25 August 2025

Khan Thi Minh



Seorang gadis dari klan keluarga khan menikah dengan laki-laki dari keluarga Nguyen. Khan Thị Minh.

Dahulu kala di Vietnam pada tahun 1800an, ada satu keluarga bermarga Khan memiliki empat orang putri Bernama Khan Thi Minh putri tertua, Khan Thi Xinh sebagai putri kedua, Khan Thi Sao sebagai putri ketiga, dan Khan Thi Sang sebagai putri terakhir. Masing-masing telah menikah dan memiliki keluarga yang Bahagia. Mereka semua bersepakat untuk tinggal di satu distrik dan membentuk Paguyuban besar Bernama “Ngôi sao sáng "Khan" (Bintang Terang Khan). Seluruh leluhur keluarga “Khan” Adalah pahlawan perang saudara yang terjadi di Vietnam pada tahun 1789 hingga 1802.

Dikatakan mereka keluarga yang Bahagia, juga tidak terlalu Bahagia. Mereka hidup terjaga, takut terjadi penyerangan oleh penduduk dari klan sebelah. Dan mereka sangat berhati-hati dan awas dalam menjalani kehidupan mereka.

Perang saudara yang terjadi di Vietnam sangat parah. Mereka bisa saling menghabisi hanya karena perebutan harta keluarga yang sebenarnya bukanlah hak mereka (kebanyakkan dari mereka memperebutkan tanah dan wilayah kekuasaan klan). Perang mereka mirip-mirip dengan perang saudara Madura dan Dayak, sehingga banyak korban yang meninggal secara tragis. Khan Ti Minh Adalah seorang putri dari keluarga Khan yang sangat heroik dan berjasa dalam melindungi klan mereka di desa Lentera Phu Binh.

Di suatu malam yang tenang, di rumah Khan Ti Minh seperti biasa sedang makan malam bersama di ruang keluarga. Baru suaminya hendak mengambil nasi di mangkuk tiba-tiba ada suara ribut-ribut dari luar rumah. Mendengar hal itu Khan Ti Minh tanpa ragu langsung keluar dari rumah untuk mengecek apa yang sedang terjadi (Khan Ti Minh merupakan putri tertua yang harus memperhatikan anggota keluarga mereka) (ayah dan ibu Khan Ti Minh telah tiada karena perang saudara, maka tanggung jawab menjaga keluarga otomatis jatuh pada putri tertua) (kehidupan mereka hanya sebagai petani padi, banyak klan yang iri dan mengincar ladang mereka sebagai satu-satunya mata pencaharian mereka).

Khan Ti Minh yang merasa sebagai putri tertua langsung berinisiatif untuk menghalangi keributan massa yang mulai melemparkan batu dan membawa api untuk menyerang rumah klan keluarga mereka. Suami dari Khan Ti Minh  langsung memanggil saudara-saudara mereka. Yang pria langsung menghadapi mereka yang ingin menyerang keluarga mereka. Dan yang wanita disuruh pergi meninggalkan Lokasi.

Khan Ti Minh yang juga disuruh kabur, malah bersikeras dalam nama leluhurnya. Ia langsung mengambil senjata bambu beracun dan memukul-mukul mereka yang menyerang keluarganya. Yang laki-laki pun juga mengeluarkan senjata bambu mereka. Berusaha menyerang tapi ternyata jumlah mereka kalah banyak.

Khan Ti Minh yang sudah terlanjur di baris depan, akhirnya menginstruksikan agar semua keluarga mereka (termasuk yang laki-laki) agar mereka semua lari ke tempat yang lebih baik meninggalkan dia sebagai pancingan. Dan di saat itu juga Khan Ti Minh ditusuk parang oleh salah satu dari mereka. Melihat hal itu suami Khan Ti Minh marah dan mulai menyerang secara membabi buta hingga akhirnya polisi datang. Namun, sayang sekali, ketika polisi datang, Khan Ti Minh telah meninggal dalam keadaan terpotong-potong (kaki dan tangannya terpisah dari tubuhnya). Sedangkan suaminya hanya mengalami luka tusukkan di lambung (namun beberapa hari kemudian meninggal karena sakit dan kesedihan yang tak terbendung).

