30 April 2025

Mengenang Ko Aming


Selepas ko Andri pergi ke India, ada seseorang yang kembali mengisi hari Minggu ku di siang hari. Orang itu adalah ko Aming.

Ko Aming nama aslinya adalah Chen Jin Ming, selalu dipanggil ko Aming. Beliau berasal dari Bangka. Awalnya ibuku tidak terlalu menyukainya, karena dianggap agak sombong. Namun lambat laun dia perlahan berubah menjadi rendah hati setelah ditegur oleh ibuku dan menjadi sangat dekat dengan ibuku.

Beliau sangat menghormati ibuku dan sangat mendengarkan nasehat ibuku dalam segala hal. Bisa dibilang beliau juga dekat dengan keluarga ku, bahkan juga ada kabar sempat menyukai kakak perempuanku yang kedua. Tapi di sisi lain juga ada kabar bahwa ko Aming juga memiliki tunangan di kampung halamannya.

Beliau sangat tulus dalam menyempurnakan umat. Beliau menyempurnakan umat bisa sampai menginap di rumah umat tersebut dan membuat umat tersebut tulus datang ke Fo Tang. Beliau sangat suka membuat pempek khas Bangka yang saus cukonya dari cabai merah sehingga membuat kuahnya berwarna merah. Berbeda dengan cuko khas Palembang yang terbuat dari gula merah.

Ko Aming sangat baik kepadaku. Setiap hari Minggu, aku menunggu dijemput orang tua ku. Orang tua ku pergi ke cetya Kampung Melayu (karena orang tuaku sebagai pengurus cetya Kampung Melayu, sedangkan aku bersekolah minggu (Du Jing Ban) di Guang Sheng Fo Tang, sekaligus menitipkan diriku di Fo Tang) hingga sore hari. Saat itu, disela hari Minggu siang ada waktunya Fo Tang menjadi sangat sepi. Umat-umat Fo Tang telah kembali ke rumahnya masing-masing. Terkadang hanya tersisa diriku menunggu ayah dan ibuku. Melihat hal itu, ko Aming sengaja datang ke Fo Tang dan menemani ku hingga sore hari.

Yang kuingat beliau selalu meminjamkan ku handphone untuk bermain. Duduk di taman Fo Tang bersebelahan dengannya sepanjang hari. Ada satu hal yang paling kuingat adalah, saat aku hendak disuruh membacakan Mi Le Zhen Jing di depan pentas. Aku saat itu sangat tidak siap. Tetapi tanpa menanyakan diriku terlebih dahulu, ko Aming bisa mengetahui perasaan ku dan berkata kepada guru sekolah minggu ku bahwa aku tidak siap tampil sendirian membaca Mi Le Zhen Jing di depan pentas.

Ko Aming sangat terkenal karena bisa menyempurnakan umat dari yang tidak mau ke Fo Tang sampai akhirnya mau ke Fo Tang. Beliau sangat tulus dan juga sangat baik. Beliau suka bermain keyboard dan bernyanyi. Masa-masa saat ada ko Aming itu benar-benar indah. Beliau yang membuatku suka bernyanyi lagu suci (lagu Fo Tang). Lagu kesukaan beliau salah satunya Chai Hui Shou.

Suatu ketika, ayah Ko Aming sakit parah. Beliau tidak tega melihatnya membuatnya melakukan bakti terakhirnya yaitu memotong umur beliau di depan Para Buddha-Para Suci dan memberi sisa hidupnya untuk ayahnya (oleh karena itu jangan sembarangan berkata memotong umur untuk seseorang meskipun itu orang tua kita. Sebaiknya kita memohon supaya orang tua kita cepat sembuh. Karena jika kita pendek umur juga merupakan bentuk ketidak-baktian kita terhadap orang tua kita). Setelah hal itu, memang benar ayah ko Aming kembali sehat namun secara perlahan Kesehatan ko Aming mulai mengalami kemunduran. Kepalanya sering pusing dan sakit. Ia juga bilang ke ibuku bahwa seperti tumbuh sesuatu di otaknya.

Pada suatu hari, ko Aming menelepon ibuku. Seperti biasa, beliau sering menelepon ibuku untuk mengobrol. Kata ibuku, ko Aming saat itu berpamitan untuk mengurus SIM motornya terlebih dahulu. Namun ketika perjalanan pergi ke kantor polisi dengan motor. Beliau hendak menyebrang jalan. Ketika menyeberang jalan. beliau tertabrak busway.

Beliau dilarikan ke rumah sakit dan mengalami luka yang parah pada kepala beliau. Tragisnya adalah, saat di rumah sakit, luka beliau tidak langsung diurus. Beliau malah dibiarkan begitu saja (padahal saat itu beliau masih memiliki harapan untuk hidup). Orang pertama yang dihubungi oleh polisi adalah ko Ahin yang sangat dekat dengan beliau di Fo Tang.

Saat itu, ko Aming sempat dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik karena beliau harusnya segera dioperasi. Namun nyawa beliau tidak bisa diselamatkan karena luka pendarahan di dalam otaknya (luka dalam).

Keluargaku, terutama ibuku sangat sedih. Ibuku yang sangat dekat dengan ko Aming, menangis hingga pingsan di rumah duka. Diriku yang masih kecil tidak diperbolehkan ikut mengantar beliau terakhir kalinya. Aku di rumahku menangis sendirian dengan kesedihan yang sangat dalam. Beliau meninggal di tahun 2007, sehari sebelum peresmian Fo Tang pusat di pluit, Yayasan Satya Adi Dharma atau Guang Hua Fo Tang. Kematian beliau membawa duka yang amat dalam di kalangan remaja di seluruh Guang Ji Jakarta saat itu.

Jenazah beliau dibawa pulang ke Bangka dan dikuburkan di sana.

26 April 2025

Mengenang Alexander Arvy

Alexander Arvy saat menjadi Panitia
di acara Pentas Seni Sekolah

Tahun ini adalah waktunya aku resmi menjadi siswa SMK. Tahun itu adalah tahun 2010, aku masuk jurusan Animasi dan kembali bertemu dengan Alexander Arvy.

Sebelumnya di SMP aku kenal dengan Arvy tetapi tidak terlalu dekat. Namun ketika di SMK karena sekelas, tak sangka aku bisa menjadi sangat dekat dengan anak yang suka Pelajaran Matematika dan IPA itu.

Saat itu di kelas 10, ia disuruh wali kelas untuk duduk berpasangan denganku karena nilai IPA dan Matematika ku sangat buruk. Pengaturan duduk itu pun dilakukan agar aku bisa belajar bersama dengan dia. Saat duduk dengan dia, bisa dibilang dia sangat ketat dalam mengajariku. Bahkan tidak mengizinkan ku menyontek ulangannya sama sekali. Bisa dibilang ia mendewasakan jiwa kekanak-kanakkan ku yang terakumulasi dari pergaulan semasa SMP.

Awalnya, aku tidak terbiasa dengan kehidupan SMK yang teman sekelas ku semua hampir rata-rata anak laki-laki (hanya tiga orang siswa wanita di kelas ku). Aku yang di kehidupan SMP, yang semua temanku hampir rata-rata anak perempuan, harus berusaha keras menyesuaikan lingkungan SMK. Ditambah lagi rata-rata siswa di kelas ku merupakan anak-anak yang nakal dan jurusan ku masih sangat baru di SMK Strada Daan Mogot (aku adalah Angkatan pertama jurusan Animasi di SMK Strada Daan Mogot). Jujur, aku sangat kesulitan beradaptasi. Saat itu, Bu Okta menyuruhku duduk dengan Alexander Arvy yang juga merupakan teman SMP ku, membuatku bersyukur. Setidaknya aku bisa “nyeleneh” dan apa adanya di depan dia.

