26 June 2026

Keajaiban Dari Sujud Nurani (Khow Tow)

Di Vihara ku yang beraliran Yi Guan Dao, kami terbiasa melakukan Sujud Nurani (Khow Thow) setiap pagi dan sore menjelang malam. Sekali melakukan sembah sujud, kami umat Yi Guan Dao minimal akan melakukannya seratus kali sujud. Tapi jika ada kegiatan besar atau meminta tolong Lao Mu ada urusan yang cukup besar dan gawat kami akan melakukan seribu kali khow tow.

Teringat Budi besar dari Zhong Hua Sheng Mu di masa lalu. Demi supaya Tao dapat terus disebarkan di pulau Formosa dengan lancar, demi menyelamatkan banyak roh sejati umat manusia, Zhong Hua Sheng Mu melakukan sepuluh ribu kali khow tow dan keesokkan harinya penyebaran Tao dapat dilanjutkan kembali. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian Yi Guan Dao menjadi salah satu organisasi ketuhanan yang paling besar di Taiwan dan tersebar di seluruh pelosok Taiwan. Meski pun akhirnya hal itu membuat Zhong Hua Sheng Mu menjadi jatuh sakit, tetapi Beliau tidak pernah menyesalinya bahkan puas melihat Yi Guan Dao dapat berkembang di seluruh dunia.

Melihat kesaksian itu, aku akhirnya selalu melakukan sujud Nurani setiap pagi dan sore. Setiap pagi seratus kali dan setiap sore lima ratus kali. Tapi jika ada urusan berkaitan dengan nyawa saudara, biasa aku akan mempersembahkan seratus delapan batang dupa dan melakukan seribu kali khow tow untuk saudaraku (aku melakukannya dengan sukarela dan tanpa imbalan).

Suatu ketika, kakak Perempuan ku mendadak sakit perut. Kemudian beliau memutuskan untuk cek USG di rumah sakit. Saat dicek, terdapat benjolan di Rahim yang didiagnosa dokter adalah kista. Kemudian dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di hari berikutnya.

Kakak Perempuan ku pun menelepon ibuku dan bercerita bahwa beliau takut terkena kista dan bingung entah harus bagaimana?

Mendengar hal itu, tanpa ragu, aku membakar seratus delapan batang dupa dan melakukan seribu kali khow tow dan membaca paritta sebanyak dua puluh delapan kali. Semua itu dilimpahkan untuk kakak Perempuan tertua ku. Kakak Perempuan ku adalah seorang Katolik, tetapi aku selalu mendoakan beliau dengan suaminya dengan cara Buddhist. Perbedaan keyakinan tidak membuat kami berhenti untuk saling mendoakan.

Keesokkan harinya, setelah selesai melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beliau kembali menelepon ibu ku dan kembali melaporkan bahwa sesuatu yang disebut kista ternyata adalah janin. Artinya kakak perempuanku tengah mengandung anak.

Aku dan keluargaku sangat senang sekali. Aku tak menyangka, khow tow ku ada gunanya dan membuat mukjizat begitu nyata. Padahal kami sudah sangat khawatir dan ketakutan. Sangat bersyukur kepada Buddha Maitreya dan Ibunda Suci telah memberikan ku selangkah keyakinan dalam pembinaan diri ini dan membebaskan ku dari rasa ketakutan dan memberi kedamaian bagi batin kami.

Pembuktian Pusaka Pertama

Kejadian Pertama

Malam ini aku ada di Guang An Fo Tang. Besok, baru akan diadakan Pekan Pengembangan Jiwa di Vihara Jakarta, Guang An Fo Tang. Malam ini ada umat yang datang dari Vihara Lampung, Guang Xi Fo Tang hendak menginap di Guang An.

Kami umat Guang Ji Indonesia, peserta dan pengabdi mempunyai kebiasaan untuk menginap sehari sebelum kegiatan kita dilaksanakan. Tujuannya supaya kita tidak terlambat dalam mengikuti kegiatan besok yaitu morex (Morning Exercise) bersama.

Malam itu, umat yang datang dari Lampung berjumlah dua orang dan mereka sampai ketika subuh sekitar jam tiga malam. Sebuah perjuangan yang hebat, baru kali ini mendengar dua remaja baru berusia tiga belas tahun berjuang untuk pergi ke Jakarta untuk ikut PPJ SMP tiga hari tiga malam.

