Lahirnya
Dewi Bulan pertama, adalah berasal dari bencana kelaparan yang terjadi di Fu Jian,
Tiongkok Daratan, berkalpa-kalpa tahun yang lalu.
Di tahun-tahun
awal, setelah wafatnya Yue Nii Gu Niang. Lima ratus tahun kemudian, Yue Nii Gu
Niang kembali bereinkarnasi menjadi seorang wanita Bernama Yue Liang.
Tai Yang dan Yue Liang adalah sepasang suami istri yang baru menikah selama dua minggu. baru
dua minggu sejak hari pernikahan mereka berdua, Tiongkok Daratan diserang gagal
panen akibat musim gugur panas yang tiba-tiba terjadi di daerah Tiongkok
Daratan. Tiba-tiba tanah menjadi tandus, kering, dan retak. Rumput-rumput
ilalang menguning, dahan dan daun-daun berguguran menjadi begitu kering. Banyak
pohon yang mendadak menjadi mati kekeringan.
Meskipun tanah
dan udara kering mencoklat seperti kepanasan, tetapi sebenarnya udara cukup
sejuk. Hal ini sangat aneh bagi Yue Liang dan Tai Yang, karena hal ini baru
terjadi saat ini.
Banyak orang
tua dan anak-anak yang kelaparan dan kehausan. Yue Liang dan Tai Yang, sudah
tiga hari yang lalu sejak makan terakhir. Sayur-sayuran yang disimpan
masyarakat ternyata sudah menguning dan mengering. Beberapa nenek-nenek akhirnya
merendam sayuran yang menguning tersebut dengan air laut dan batang tebu selama
tiga hari (untuk membuat manisan supaya bisa disimpan lebih lama lagi sehingga
tidak membuang-buang sayuran di saat musim kering) dan dijemur lagi selama tiga
sampai empat hari di atap rumah beralaskan sebuah nampan. Yang kelak kemudian
hari, kita sebut sayuran kering berwarna cokelat tersebut dengan nama Ham Choi
Kon.
Saat itu
Yue Liang dan Tai Yang memutuskan untuk membuat panganan kue pia kering. Saat itu,
gagal panen padi membuat penggilingan beras desa terhenti. Membuat Yue Liang
dan Tai Yang mencari pengganti tepung beras untuk membuat sebuah panganan
pengganti nasi dan jagung yang mengering. Yue Liang tertatih-tatih berjalan mencari
bahan tepung pegganti, langkahnya yang tertatih membawa ia pergi ke kuburan
penuh ilalang.
Di tempat
itu, ia melihat ilalang yang sepertinya mudah digiling menjadi tepung. Yue
Liang dan Tai Yang akhirnya memotong ilalang-ilalang tersebut dan menggilingnya
menjadi tepung.
Setelah menggilingnya
menjadi tepung, Yue Liang mencairkan tepung ilalang tersebut dengan air sumur
di belakang rumahnya. Dan kemudian memanggangnya hingga membentuk kulit lumpia
untuk diisi Ham Choi Kon yang dicincang hingga hancur dalam keadaan kering. Kemudian
lumpia isi Ham Choi Kon tersebut dapat dikukus atau dipanggang lagi di kuali di
atas perapian kayu bakar sehingga sangat wangi.
Karena kulit
lumpia sangat tipis, sehingga ia bisa membuat lumpianya sangat banyak, bahkan
bisa membuat satu desa merasa kenyang setelah memakan lumpia tersebut.
Akan tetapi
tiga hari kemudian, banyak sekali warga yang mengeluhkan gatal-gatal pada
tenggorokan dan tubuhnya. Yue Liang dan Tai Yang juga merasakan hal yang sama. Mereka
juga merasa gatal-gatal, akan tetapi Yue Liang tidak bisa pergi beristirahat
begitu saja melihat banyak masyarakat yang sekarat dan mati karena kelaparan.
Ia kemudian
mencari alternatif lagi, yaitu mengumpulkan sisa umbi-umbian kering di tanah
dan digiling dengan penggilingan beras hingga akhirnya penggilingan beras
tersebut rusak dan harus direparasi. Penggilingan beras itu akhirnya direparasi
oleh tetangganya, Han Xiang Ci, bisa dibilang seorang Ketua RT di lingkungan
rumahnya.