Dia setahun lebih muda dariku, tapi cara pikirnya sangat dewasa dibanding diriku dalam segala bidang. Tapi aku benar-benar sangat bersyukur ada dia di sampingku sampai aku tamat SMK. Aku terbantu dengan hal-hal yang dia pelajari dan rasa sabarnya yang mengajarkan diriku, meskipun kadang dia marah-marah.

Sampai suatu masa di kelas 12, dia bercerita tentang kakak perempuannya yang menderita gagal ginjal. Ciri-ciri yang dialami kakaknya adalah, kakaknya sering merasa masuk angin, dan sering meminta kerik kepada dirinya (Arvy). Arvy bercerita hingga menangis. Aku turut bersedih dengan hal itu dan hanya bisa memberi penghiburan baginya. Tetapi, beberapa hari kemudian dia tidak masuk sekolah hingga waktu yang cukup lama.

Saat masuk sekolah pinggangnya sakit sekali katanya. Rupanya ia menjalani pemeriksaan ginjal dengan cara menusuk pinggang dan mengambil langsung sample daging ginjal di dalam tubuhnya dan kemudian diperiksa di laboratorium rumah sakit.

Saat itu, ia mengalami masalah ginjal tapi belum cukup parah, sehingga dokter berkata masih bisa diobati dengan obat. Tapi saat mengonsumsi obat tersebut hal itu berdampak pada hormonnya. Hormonnya menjadi tidak teratur. Saat itu ia berkata, ciri awal adanya gangguan ginjal adalah air seninya berbusa, itu menandakan ada protein yang bocor dalam urinnya. Di sisi lain ketika kakak perempuannya memeriksa Kesehatan ginjalnya, keluarganya juga memutuskan untuk memeriksakan Kesehatan ginjal Arvy. Dan sangat disayangkan sekali, hasilnya kurang bagus. Sehingga menjalankan pengobatan yang berdampak pada penumbuhan jerawat di seluruh wajah hingga ke kepala Arvy. Di semester terakhir di SMK, Arvy harus memangkas habis seluruh rambutnya akibat jerawat yang tersebar di seluruh tubuhnya dan juga hal itu merupakan dampak dari pengobatan ginjal yang dilakukan Arvy.

Meskipun begitu, di akhir-akhir tahun SMK, ia masih sangat optimis untuk sehat kembali. Aku dan teman-teman yang biasa pulang sekolah dengannya mendoakan, agar ia cepat sembuh dan kami semua optimis bahwa Kesehatan ginjalnya akan segera membaik.

Setelah kelulusan, aku masih merindukan dirinya. Aku pernah secara tidak sengaja bertemu dengan dirinya di Pasar Swalayan Super Indo. Jujur saat itu aku ada ketidak-wajaran dalam berpikir, bahwa aku akan sangat malu juga bertemu dengan teman lama ku hanya karena seusai SMK, Pendidikan ku di kuliah kurang baik. Dan aku takut, nantinya dia akan menanyai kabar ku dan mengecewakan dirinya.

Dirinya saat itu sudah sangat berubah. Rambutnya tumbuh kembali, tubuhnya yang agak berisi menjadi kurus dan tinggi. Dia mengenakan baju warna hitam. Dan entah sejak kapan dia menjadi gagah dan tegap.

Dia mencidukku kabur dari dirinya ke blok lain dan muncul di hadapanku secara mendadak. Dia sangat senang bertemu denganku dan aku sangat malu dengan hal itu. Yah, saat itu aku dengan keluarga ku membeli keperluan dan dia ternyata sedang berbelanja bulanan bersama keluarganya. Saat itu ia dan keluarga sedang berbelanja beras yang sedang diskon.

Dari sana, setiap hari ulang tahunnya di setiap tahun, aku mengucapkan “happy birthday” di akun Facebook nya. Sampai suatu saat, dia mengomentari post ku yang tak kusangka itu menjadi pesan terakhirnya. Kurang lebih komentarnya; “laksmana… kangen nih”. Dan setahun kemudian, tepatnya di tahun 2016, kabar yang sangat menyayat hati pun terdengar olehku.

Arvy telah berpulang ke rumah Bapa. Aku bersama Martin dan Vinsensia pergi ke rumah duka tempat Alexander Arvy disemayamkan. Saat melihat kami, ayah dan ibunya sangat senang dengan kehadiran teman-temannya. Saat melihatku, ternyata ibunya masih mengingatku. Ternyata saat TK aku pernah satu kelas dengannya di TK Strada Santa Maria II. Dan saat menunggu kami berdua di sekolah, ternyata ibuku dan ibunya pernah saling ngobrol bersama. Ibunya masih ingat, saat makan pagi di sekolah, ibuku ternyata suka membeli Ketoprak tanpa bawang dan ibunya masih ingat ibuku adalah seorang vegetarian.

Aku sangat tersentuh sekaligus bersedih. Ayah dan Ibu yang baik, tapi harus kehilangan kedua anaknya. Kakak pempuannya ternyata telah terlebih dahulu pergi ke rumah Bapa dua tahun sebelum kepergian Arvy. Dan bersamaan dengan itu, kesehatan ginjal Arvy kian memburuk. Aku sangat sedih melihat ibunya, ibunya sangat sedih dan mempertanyakan dirinya, apakah ia tidak mengurus Arvy dengan benar? Padahal masak semua sudah memasak makanan dengan baik. Aku sangat sedih melihat hal ini tapi juga tidak bisa membantu apa-apa. Hanya mampu memberikan penghiburan bagi kedua orang tuanya. Sekali lagi, terima kasih Arvy atas jasa-jasa mu selama di SMK yang dengan sabar mau berteman denganku dan mengajariku banyak hal. Aku sangat merindukan mu dan semoga kita bisa bertemu di kehidupan yang lain. Semoga Arvy tenang di surga yah. Salam kangen.

 

Mengenang Ko Andri (Li Ciang She/Penceramah Li)

 
Li Ciang She (Ko Andri) ketika bersembahyang untuk PPJ Sekolah Dasar di Prumpung, Gunung Sindur

Awal pertemuan ku dengan ko Andri. Hari itu adalah hari Minggu di tahun 2001-an, aku masih sekitar enam tahun. Seperti biasa, aku mengikuti Sekolah Minggu (Du Jing Ban) anak-anak di Guang Sheng Fo Tang. Saat kelas selesai, aku bertemu seseorang yang tidak pernah aku lihat dalam hidupku selama enam tahun. Orang itu menyapaku dengan sangat akrab. Orang itu adalah Ko Andri Jaya Budiman (Andri JB).


Ko Andri sangat baik padaku. Setiap hari Minggu pergi ke Fo Tang, selalu bertemu dengan dirinya. Ia selalu menjadi teman bercerita ku dan kami selalu main bersama di kala ibu dan ayahku pergi ke Cetya Kampung Melayu (sekarang telah menjadi GuangMiao Fo Tang) di Teluk Naga, Tangerang.