Sesampainya mereka di Guang An, mereka diarahkan untuk langsung tidur di Aula. Aku yang saat itu juga sengaja belum tidur untuk menyambut mereka, akhirnya pergi tidur bersama mereka dengan posisi berseberangan.

Aku termenung, malam ini aku sulit tidur. Hari pertama di Guang An Fo Tang (karena Guang An Fo Tang juga baru dibangun terletak di Perumahan Taman Palem, Jakarta Barat).

Aku pun teringat dengan cerita, Sang Buddha yang selalu sadar dan tidak pernah tertidur. Jikalau beliau malam harus beristirahat, Beliau lebih memilih samadhi dan meditasi. Mengatur pernafasan dalam posisi duduk dan sangat jarang dalam posisi tidur.

Saat itu, aku memutuskan untuk memejamkan mata dan fokus pada pusaka pertama tanpa melafalkan nama Buddha. Hanya memejamkan mata dan mulai untuk masuk dalam fase “safe mode” dan juga merasa sangat tenang tanpa berusaha berpikir apa pun.

Meski pun aku sendiri tidak bisa tidur sepanjang malam karena saya juga memiliki anxienty (gangguan kecemasan) tidur yang sangat parah (dulu aku bisa menangis jika tidak bisa tidur sehingga kurang leluasa untuk menginap di vihara). Tetapi sekarang setiap kali tidak bisa tidur, aku menggunakan cara meditasi fokus pada pusaka pertama dan berusaha untuk pasrah dan bersatu dengan alam. Kita adalah bagian dari alam semesta sehingga begitu merasakan Syukur yang amat luar biasa lewat perenungan yang terpusat pada Tiga Pusaka.

Ada remaja dari Lampung yang terbangun dan tidak bisa tidur sepanjang malam itu. Tuhan memberikan ku kesempatan untuk berbagi pengalaman ini dengannya. Dan dia mendengarkannya, dan pergi mempraktekkannya dan ia tidak terbangun lagi malam itu. Ia tertidur hingga pagi.

 

Kejadian Dua

Pertemuan Dharma Dua Hari kemarin, aku bertemu dengan seorang remaja yang baru lulus SMA. Aku menginap di Guang Sheng Fo Tang dan tidur berseberangan dengan anak tersebut.

Anak tersebut tidak bisa tidur lesehan di lantai, walaupun telah dilapisi dengan Kasur Palembang.  Anak tersebut mengeluh sakit pinggang dan punggung ketika tidur di lantai.

Aku menawarkannya untuk melapisi Kasur itu dengan selimut yang dilipat hingga cukup tebal, mana tahu bisa membantu mengurangi sakit pinggang dan punggungnya. Tetapi ia tidak mau.

Aku pun akhirnya menyarankan dia hanya untuk fokus pada pusaka pertama (tanpa membaca nama Buddha) dan akhirnya tak berapa lama ia pun tertidur nyenyak tidak terbangun lagi.

Kemudian tak berapa lama, ketika ia tidur menyamping menghadap ke kiri, aku menambahkan selimut yang dilipat cukup tebal, tepat di punggungnya. Dan malam itu pun, aku melakukan hal yang sama. Aku hanya duduk, fokus ke pusaka pertama, dan akhirnya tertidur hingga pagi pukul lima.

 

24 June 2026

Keajaiban Dari Dupa Paling Murah Guang Ming Xiang (光明香)


Tidak bermaksud iklan yah

Di suatu hari ketika COVID-19 sedang meraja-lela. Tiba-tiba aku kehilangan indra penciumanku. Hidung dan kepalaku juga agak nyeri dan sakit. Aku bilang kepada ibu dan kakak perempuanku, mereka berusaha untuk menenangkanku dengan berkata; “itu bukan COVID-19 hanya flu biasa. Sebentar lagi juga sembuh”.


Karena kupikir hanya flu biasa maka aku melakukan pekerjaan rumah tangga secara normal, tanpa proteksi apa pun. Tapi aku juga sedikit khawatir, kalau-kalau benar aku terkena COVID19. Oleh karena itu, ketika senja hari, aku sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Membakar Sembilan dupa dan berpuja bakti (Khow Tow) sebanyak seribu kali. Awalnya, aku mencium asap dupa Guang Ming Xiang yang menyengat hingga menyakiti hidung, mata, dan otakku.