Tepung hasil
penggilingan umbi-umbian berbeda dengan hasil tepung penggilingan ilalang. Penggilingan
Ilalang menghasilkan tepung yang tidak mengikat (alias tidak bisa diuleni dan
mencair). Berbeda dengan tepung umbi-umbian yang bisa diuleni dan teksturnya
lebih padat.
Tepung hasil
umbi-umbian tersebut akhirnya dibasahi dengan sedikit air dan dipipihkan. Diisi
dengan kacang hijau (bukan kacang hijau kupas, tapi benar-benar kacang hijau). Karena
Cuma itu saja sisa sembako yang kurang laku di musim panas, saat itu. Kemudian dipanggang
bolak-balik di atas wajan cetek menggunakan kape.
Selama tiga
bulan berjuang mencari umbi-umbian kering di setiap sawah. Di seminggu
terakhir, ia menemukan tanaman sejenis ilalang, tetapi tanaman tersebut
tampak lebih padat dan kalau
dilihat-lihat seperti perkahwinan silang antara ilalang dengan tanaman padi. Itu
seperti ilalang, tapi itu terlihat sangat padat seperti padi tapi isinya tidak ada
beras. Bulu-bulunya pun tidak Nampak banyak seperti ilalang.
Tumbuhan itu
banyak ditemukan di tengah ladang liar terbuka di tengah hutan. Pergi ke
pedalaman hutan di dekat desa, pergi agak jauh, baru Nampak satu padang ilalang
yang jenis ilalangnya berbeda (yang kelak kita namakan itu gandum). Yue Liang
dan Tai Yang pun segera memanennya dan menggilingnya. Yue Liang mempelajari tekstur
tepungnya saat diuleni. Ketua RT, Han Xiang Ci melihat peluang ini. Membawa bibit
gandum ke desa dan menanam dan membudi-dayakannya di ladang desa.
Tepung gandum
ini tidak boleh terlalu banyak air agar mereka bisa merekat satu sama lain. Yue
Liang pun harus menggiling gula batu menjadi halus untuk merekatkan tepung
gandum agar lengket satu sama lain. Kemudian ia membentuknya menjadi seperti perkedel
dan mencobanya memanggang di oven dari bahan batu bata yang ditindih dengan
besi yang di atasnya dibakar kayu bakar.

Saat dipanggang,
biscuit tepung gandum sangat harum. Saat disajikan, awalnya dikira akan lunak
teksturnya, ternyata malah mengeras dan agak rapuh. Beberapa ayi-ayi
menyarankan untuk menggunakan telur dan susu untuk menjadikannya lebih harum. Tetapi
sisa tepung gandum itu akhirnya dibagi-bagikan kepada ayi-ayi yang selama tiga
bulan ini membantu membuat lumpia, pia, dan biscuit di akhir musim gugur. Dan ayi-ayi
yang punya peternakan telur ayam pun, akhirnya mencampurkan telur ke dalam nya
kemudian memanggangnya dan kemudian akhirnya menjadi sesuatu yang disebut
cookies hingga saat ini. Mereka banyak berkreasi dari tepung gandum ini dan
membuat gorengan kucai yang bisa dijual cukup mahal dari tepung gandum ini
(digoreng menggunakan minyak kelapa).

Sejak saat
itu, Yue Liang dan Tai Yang menjadi
tokoh Masyarakat yang paling ditunggu-tunggu setiap musim gugur, menggantikan
kisah sedih Yue Nii Gu Niang yang wafat dalam kesendirian. Masyarakat mengibaratkan
Tai Yang bagaikan Matahari, yang selalu siap siaga membantu Masyarakat mencari
bahan makanan. Yue Liang bagaikan Bulan di tengah gelap, yang selalu mencari
cara terbaik di tengah kondisi Masyarakat yang mendesak.
Mereka menjadi
Dewa Matahari dan Dewi Bulan pertama dalam Sejarah romansa Masyarakat Tiongkok
Kuno. Berkalpa-kalpa jauh sebelum kisah Dewi Chang ‘E dan Dewa Er Lang
diterbitkan.