Singkat cerita, kami sangat akrab sekali. Di mana ada aku, di situ pasti ada ko Andri. Can Ayi, mamanya ko Andri sendiri sampai mengejek kami berdua pacaran. Tentu hati kecil tidak begitu menerima kata “pacaran” itu sendiri karena kami berdua sama-sama laki-laki dan juga aku masih terlalu kecil untuk berpacaran. Tapi ko Andri terus menjagaku dan melindungiku sepanjang masa kecil ku di Guang Sheng Fo Tang.

Suatu saat, terjadi sebuah musibah di dunia. Ada sebuah virus bernama SARS yang merajalela di dunia dan membuat satu dunia simpang siur (mirip seperti Covid19 lebih parah dari Covid19). Gejalanya pun sama dengan Covid 19, batuk-pilek, radang tenggorokan, dan lama-lama bisa merenggang nyawa. Saat itu teknologi pengobatan juga tidak semaju sekarang. Tahun-tahun awal milenium sangat mengerikan. Ada berita matahari hampir meledak dan kemudian dihadapkan virus SARS.

Oleh karena banyaknya bencana penyakit, akhirnya Qian Ren kami (Lien Che Phu Sa) menginstruksikan Guang Ji Dao Chang di seluruh dunia, untuk sama-sama berkumpul di Fo Tang untuk membaca paritta Mi Le Zhen Jing sebanyak 108 kali. Hal ini dilakukan seminggu dua kali (jadi sekali pertemuan, membaca Mi Le Zhen Jing langsung 108 kali) hampir selama setahun.

Aku dan Ko Andri selalu bersama berlutut bersebelah-sebelahan membaca Mi Le Zhen Jing selama 108 kali. Sepanjang Nien Cing, Ko Andri terus mendukung ku untuk terus bersemangat membaca Mi Le Zhen Jing. Semua umat senior yang lain saling menguatkan dan saling mendukung untuk terus membaca Mi Le Zhen Jing sambil berlutut. Kami semua bersatu padu membaca Mi Le Zhen Jing dengan suara yang sangat lantang membaca Mi Le Zhen Jing. Memohon kepada Lao Mu Che Pei agar memutar roda karma dunia. Berkat ketulusan umat-umat dalam membaca Paritta, bencana besar menjadi bencana kecil, bencana kecil menjadi tiada. Sungguh bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, virus SARS tidak sempat menular ke mana-mana dan dapat teratasi dengan baik.

Kembali ke kisah ku dan Ko Andri. Hal yang paling kuingat saat kecil adalah selama ini aku tidak pernah berani naik motor dibonceng orang lain selain familiku. Tapi di saat itu ko Andri mengajakku naik motor pergi membeli jus buah kode dan mentraktir ku Jus Kode. Aku sangat takut, tapi ko Andri menjamin keselamatanku. Sepanjang perjalanan aku sangat takut, ketika melewati rel kereta api sungguh sangat menegangkan. Saat itu merupakan saat yang paling berkesan di dalam hidupku.

Sekitar dua tahun berikutnya, Ko  Andri menghilang dari hadapanku. Hal yang paling kuingat saat itu, ia tidak memberitahuku secara pribadi ke mana ia pergi. Aku terus mencarinya setiap minggu. Banyak cerita yang ia ceritakan kepadaku dan kami tidak pernah menutupi apa-apa dalam cerita kami. Tapi saat itu tiba-tiba saja ia hilang dan ketika kudengar dari orang tuaku, beliau pergi ke India untuk Khai Fang (membuka ladang menyebarkan Tao di India). Padahal setahu ku saat itu Ko Andri sedang kuliah di Binus semester lima. Aku sangat sedih dan kecewa, mengapa Ko Andri tidak pamit padaku. Yah kemarahan itulah yang akhirnya membuatku tidak respek pada ko Andri saat pertama kali dia kembali dari India ke Indonesia.

Bertahun-tahun kemudian. Mungkin kurang lebih ko Andri pergi ke India sekitar 10 tahun. Tidak tahu tahun berapa dia kembali dari India ke Indonesia, aku sudah jarang ke Fo Tang (saat itu aku sudah remaja sehingga lebih senang mencari kesenangan di luar dan menganggap belajar agama sangat kuno). Saat di tahun 2014, aku kembali ke Fo Tang. Maksudku adalah untuk mengabdikan diri pada kegiatan Yayasan Guang JiIndonesia (saat itu aku telah kuliah) dan karena ibuku aktif di Fo Tang dan juga aku adalah anak dari Than Cu senior, aku boleh ikrar vegetarian oleh Pandita Lin.

Sedikit berkisah, saat aku hendak berikrar Ching Khou, seminggu sebelumnya aku masuk rumah sakit di ruang ICU selama 10 hari karena tipes dan demam berdarah. Trombosit ku drop hingga ke angka empat puluh. Adalah ujian yang hampir merenggut nyawa ku hanya karena aku hendak Ching Khou. Di suatu malam di ICU aku bermimpi, aku melihat sekelompok orang berjubah putih berkumpul di tempat yang agak jauh dari ranjangku. Sekitar ranjangku dan diriku semua berwarna gelap, hanya sekelompok berjubah putih itu yang Cahaya nya putih dan terang. Aku terbangun, saat itu jam setengah dua malam. Aku merasa tubuhku sangat Lelah dan kemudian tertidur lagi.

Ketika ku ceritakan kepada ibu ku, katanya mungkin saja itu leluhurku. Meskipun ada kejanggalan, karena sekelompok orang berjubah putih tersebut tidak nampak wajahnya dan jumlahnya sangat banyak.

Malam selanjutnya, di tengah keputus-asaan ku karena aku berada di ICU selama sepuluh hari. Aku hampir kehilangan Cahaya harapan ku. Aku kembali bermimpi, tiba-tiba aku memakai jubah putih duduk di batu granit, sambil berada di suasana musim gugur. Hanya saja kalau kamu mengatakan itu adalah musim gugur di China aku merasa, aku lebih merasakan musim gugur di Barat. Aku melihat daun maple berguguran begitu banyak. Aku berada di tengah hutan musim gugur, kalau kata hatiku saat itu aku sedang berada di Nan Phing Shan. Dan saat itu aku sedang melihat diriku yang tidak gendut memakai Jubah Putih sedang duduk di atas batu. Aku sangat menikmati suasana saat itu. Aku melihat diriku yang sempurna dan merasa sangat puas. Dan kemudian aku terbangun, hari sudah pagi.

Setelah berikrar Ching Khou, ujian silih berganti. Aku tidak ingin bilang kesialan yang terjadi di dalam hidupku adalah ujian, tapi itu terasa seperti itu.

Akhir kata, aku berhasil Ching Khou. Tapi kehidupan pribadiku hancur total. Aku didiagnosa Skizofrenia oleh dokter dan tidak berhasil meluluskan kuliah di semester lima. Dan sejak saat itulah peran Fo Tang dan ko Andri semakin besar di hidupku.

Tahun 2015 aku berjuang melawan penderitaanku atas efek samping dari obat Ambilify. Hampir setiap bulan ibuku harus menyetor satu juta rupiah ke agen obat Ambilify untuk diriku. Aku tidak kuat menahan efek sampingnya, akibat yang kuterima adalah semua tubuhku sangat kaku. Aku tidak sanggup berpikir seperti dulu. Tubuhku seperti robot dan sangat kaku. Sangat tidak enak dan sangat tidak leluasa. Akhirnya aku meminta ibuku menghentikan pengobatan itu. Dan menggantinya dengan pergi ke dokter psikiatri yang lain. Tapi tetap saja tidak memberi perkembangan berarti. Sampai akhirnya, aku kembali ke dokter keluarga ku dan beliau memberiku resep obat penenang sebanyak 3 tablet dan itu membuatku lebih baik hingga saat ini.