Tunggu, kok aku bisa mencium wangi yang menyengat dari dupa yang kubakar ini? Tidak terlalu tercium wanginya, tapi seperti asap dupa itu menyengat hingga membuat hidung, mata dan otakku terasa perih dan ada sensasi terbakar. Aku mulai merasa disembuhkan oleh Dewi Kwan Im, karena gambar merk dupa tersebut ada rupa Dewi Kwan Im Pembawa Anak.

Aku mulai berterima-kasih dan bersyukur atas penyembuhan ini. Belum sampai di situ, ketika aku khow tow seribu kali, tiba-tiba air mata dan air ingus mulai keluar sangat banyak. Ada yang membisikkan ku untuk terus melanjutkan khow tow tanpa menyeka ingus dan air mataku.

Lambat laun, ingus dan air mata ku keluar semakin banyak. Aku tidak boleh menyeka dan terus melanjutkan khow tow sampai akhirnya banyak cairan dari hidung dan mata, tumpah di Pai Tien. Aku jadi malu campur menangis merasakan mukjizat ini secara langsung. Aku seperti ditolong oleh Dewi Kwan Im.

Dan benar saja, setelah sembahyang, aku mulai bisa mencium lagi, hidungku lega dan aku sangat bersyukur dan selalu terharu bila mengingat keajaiban ini.


22 June 2026

Don't Judge The Books By A Cover

Kemarin ketika Kelas Dharma dua hari di Vihara Tangerang, aku ada ajak ngobrol beberapa umat baru di Vihara. Banyak sekali anak muda yang baru lulus sekolah. Aku suka mengajak ngobrol mereka soal jurusan kuliah yang mereka pilih, mereka hendak kuliah di mana dan sebagainya.

Ada seorang anak yang baru dua bulan aktif di Vihara Kuang Sheng. Dia baru lulus sekolah dan pergi mendengarkan kelas dharma ini. Awalnya aku bertanya hal-hal mendasar seperti di atas, sampai akhirnya aku pun lebih fokus pada dua orang selain dirinya yang tak banyak berbicara kepada ku.

Aku asyik berbicara hingga kudapati, mejaku hanya tersisa tiga sampai empat orang saja. Dan anak muda itu sudah pasti pergi dari mejaku.

Yah, dia terlihat bosan dengan omonganku dan memilih ngobrol dengan teman sebayanya. 

Dan karena itulah timbul kesan pertama, "sepertinya anak ini kurang sopan".

Sampai akhirnya, seharian itu aku tidak mau menatap wajahnya atau mengajaknya berbicara lagi.

Di sore hari ketika kelas bubar. Aku pergi ke arah ruangan tim pelayanan (Cao Tai). Aku mendapati seorang anak muda yang membawa dua bungkus makanan kecil yang sepertinya ia bawa dari rumah untuk malam hari menginap di Vihara kalau-kalau dia iseng pingin ngemil.

Dia adalah anak yang kumaksud tadi pagi. Berpas-pasan dengannya membuatku agak malas berurusan dengannya. 

Tapi tiba-tiba dia menawari aku salah sebungkus cemilan yang ia bawa.

"Ko, mau nggak?", tanya dia.

Aku agak kaget, mataku terbelalak kebingungan.

"Oh, xiexie yah. Saya nggak mau", jawabku sambil tersenyum.

Aku mulai berpikir; "kesan pertama ku terhadap anak tadi pagi itu ternyata salah. Aku kebanyakkan berpikir atau jangan-jangan aku sudah mulai tua yah, jadi mudah tersinggung?", renungku dalam hati.

Akhirnya aku berlalu melanjutkan aktifitas ku lagi dan aku pergi mandi. Seusai mandi, aku hendak masuk kamar tidur menaruh baju. 

Betapa terkejutnya aku, mendapati anak yang tadi membawa sebungkus Quaker Oat Instan dan hendak menawariku lagi, "koko mau nggak, oat buat entar malam?"