Ketika keadaan sudah kondusif, keluarga Khan kembali ke rumah mereka. Mereka sangat sedih melihat keadaan jasa Khan Ti Minh. Masih sekitar pukul empat pagi, ketiga saudara Perempuan Khan sambil menangis menyusun kembali jasad Khan Ti Minh di peti mati. Semerbak asap dupa menyebar mengalahkan bau kemenyan. Dini hari ini dengan hujan rintik mengiringi tangisan anggota keluarganya yang merasakan sendiri pengorbanan seorang putri sulung wanita yang menjaga keutuhan keluarganya.

Seluruh anggota keluarga berputar berjalan mengelilingi jasad Khan Ti Minh sambil menyiramkan air bunga sehingga jasadnya tetap harum. Bunga, uang kertas, barang-barang cantik nan mewah semua diberikan, namun semua percuma, tak bisa mengembalikan nyawa Sang Putri Sulung Khan. Di depan peti jenazah terpampang rupang Dewi Kwan Im (keluarga ini tidak mengenal ajaran Buddha tapi bersembahyang pada Dewi Kwan Im, sehingga zaman dahulu lebih banyak orang Vietnam belajar ajaran Dewi Kwan Im dan tidak tahu bahwa Kwan Im merupakan bagian dari ajaran Buddha sehingga terciptalah kelompok yang hanya berdevosi pada Dewi Kwan Im).

Para keluarga yang tidak mengerti biksu atau pemuka agama, hanya mampu terus memohon kepada Dewi Kwan Im, agar arwah Khan Ti Minh dituntun oleh Dewi Kwan Im pergi ke surga dan menjaga keluarga mereka dari Langit.

Sang Suami hanya mampu menangis duduk di kursi sandar dan memaki dirinya sendiri tidak menjaga keluarga dengan baik.

Sekitar pukul enam pagi, peti Khan Ti Minh pun dibawa ke peristirahatan terakhir.

Kisah Li Qiang, Dewa Penjaga Keluarga

Pada zaman dinasti Qing (kurang lebih tahun 1700-an) hiduplah seorang anak laki-laki yang berbakti kepada keluarganya (bukan hanya kepada ayah atau ibunya saja, tetapi juga kepada Sembilan kakak perempuannya).

Namanya Adalah Chen Li Qiang (陈力强). Li Qiang merupakan anak laki-laki yang diharap-harapkan, setelah ibunya melahirkan Sembilan anak Perempuan, dan yang ke-sepuluh Adalah Li Qiang.

Li Qiang sangat heroik sekali dalam menjaga keutuhan keluarganya. Li Qiang di usia delapan tahun pernah menolong kakak perempuannya yang ke delapan yang hendak dijual ke rumah bordil oleh ayahnya hanya karena tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Li Qiang yang melihat kakak perempuannya diseret untuk diserahkan kepada mucikari, langsung mengejar ayahnya dan langsung merebut tangan kakak perempuannya dari tangan ayahnya.

Ayahnya cukup stress dengan kondisi keuangan keluarganya dan akhirnya merasa tindakannya menjual anak perempuannya yang ke delapan Adalah jalan satu-satunya yang terbaik untuk memenuhi kehidupan keluarga mereka.

Di antara Sembilan kakak perempuannya, tujuh dari sepuluh kakak perempuannya telah menikah dengan orang yang mereka cintai. Hanya kakak yang ke delapan hidupnya agak sulit, karena beliau memikirkan ibunya yang sudah sangat tua dan renta. Namun karena belum menikah, sering sekali diejek oleh tetangga dan ayahnya merasa sangat malu.

