membisik kepada Yu He, “Ayo ko, beli gelang giok Kerajaan itu dan kenakan kepada kekasih mu. Niscaya pasti dapat membuatnya terhindar dari musibah”.

Mendengar hal itu, tanpa pikir Panjang Yu He langsung membelikan A Niang gelang giok itu. Dan saat itu juga Yu He ingin memberi sedikit koin pada anak kecil itu, ternyata anak kecil itu telah hilang entah ke mana?

Saat A Niang telah selesai memilih dan hendak membayar, Yu He langsung memberi beberapa tail perak kepada pedagang dan langsung menyentuh tangan A Niang dan memberikan gelang giok Kerajaan kepada A Niang.

A Niang sangat terkejut melihat gelang giok tersebut. Sontak saja ia langsung bertanya, “haha… ini mau diberikan kepada ibuku atau bagaimana?”

“Banyak yang bilang gelang giok ini bisa menjaga seorang putri dari musibah. Ayo pakai”, jelas Yu He.

“Tidak ah! Tapi akan aku simpan untuk diberikan kepada ibuku. Saya akan memberikannya kepada ibuku”, jelas A Niang.

“Hei, itu kubelikan untuk mu!”, jelas Yu He sambil membuntuti A Niang.

Di suatu Rabu Siang, ketika anak-anak sekolah Minggu diajak duduk di depan kedai pangsit milik ayah A Niang untuk menganyam keranjang kayu yang akan dijual sebagai uang jajan anak-anak tersebut. Yu He bertanya kepada A Niang, “kamu juga suka mengumpulkan bunga-bunga, mengapa tidak sekalian mengisi keranjang-keranjang ini dengan sedikit bunga? Supaya harga keranjang lebih tinggi?”

Saat itulah sekejap A Niang terdiam dan pandangan tiba-tiba hampa, kemudian dengan segala kebijakkannya ia menjawab”, biarlah keranjang ini kosong. Sebab keranjang ini sebenarnya telah diisi oleh ide dan pikiran orang yang menggunakannya dan hal itu tak terlihat”.

Yu He seorang mahasiswa sastra budaya Tiongkok Kuno tidak pernah menyangka bahwa A Niang lebih sempurna dari dirinya. Sesaat itu bagaikan cangkir teh yang pecah memuncratkan isinya tanpa rasa bersalah. Ia menyadari ada hal kosong tepat di kepalanya.

Saat itu juga pembicaraan ini menjadi suara anak-anak yang sibuk menganyam keranjang. Dan sejak saat itu pula, wajah A Niang menjadi pucat dan kesehatannya menurun drastis.

Tepat di usia 13 tahun di musim peralihan panas dan gugur. Pohon pinus harus memisahkan daun-daun yang kering dari ranting. Masih ada sedikit hijau, tapi teriknya matahari membuat itu semua perlahan menguning.

Di tanggal 26 bulan 7, A Niang batuk parah tak berhenti. Hal itu membuat sekujur tubuhnya kejang-kejang dan semua otot ditubuhnya kram. Komplikasi penyakit saraf dan infeksi paru-paru memicu jantung bekerja sangat cepat hingga akhirnya tak bisa bertahan dan akhirnya waktu A Niang terhenti.

A Niang meninggalkan ayah, ibu, dan Yu He begitu saja tanpa sedikit pun pesan. Awalnya ingin disemayamkan di rumah sendiri dan langsung dikubur. Tetapi karena jasanya yang begitu besar, Sang Kepala Biksu memindahkan tubuh A Niang lengkap dengan dalam petinya ke Vihara Luo Han untuk dibacakan paritta selama tujuh hari penuh.

Semua pasangan suami istri yang pernah memakai jasa paitu dan sangjit dari A Niang, membawa anak-anak mereka yang masih bayi, berharap arwah dari A Niang bisa memberi berkat kepada anak-anak mereka (saat itu, A Niang telah dianggap memiliki kekuatan Dewi yang luar biasa).

Anak-anak semua yang menangis  berinisiatif membaca Sutra Hati berulang kali hingga tujuh hari lamanya. Mengantar seorang perawan suci ke peristirahatan terakhir. Yu He bagaikan orang yang mati separuh. Bingung, linglung, semua tidak dapat dijelaskan. Menangis hingga air mata kering. Ma Xiu Niang telah tidur abadi selamanya. Yah, telah tidur abadi selamanya.

Suatu ketika di peringatan tiga tahun kepergian A Niang, ayah ibunya membersihkan kubur dan memberi persembahan. Kedua orang tua A Niang juga masih kebingungan mencari keberadaan Yu He.

Sejak dari upacara mengantar ke peristirahatan terakhir hingga sekarang, Yu He tidak pernah lagi menampakkan dirinya. Bahkan ayah dan ibu Yu He juga sangat frustasi mencari Yu He yang hilang. Yu He merasa semua ilmu yang ia pelajari percuma hingga akhirnya menjadi setengah gila dan pergi mengemis sambil bernyanyi di tengah kota membawa sebuah keranjang kosong yang ia curi dari rumah pacarnya.

