09 July 2026

Kaisar Terakhir Dinasti Song Selatan (1278 – 1279)

Kaisar Zhao Bing

Lahir pada 1272, Zhao Bing (趙昺) adalah Kaisar terakhir Dinasti Song (宋帝昺) yang naik takhta pada usia 7 tahun. 

Zhao Bing adalah anak ke-7 dari Kaisar Zhao Qi (Kaisar Duzong) dan ibunya adalah Selir Yu (俞氏). seorang selir Kaisar Duzong yang memegang pangkat xiurong (修容).

 

Kiri Kaisar Zhao Xian, Tengah Kaisar Zhao Shi, Kanan Kaisar Zhao Bing
 

Dua Kaisar pendahulunya adalah saudaranya sendiri yaitu Zhao Xian (Kaisar Gong) (1275-1276). Zhao Shi (Kaisar Duanzong) (1276-1278). Kaisar Zhao Bing (1271–1279 M) adalah kaisar ke-18. Saat Dinasti Yuan (di bawah kendali Mongolia) berhasil menduduki ibu kota Song, Lin'an (Hangzhou masa kini), Zhao dan saudaranya, Zhao Shi, berhasil kabur ke Jinhua berkat jasa Lu Xiufu (陸秀夫).

Pada tahun 1276, Zhao Shi yang berusia 7 tahun naik takhta sebagai Kaisar Duanzong (宋端宗) dan hanya memerintah 2 tahun sebelum meninggal akibat sakit. Berhasil kabur lagi dari serbuan Dinasti Yuan karena Lu Xiufu, Zhao Bing dilarikan ke Pulau Mui Wo (yaitu Hongkong pada saat ini), dan diangkat sebagai Kaisar Bing pada tahun 1278.

Padahal sebenarnya, Kaisar Zhao Bing sangat menghormati bangsa Mongolia dan Kubilai Khan. Dan sangat menyambut mereka pada awalnya. Kaisar Zhao Bing bermaksud untuk melakukan musyawarah perdamaian dengan pihak Kubilai Khan lewat jalur perdagangan sutra dan mengakhiri perang. Namun Kubilai Khan malah memanfaatkan usia Kaisar yang saat itu terbilang masih sangat belia untuk menduduki wilayah kekuasaan Dinasti Song Selatan. 

Cara yang dilakukan oleh Bangsa Mongolia benar-benar sangat tidak berperikemanusiaan. Bangsa Mongol menyerang dengan cara membunuh membabi buta semua rakyat dan prajurit Dinasti Song secara tiba-tiba.

Hal itu yang membuat Perdana Menteri Lu Xiu Fu geram dan ingin berusaha menyerang tetapi semua prajurit sudah terlanjur diserang oleh Bangsa Mongolia. Hingga menyebabkan kekalahan tanpa penyerangan kembali yang berarti.

Perdana Menteri Lu Xiu Fu yang menggendong Kaisar Bing untuk terjun bunuh diri

Pada 1279, kubu Kaisar Bing berperang melawan Dinasti Yuan di Yamen, Guangdong. Di ambang kekalahan, Lu Xiufu terjun bersama Kaisar Bing dan wafat bersama. Dengan begitu, Dinasti Song pun resmi berakhir dengan tragis. Saat ini, makam Kaisar Bing ada di kota Shenzhen.

03 July 2026

Kisah Tentang Kehidupan Kaisar Guang Xu

Lukisan Kaisar Guang Xu

Kaisar Guang Xu (光緒帝) lahir di Kediaman Pangeran Chun, Kota Terlarang, pada tanggal 14 Agustus 1871. Beliau terlahir dengan nama Zai Tian (載湉). Beliau merupakan Kaisar ke-11 Dinasti Qing. Gelar Beliau adalah Kaisar Dezong dari Qing. Beliau adalah Kaisar kedua terakhir sebelum berakhirnya masa Dinasti Qing.