Selama sepuluh tahun ini, aku terus berjuang untuk mengalahkan kekacauan pikiran ku dan pergi ke Fo Tang. Walaupun sempat ada perasaan ingin menyalahkan, tapi aku tidak berani menyalahkan Fo Tang. Entah sejak kapan, aku mulai merasa Fo Tang lebih dari sekedar Yayasan. Mungkin iya, awalnya kembali ke Fo Tang adalah untuk bekerja di Yayasan Guang Ji Indonesia sebagai volunteer. Tapi setelah mengikuti banyak kelas reguler di dalam Fo Tang, akhirnya aku menyadari, bahwa inilah jalan pembinaan diri yang sesungguhnya.

Aku pernah mendapat sebuah wejangan, yang kurang lebih isinya; lima tahun membina perjalanan hidup akan lebih baik, bunga bermekaran pada tahun ke-sepuluh. Aku sangat mempercayai dan yakin akan wejangan tersebut. Tapi di tahun ke-lima kembali ke Fo Tang masih saja ada ujian. Diperparah lagi saat tahun ke-lima malah virus Covid 19 menyebar dan ayahku dan nenekku pergi dengan cara yang tidak wajar. Jujur aku melalui lima tahun berikutnya sangat sulit. Aku sering menangis karena difitnah, diasingkan oleh teman-teman, dan sulit berbaur dengan orang yang lebih muda dariku. Aku sangat menderita, tapi belajar banyak dari kisah orang-orang Suci jaman dahulu. Mereka banyak dianiaya orang yang tidak mengerti, tapi mereka masih mengampuni dan bertahan pada hakekat kebenaran. Aku terus berdoa pada Yang Maha Kuasa dan Para Buddha-Para Suci, agar memberiku kekuatan dan akal sehat agar aku terus bertahan untuk hidup.

Di tahun 2017, adalah awal perbaikkan hidupku (tadinya aku kira begitu). Aku kembali masuk kuliah. Kali ini aku masuk kuliah jurusan Pendidikan Guru Mandari. Tapi lagi-lagi, salah waham membuatku berpikir ini masih di tahun 1998. Saat di mana Indonesia masih anti China. Aku tidak pernah berani mengatakan pada supir Grab atau pun Gojek aku pergi ke Fo Tang atau pergi ke kampus untuk belajar menjadi Guru Pendidikan Mandarin. Aku masih agak trauma dengan kejadian yang menimpa Pak Ahok. Aku sungguh merasa ketakutan hidup di Indonesia saat itu. Sehingga aku pun berkuliah hingga dua kali mengulang semester satu dan tetap saja tidak lulus.

Aku yang sial dalam kehidupan duniawi, akhirnya lebih serius menjalani kehidupan Rohani. Di dalam pengabdianku, di Guang Sheng Fo Tang, aku mengalami perkembangan secara kemanusiaan. Aku jadi lebih berinisiatif untuk bersosialisasi dan hidup untuk mencurahkan perhatianku pada sesama umat manusia. Dan di kehidupan rohaniku tak butuh waktu lama, aku mendapatkan saudara-saudara yang “seiya-sekata”. Ada Herry Thong, ada Marco dan yang paling ku ingat ada Ko Wawan yang juga sangat menyukai kehadiranku.

Aku sangat bahagia ketika mendengarkan kelas di hari Rabu, di malam hari. Aku yang saat itu mulai memberanikan naik motor setiap kali ke Fo Tang. Menikmati udara malam hari sambil naik motor. Walaupun pada awalnya aku naik taksi sembari menemani ibuku pergi menjadi pembawa acara di kelas regular Phei Te Pan. Di saat itulah peran ko Andri kembali besar di dalam hidupku di tahun 2017 hingga tahun 2019.

Kalau boleh dikisahkan sedikit, Ko Andri sebelum masuk Fo Thang adalah seorang preman yang kecanduan obat-obatan terlarang. Kehidupannya sangat dekat dengan kematian, ia bahkan pernah sakau ketika menikmati obat-obat terlarang tersebut. Hal yang paling janggal pun terjadi ketika ia baru awal masuk Fo Tang. Aku melihat beliau menyimpan gelas yang biasa ia minum di kotak obat. Awalnya aku bingung, tapi setelah dewasa aku baru tahu, bahwa ternyata itu adalah caranya untuk melepaskan kecanduannya dan berusaha hanya  untuk menghirup bau obat-obatan saja. Ia sudah kecanduan aroma obat-obatan meski pun itu obat-obatan biasa. Tetapi semua berubah ketika ia kembali dari India, semua itu sudah tidak dilakukan lagi.

Di tahun 2017, Ko Andri ada di Guang Sheng Fo Tang dan diangkat menjadi pembawa acara dan juga seorang Penceramah (Ciang She) di kelas Phei Te Pan. Di saat bersamaan juga aku juga izin kepada Pandita Lin untuk loncat kelas dari kelas Ming Te Pan ke kelas Phei Te Pan dengan alasan kuliah dan harus mengerjakan PR pada akhir minggu. Aku bisa menyimpulkan diriku adalah anak yang rajin ikut kelas. Di masa awal, ibuku adalah pembawa acara sehingga saat ibuku pergi, aku pun juga bisa ikut pergi karena ibuku naik Taksi Bluebird atau Grab Car di pinggir jalan. Kalau dipikir sangat sayang ‘kan kalau ibuku sendirian pergi naik Grab Car atau Taksi? Hehe…

Awalnya ketika pulang dari kelas Phei Te Pan, aku dan ibuku dijemput oleh ayahku. Namun karena ayahku yang semakin tua dan mulai tidak leluasa menyetir malam hari, akhirnya terkadang aku menumpang mobil Wu Susuk (mobil ayah dari Ci Sally) atau terkadang menumpang mobil Ko Andri. Jujur, saat ibuku izin tidak ke kelas (ada urusan) dan aku pulang dengan Ko Andri sendirian dan ko Andri banyak bercerita dan berencana dengan ku.

Saat itu Ko Andri sangat bersemangat untuk membuka restoran vegetarian. Ia ingin bekerja sama dengan ku dengan cara, penanam modalnya adalah dia dan aku yang mengurus segala restorannya. Ia sering mendukungku masak vegetarian dan mengeksplor berbagai menu vegetarian. Saat itu aku sering belajar masak vegetarian sembari berbagi dengan umat-umat di Fo Thang terutama di kelas hari Rabu dan Che It-Cap Go. Banyak sekali umat yang suka dengan masakkan ku tak terkecuali Ko Andri yang selalu memuji masakkan ku.

Aku sangat bahagia di tahun-tahun 2017 hingga 2019. Hingga aku akhirnya mengerti, apa makna dari melepaskan dan sadar betul bahwa tidak ada hal yang bersifat abadi di dunia ini

Di tahun 2019, adalah akhir dari segala Impian Ko Andri. Ko Andri mungkin hanya makan tempe dan dua potong tahu goreng dan kemudian pulang dari Restoran Follow MeVegetarian dan tidak akan pernah kembali selamanya. Yah, benar beliau telah pulang, tetapi pulang dalam arti kata pulang ke pangkuan Ibunda Suci selamanya karena gagal jantung.

