Kejadian Pertama
Malam ini aku ada di Guang An Fo Tang. Besok, baru akan diadakan Pekan Pengembangan Jiwa di Vihara Jakarta, Guang An Fo Tang. Malam ini ada umat yang datang dari Vihara Lampung, Guang Xi Fo Tang hendak menginap di Guang An.
Kami umat Guang Ji Indonesia, peserta dan pengabdi mempunyai kebiasaan untuk menginap sehari sebelum kegiatan kita dilaksanakan. Tujuannya supaya kita tidak terlambat dalam mengikuti kegiatan besok yaitu morex (Morning Exercise) bersama.
Malam itu, umat yang datang dari Lampung berjumlah dua orang dan mereka sampai ketika subuh sekitar jam tiga malam. Sebuah perjuangan yang hebat, baru kali ini mendengar dua remaja baru berusia tiga belas tahun berjuang untuk pergi ke Jakarta untuk ikut PPJ SMP tiga hari tiga malam.
Sesampainya mereka di Guang An, mereka diarahkan untuk langsung tidur di Aula. Aku yang saat itu juga sengaja belum tidur untuk menyambut mereka, akhirnya pergi tidur bersama mereka dengan posisi berseberangan.
Aku termenung, malam ini aku sulit tidur. Hari pertama di Guang An Fo Tang (karena Guang An Fo Tang juga baru dibangun terletak di Perumahan Taman Palem, Jakarta Barat).
Aku pun teringat dengan cerita, Sang Buddha yang selalu sadar dan tidak pernah tertidur. Jikalau beliau malam harus beristirahat, Beliau lebih memilih samadhi dan meditasi. Mengatur pernafasan dalam posisi duduk dan sangat jarang dalam posisi tidur.
Saat itu, aku memutuskan untuk memejamkan mata dan fokus pada pusaka pertama tanpa melafalkan nama Buddha. Hanya memejamkan mata dan mulai untuk masuk dalam fase “safe mode” dan juga merasa sangat tenang tanpa berusaha berpikir apa pun.
Meski pun aku sendiri tidak bisa tidur sepanjang malam karena saya juga memiliki anxienty (gangguan kecemasan) tidur yang sangat parah (dulu aku bisa menangis jika tidak bisa tidur sehingga kurang leluasa untuk menginap di vihara). Tetapi sekarang setiap kali tidak bisa tidur, aku menggunakan cara meditasi fokus pada pusaka pertama dan berusaha untuk pasrah dan bersatu dengan alam. Kita adalah bagian dari alam semesta sehingga begitu merasakan Syukur yang amat luar biasa lewat perenungan yang terpusat pada Tiga Pusaka.
Ada remaja dari Lampung yang terbangun dan tidak bisa tidur sepanjang malam itu. Tuhan memberikan ku kesempatan untuk berbagi pengalaman ini dengannya. Dan dia mendengarkannya, dan pergi mempraktekkannya dan ia tidak terbangun lagi malam itu. Ia tertidur hingga pagi.
Kejadian Dua
Pertemuan Dharma Dua Hari kemarin, aku bertemu dengan seorang remaja yang baru lulus SMA. Aku menginap di Guang Sheng Fo Tang dan tidur berseberangan dengan anak tersebut.
Anak tersebut tidak bisa tidur lesehan di lantai, walaupun telah dilapisi dengan Kasur Palembang. Anak tersebut mengeluh sakit pinggang dan punggung ketika tidur di lantai.
Aku menawarkannya untuk melapisi Kasur itu dengan selimut yang dilipat hingga cukup tebal, mana tahu bisa membantu mengurangi sakit pinggang dan punggungnya. Tetapi ia tidak mau.
Aku pun akhirnya menyarankan dia hanya untuk fokus pada pusaka pertama (tanpa membaca nama Buddha) dan akhirnya tak berapa lama ia pun tertidur nyenyak tidak terbangun lagi.
Kemudian tak berapa lama, ketika ia tidur menyamping menghadap ke kiri, aku menambahkan selimut yang dilipat cukup tebal, tepat di punggungnya. Dan malam itu pun, aku melakukan hal yang sama. Aku hanya duduk, fokus ke pusaka pertama, dan akhirnya tertidur hingga pagi pukul lima.