 

Orang tua Kaisar Guang Xu adalah Pangeran Chun dan Yehenara Rong yang merupakan adik Perempuan dari Ibu Suri Cixi. Kaisar Guang Xu resmi naik tahta pada tanggal 25 Februari 1875 di usia 4 tahun, setelah pendahulunya, Kaisar Tongzhi wafat.

Karena Kaisar Guang Xu masih sangat belia, untuk sementara kekuasaan Dinasti Qing dikendalikan oleh Ibu Suri Cixi. Sampai pada tahun 1889, Kaisar Guang Xu yang berusia 18 tahun, menikah dan barulah Kaisar Guang Xu mengambil alih kendali pemerintahan secara mandiri. Istri baru Kaisar, Permaisuri Longyu, adalah sepupunya sekaligus keponakan Ibu Suri Cixi. Mereka tidak memiliki anak.

 

Gerakan Reformasi 100 Hari 

Kaisar Guang Xu dan Para Pejabat

Kaisar Guang Xu mencetuskan Reformasi Seratus Hari (百日维新) yaitu Gerakan reformasi nasional, budaya, politik, dan Pendidikan selama 103 hingga 104 hari di Tiongkok yang berlangsung dari 11 Juni hingga 21 September 1898.

Gerakan ini diluncurkan oleh Kaisar Guang Xu yang masih sangat muda bersama penasihatnya, Kang Youwei dan Liang Qichao. Reformasi ini dipicu oleh kekalahan memalukan  Tiongkok dari Jepang dalam Perang Sino-Jepang Pertama (1894-1895) serta meningkatnya ancaman imperialism barat.

Selama Gerakan ini, Kaisar Guang Xu mengeluarkan lebih dari 40 hingga 180 dekrit kekaisaran yang bertujuan merombak total sistem Tiongkok agar setara dengan negara modern barat dan restorasi Meiji di Jepang.

Kaisar Guang Xu menghapus sistem ujian pegawai negeri tradisional yang kaku, serta mendirikan sekolah-sekolah modern. Beliau mendirikan Imperial University Of Peking (sekarang Universitas Beijing).

Kaisar Guang Xu juga memotong birokrasi, memberantas korupsi, dan menghapus departemen-departemen pemerintahan serta posisi pejabat korup yang tidak efisien.

Kaisar Guang Xu juga memodernisasi Angkatan perang dengan taktik barat, mempercepat industrialisasi, mempromosikan perdagangan swasta, dan membangun jalur kereta api.

Kaisar Guang Xu juga memberikan kebebasan berbicara.

Namun semua ini ditentang oleh faksi konservatif di dalam istana. Mereka merasa terancam dan menilai reformasi ini merusak nilai-nilai tradisional Konfusius dan memangkas hak Istimewa kaum elit Manchu.

Pada tanggal 21 September 1898, Ibu Suri Cixi memimpin sebuah kudeta militer dengan dukungan Jendral Ronglu. Yang akhirnya membuat Kaisar Guang Xu ditangkap dan diasingkan ke istana pulau buatan (Zhong Nan Hai) sebagai tahanan rumah hingga akhir hayatnya.

Dieksekusinya “Enam Budiman”. Adalah enam pemimpin reformis muda dieksekusi mati tanpa pengadilan. Dan hampir semua kebijakan reformasi dicabut dan dibatalkan oleh Cixi, kecuali pendirian Universitas Beijing.

 

Selir Mutiara 

 

Selir Zhen atau disebut "Selir Mutiara"

Kaisar Guang Xu dalam hidupnya sangat menyayangi selir kesayangannya, yaitu Selir Zhen (1876-1900) yang juga dikenal sebagai Selir Mutiara. Beliau dikenal karena kecantikan, kecerdasannya, dan dukungan terhadap ide-ide Kaisar. Namun, kehidupannya berakhir tragis ketika ia dilemparkan ke dalam sebuah sumur atas perintah Ibu Suri Cixi.