“Hahaha… Zhan Yu He bukan lagi Zhan Yu He. Keberadaan kekasih bagaikan negeri dongeng. Bisa bertemu tapi tak bisa berjodoh. Pada akhirnya apa yang kupelajari bagaikan keranjang kosong ini. Terakhir aku penuhi ini dengan bunga-bunga, sepertinya aku begitu serakah menginginkan kebahagiaan yang lebih. Aku tidak benar-benar jahat kan? Aku hanya ingin kekasihku bangkit kembali. Biarlah syair-syair konyol yang kupelajari kunyanyikan terus dengan nada sembarang. Ideku tiada bedanya seperti keranjang kosong. Keserakahan ku penyebab semua ini. A Niang jangan salah paham, kupersembahkan sekeranjang bunga ini bukan berarti meminta rezeki dari mu. Tapi aku benar-benar tidak mengerti mengapa aku begitu menyayangi mu. Biarkan aku menjagamu hingga selamanya. Aku mencintai mu…”

 

Catatan kaki:

Selepas itu, Zhan Yu He menjadi pengemis dan pengamen yang sinting selama sepuluh tahun. Ia tidak dapat melanjutkan pendidikkannya yang sebenarnya mempelajari pajak negara sembari membantu ayahnya menyelidiki kasus yang terjadi di pemerintahan Chong Qing.

Pada sisa-sisa kehidupannya, ia kembali kepada keluarganya dan menolong rakyat dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Ia bahkan bisa menginap di rumah warga hingga berbulan-bulan hanya untuk menyelidiki kemiskinan yang melanda sebuah desa secara tiba-tiba.  

Zhan Yu He hidup dan berjasa di era pemerintahan yang korup. Bahkan ia berhasil menyelidiki suplai beras dan terigu yang tiba-tiba menjadi langka dan mahal ketika sampai di Masyarakat.

Dia berusaha untuk fokus dan melupakan kisah cintanya yang kelam dengan bernyanyi. Setiap ia merasa sedih dan hampa, ia selalu bernyanyi.

Setiap tahun memperingati hari kematian A Niang dengan mengintip kegiatan Ayah Ibu A Niang yang membersihkan kubur hingga selesai. Lalu ia baru muncul di hadapan A Niang dengan keranjang rotan yang ia sulam sendiri yang telah diisi banyak bunga-bunga liar.

25 July 2025

CARA KAMU MELIHAT SURGA

Pertanyaan: “Teman, surga itu seperti apa?”

Baiklah saya membantu memberi penjelasan;

Surga itu relatif, sesuai jodoh

Kalau kamu melihat bentuk artinya kamu penuh kepedulian terhadap sesama makhluk

Kalau kamu melihat energi artinya kamu seorang yang berdasarkan pengamatan (pilih kasih)

Kalau kamu melihat kegelapan dan merasakan nyaman artinya kamu sudah mencapai kekosongan batin sesuai yang kamu suka lakukan semasa hidup (meditasi).

Jadi surga itu harusnya seperti apa?

Surga Nan Phing San adalah surga yang disebut bagaikan tinggal di dalam dunia dongeng. Semuanya bisa dinikmati sampai masa tinggal kita selesai (dalam hal ini, apakah ini surga yang melekat pada bentuk?) (pertanyaan ini biasa diberikan oleh para pembina diri Pancaran Merah kepada Pembina Pancaran Putih?)

Di sini ada pertanyaan; “kalau begitu, surga dan neraka sama atau berbeda bagi Anda?”

Saya bantu jelaskan; Bagi Bodhisattva Maitreya yang berada di surga Tusita; “Surga bagaikan penjara yang menyenangkan, neraka bagaikan penjara yang menyakitkan. Yang paling baik adalah bisa menjadi manusia. Mengapa? Karena raga kasar manusia menyeimbangkan semua hawa positif dan negatif. Karena Yin dan Yang, tubuh manusia bisa terbentuk menjadi makhluk yang paling mulia dan menjadi penengah bagi Langit dan Bumi (setiap manusia adalah Triduta yang mewakili Langit dan Bumi berbicara).

Jadi, bagi Maitreya sendiri, bumi adalah Taman Firdaus yang sejati. Kalau kamu masih hidup di masa pancaran merah maka yang kamu dapatkan adalah kenyamanan dalam kekosongan dan masih mendapatkan itu setelah meninggal. Kalau kamu membina diri dengan metode Maitreya, maka ke mana kamu pergi semua bisa berubah menjadi surga (kamu membawa hawa positif ke mana pun kamu pergi).

Jadi konfusius bersabda; “untuk apa memperdebatkan kehidupan setelah kematian?”

Bagi Maitreya yang mempelajari Konfusianisme, hal itu justru tidak begitu penting. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersumbangsih dan berusaha untuk kehidupan setiap makhluk dan menyeimbangkan alam semesta di dalam diri manusia itu sendiri.

Berusahalah untuk membuat hidup mu bermakna.