Melihat ejekkan tetangganya, Li Qiang tidak tinggal diam. Ia sering  membalas ejekkan tersebut dengan mengerjai tetangganya sehingga tak jarang tetangga melaporkan kelakuan Li Qiang kepada ayahnya dan Li Qiang dipukul oleh ayahnya. Akan tetapi itu tidak merubah rasa hormatnya kepada ayah dan ibu Li Qiang. Ia dikenal oleh satu desa sangat membela keluarganya dan melindungi kakak perempuannya.

Di usia Li Qiang yang ke dua belas tahun, akhirnya kakak perempuannya yang ke delapan menemukan tabatan hatinya dan menikah. Saat itu Li Qiang telah bekerja sebagai penempel poster (selembaran iklan produk kecantikkan wanita) di tembok-tembok pasar dan mengumpulkan uang untuk memberi angpau kepada pernikahan kakak perempuannya yang ke-delapan sebagai tanda agar keluarga Li Qiang tidak diremehkan oleh pihak mempelai laki-laki. Hal itu membuat mempelai pria sangat menghormati keluarga Li Qiang dan satu keluarga Li Qiang pun sangat terharu dan kakak ipar Li Qiang berjanji akan menjaga baik-baik kakak perempuannya.

Selain kakak perempuannya yang ke-delapan. Ada satu lagi kakak Perempuan Li Qiang yang pada akhirnya menjadi salah satu tanggung jawab Li Qiang hingga akhir hayatnya. Nama kakak perempuannya yang ke-sembilan Adalah Li Xiu (丽秀). Li Xiu merupakan anak Perempuan yang mengalami down syndrome. Sangat dijaga ketat oleh ibu dan Li Qiang sendiri sangat memaklumi kekurangan kakak perempuannya. Di usia ke-lima belas tahun ibunya mangkat dan Li Qiang di tahun yang sama juga membina rumah tangga dengan istrinya. Li Qiang di usia ke-lima belas tahun mampu membangun rumahnya yang tadinya gubuk kecil menjadi rumah semi-permanen. Tinggal bersama istri, ayah, dan Li Xiu, mereka saling menjaga hingga akhir hayatnya. Li Qiang memilik dua orang anak laki-laki dan satu anak Perempuan.

Li Qiang sendiri merasa dikaruniai kecerdikkan yang baik oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga Li Qiang memeluk agama Katolik. Di usia ke-empat belas tahun, Li Qiang mulai bekerja di pabrik susu bubuk kacang kedelai. Kedelai kering yang dijadikan bubuk merupakan terobosan baru minum susu kacang tanpa takut basi. Hanya dalam dua tahun ia dipercaya boss pabrik susu tersebut menjadi wakil direktur pabrik susu tersebut dan bekerja dengan sangat setia. Sehingga di usia ke-tiga puluh tahun, Li Qiang mencoba merintis pabrik susu bubuk dari sapi yang berlisensi dari luar negeri dan memproduksi susu bubuknya sendiri.

Dari sini kita bisa memetik pesan moral. Anak yang berbakti dan menghormati orang yang lebih tua, kelak pasti akan menjadi anak yang berguna dan berpengaruh di dunia. Tuhan sangat menyayangi anak yang berbakti dan menghormati orang tuanya.

Lalu bagaimana Li Qiang menjalankan bakti kepada Sembilan kakak perempuannya? Ketika usianya menginjak tiga puluh tahun, empat kakak perempuannya telah menjadi janda, sehingga Li Qiang sendiri sering mengirimkan uang bulanan dan barang kebutuhan kakak perempuannya setiap bulan. Tak lupa meski pun ia seorang Katolik sendiri, tetapi Li Qiang tetap melakukan salam tahun baru ke rumah Sembilan kakak perempuannya secara berurutan dari yang paling tua hingga yang paling akhir. Pastur juga mengajarkan untuk menghormati tradisi sembahyang leluhur, sehingga beliau sering melakukan hal tersebut di hari kematian ayah dan ibunya serta melakukannya di hari Cheng Ming.