Sebenarnya, ibuku sudah punya firasat dari berbulan-bulan yang lalu. Ko Andri selalu batuk, tangannya selalu keringatan. Ginjal beliau juga baru menjalani operasi pengangkatan batu ginjal. Saat itu, ibuku ada berkata kepada beliau agar beliau sekalian memeriksakan semua Kesehatan tubuhnya. Tapi beliau hanya fokus pada batu ginjal beliau dan hanya menganggap ucapan ibuku angin lalu.

Aku sangat sedih dan tidak terima. Rasanya aku dan beliau masih bermimpi dan berikrar membantu orang lain untuk bervegetarian. Tapi belum sempat terlaksana, beliau telah dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu. Aku sangat sedih saat melihat beliau di peti sambil berkata dalam hatiku. “Ko, kenapa koko tidur di sini? Koko nggak boleh tidur di sini!”

Beliau meninggalkan seorang ibu yang sebatang kara yang sangat tidak rela dengan kepergiannya. Ini terlalu mendadak, di siang hari yang panas bertepatan dengan Kwan Im Se Jit beliau pergi terlebih dahulu menghadap Ibunda Suci.

Pernah baru-baru ini, aku menangis tersiksa menyesali kepergian Ko Andri. Mengingat dirinya dan berangan-angan Ko Andri kembali agar aku dan ko Andri dapat membuka restoran vegetarian untuk mempermudah orang-orang bervegetarian. Dan ternyata itu mengganggu ko Andri. Waktu itu siang hari, ibuku pergi tidur siang dan langsung bermimpi. Ko Andri duduk di depan dua kios tertutup sambil menangis dan murung. Saat ibuku menceritakan hal itu, aku tersadar; aku tidak boleh merepotkan dan mengganggu peristirahatan beliau. Aku telah salah. Oleh karena itu, ketika kita mengenang kembali orang yang berarti dalam hidup kita, itu bukan hanya kita yang bersedih. Tetapi juga orang yang kita kenang juga ikut bersedih.

25 April 2025

Aku Sangat Bersyukur Bertemu Dengan Mu

Sebutlah orang itu adalah Ibu Nining. Sedari ayahku wafat, aku telah kehilangan arah. Ayahku menitip pesan pada keluargaku untuk melanjutkan kuliah mandarin ku sambil membantu kakak perempuanku. 

Kalau dipikirkan sendiri, hidup ku sungguh sangat menyedihkan setelah kehilangan ayah. Sedari 2015 aku didiagnosa Skizofrenia. Dengan pengobatan tiga tablet obat penenang mempertahankan jiwaku agar tetap waras. Sangat menyedihkan terkadang. Teman-temanku tidak ada yang tahu dan keluargaku berkata untuk apa hal-hal mengenai kesehatan pribadiku diberitahukan kepada orang-orang, meskipun hubungan itu sudah dekat. 

Kembali lagi ke cerita. Setelah semua keputusan, akhirnya aku mengikuti kakak perempuanku yang kedua. Di sana aku bergaul dengan karyawan-karyawan yang mungkin bagiku kurang baik dan jauh dari kata sempurna. Aku menghibur diriku dengan menyanggupi kata-kata kasar mereka dan berkata kasar seperti mereka untuk menyamakan diriku dengan mereka. 

Ada ketimpangan sosial yang aku harus bergaul dengan karyawan-karyawan yang hidup menengah ke bawah. Dan akhirnya aku bisa berbaur dengan baik. 

Ada seorang seorang karyawan yang agak nyambung berbicara denganku, namanya Ibu Nining. Untuk kesan pertama beliau terlihat galak dan sering membully anak baru. Tapi ketika aku mulai bekerja di sana, karena aku adik boss aku tidak dibully. Justru diterima dengan baik oleh mereka. 

Bu Ning tinggal di ruko bersama dengan kakak perempuanku dan aku. Kami tidur di lantai 3, sedangkan Bu Ning tidur sendirian di lantai 4.

Kalau mau dikatakan dengan gamblang, latar belakang tentang Bu Ning lebih baik tidak diceritakan di sini. Tapi satu hal yang menyentuh dan membuatku terinspirasi dengan Bu Ning adalah beliau pernah kuliah Diplomat. Bahkan beliau sangat tertarik dengan sastra dan hukum di Indonesia. 

Karena kesamaan pikiran dan tata bahasa, sering kali aku dan Bu Ning membahas masalah hidup hingga masalah hukum yang ada di Indonesia dengan bahasa 'bak ahli politik. Meskipun Bu Ning juga bisa dibilang tipikal anak-anak gaul Jaksel yang ngomongnya lebih seram ketimbang menengah ke bawah hehe... Tapi semuanya sangat seru. 

Bu Ning suka bercanda. Tak jarang dia banyak menceritakan kesialan hidupnya di masa lalu hanya kepadaku. Kehidupannya yang lalu dibela habis-habisan oleh ayahnya yang supir taksi yang menyekolahkannya hingga diplomat. Hingga pergaulannya sebagai koki di Nelayan hingga akhirnya mengabdi kerja menjadi penjaga rumah makan vegetarian di tempat kakak perempuanku. 

Namun pada akhirnya semua itu harus berakhir. Dan lagi-lagi aku harus kehilangan sahabatku yang jauh 20 tahun lebih tua dariku. Yah, beliau akhirnya mengundurkan diri dan pergi entah ke mana. 

Hal terbaik yang kuingat tentang Bu Ning, beliau sering memotivasi diriku untuk terus teguh dan tegar dalam menjalani hidupku. Bu Ning bagaikan seorang teman yang membuatku mampu melewati masa-masa sulit yang membuatku banyak pikiran. Juga ketika bulan Puasa, Bu Ning selalu berinisiatif membeli sekardus minuman untuk gojek-gojek untuk dibagikan dan itu selalu dalam nama  restoran Kakak Perempuanku. 

Untuk Bu Nining, semoga ibu sehat selalu dan juga berbahagia di mana pun berada. Semoga ibu selalu berezeki dan berkah. Semoga kita bisa kayak dulu lagi yah Bu Ning. Jaga restoran sambil sambil ngobrol panjang lebar. 

Bayar SPP Dengan Uang Jajan Sendiri

Teringat di sekitar tahun 2009 aku memulai pikiran yang bagiku ini adalah hal yang sangat menantang. Dengan segala keberanian yang ayah berikan kepadaku, aku bisa menabung untuk membayar Uang Sekolah ku beberapa bulan sekali. 

Keluarga ku tidaklah kaya, ibuku hanya seorang pekerja rumah tangga dan ayahku hanya karyawan di Gudang PT. Charoen Pokhpand. Aku lupa berapa nominal uang jajan ku yang diberikan ayahku seminggu sekali. Yang jelas beberapa kali aku berhasil mengumpulkan uang jajan untuk membayar SPP ku sendiri. 

Aku melakukan kebiasaan ini dari kelas 8 SMP hingga lulus SMK. Beberapa bulan sekali, aku pasti berinisiatif membayar SPP ku sendiri dengan uang jajan. Bagiku itu adalah sebuah kebahagiaan yang melebihi klimaks, saat bisa membayar SPP ku sendiri dengan uang jajan. 