Quaker Oat Instan yang dikasih

Tadinya aku nggak mau, tapi dia agak memaksaku menerimanya. Di sini aku agak teringat kemarin malam sebelum menginap, aku ingin membawa racikan cokelat dan krimer bubuk untuk diseduh di Vihara pada malam hari. Tapi aku terlalu malas meraciknya karena sudah mengantuk, akibatnya aku tidak membawa minuman seduh apa-apa untuk malam hari.

Tapi memang Lao Mu, Milefo sangat baik yah :') mengirimkan Quaker Oat Instan dari seorang anak laki-laki berusia 18 tahun. Umat pemula lagi di kelas dharma tersebut. Membuatku merasa, sepertinya jodoh anak muda di kelas kali ini mereka agak berbobot soal pikiran dan jalan hidup. Membuatku merasa ada perkembangan secara pikiran dan perilaku di setiap regenerasi. Mereka yang terlahir di tahun-tahun belakangan lebih berprinsip dibanding generasi diriku yang cenderung masih sangat labil dan benar-benar kekanak-kanakkan.

16 June 2026

Ringkasan Lun Yü


Saya memilih ilustrasi "Jalan Menuju Maitreya" Karena salah satu ajaran Maitreya adalah menerapkan Ajaran Konfusius (Ru Jia)

Salah Satu Gambar Nabi Konfusius Dengan Kapur Hasil Karya anak Guang Ming School, Belinda

Nabi Konfusius bersabda; "Shen! Jalan-Ku adalah jalan yang meliputi segala sesuatu." 


Zengzi berkata, "Ya." 


Setelah Konfusius pergi, murid-muridnya bertanya, "Apa maksudnya?" 


Zengzi berkata, "Jalan Sang Guru tidak lain adalah setia dan instropeksi diri!" 



"Shen" adalah nama Zengzi; Zeng Xiang, juga dikenal sebagai Laozi Xing, berasal dari Negara Lu dan 46 tahun lebih muda dari Konfusius.


Prinsip-prinsip yang diajarkan Konfusius dapat diringkas dalam satu prinsip. 


"Ya" adalah respons yang penuh hormat, menunjukkan pemahaman terhadap ajaran Konfusius.


"Jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin kamu lakukan kepada dirimu sendiri; ini disebut pengampunan." 


Kesetiaan Perdana Menteri Lu Xiu Fu Kepada Kaisar Zhao Bing

Jalan kesetiaan dan perenungan masih ada di dunia, tetapi jalan ini jika dijalankan terus menerus dapat melampaui batasan kemampuan kemanusiaan dalam menjalankan kehidupan.


Kitab Zhongyi mengatakan, "setia sembari instrospeksi diri tidaklah melanggar aturan." 


Jika seseorang tidak melarikan diri, maka ia dekat dengannya. Kemudian seseorang dapat melanjutkan dari masalah ke prinsip, dan dengan demikian mencapai konsistensi. 


Ketika seseorang setia, tindakannya sendiri bukanlah tanpa tujuan; hati gelisah, seolah-olah hati seharusnya tenang. Kesetiaan adalah pengembangan batin seseorang; ketenangan yang harus dijalankan adalah perlakuan kita adalah bentuk kepedulian terhadap orang lain.


Sebelum mengembangkan hati sendiri, seseorang harus setia - memusatkan perhatian kita pada tujuan kita - kemudian mewujudkan sikap dari setia itu sendiri - mengembangkan diri kita - baru ada hasil yang baik. 


"Kebajikan" adalah sesuatu yang dikumpulkan dari tindakan masa lalu seseorang; seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan integritas yang tinggi, terlepas dari siapa pun, harus mengerahkan upaya maksimalnya.


Menolong orang lain menghasilkan ketenangan batin (jalan kemanusiaan), dengan ketulusan membimbing orang lain.



Konfusius berkata, “Orang yang unggul memahami kebenaran; orang yang rendah memahami keuntungan.”


“Memahami” berarti telah mengetahui suatu proses masalah atau pernah berkecimpung dalam pengalaman tertentu.


Orang yang unggul memahami prinsip-prinsip “diri” dan menekankan kesatuan pengetahuan dan tindakan. Ketidakmampuan untuk bertindak dan ketidaktahuan adalah dua sisi mata uang yang sama; pengetahuan sejati mengarah pada tindakan.


Ia memahami apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan dalam situasi apa pun. Setiap tindakan orang yang unggul dipandu oleh kebenaran, sehingga mencapai “pemahaman akan kebenaran.”