Kisah Sebelas Pembina Diri


Pada zaman dahulu kala, periode dinasti Tang (Tiongkok) tepatnya di Gunung Chiseosan (yang sekarang termasuk negara Korea Selatan), ada sepuluh biksu mengembara dari Tiongkok ke provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan untuk mengembangkan ajaran Buddhisme. Tepatnya seorang biksu yang dituakan oleh biksu-biksu muda lainnya Bernama Jajang pergi ke arah Korea yang saat itu masih termasuk wilayah oriental Tiongkok.

Di sana membangun sebuah Vihara sederhana dengan bangunan yang lebih tepatnya dikatakan sebuah gubuk. Sepuluh biksu mengembara demi ajaran Buddha dan bertapa, merapal Paritta, dan memberi ceramah bagi Masyarakat di sana.

Kalau diceritakan awal mulanya, dari mana sepuluh biksu ini berasal. Adalah dari Kuil Shaolin yang berpusat pada Peking dan tetua biksu di sana mengutus sepuluh biksu ini pergi ke bagian Korea Selatan untuk mengembangkan keboddhian tanpa memilih tempat.

Perjalanan ke sana dilakukan selama hampir kurang lebih seratus hari dengan berjalan kaki. Kemudian meminta beberapa tukang kayu di daerah sana untuk “menyumbang” mendirikan sebuah bangunan sederhana (pada zaman dahulu kala pindapatta bukan sekedar tentang makanan, bahkan juga bisa berupa sumbangan material untuk tempat tinggal biksu).

Di sana setelah bangunan didirikan, Biksu Jajang dan Sembilan muridnya bermeditasi dan berpuasa sepuluh hari dalam diam untuk meminta petunjuk Alam Semesta darimana Dhamma Buddha harus dibabarkan. Tiga bulan pertama untuk mempelajari bagaimana kehidupan Masyarakat serta menyimpulkan Dhamma apa yang sekiranya cocok dibabarkan untuk Masyarakat.

Biksu Jajang adalah bagian dari aliran Mahayana, sehingga terbiasa membuat sup tahu yang hanya sebalok kecil tahu putih yang disiram air panas sebagai makanan paling mewah dan sayuran hijau sebagai makanan sehari-hari. Membimbing dirinya dan Sembilan murid lainnya dengan rasa hambar yang kadang membuat orang yang melihatnya sangat iba yang akhirnya membuat Masyarakat rela membangun kembali Vihara gubuk yang kecil menjadi permanen.

Karena kesalehan sepuluh biksu dan ceramah yang menjawab banyak permasalahan Masyarakat tak lama Masyarakat di sana sering pergi ke Vihara untuk menanyakan pendapat dan mendapat petunjuk. Sepuluh Biksu yang sederhana tersebut juga sangat diterima oleh Masyarakat Korea yang saat itu berkomunikasi dengan mandarin yang kalau anda dengar logatnya mungkin agak sedikit seperti melayu.

Suatu hari, Biksu Jajang seperti mendapat petunjuk untuk pergi ke arah pasar. Padahal sayuran hijau semua sudah cukup, tapi hatinya seperti mendengar bisikkan untuk pergi ke arah pasar. Katanya digerbang batas Tiongkok dan Korea ada yang sedang menunggu Biksu Jajang. Saat sedang berjalan melihat seseorang berambut lebat dan berjalan sambil tertawa-tersenyum tapi berpakaian biksu abu-abu menjadi pusat perhatian orang-orang di pasar. Saat itu Biksu Jajang paham betul, itulah Biksu yang sepertinya agak dungu dan sepertinya akan membuat malu perkumpulan sangha jika tidak ditolong. Akhirnya dari keramaian itu biksu Jajang segera menariknya dan membawanya pergi dengan cepat kembali ke Vihara.

Sesampainya di Vihara, Biksu Jajang mencukur rambutnya tapi sepertinya dia terlalu sensitif jika kepalanya digunduli.

“astaga, kenapa bisa begini? Kamu biksu dari sangha mana? Mengapa dirimu menjadi seperti ini?”

“Dhamma bersifat lentur, berdasarkan apa kamu mengatakan kamu sudah menjadi Pembina Diri yang baik? Apakah dengan penampilan yang agung dan cara berdoa yang agung semuanya sudah diterima Sang Buddha? Apakah penampilan mu mewakili hati mu? Aku bisa lihat kamu sangat sempurna tapi apa bedanya dengan berkaca pada cermin berstandard (Menyangkut pada patriat Zen ke-enam Hui Neng)? Apakah kamu mau menjadi gila karena mengawasi dirimu sendiri dan marah ketika kamu hanya melakukan satu kesalahan?”, jelas biksu gila itu.

Saat itu Biksu Jajang berhenti untuk mencukur dan “kamu… baiklah ceramah mu sangat bagus sekarang bagaimana pun kamu juga adalah bagian dari Sangha ini”. (Sebenarnya biksu gila ini menyempurnakan Biksu Jajang (kalau dalam Yi Guan Dao adalah Khai Kuang Chiu  Tao menyadari Nurani sendiri letaknya di mana) sehingga kalau dalam Buddhisme sudah mencapai tataran yang sangat tinggi dalam sutra intan berbicara tentang bagaimana bentuk roh suci kita sendiri.