Ibu Suri Cixi (di tengah)

Kaisar Guang Xu mengalami guncangan emosional yang hebat dan depresi berat ketika mengetahui kematian Selir Zhen. Kaisar Guang Xu mengurung diri, menolak makan selama beberapa waktu, dan terus-menerus menangis.

Kaisar Guang Xu sangat tidak berdaya ketika tahu bahwa ia tidak lagi memiliki kekuatan politik untuk menghukum pelaku atau melawan Keputusan Ibu Suri Cixi. Sikapnya menjadi sangat pasif, murung, dan menarik diri sepenuhnya dari kehidupan istana.

Kaisar Guang Xu merupakan Kaisar yang setia kepada istri kesayangannya. Ia menolak menyentuh Permaisuri pilihan Ibu Suri Cixi yaitu Permaisuri Longyu yang merupakan keponakan Ibu Suri Cixi yang dinikahkan paksa dengannya. Setelah kematian Selir Zhen, Kaisar Guang Xu mengabaikan Permaisuri Longyu hingga akhir hayatnya.

Kaisar Guang Xu mendesak agar jenazah Selir Zhen diangkat dari sumur sempit tersebut. Jenazahnya kemudian dimakamkan kembali dengan layak di kompleks Pemakaman Barat Qing. Kaisar Guang Xu juga memberikan gelar anumerta Tingkat tinggi sebagai bentuk penghormatan terakhirnya.

 

Hari-Hari Terakhir Kaisar Guang Xu 

Setelah kegagalan Reformasi Seratus Hari pada tahun 1898, Kaisar Guang Xu menghabiskan 10 tahun terakhir hidupnya dalam isolasi total. Ia ditempatkan di rumah tahanan di Paviliun Yintai, sebuah pulau kecil di kompleks istana Zhong Nan Hai.

Ia kehilangan seluruh kekuatan politik dan hak kebebasannya. Penjagaannya sangat ketat dan ia dilarang berkomunikasi dengan dunia luar. Kondisi kesehatannya terus memburuk akibat depresi berat, frustasi, dan lingkungan isolasi yang tidak sehat.

Di suatu pagi hari, ada sebuah kiriman makanan berupa semangkuk yoghurt (atau sup kental) dikirimkan dari istana Ibu Suri Cixi ke pavilion tempat Kaisar Guang Xu diisolasi. Karena makanan yang dikirim langsung dari Ibu Suri tidak boleh ditolak atau diuji oleh pencicip makanan biasa, kaisar pun memakannya.

Awalnya, Kaisar Guang Xu tampak relatif stabil. Namun tidak lama setelah mangkuk itu kosong, tiba-tiba mengeluhkan sakit perut yang sangat parah. Ia juga mengalami kesemutan yang hebat di bagian tangan. Berdasarkan catatan dokter kekaisaran, wajah kaisar perlahan berubah menjadi Biru keunguan. Kaisar Guang Xu pun wafat pada tanggal 14 November 1908.

Pemakaman Kaisar Guang Xu
 

Selama hampir satu abad, catatan resmi Dinasti Qing menyatakan bahwa Kaisar Guang Xu meninggal karena sakit parah yang berkepanjangan. Namun, hal yang mengganjal juga terjadi sehari kemudian, yaitu wafatnya Ibu Suri Cixi. Kedua hal itu memicu kecurigaan besar di kalangan sejarawan.

Sesaat setelah Kaisar Guang Xu dipastikan tewas, Ibu Suri Cixi mengeluarkan dekrit kekaisaran terakhirnya. Ia menunjuk Puyi, balita berusia 2 tahun yang merupakan keponakan Guangxu, sebagai kaisar baru (Kaisar Xuantong). Langkah cepat ini sengaja diambil agar kekuasaan tidak jatuh ke tangan faksi pro-reformasi.