Pengejaran keuntungan oleh orang yang rendah tidak terbatas pada kekayaan; dalam semua tindakan, perkataan, dan pikirannya, ia memprioritaskan kebutuhannya sendiri dan menghindari masalah. Ia tidak akan pernah mengorbankan sehelai rambut pun untuk kepentingan dunia—inilah perilaku orang yang rendah.


Pada awal Dinasti Song, Bapak Xing Jiuzhou, di bawah bimbingan Zhu Xi, mengajar di Akademi Bailudong. Bagian ini membahas “diri” dan “keuntungan”; yang pertama merujuk pada kepentingan diri sendiri, yang kedua pada keuntungan finansial.


Aku bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip Kebenaran, dan manfaatnya harus dirasakan oleh orang-orang. 


Zhu Xi dari Dinasti Song berkata, "Persiapan adalah apa yang dianggap pantas oleh Kebenaran, dan pengumuman adalah apa yang diinginkan orang." 


Ya Zi berkata, "Mereka yang bangkit ketika burung berkicau, dan yang perbuatan baiknya adalah kebajikan, adalah pengikut para bijak. Mereka yang bangkit ketika burung berkicau, dan yang perbuatan baiknya adalah kebajikan, adalah mereka yang mampu berbuat kebajikan. Mengetahui perbedaan antara berjalan dan berlari, tidak ada yang lain selain manfaat tersembunyi dari kebaikan sejati." 


(Mencius, Sheng Xin Shang) Cheng Ding berkata, "Lumpur yang penuh kegembiraan menghalangi aliran air, dan perasaan manusia menghalangi prinsip-prinsip Kebenaran."

09 June 2026

Aku Ingin Melibatkan Mu Di Dalam Hari-Hari Ku


Hidup mu adalah filem yang selalu kutonton setiap hari dan filem favoritku sepanjang masa

Saat aku mengenalmu, tanpa terasa hari-hariku telah melibatkan mu


Saat aku bertemu denganmu, aku merasa kamu adalah buku favoritku

Kamu membuatku merasa harus mempelajari dirimu hingga hal terkecil


Kamu adalah tokoh utama dalam hidupku

Membuatku selalu ingin menjadi partner terbaik mu

Saat kamu berbicara, suaramu sangat lembut

Dan membuatku ingin mendengar suara mu setiap hari


Aku ingin melibatkan kamu dalam hidupku

Di segala situasi dalam hidupku

Aku selalu mencari bayangan mu

Di setiap hariku


Di setiap aku terbangun, aku selalu menemukan mu dalam bayanganku

Aku mendengar kata-kata manis dari bibirmu yang kecil

Membuatku seolah melihat filem masa depan ku dengan mu

Kamu adalah naskah drama terbaik dalam filem tentang hidupku

Saat bersama mu adalah saat yang tak pernah tergantikan


Kamu adalah segala yang kucari dalam hidupku

Apakah aku masih memimpikan mu?


Saat kamu melangkah dengan rok bunga kesukaan mu

Aku merasa kamu berbeda dari gadis kebanyakkan

Gadis dari masa depan yang diperuntukkan untukku

Aku melihat keindahan di mata cokelat dan senyuman yang anggun

Yang tidak pernah ada di gadis lain, kamu berbeda dari gadis yang lain


Saat kamu meminum cokelat hangat di senja hari

Aku ingin duduk di samping mu meminum secangkir kopi hangat

Aku selalu ingin berada di samping gadis idaman ku

Aku selalu ingin mencintaimu


Tepi jalan yang penuh toko bunga

Akan selalu kulalui ini, bila bayanganku adalah dirimu


Aku akan selalu merekam ini, jika aku terus berjalan dengan mu

Aku akan membeli kamera dan memfoto dirimu setiap hari

Kamu adalah gadis yang paling cantik dalam hidupku


Saat kita berdua pergi ke seluruh tempat

Itu tidak akan menjadi hal yang terlupakan

Jika itu dengan mu, aku akan selalu menjagamu


Saat kita berdua duduk bersama

Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini

Untuk membuatmu menjadi satu-satunya


Saat langit oranye berubah menjadi merah muda

Aku ingin bersama mu sepanjang hari hingga rembulan bersinar

Aku ingin selalu bertemu dengan dirimu selamanya

Aku ingin selalu bersama mu setiap hari


Aku selalu ingin melibatkan hari-hariku bersama mu selamanya...