“Sangha? Apakah kamu terikrat dengan Sangha? Bahkan aku pun berseragam abu-abu tapi menjalankan apa yang Bhante Agung (Sang Buddha) ku ajarkan padaku (berbicara tentang perbedaan aliran (Biksu Gila ini bagian dari Theravada) ? Aku pencela kamu? Masih mau memelihara ku?”

“kalau kamu demikian berbicara padaku, maka jadilah yang kamu katakan. Sangha bukan hanya sekelompok ini saja kan!? Oleh karena itu bagaimana pun aku harus menjaga saudara ku yang sama-sama berpedoman pada Sang Tri Ratna. Tak membeda-bedakan”.

“Haha… Bahkan hanya berdasarkan pakaian ini kamu mengatakan aku seorang Pembina diri yang membina pada Sang Buddha. Baiklah aku akan tinggal di sini dan berpindapatta sendiri”, jelas biksu Gila itu.

“Kamu harus bermeditasi (menenangkan diri) dan memperkecil rasa di lidah mu. Kembali lah, dan makanlah makanan vegetarian yang ada di Vihara! Jangan merepotkan umat! (saat itu biksu masak sendiri karena tidak ingin merepotkan umat berpindapatta (sengaja masak  untuk dipersembahkan kepada bhante))”, jelas biksu Jajang.

Akhir kata Biksu Gila itu tinggal di Vihara tersebut dirawat oleh biksu Jajang. Bagi biksu Jajang, meski pun merepotkan tapi ini adalah sebuah perkembangan. Yang menjadi biksu bertambah satu, semua total menjadi sebelas. Walaupun biksu gila itu tetap mempertahankan prinsip aliran Theravada. Lalu bagaimana dengan rambut biksu gila tersebut? Biksu Jajang hanya merapikannya minimal menjadi cepak sehingga kelihatan lebih rapi. Karena setiap akan dicukur habis, pisau cukur langsung mengenai kulit kepala Biksu Gila tersebut dan dia langsung tertawa kegelian. Sehingga mau tidak mau hanya merapikan rambutnya saja supaya tidak terlihat gondrong.

Suatu saat, biksu Jajang mendapat pertanyaan dari kaum cendekiawan korea Konfusius yang senang mempelajari agama Kristen. Kadang dari satu pertanyaan ini sering muncul hal-hal yang ada di masa depan. Artinya Biksu Jajang tidak bisa menjawab hati cendekiawan ini. Tapi tiba-tiba Biksu Gila ini memotong pembicaraan dan langsung berkata; “yang terpenting adalah diri sendiri berbuat baik dan benar. Memastian diri sendiri berada di rel yang tepat, tidak perlu bergantung dan didikte oleh sesuatu yang dinamakan tuhan! Sadarlah!”, hal itu membuat cendekiawan itu sangat geram dan pergi tanpa pernah kembali ke Vihara itu.

Bukannya marah atau apa, biksu Jajang mengerti, cendekiawan itu memang sengaja mau menguji. Karena bagaimana pun cendekiawan itu sudah terlanjur percaya Kristen. Pada intinya pembicaraan itu tidak akan pernah ada titik temu dan titik akhir. Tapi Biksu Jajang sangat percaya, lagi-lagi Biksu Gila ini menyentuh area sensitif yang kalau diketahui hanya dipelajari dan dimengerti oleh biksu-biksu yang sudah sangat tua.

“Baiklah Lie Xiong (Marga Sang Biksu Gila), kamu boleh mulai berceramah di setiap hari ketujuh”, kata Biksu Jajang.

“Wah, sebuah kejutan. Kamu sudah menyadari aku tidak dungu atau apa? Bagaimana kalau aku bermain-main di hari ke-tujuh? Hahahaha…”, jelas Biksu Lie.

Biksu Jajang hanya bangun dari tempat duduknya dan pergi ke kamar. Hati kecilnya percaya, Biksu Lie tidak akan sembarangan berbicara. Apa yang terjadi padanya hari ini adalah justru dari perlakuan Sangha nya yang lalu yang senantiasa menghukum pikirannya secara terus-menerus. Meski pun terlihat gila dan sinting tapi kata-katanya sudah dipenuhi Buddha. Artinya Buddha selalu di sampingnya, Buddha selalu di hatinya, menjaga semua dirinya karena ia sudah ditahbiskan sebagai Biksu. Umurnya juga sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Biksu Jajang berusia 56 tahun, sedangkan Biksu Lie berusia 50 tahun. Sebagai biksu, hal yang harus dilakukan adalah memberi nasehat berupa ceramah. Kalau tidak melakukan hal tersebut maka tidak pernah ada perkembangan.

Buah dari kepercayaan berbuah manis. Biksu Lie menjadi sosok yang sering didengar orang-orang dalam berceramah. Melihatnya sungguh sangat jenaka, inilah awal dari sebuah kelenturan Dhamma. Kalau dahulu biksu berceramah semua harus agung, peserta ceramah menjadi sangat tegang. Semenjak era biksu Jajang yang membawa biksu Lie, entah sejak kapan tawa umat kembali memenuhi Vihara ini. Biksu Lie yang berceramah sangat berbeda dengan kehidupan Biksu Lie sehari-hari yang terlihat benar sering tertawa dalam keputus-asaan dan merasa hidupnya sangat konyol. Biksu Jajang tanpa bertanya lebih lanjut bisa melihat kehidupan Biksu Lie semasa masih akil balik dan hal itu berkaitan dengan wanita.