Sedari kecil aku diajarkan ibuku untuk menabung jika hendak membeli yang aku mau. Handphone Android pertama ku, Samsung Galaxy Y adalah hadiah pertama dari diriku untuk diriku sendiri. Konon, apapun yang dibeli dengan uang sendiri akan jauh lebih membanggakan dan pasti akan sangat kuhargai hingga pasti aku tidak akan sembarangan memperlakukannya. 

Semoga kamu yang membaca cerita ini dapat terinspirasi untuk membantu keuangan keluarga melalui penghematan yang kamu lakukan. Meskipun kamu masih kecil, tapi pikiran selalulah tentang dunia yang sangat luas. 

20 April 2025

Kisah Zhen Yi dan Hao An

Pada zaman dahulu kala, Dinasti Zhou, di Tiongkok Kuno, ada dua orang yang bekerja sebagai artis. Yang satu laki-laki bernama Li Zhen Yi (李真意)dan seorang gadis bernama Wang Hao An (汪好安). Zhenyi adalah seorang aktor (seni peran di panggung Sandiwara) dan Hao An adalah seorang penyanyi (meski pun begitu bukan berarti seperti penyanyi Opera Peking karena suaranya tidak nyaring dan melengking). Mereka masuk dalam satu manajemen Sanggar seni Qian Lian (千脸公司)sehingga mereka sering bertemu. 

Saat itu Zhen Yi berumur 20 tahun, telah 5 tahun bergabung lebih dulu dengan Sanggar Seni Qian Lian. Pada usia 13 tahun, Hao An bergabung sebagai penyanyi pemula di Sanggar Seni yang sama. Zhen Yi yang tampan dan Hao An yang sangat cantik langsung menjadi pujaan setiap orang di kota. ZhenYi pun jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Hao An, demikian juga dengan Hao An. 

Zhen Yi dan Hao An berbeda usia 7 tahun tapi Zhen Yi yang berwajah tampan, tegap, dan juga klimis cocok dengan pembawaan Hao An yang ceria dan cheerful. Hao An yang cantik dan manis, keduanya sangat optimis dan saling melengkapi. Tanpa sadar dan tanpa suatu pernyataan mereka akhirnya mulai berpacaran. 

Saat karir mereka berdua telah berada di puncak, Hao An sering sekali mengadakan kegiatan sosial yang melibatkan Zhen Yi. Salah satu kegiatan sosial yang sering diceritakan di koran kota adalah kunjungan mereka ke Panti Asuhan yang membawa banyak makanan dan acara yang seru. Hao An sangat menyukai anak-anak sedangkan Zhen Yi masih takut-takut pada awalnya namun lama-lama hal itu menjadi hal yang paling dia tunggu-tunggu setiap seminggu sekali. 

Hao An berkeyakinan Taoisme. Dia bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sering ke Kelenteng untuk berpuja bakti. Berbeda dengan Zhen Yi yang lebih memilih untuk tidak memuja apa pun dan hanya setia mengikuti istrinya saja. 

Tahun-tahun berlalu dan tanpa terasa mereka berdua telah menikah dan hidup dengan mempersembahkan dirinya pada dunia seni hingga akhir hayat mereka. Mereka sangat berdedikasi tinggi pada dunia seni, masyarakat dan juga anak-anak yatim piatu. Selama hidupnya banyak sekali undangan sosial yang mereka penuhi dengan sukarela dan penghargaan dari Raja atas dedikasi mereka kepada masyarakat. 

Suatu ketika, Hao An meninggal dunia. Sebelum Hao An meninggal, kekasihnya Zhen Yi telah lebih dulu pergi 2 tahun sebelumnya. Sepeninggalnya dari dunia manusia, Hao An seperti tiba di Langit Biru dengan awan-awan putih. Di sana ia seperti bertemu dengan seorang kakek yang rupangnya biasa ia puja dan ia letakkan di rumahnya, yaitu Nan Ji Lao Shou Xing. 

"Kakek, suami saya ke mana? Apakah dia dalam keadaan baik-baik saja? ", tanya Hao An ketika menyadari dirinya telah meninggal dan langsung mencari suaminya. 

Dewa Nan Ji Lao Xian Shou Xing; " Kamu ingin mencari dia? Dia tidak mempunyai keyakinan mana bisa dia tiba di surga? "

Hao An menangis, dia merasa selama ini percuma melakukan kebajikkan atas nama suaminya. Namun ketika ia sedang menangis, tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundak nya dari belakang, saat menoleh ternyata itu adalah suaminya, Zhen Yi. 

"Zhen Yi! Aku sangat merindukan mu! ", teriak Hao An. 

" Aku juga sangat merindukan mu! ", jelas Zhen Yi, " Sekarang kita kembali pada wujud ketika kita berdua pertama kali bertemu! Aku sangat merindukan mu, kekasihku! Terima kasih atas segala yang kamu lakukan dalam hidupku!", sambung Zhen Yi lalu memeluk Hao An. 

Ternyata yang menjemput Hao An adalah Zhen Yi dan Nan Ji Lao Shou Xing. 

19 April 2025

Kisah Pengorbanan Istri

Ilustrasi Biksu Jiajia

Ilustrasi Maomi

茂密 (Maomi) adalah seorang gadis yang hidup di masa Dinasti Song awal. Maomi adalah seorang wanita heroik yang dikenal karena pengorbanannya membiarkan suaminya, Chai Jia Jia (蔡加家) pergi membina diri serta seorang diri mengurus rumah tangga. 

Maomi merupakan salah satu cicit pejabat besar dari klan Wang (王)dan merupakan salah satu cicit luar dari tabib istana kota terlarang. Beliau merupakan keturunan bangsawan yang berimigrasi ke Tong An sebagai pengontrol pemerintah daerah Xiamen dan dianugerahi oleh raja tanah dan tempat tinggal yang cukup mewah. 

Ayah Maomi bermarga Huang menikah dengan Ibunya bermarga Wang yang merupakan cucu langsung dari tabib istana Wang. Ayah Maomi sering menjadi investigator (polisi) yang menyamarkan dirinya sebagai petani yang bertugas untuk menyelidiki dan mengawasi kasus-kasus dugaan makar di Xiamen secara sembunyi-sembunyi dan melaporkannya ke pemerintah pusat juga secara sembunyi-sembunyi. 

Meski pun pekerjaan nya demikian tegas, tetapi Huang papa (黄爸爸) pembawaan santai dan sedikit lucu sehingga tidak terlihat seperti polisi. 

Ada yang unik dari Huang Papa. Huang Papa berpedoman pada Taoisme keluaran Cuang Ce (庄子)yang menyebabkan pikirannya agak unik dan sedikit jenaka. Maomi yang melihat hal itu, justru merasa hal itu sedikit aneh sehingga pergi keluar belajar Taoisme kepada Pandita Zheng yang berpedoman pada Thai Shang Lao Jun secara diam-diam. 

Maomi adalah seorang penganut Taoisme yang murni. Tapi yang biasa ia lakukan hanya sembahyang di Kelenteng dan berderma sekedarnya, tanpa terlalu mendalami ajarannya. Namun semua berubah ketika bertemu dengan suaminya. 

Pertemuan pertama Maomi dengan calon suaminya adalah di ladang padi pada senja hari. Jia jia saat itu baru pulang dari kantornya di ibu kota membawa makanan kesukaannya yaitu Choi Pan berisi kucai dan bengkuang yang saat itu merupakan makanan yang sedang digandrungi masyarakat. Jia jia melihat seorang gadis di ladang sedang menyemai bibit sambil membawa sekeranjang pakan ayam memberi makan ayam. Entah bagaimana Jia jia terpesona melihat gadis itu dan menghampirinya.