Di setiap jalan hidupku, aku ingin selalu berjalan bersama dengan mu...

Menikmati setiap perjalanan dengan mu

Kisah Yue Liang, Dewi Bulan Pertama Di Dunia Bersama Tai Yang, Dewa Matahari Pertama Di Dunia


Lahirnya Dewi Bulan pertama, adalah berasal dari bencana kelaparan yang terjadi di Fu Jian, Tiongkok Daratan, berkalpa-kalpa tahun yang lalu.

Di tahun-tahun awal, setelah wafatnya Yue Nii Gu Niang. Lima ratus tahun kemudian, Yue Nii Gu Niang kembali bereinkarnasi menjadi seorang wanita Bernama Yue Liang.


Tai Yang dan Yue Liang adalah sepasang suami istri yang baru menikah selama dua minggu. baru dua minggu sejak hari pernikahan mereka berdua, Tiongkok Daratan diserang gagal panen akibat musim gugur panas yang tiba-tiba terjadi di daerah Tiongkok Daratan. Tiba-tiba tanah menjadi tandus, kering, dan retak. Rumput-rumput ilalang menguning, dahan dan daun-daun berguguran menjadi begitu kering. Banyak pohon yang mendadak menjadi mati kekeringan.

Meskipun tanah dan udara kering mencoklat seperti kepanasan, tetapi sebenarnya udara cukup sejuk. Hal ini sangat aneh bagi Yue Liang dan Tai Yang, karena hal ini baru terjadi saat ini. 

Banyak orang tua dan anak-anak yang kelaparan dan kehausan. Yue Liang dan Tai Yang, sudah tiga hari yang lalu sejak makan terakhir. Sayur-sayuran yang disimpan masyarakat ternyata sudah menguning dan mengering. Beberapa nenek-nenek akhirnya merendam sayuran yang menguning tersebut dengan air laut dan batang tebu selama tiga hari (untuk membuat manisan supaya bisa disimpan lebih lama lagi sehingga tidak membuang-buang sayuran di saat musim kering) dan dijemur lagi selama tiga sampai empat hari di atap rumah beralaskan sebuah nampan. Yang kelak kemudian hari, kita sebut sayuran kering berwarna cokelat tersebut dengan nama Ham Choi Kon.

Saat itu Yue Liang dan Tai Yang memutuskan untuk membuat panganan kue pia kering. Saat itu, gagal panen padi membuat penggilingan beras desa terhenti. Membuat Yue Liang dan Tai Yang mencari pengganti tepung beras untuk membuat sebuah panganan pengganti nasi dan jagung yang mengering. Yue Liang tertatih-tatih berjalan mencari bahan tepung pegganti, langkahnya yang tertatih membawa ia pergi ke kuburan penuh ilalang.


Di tempat itu, ia melihat ilalang yang sepertinya mudah digiling menjadi tepung. Yue Liang dan Tai Yang akhirnya memotong ilalang-ilalang tersebut dan menggilingnya menjadi tepung. 

Setelah menggilingnya menjadi tepung, Yue Liang mencairkan tepung ilalang tersebut dengan air sumur di belakang rumahnya. Dan kemudian memanggangnya hingga membentuk kulit lumpia untuk diisi Ham Choi Kon yang dicincang hingga hancur dalam keadaan kering. Kemudian lumpia isi Ham Choi Kon tersebut dapat dikukus atau dipanggang lagi di kuali di atas perapian kayu bakar sehingga sangat wangi.

Karena kulit lumpia sangat tipis, sehingga ia bisa membuat lumpianya sangat banyak, bahkan bisa membuat satu desa merasa kenyang setelah memakan lumpia tersebut.

Akan tetapi tiga hari kemudian, banyak sekali warga yang mengeluhkan gatal-gatal pada tenggorokan dan tubuhnya. Yue Liang dan Tai Yang juga merasakan hal yang sama. Mereka juga merasa gatal-gatal, akan tetapi Yue Liang tidak bisa pergi beristirahat begitu saja melihat banyak masyarakat yang sekarat dan mati karena kelaparan.