 

Dalam kesaktian Biksu Jajang yang mampu menelusuri kehidupan masa lalu orang-orang yang berjodoh kepadaNya. Beliau tidak pernah membocorkan ini semua, beliau hanya tahu dan mengerti alasan mengapa orang-orang ini bisa menjadi seperti itu.

Dalam kasus biksu Lie, semasa remaja biksu Lie ini sudah dijodohkan dengan seorang wanita yang kaya raya dan bangsawan. Background biksu Lie ini juga berasal dari keluarga kaya yang berpendidikan. Tapi karena Biksu Lie ingin mempelajari Dhamma maka menolak perjodohan itu. Biksu Lie kabur dengan menjadi biksu dan masuk Sangha Theravada. Sang wanita sangat licik sehingga menjebak biksu Lie dengan masuk ke kamar biksu Lie pada siang hari dan mengatakan Biksu Lie telah melecehkannya.

Seketika pandangan sangha kepada Biksu Lie benar-benar tidak mengizinkan dirinya berkembang lagi. Ia sering dijadikan contoh yang buruk pada ceramah-ceramah biksu yang lainnya. Dia dikucilkan dan dihukum layaknya tidak pantas mendapatkan hal-hal baik yang didapatkan biksu lainnya. Dia pun akhirnya menjadi sinting dan pergi mengemis dengan berpakaian biksu. Selama umurnya dari lima belas tahun hingga lima puluh tahun. Ia senantiasa hadir dalam ketidak-beruntungan orang-orang yang terzolimi tanpa meninggalkan jejak apa-pun. Dalam ketidak-stabilan jiwanya dia selalu mengupayakan untuk membantu orang-orang yang dia temui ketika dalam kesulitan. Sehingga tak jarang orang-orang yang dia tinggalkan setelah ditolong olehnya menyebut biksu Lie sebagai “Buddha Yang Hidup”,

Biksu Jajang berdiam menahan kegelisahan dengan menggertakkan giginya. Ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Sebenarnya Biksu Jajang telah mengistimewakan Biksu Lie tanpa sepengetahuan Sembilan biksu lainnya. Di sini terlintas, entah siapa duluan yang wafat tapi ini membuat hati biksu Jajang gelisah.

Dan, entah sejak kapan Biksu Lie mulai jarang pulang ke Vihara. Dia melakukan pindapatta ke rumah-rumah umat, tapi ada satu rumah umat yang sepertinya membawa isu yang tidak baik bagi anggota sangha. Biksu Jajang seketika langsung menyadari dan langsung pergi ke rumah umat tersebut menjemput Biksu Lie.

Yah Biksu Lie sering mendapatkan pindapatta Paha Ayam Kecap dari rumah umat yang juga merupakan seorang janda stress. Kegelisahan Sang Janda membuat dirinya selalu memutuskan untuk berpindapatta daging-dagingan dan saat itu kebetulan Biksu Lie memperbolehkan dirinya menerima itu semua (karena dia berprinsip pada Sangha Theravada sehingga tidak terlalu mengikuti Sangha Mahayana tempatnya bernaung).

Hampir setiap hari Biksu Lie pergi ke rumah Sang Janda untuk menerima pindapatta tersebut. Sehingga mulai muncul isu-isu yang kurang mengenakkan. Dan akibat kelakuan Biksu Lie menurunkan elektabilitas kepercayaan Masyarakat kepada biksu dan kembali ke ajaran semula yaitu Taoisme, Cheondisme, dan Shamanisme.  Di sinilah penyebab agama Buddha tidak begitu berkembang di Korea Selatan karena masalah ini sebenarnya.

Biksu Jajang menjemput paksa Biksu Lie dan kemudian mengurungnya di Vihara. Ia benar-benar diminta untuk bertobat dan menyuruhnya untuk bervegetarian. Selama sebulan benar-benar diterapi ekstrim oleh biksu Jajang dan hasilnya ia kembali menjadi seperti biasa namun ada berubah, pandangan mata biksu Lie menjadi kosong. Dan sejak saat itu pula, ceramah dan kegiatan biksu Lie menjadi sangat terbatas.

Perlakuan biksu Jajang terhadap biksu Lie selama sebulan terakhir juga menjadi sorotan dan isu yang sangat ekstrim di antara Masyarakat. Seorang dukun tradisional terkenal yang kehilangan pengikut akibat sekumpulan biksu ini pun juga turut melakukan keajaiban yang semakin membuktikan kehancuran manusia ketika menjadi pengikut Buddha. Hanya dalam waktu sebulan kepopuleran Vihara menjadi hancur dan Sembilan biksu lainnya menjadi gusar. Tetapi biksu Jajang menenangkan para biksu dengan kembali mengingatkan bagaimana dulu kita merintis Vihara dengan kesabaran. Sehingga akhirnya kembali ke titik semula, di mana biksu semua merenung, bermeditasi, bertobat, membaca paritta, dan berpuasa selama sebulan lamanya.  Dan hasilnya, beberapa umat yang tulus bisa bertahan dan kembali rutin mendengarkan Dhamma. Meski pun sudah tidak sebanyak dulu lagi.