"Permisi... ", sapa Jia jia. 

Gadis itu membalikkan tubuhnya dan bertanya kepada Jia jia, " Ada apa?", sembari tersenyum kepadanya. 

"Bolehkah aku berkenalan dengan mu? Namaku Chai Jia jia dari distrik Tong An (同安). Namamu siapa? ", tanya Jia jia. 

" Ah, tapi apakah boleh saya seorang petani biasa berkenalan dengan cendekiawan seperti anda? Aku adalah Maomi, orang-orang memanggilku Mi", jelas gadis itu yang ternyata bernama Maomi. 

"Oh, halo Maomi, sebagai tanda perkenalan aku berikan kamu Choipan yang terenak di kota", kata Jia jia. 

Maomi pun mau tidak mau akhirnya menerima Choi Pan tersebut karena telah disodorkan. 

" Baiklah, saya pulang dulu yah", kata Jia jia sambil tersenyum malu dan pulang dengan bersemangat. 

"Hei, terima kasih yah atas Choi Pan nya", kata Maomi. 

" Yah jangan sungkan! ", jelas Jiajia sangat senang. 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Setahun penuh dijalani dengan sangat jujur dan tulus akhirnya mereka berdua menikah di bulan 3 tanggal 29. 

Kehidupan mereka lumayan pada awalnya. Meskipun Jia jia ternyata pemuda yang sederhana dan keluarganya pun semua sederhana. Tak seperti Maomi yang keluarganya mempunyai ladang dan tanah yang besar tapi Maomi memutuskan untuk sepenuhnya ikut suaminya dan menjadi ibu rumah tangga mengikuti suaminya yang seorang cendekiawan yang bekerja sebagai penulis berita di kantor polisi. 

Jiajia adalah seorang penganut Buddhisme Tridharma (menganut pemikiran Konfusianisme, Taoisme, dan Tridharma). Ada kisah yang cukup lucu mengenai keyakinan suami istri ini. Kelenteng yang biasa istrinya kunjungi terletak di sebelah kiri pasar sedangkan Vihara yang Jiajia kunjungi terletak di sebelah kanan pojok pasar. Keduanya mengenai keyakinan memiliki pandangan masing-masing. Meskipun rumah tangga yang damai namun sewaktu-waktu bisa terjadi debat keyakinan akibat perbedaan pola pikir. Maomi berguru pada Pandita Tao, sedangkan Jiajia berguru pada Biksu. 

Suatu hari Jiajia hendak ikut ujian pemerintah untuk naik jabatan yang cukup tinggi. Namun karena saat mengikuti ujian, Jiajia demam tinggi hingga menyebabkan tidak bisa konsentrasi dalam mengikuti ujian menyebabkan dia gagal naik jabatan. 

Jiajia sangat frustasi, teman-temannya yang gagal mengajaknya minum-minum tapi Jiajia tidak mau. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Maomi yang saat itu memiliki satu anak laki-laki bernama Xue Ming (学明)dan bayi yang sedang dikandung diperutnya. Jiajia pergi ke Kuil pergi membina diri dan sepenuhnya menjadi Biksu. 

Maomi sangat tidak rela dan bersedih hingga berhari-hari sebelum akhirnya dia pulang ke rumah Ayah-Ibunya di distrik Ji Mei untuk melahirkan dan menjalani hidupnya di sana. 

Selama kurang lebih setahun Maomi tidak langsung mengunjungi Jiajia di Kuil. Suatu hari sepupu Jiajia, Qing An datang ke rumah Maomi bermaksud meminta maaf atas perlakuan Jiajia kepada Maomi dan berjanji memberi biaya hidup untuk Xue Ming dan adiknya Mei Ming (美明). Karena tahu maksud baik dari pihak keluarga Jiajia akhirnya Maomi memutuskan menjalin hubungan baik lagi dengan pihak keluarga Jiajia dan sejak saat itu, sebagai gadis yang menganut budaya tradisional, keluarga Jiajia masih menganggap Maomi menantu keluarga Chai dan juga masih memiliki ikatan suami-istri dengan Jiajia yang telah pergi membina diri. 

Suatu saat Qing An bermaksud mengajak Maomi mengunjungi kuil tempat Jiajia membina diri. Maomi selama sebulan menyiapkan jubah berbulu berwarna gelap dan beberapa manisan kesukaannya untuk dipersembahkan kepada Jiajia. Dan ketika diajak pergi ke Vihara tempat Jiajia menjadi biksu. Betapa terkejutnya Maomi ternyata kuil tempat Jiajia membina diri ada di pojok pasar yang tidak pernah ia kunjungi selama ini. Sejak saat itu, karena masih ada cinta di hati Maomi, setiap hari Maomi mengantarkan sayuran dan beras untuk pembina diri di Vihara tersebut yang juga diperuntukkan untuk suaminya. 

Suatu ketika ayah Maomi dan Maomi kehilangan sang ibu. Ayah Maomi menangis dan bingung bagaimana mengatur upacara kematian. Maomi hanya mampu berlutut sambil beranjali dan menangis di samping peti. Saat mendengar kabar itu, dengan cekatan Biksu Jiajia langsung membawa sekelompok biksu pergi membaca paritta Da Bei Zhou selama tujuh hari berturut-turut tanpa henti. 

Banyak sekali pelayat yang datang dan saat itu Biksu Jiajia menyuruh Maomi untuk masak bubur untuk memberi makan kepada pelayat-pelayat. Maomi yang biasa hasil masakannya enak, justru berubah ketika sedang berduka. Akhirnya entah sayur hijau yang kering atau bagaimana semuanya dimasukkan begitu saja ke dalam bubur dan hasilnya berantakan seperti suasana hati Maomi. Tetapi berkat hal itu, pelayat menjadi memahami isi hati keluarga Maomi dan benar-benar sangat menghormati mendiang ibu Maomi dengan hati yang paling dalam. 

Sejak saat itu, setiap kali ada kerabat Maomi yang berduka, tanpa diundang tiba-tiba Jiajia selalu datang dan merapal Paritta dengan biksu-biksu lainnya selama disemayamkan.

Di Kelenteng tempat Maomi biasa bersembahyang juga ada perubahan. Suatu hari, karena ingin menyempurnakan batin istrinya, Biksu Jiajia masuk ke dalam Kelenteng dan meminta izin pengurus Kelenteng agar mengadakan kelas Dharma bagi pengunjung Kelenteng dengan alasan supaya umat-umat di Kelenteng bukan hanya sembahyang biasa tetapi juga mengerti makna sembahyang kepada Yang Maha Kuasa. 

Awalnya penjaga Kelenteng menolak dan mengira biksu harus dibayar untuk menyampaikan Dharma. Tapi biksu Jiajia menjamin, itu semua diberikan semata-mata hanyalah agar umat-umat semakin memahami makna kehidupan yang sesungguhnya. Akhirnya melihat ketulusan Biksu Jiajia, penjaga Kelenteng itu pun menganut Tridharma dan di masa depan dua tempat ibadah itu pun bersatu, akan selalu ada tempat menancap dupa di dalam Vihara. 