Pada tahun 2008, peneliti Tiongkok melakukan tes forensic mutakhir terhadap sisa rambut, tulang, dan pakaian jenazah Kaisar Guangxu. Hasil tes laboratorium menunjukkan kadar arsenik dalam tubuh Kaisar Guang Xu mencapai 2.400 kali lipat lebih tinggi dari Tingkat normal manusia. Temuan ini memastikan secara mutlak bahwa Kaisar Guang Xu tewas karena diracun.

Meskipun bukti racun sudah pasti, dokumen resmi tentang siapa yang menuangkan racun tersebut tidak pernah ditemukan. Namun, mayoritas sejarawan menunjuk Ibu Suri Cixi sebagai dalang utamanya.

Kaisar Guang Xu, selama hidupnya terkenal memiliki ketertarikan mendalam pada teknologi modern, termasuk jam. Kaisar Guang Xu sangat mengagumi mekanika zimingzhong – jam yang dapat berbunyi dan bergerak sendiri. Koleksi bersejarah ini mencakup karya-karya dari Inggris, Prancis, Swiss, serta lokakarya istana di Guang Zhou dan Su Zhou.

01 July 2026

Kutipan Lun Yii; Melayani Orang Tua


Sang Guru berkata, Layani orang tuamu dengan rendah hati. Jika mereka tidak mengikuti keinginanmu, tetap hormati mereka dan jangan membangkang. Bekerja keraslah tanpa mengeluh.

 

Kata “脱” (tuō) sama dengan “机” (jī), mengacu pada kesadaran halus, pemahaman yang sangat halus. “知机共神平” (zhī jī gòng shén píng) berarti mampu mengetahui pikiran bahkan orang yang paling keras kepala sekalipun, yang sangat ajaib dan tak terbayangkan.

 

“观” (guān) berarti halus. Kesalahan seseorang mudah diperbaiki ketika masih halus. Oleh karena itu, seorang anak harus memperbaiki kesalahan orang tuanya ketika masih halus, agar tidak menjadi kesalahan besar.

 

“幾欧” (jǐ ōu) berarti dorongan yang lembut, mengacu pada kata-kata yang lembut dan persuasif. Ini adalah pendekatan bertahap dan hati-hati, bertujuan untuk tidak menyinggung perasaan orang tua. Ini merujuk pada bagaimana bersikap bijaksana. “幾速” (jǐ sù) berarti dorongan yang bijaksana. “志” (zhì) merujuk pada niat orang tua. “不进” (bù jìn) berarti tidak berhenti.

 

“Melayani tanpa mengeluh”, Sang putra menanggung kesulitan fisik berulang kali, bahkan dimarahi dan dipukuli oleh orang tuanya, menderita luar biasa. Namun, ia selalu sangat mencintai orang tuanya, bertanya-tanya mengapa mereka tidak memaafkannya. Ia sangat menderita, tetapi ia tidak pernah menyimpan dendam terhadap mereka.

 


 

“Kehadiran seorang ibu ada di hati seorang putra, ketidak-hadiran seorang ibu ada di hati seorang putra.” Ini adalah kisah Yang Zisai, yang menaruh hatinya pada orang tuanya, mencintai dan menghormati mereka, tidak tahan melihat mereka menderita penganiayaan. Ia menanggung penderitaan yang luar biasa, terus berjuang dan tidak pernah menyerah, menunjukkan kesabaran yang luar biasa.

 

Sang Guru berkata, “Selama orang tuamu masih hidup, jangan bepergian jauh. Jika kamu harus bepergian, miliki tujuan.”

 

“Perjalanan termasuk belajar di luar negeri, bepergian ke tempat-tempat jauh untuk mencari guru dan teman, untuk mengejar ilmu; atau pergi ke tempat-tempat jauh untuk mencari nafkah dan mewujudkan ambisi seseorang.”

 

“Tujuan”: Ini membutuhkan tujuan yang teratur atau cara hidup yang harus diikuti setiap saat. Jika seseorang ingin pergi, ada cara yang tepat. Ini seperti menetapkan standar; tanpa standar, seseorang tidak dapat kembali ke jalan yang benar. Seseorang harus benar-benar mengikuti ajaran para bijak.