Di suatu musim panas yang sangat panas. Biksu Jajang duduk di dapur sambil menganyam sebuah kipas. Melihat biksu Lie akhir-akhir ini berkelakuan baik. Ia memutuskan untuk menganyam sebuah kipas sebagai permintaan maaf dan juga berharap ia bisa memakai kipas ini untuk membuat dirinya merasa lebih sejuk.

Di saat bersamaan, biksu Lie masuk ke dapur untuk minum. “Guru membuatkan kipas untuk siapa?” tanya biksu Lie. “untuk kamu, tapi kipas nya belum jadi”, jelas biksu Jajang sambil tersenyum.

Pandang biksu Lie melihat biksu Jajang sedang menganyam kipas menjadi menerawang. Ia tidak bilang apa-apa dan pergi berlalu ke rumah Sang Janda untuk berpindapatta.

Di waktu sore hari, anyaman kipasnya sudah selesai. Tapi di saat itu juga, tiba-tiba sang janda berlari ke Vihara dan menangis memanggil, “Guru, guru! Sangat gawat! Guru Lie tak sadarkan diri sehabis memakan ayam yang kupersembahkan!” tanpa berkata apa-apa Biksu Jajang langsung berlari ke rumah Sang Janda dan mendapati tubuh Biksu Lie telah membiru akibat tersedak ceker ayam yang melukai tenggorokannya dan juga terkena serangan jantung sehingga tubuhnya membiru.

Ini sangat menyedihkan dan membuat kesembilan biksu benar-benar simpang siur. Seorang tukang reparasi kayu yang hanya mampu membuat peti dari empat papan triplek yang tipis dan menjadikannya persembahan terakhir bagi Biksu Lie. Biksu Lie pun disemayamkan di depan altar Buddha yang kecil di Vihara tersebut. Sebelum tutup peti, melihat rambut Biksu Lie yang Panjang membuat biksu Jajang menyesali tidak sempat mencukur rambut Biksu Lie di saat terakhir. Biksu Jajang pun akhirnya hendak berlari pergi ke pasar mencari Kim Cua yang besar (uang kertas dalam ajaran Taoisme yang biasa digunakan untuk persembahan arwah. Saat itu dalam ajaran Buddha belum memakai uang kertas, sehingga hal ini merupakan hal baru (saat itu) di mana tradisi Masyarakat dan ajaran Buddha bersatu). Segera membuat bentuk perahu kertas dan memakaikan di kepala jasad biksu Lie untuk menutupi rambut Biksu Lie (agar lebih rapih, karena tradisi Masyarakat saat itu, jika kematian mendadak dan kurang wajar harus segera dikuburkan sebelum sore hari dan dalam hari itu juga harus beres. Karena Biksu Lie dianggap masih muda).

Biksu Jajang mencoba menenangkan Sembilan biksu muda yang gusar dan menginstruksikan untuk melafalkan nama buddha Amitabha sebanyak-banyaknya hingga waktu penguburan.

Dan dibantu para pekerja kasar (perajin kayu-kayu) membawa peti berisikan jenazah Biksu Lie pergi ke peristirahatan terakhir dibawa pohon Boddhi (saat itu ada sebuah pohon Boddhi yang di tanam oleh biksu Jajang dekat dengan vihara dan sudah cukup besar sehingga membuat liang kubur Biksu Lie di sana).  Masyarakat yang terharu mengadakan sembahyang tancap tiga dupa (Taoisme) di depan kubur Biksu Lie dan lantunan nama Buddha Amitabha tak putus-putus dilantunkan mengantar kepergian Biksu Lie.

Tahun-tahun berlalu, biksu Jajang kembali ke Peking atas permintaan kepala Biksu di sana. Keberhasilannya dalam mengembangkan ajaran Buddha di Korea Selatan membuatnya ingin ditahbiskan menjadi biksu yang lebih senior lagi. Namun, biksu Jajang mengingat sahabatnya, Biksu Lie. Hingga akhirnya membuatnya menolak pentahbisan itu dan lebih memilih berpakaian abu-abu dengan celana hingga akhir hidupnya.

Tiga bulan sebelum biksu Jajang wafat, biksu Jajang kembali melakukan perjalanan ke Vihara yang membuat dia selalu abadi. Sebagai biksu yang menyamakan dirinya dengan sahabatnya Biksu Lie, ia membawa sebuah arak beras di guci hijau dan menuangkannya layaknya orang awam biasa di depan kuburan biksu Lie.

Sepanjang hidup, baru hari itu Biksu Jajang melanggar pantangan bermabuk-mabukkan. Sungguh dalam arak beras itu, ia sungguh merindukan masa-masa heroiknya bersama kesembilan muridnya dan sahabatnya yang ia temukan di gerbang perbatasan Tiongkok dan Korea. Baginya ia sangat rindu untuk merawat dan menjaga Biksu Lie yang sangat kasihan.