Tahun berganti tahun, suatu hari, ayah Maomi akhirnya berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa. Sebelum berpulang, ayah Jiajia mengumpulkan Maomi, QingAn (sepupu Jiajia yang memberi biaya hidup) dan juga istrinya yang bernama San Niang( 三娘). Hendak menitipkan Maomi dan cucunya untuk tinggal bersama di dalam rumahnya. Dan setelah itu ayahnya pun berpulang dengan tenangnya serta memberikan warisan tanah dan rumah kepada keluarga Jiajia. 

Bertahun-tahun kemudian, anak-anak Maomi telah beranjak dewasa. Dan Maomi hendak menikahkan Mei Ming dengan pemuda yang cendekiawan seperti Jiajia.

Bertanya pada Jiajia apakah setujuh? Jiajia hanya berkata, "aku telah bebas dan tidak ada sangkut pautnya lagi dengan kehidupan duniawi". Mendengar hal itu, Maomi merasa sepenuhnya adalah tanggung jawab dirinya sehingga ia memilih latar belakang keluarga calon pasangan hidup Mei Ming juga yang lumayan mapan. 

Sedangkan Xue Ming telah menikah di usia 17 tahun dan hidup dengan bahagia sambil sebulan sekali menjenguk ayahnya yang membina diri tapi tidak ingin menjadi seperti ayahnya. 

01 April 2025

Kisah Yue Nü Gu Niang

Kalau boleh cerita, pada zaman dahulu kala di awal dinasti Song awal ada seorang gadis penjual kue pia dan kue bulan bernama Yue Nü (月女). Karena perawakannya yang kurus dan sangat cantik dengan rambut yang amat panjang terikat turun ke bawah dia dipanggil Nona Yue Nü (月女姑娘)oleh masyarakat sekitar. 

Beliau adalah wanita yang sangat sibuk. Ia mengurus banyak anak-anak kecil yang yatim piatu dan suka memberi mereka makan roti dan kue-kue kering yang terbuat dari tepung terigu dan gandum. Waktu beliau dari pagi sampai malam adalah membuat kue kering dan pia beraneka rasa dari isi gojin, manisan labu air, kacang hijau, tausa, dan daging babi untuk dijual kepada kaum bangsawan. 

Meski pun kue pia nya sangat terkenal tapi itu tidak membuat dia sombong. Justru karena kerendahan hatinya itu ia mengurus banyak anak yatim-piatu di satu desa. Ia hanya mempekerjakan anak-anak wanita yang masih remaja yang kehilangan keluarga dan ibu-ibu rumah tangga yang tak bersuami atau suaminya tidak bekerja. 

Suatu hari, Yue Nü melihat ada seorang anak laki-laki kesurupan dan menjadi tontonan bagi masyarakat sekitar, karena banyak masyarakat yang tidak mengerti kesurupan. Melihat hal itu Yue Nü langsung tidak tega dan memegang anak laki-laki sambil berkata "sadarlah nan hai (男孩)!Guan Yin Gu Fo bersama mu!" Dan setelah itu anak laki-laki itu tersadarkan. Sejak kejadian yang menggemparkan di tengah masyarakat desa itu, sekarang Yue Nü Gu Niang bertambah satu profesi lagi yaitu menyembuhkan orang-orang yang kesurupan atau menerapi anak-anak yang hampir gila. Anak laki-laki itu akhirnya tinggal bersama Yue Nü untuk diterapi hingga akhirnya dipersembahkan kepada Yue Nü oleh keluarganya untuk sepenuhnya mengabdi kepada Yue Nü dalam kata-kata kepada Guan Yin Phu Sha. 

Yue Nü sangat terkenal suka menolong dan semuanya tak bercelah. Ia suka dandan memakai bedak dan pemerah bibir dari angkhak memerahkan pipinya menggunakan serbuk angkhak. Ia suka menggunakan tinta untuk mempertegas garis matanya. Banyak yang mengatakan bahwa ia adalah titisan Guan Yin Phu Sha. Sehingga orang-orang selalu mempersembahkan anak-anaknya untuk diangkat menjadi anak Guan Yin Phu Sa yang dimaksudkan adalah untuk menjadi anak angkat dari Yue Nü Gu Niang. Karena tidak paham dengan istilah dan upacara gaib atau pun kias dan juga memang tidak mengerti tata caranya, beliau hanya menggunakan tepung terigu menepuk-nepuk pipi anak-anak dan setelah itu ia langsung berkata, "kamu telah menjadi anak angkat dari Guan Yin Phu Sa".

Meski pun sering dianggap titisan Guan Yin Phu Sa. Yue Nü selalu merasa tidak pantas dianggap setara dengan Guan Yin Phu Sa dan marah jika ia disebut jelmaan Guan Yin Phu Sa. Baginya ia adalah gadis biasa yang suka membuat kue kering dan pia. 

Yue Nü hanya hidup bersama kakeknya. Kakeknya sangat bahagia dikelilingi anak-anak dan meninggal tanpa merasa kesepian meski pun beliau masih memutuskan untuk menerima uang duka dari masyarakat. Saat kematian keluarga semata wayang nya, Yue Nü Gu Niang sangat kehilangan dan tidak ingin kakeknya terjebak karma keserakahan dan akhirnya ia memutuskan seluruh uang duka disumbangkan ke Kuil Avalokitesvhara dan memutuskan berbuat karma baik dengan hanya menjual kue kering dan pia vegetarian dan makan vegetarain pada kehidupan sehari-hari dan hanya makan kuah sayuran sawi hijau yang hambar pada Che It Cap Go sebagai lambang ia banyak berdosa sehingga kehilangan keluarganya. 

Jam 2:24 tengah malam, di usia 39 tahun, ditanggal 13 bulan 8 tepat dua hari sebelum Zhong Qiu, Yue Nü Gu Niang menghembuskan nafas terakhir dalam kelelahan sambil duduk di dapur dengan kacang hijau yang sudah dimaniskannya. Kronologinya ketika ia sedang memasak Kacang Hijau untuk dimaniskan untuk menjadi isian Pia. Ketika semuanya sudah ia selesaikan, ia tinggal mencuci perabot tapi ia duduk di tepi meja dan memejamkan matanya. Hatinya hanya berpikir "aku hanya duduk dan memejamkan mata sebentar" Dan akhirnya tertidur selamanya akibat angin duduk. 

Saat kematiannya semua masyarakat dan bangsawan yang suka memesan pia dan kue kering nya semua sangat kelabakan dan bersedih. Akhirnya mereka bersepakat membuat upacara kematian yang besar untuk mengenang Yue Nü Gu Niang, seorang gadis muda yang harusnya langsung dikubur dalam waktu satu hari, karena dianggap memiliki banyak anak oleh anak-anak asuhnya akhirnya disemayamkan selama 7 hari dan disetujui oleh kaum bangsawan di kota tersebut. Semua biksu mau pun Pandita Tao yang membacakan paritta dan mengadakan banyak doa untuk mengantar kepergian seorang gadis muda yang suci dan perawan. 

Banyak cendekiawan dan pelukis merasa sangat sayang kehilangan gadis cantik 4000 tahun akhirnya mengabadikan sosoknya dalam lukisan dan novel. Sejak saat itulah banyak bertebaran kisah Dewi Bulan dan gambar-gambar gadis muda yang bersembahyang kepada Dewi Bulan atau lukisan Yue Nü Gu Niang yang terbang melayang di angkasa bulan purnama sambil membawa kue bulan dan pia.