 

Komentar Tambahan Jiang Yi tentang sastra: “Jika urusan seseorang bukan untuk tuannya, apa yang dipelajarinya bukan untuk gurunya, apa yang bergaul dengannya bukan untuk temannya, apa yang dilakukannya bukan untuk dirinya sendiri, maka hatinya tidak sesuai dengan jalan yang benar. Seseorang harus memiliki jalan yang benar untuk kembali ke jalan yang benar, agar dapat menumbuhkan hati yang berbudi luhur. 


Bagian Weiji (微记) tentang "Ritual Gunung" menyatakan: "Seorang putra harus selalu memberi tahu ibunya sebelum pergi dan melaporkan kembali setelah kembali; perjalanannya harus teratur, dan studinya harus memiliki tujuan. Ia harus selalu mengingat usia tua.

 

"Keinginan terpenuhi, tetapi angin tidak pernah berhenti; Seorang anak laki-laki ingin berpakaian, tetapi waktunya belum tiba." Zhang Renhuo (dari Jie Tang Yan Wo) menulis: "Seorang ibu menanggung beban perjalanan anaknya sejauh seribu mil, menahan angin dingin dan embun, membutuhkan cahaya bulan di musim gugur. Memikirkan anaknya dalam perjalanannya ke negeri yang jauh, ia tidak dapat beristirahat di dekat jendela pada tengah malam."

 

Puisi Du Fu "Selamat Tinggal Ibu yang Tunawisma" berbunyi: "Kesedihan abadi untuk ibuku yang sakit berkepanjangan; lima tahun dihabiskan mengembara di tepi sungai; ia melahirkanku tetapi tidak dapat melakukan hal yang baik; sepanjang hidupnya ia mendengarkan hujan yang pahit!"

 

Konfusius berkata, "Jika seorang anak tidak menyimpang dari jalan ayahnya selama tiga tahun, ia dapat disebut berbakti." (Catatan: Kalimat terakhir tampaknya merupakan kutipan terpisah dan tidak terkait dari teks klasik Tiongkok.)

 

Sarjana Konfusius besar Zheng Kangcheng berkomentar, "Seorang anak yang berbakti, dalam masa berkabung, sangat berduka dan merindukan ayahnya, dan tidak menyimpang dari jalan ayahnya; ini adalah sesuatu yang tidak dapat ditanggung hatinya."

 

"Tidak menyimpang dari jalan ayahnya" menyiratkan bahwa sang ayah percaya bahwa ia telah menjunjung tinggi Jalan selama hidupnya. Jika sang ayah percaya pada Tao, ia dapat mengubahnya dalam semalam.

Keajaiban Dari Sujud Nurani (Khow Tow) Bagian II

 

Suatu hari, ibuku mendapat video call dari tanteku di Tanjung Pinang. Tanteku sedang dalam kesulitan. Suaminya terbaring sesak nafas di sampingnya dan telah mencoba menghubungi anaknya yang di Jakarta namun sepertinya belum ada hasil. Terpaksa tanteku menghubungi melalui video call ibuku seolah meminta ditemani kalau sesuatu yang buruk terjadi dengan suaminya.

Suami tanteku terjatuh saat naik tangga dan kemudian sesak nafas. Dan tanteku bingung harus bagaimana?

Melihat kesedihan itu, aku hanya bisa membantu membakar 108 dupa dan khow tow seribu kali. Tante dan ibuku dalam keadaan panik. Aku hanya menarik nafas dan kemudian Bersiap sujud Nurani. Seusai melakukan khow tow, semua membaik. Pamanku pun kondisinya berangsur-angsur pulih.

Sungguh keajaiban Tuhan Yang Maha Kuasa boleh bekerja dalam keluarga besarku. Meski pun tidak chiu Tao dan tidak pernah sembahyang, tetapi suami dari tanteku masih diberikan mukjizat oleh Welas Asih Buddha Maitreya dan Welas Asih Ibunda Suci.