18 July 2025

Mengapa Angin Bertiup?

Nada Serapan: Sukiyaki

Penulis: 弥关去世古佛 & 关去世音菩萨 


Angin-angin bertiup begitu cepat

Bunga-bunga bermekaran dan berguguran

Ada yang datang dan ada yang pergi

Ada pertemuan pasti ada perpisahan

Janganlah bersedih karena ini

Tetaplah berpegang teguh pada prinsip

Empat penderitaan, hanya diri sendiri yang paling tahu persis


Mengapa masih tidak bisa melepaskan? 

Dewasa ini, tidak ada yang benar-benar berpisah

Sekali pun pergi, raga ini masih ada di dalam bumi

Jika kamu rindu, panggilah aku

Aku akan ada di hadapan mu dalam beberapa menit


Selama suaraku masih ada di relung hati mu

Kamu tidak pernah kehilangan diriku

Dan aku akan tetap hidup di dalam hati mu


Suaraku adalah suara yang paling ingin kau dengar

Lalu mengapa kamu merasa takut? 

Aku menulis puisi ini sebagai tanda jodoh yang abadi dengan mu

Jika kita bertemu di dalam mimpi

Akankah kamu bahagia? 

Jika kamu rindu aku, lihatlah fotoku seperti biasa, seperti aku masih hidup

17 July 2025

Masalah Berat Badan


Mungkin aku menyesal tidak menjaga berat tubuhku ketika Sekolah Dasar. Saat kamu baru mengenal “jajan”, segala hal pun berubah. Kamu yang tadinya kurus seperti kurang gizi berubah drastis ketika kamu menerima uang jajan dari ayah mu.

Gorengan, sate usus ayam, bakso, mie instan, nasi goreng, nasi uduk, jajanan makanan kecil seperti makaroni, keripik kentang, dan lain-lain rasanya sangat seenak itu. Aku sangat suka semuanya, maka tak heran ketika kelas empat sekolah dasar, berat badanku naik dengan drastis. Seragam baru yang baru kupakai sebulan, secara mendadak tidak bisa kupakai lagi. Entah aku juga bingung, mengapa nafsu makan ku menjadi seliar itu.

Ketika SMK aku mencoba metode akupunktur di Pasar Baru, Jakarta. Namanya dokter Wahyuni, seorang dokter ahli tusuk jarum kecantikkan. Kakak Perempuan ku yang pertama mengajak kami sekeluarga ke sana dalam rangka diet menjelang hari pernikahannya.

Di sana aku diprogram untuk detoks hanya makan apel sepuluh hari tanpa menyentuh makanan lainnya. Dan benar saja, aku benar-benar melakukannya. Tidak makan nasi, tidak makan makanan yang lain, hanya makan Apel selama sepuluh hari. Lapar makan apel, iseng ingin ngemil juga makan apel. Bahkan sampai daripada makan apel lebih baik lapar dibawa tidur. Dan hasilnya aku turun sepuluh kilogram. Tentu sebuah prestasi bagi diriku.

Berat badanku bertahan di angka tersebut hingga kuliah. Namun semua berubah ketika aku mengenal cilok. Aku keranjingan makan cilok hingga seminggu dan dalam seminggu berat badanku naik melesat melebihi berat badan semula.

Aku sangat sedih sekali dan kecewa. Selama bertahun-tahun merasa semua jerih payahku gagal sehingga aku tidak ada perubahan sama sekali selama bertahun-tahun. Namun di tahun 2023, aku kembali memutuskan menurunkan berat badan dengan mengurangi asupan karbohidrat dan perbanyak makan sayur. Tak lupa minum susu protein kedelai dan jalan sebanyak minimal setengah jam. Aku juga sempat berkonsultasi dengan dokter ahli gizi. Dan lagi-lagi aku berhasil selama beberapa bulan menurunkan berat badan hingga lima belas kilogram. Akan tetapi karena lelah diet dan kehilangan motivasi, berat badan ku kembali semula.

Di sini aku dapat menyimpulkan, makanan yang berasal dari tepung-tepungan itu sangat berbahaya. Karena tepung ketika diadon menggunakan bahan basah justru menjadi lebih berat daripada nasi. Seperti mie, misalnya kita makan porsinya sama seperti ketika kita makan nasi. Ternyata setelah ditimbang, seporsi mie beratnya jauh lebih berat daripada seporsi nasi yang biasa kita makan. Dan itu menambah beban berat tubuh ku jauh lebih banyak. Padahal untuk masalah kenyang perut adalah sama.

Aku pernah ke dokter ahli gizi di salah satu rumah sakit. Dan dokter tersebut mengatakan, bahwa kalau diet yang benar adalah tetap makan karbohidrat akan tetapi ditakar atau ditimbang lebih sedikit. Aku menjalani hal itu selama beberapa hari pasca berat badan ku naik dan turun sebanyak lima kilogram. Emosi dan stress juga merupakan faktor naiknya berat badan. Seperti suasana hati yang kurang baik di pagi hari dan badan yang terasa berat selepas tidur juga menjadi pendukung naiknya berat badan ku di pagi hari.