Ia kemudian mencari alternatif lagi, yaitu mengumpulkan sisa umbi-umbian kering di tanah dan digiling dengan penggilingan beras hingga akhirnya penggilingan beras tersebut rusak dan harus direparasi. Penggilingan beras itu akhirnya direparasi oleh tetangganya, Han Xiang Ci, bisa dibilang seorang Ketua RT di lingkungan rumahnya.

Tepung hasil penggilingan umbi-umbian berbeda dengan hasil tepung penggilingan ilalang. Penggilingan Ilalang menghasilkan tepung yang tidak mengikat (alias tidak bisa diuleni dan mencair). Berbeda dengan tepung umbi-umbian yang bisa diuleni dan teksturnya lebih padat.

Tepung hasil umbi-umbian tersebut akhirnya dibasahi dengan sedikit air dan dipipihkan. Diisi dengan kacang hijau (bukan kacang hijau kupas, tapi benar-benar kacang hijau). Karena Cuma itu saja sisa sembako yang kurang laku di musim panas, saat itu. Kemudian dipanggang bolak-balik di atas wajan cetek menggunakan kape.

Selama tiga bulan berjuang mencari umbi-umbian kering di setiap sawah. Di seminggu terakhir, ia menemukan tanaman sejenis ilalang, tetapi tanaman tersebut tampak lebih padat dan kalau dilihat-lihat seperti perkahwinan silang antara ilalang dengan tanaman padi. Itu seperti ilalang, tapi itu terlihat sangat padat seperti padi tapi isinya tidak ada beras. Bulu-bulunya pun tidak Nampak banyak seperti ilalang.

Tumbuhan itu banyak ditemukan di tengah ladang liar terbuka di tengah hutan. Pergi ke pedalaman hutan di dekat desa, pergi agak jauh, baru Nampak satu padang ilalang yang jenis ilalangnya berbeda (yang kelak kita namakan itu gandum). Yue Liang dan Tai Yang pun segera memanennya dan menggilingnya. Yue Liang mempelajari tekstur tepungnya saat diuleni. Ketua RT, Han Xiang Ci melihat peluang ini. Membawa bibit gandum ke desa dan menanam dan membudi-dayakannya di ladang desa.

Tepung gandum ini tidak boleh terlalu banyak air agar mereka bisa merekat satu sama lain. Yue Liang pun harus menggiling gula batu menjadi halus untuk merekatkan tepung gandum agar lengket satu sama lain. Kemudian ia membentuknya menjadi seperti perkedel dan mencobanya memanggang di oven dari bahan batu bata yang ditindih dengan besi yang di atasnya dibakar kayu bakar.

Saat dipanggang, biscuit tepung gandum sangat harum. Saat disajikan, awalnya dikira akan lunak teksturnya, ternyata malah mengeras dan agak rapuh. Beberapa ayi-ayi menyarankan untuk menggunakan telur dan susu untuk menjadikannya lebih harum. Tetapi sisa tepung gandum itu akhirnya dibagi-bagikan kepada ayi-ayi yang selama tiga bulan ini membantu membuat lumpia, pia, dan biscuit di akhir musim gugur. Dan ayi-ayi yang punya peternakan telur ayam pun, akhirnya mencampurkan telur ke dalam nya kemudian memanggangnya dan kemudian akhirnya menjadi sesuatu yang disebut cookies hingga saat ini. Mereka banyak berkreasi dari tepung gandum ini dan membuat gorengan kucai yang bisa dijual cukup mahal dari tepung gandum ini (digoreng menggunakan minyak kelapa).

Sejak saat itu, Yue Liang  dan Tai Yang menjadi tokoh Masyarakat yang paling ditunggu-tunggu setiap musim gugur, menggantikan kisah sedih Yue Nii Gu Niang yang wafat dalam kesendirian. Masyarakat mengibaratkan Tai Yang bagaikan Matahari, yang selalu siap siaga membantu Masyarakat mencari bahan makanan. Yue Liang bagaikan Bulan di tengah gelap, yang selalu mencari cara terbaik di tengah kondisi Masyarakat yang mendesak.

Mereka menjadi Dewa Matahari dan Dewi Bulan pertama dalam Sejarah romansa Masyarakat Tiongkok Kuno. Berkalpa-kalpa jauh sebelum kisah Dewi Chang ‘E dan Dewa Er Lang diterbitkan.