16 July 2025

Kao Susuk Dalam Ingatan

 

Kao Susuk Dalam Ingatan

Tahun 2020, tahun tepat aku kehilangan semuanya. Aku kehilangan ayah ku karena masalah penyakit komplikasi dan beberapa bulan kemudian, aku kehilangan nenekku karena Covid 19. Aku sangat jatuh di tahun-tahun tersebut. Saat melihat rekaman menantunya yang juga terkena Covid 19 dan seruangan dengan beliau. Menantunya merekam proses bagaimana tubuh nenek ku, korban Covid 19 dilapisi plastik hingga tebal sekali. Cara melapisinya pun benar-benar membuatku menangis dan sangat tidak tega. Tubuh nenek ku diputar-putar dan sesekali dibanting dilapisi dengan plastik wrap seperti melapisi makanan. Sungguh sangat menyedihkan sekali.

Tahun-tahun 2020 benar-benar sangat menyedihkan sekali. Akan tetapi semua berubah ketika ibuku menyuruhku untuk ikut membantu restoran kakak perempuanku, Kedai Vege, Jakarta.

Di Jakarta tepatnya di Kedai Vege aku mulai menata hidupku. Kebetulan, saat tahun 2020 Kedai Vege baru pindah ke Pasar Palmerah. Aku bertemu dengan karyawan-karyawan Kedai Vege yang menurutku sangat mendukung ku untuk tidak berlama-lama dalam keterpurukan. Di sana ada satu orang tua yang ikut dengan kakak perempuanku dari tempat kedai yang lama ke tempat yang saat itu masih baru. Orang tua itu biasa dipanggil Kao Susuk oleh karyawan-karyawan Kedai Vege.

Kao susuk, sosok yang sangat menyayangi kami semua seperti menyayangi anak-anaknya sendiri. Kehilangan ayah dan nenek di saat bersamaan memang tak akan tergantikan, tapi bertemu Kao Susuk bagaikan mengobati luka hati kehilangan. Segera, Kao susuk menjadi sosok yang dituakan oleh diriku.

Aku sangat mengagumi sosok Kao Susuk yang meski pun usianya sudah 86 tahun, tapi masih kuat jalan jauh. Masih sangat sehat, masih bisa membantu Kedai Vege, masih bisa bolak-balik naik-turun tangga lima lantai. Kao susuk masih begitu segar dan sumber inspirasi untuk hidup sehat bagiku.

Hal yang kuingat, Kao Susuk suka membelikan kami Gado-gado dan Nasi Padang Namy House. Dalam berbagi Kao susuk tidak pelit, beliau membelikan kami seorang satu bungkus dan sangat menuruti keinginan kami meskipun itu adalah makanan yang lumayan mahal. Tak jarang beliau juga suka membelikan kami Durian Palmerah hehe… pokoknya kehadiran beliau takkan tergantikan. Dan kehadiran beliau meski pun sudah tua, justru malah sangat membantu dan menjadi kekuatan tersendiri bagi kami.

Kami satu atap setiap hari selama lima tahun. Baru di pertengahan tahun 2024, Gao susuk sudah tidak ikut ke Kedai Vege lagi, karena Kedai Vege pindah tempat agak jauh dari Palmerah.

Selain di Kedai Vege, Kao Susuk juga banyak bersumbangsih di Kuang Hang Fo Thang. Beliau sering masak Siomay setiap Che It/Cap Go. Pokoknya setiap kali pingin makan siomay selalu ada siomay Kao Susuk. Sangat enak dan senang sekali. Kao susuk juga pernah membelikan ku sekotak es krim untuk diriku sendiri. Aku sangat senang sekali. Akan tetapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Tepat hari Minggu kemarin (13 Juli 2025), sore hari. Kao susuk berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa. Aku sangat sedih sekali dan rasa sedih itu juga dirasakan ibuku. Rasa sedihnya sama seperti ketika ditinggalkan ayah dan nenek ku. Aku kehilangan sosok yang menginspirasi yang memberikan semangat secara jiwa dan mental. Beliau sangat suka pergi ke Fo Thang, pergi bersumbangsih tenaga dan amal. Beliau juga suka membantu masak di Fo Thang dan selalu hadir setiap pembagian makanan di Bulan Kasih. Beliau juga sangat dituakan baik di Kedai Vege mau pun di Kuang Hang Fo Thang. Beliau bagaikan orang tua kami sendiri, meski pun tidak sedarah tetapi Kao Susuk sangat memperhatikan kami anak-anak muda di Kuang Hang.

Kao Susuk, sosok mu tidak akan pernah terlupakan. Meski pun orang-orang datang dan pergi silih berganti, tetapi akan selalu ada yang menetap dan terkenang di sanubari, salah satunya Kao Susuk. Kao susuk semoga kita bisa bertemu lagi di kehidupan lainnya. Kalau ada dimensi yang lain, saat ini pasti kita masih bersama Kao Susuk. Selamat jalan Kao Susuk, semoga Kao Susuk selalu melihat Kedai Vege dan Kuang Hang Fo Thang dari atas. Damai selalu beserta Kao Susuk dan semoga Kao Susuk Bahagia di sisi Yang Maha Kuasa.