25 April 2025

Aku Sangat Bersyukur Bertemu Dengan Mu

Sebutlah orang itu adalah Ibu Nining. Sedari ayahku wafat, aku telah kehilangan arah. Ayahku menitip pesan pada keluargaku untuk melanjutkan kuliah mandarin ku sambil membantu kakak perempuanku. 

Kalau dipikirkan sendiri, hidup ku sungguh sangat menyedihkan setelah kehilangan ayah. Sedari 2015 aku didiagnosa Skizofrenia. Dengan pengobatan tiga tablet obat penenang mempertahankan jiwaku agar tetap waras. Sangat menyedihkan terkadang. Teman-temanku tidak ada yang tahu dan keluargaku berkata untuk apa hal-hal mengenai kesehatan pribadiku diberitahukan kepada orang-orang, meskipun hubungan itu sudah dekat. 

Kembali lagi ke cerita. Setelah semua keputusan, akhirnya aku mengikuti kakak perempuanku yang kedua. Di sana aku bergaul dengan karyawan-karyawan yang mungkin bagiku kurang baik dan jauh dari kata sempurna. Aku menghibur diriku dengan menyanggupi kata-kata kasar mereka dan berkata kasar seperti mereka untuk menyamakan diriku dengan mereka. 

Ada ketimpangan sosial yang aku harus bergaul dengan karyawan-karyawan yang hidup menengah ke bawah. Dan akhirnya aku bisa berbaur dengan baik. 

Ada seorang seorang karyawan yang agak nyambung berbicara denganku, namanya Ibu Nining. Untuk kesan pertama beliau terlihat galak dan sering membully anak baru. Tapi ketika aku mulai bekerja di sana, karena aku adik boss aku tidak dibully. Justru diterima dengan baik oleh mereka. 

Bu Ning tinggal di ruko bersama dengan kakak perempuanku dan aku. Kami tidur di lantai 3, sedangkan Bu Ning tidur sendirian di lantai 4.

Kalau mau dikatakan dengan gamblang, latar belakang tentang Bu Ning lebih baik tidak diceritakan di sini. Tapi satu hal yang menyentuh dan membuatku terinspirasi dengan Bu Ning adalah beliau pernah kuliah Diplomat. Bahkan beliau sangat tertarik dengan sastra dan hukum di Indonesia. 

Karena kesamaan pikiran dan tata bahasa, sering kali aku dan Bu Ning membahas masalah hidup hingga masalah hukum yang ada di Indonesia dengan bahasa 'bak ahli politik. Meskipun Bu Ning juga bisa dibilang tipikal anak-anak gaul Jaksel yang ngomongnya lebih seram ketimbang menengah ke bawah hehe... Tapi semuanya sangat seru. 

Bu Ning suka bercanda. Tak jarang dia banyak menceritakan kesialan hidupnya di masa lalu hanya kepadaku. Kehidupannya yang lalu dibela habis-habisan oleh ayahnya yang supir taksi yang menyekolahkannya hingga diplomat. Hingga pergaulannya sebagai koki di Nelayan hingga akhirnya mengabdi kerja menjadi penjaga rumah makan vegetarian di tempat kakak perempuanku. 

Namun pada akhirnya semua itu harus berakhir. Dan lagi-lagi aku harus kehilangan sahabatku yang jauh 20 tahun lebih tua dariku. Yah, beliau akhirnya mengundurkan diri dan pergi entah ke mana. 

Hal terbaik yang kuingat tentang Bu Ning, beliau sering memotivasi diriku untuk terus teguh dan tegar dalam menjalani hidupku. Bu Ning bagaikan seorang teman yang membuatku mampu melewati masa-masa sulit yang membuatku banyak pikiran. Juga ketika bulan Puasa, Bu Ning selalu berinisiatif membeli sekardus minuman untuk gojek-gojek untuk dibagikan dan itu selalu dalam nama  restoran Kakak Perempuanku. 

Untuk Bu Nining, semoga ibu sehat selalu dan juga berbahagia di mana pun berada. Semoga ibu selalu berezeki dan berkah. Semoga kita bisa kayak dulu lagi yah Bu Ning. Jaga restoran sambil sambil ngobrol panjang lebar. 

Bayar SPP Dengan Uang Jajan Sendiri

Teringat di sekitar tahun 2009 aku memulai pikiran yang bagiku ini adalah hal yang sangat menantang. Dengan segala keberanian yang ayah berikan kepadaku, aku bisa menabung untuk membayar Uang Sekolah ku beberapa bulan sekali. 

Keluarga ku tidaklah kaya, ibuku hanya seorang pekerja rumah tangga dan ayahku hanya karyawan di Gudang PT. Charoen Pokhpand. Aku lupa berapa nominal uang jajan ku yang diberikan ayahku seminggu sekali. Yang jelas beberapa kali aku berhasil mengumpulkan uang jajan untuk membayar SPP ku sendiri. 

Aku melakukan kebiasaan ini dari kelas 8 SMP hingga lulus SMK. Beberapa bulan sekali, aku pasti berinisiatif membayar SPP ku sendiri dengan uang jajan. Bagiku itu adalah sebuah kebahagiaan yang melebihi klimaks, saat bisa membayar SPP ku sendiri dengan uang jajan. 

Sedari kecil aku diajarkan ibuku untuk menabung jika hendak membeli yang aku mau. Handphone Android pertama ku, Samsung Galaxy Y adalah hadiah pertama dari diriku untuk diriku sendiri. Konon, apapun yang dibeli dengan uang sendiri akan jauh lebih membanggakan dan pasti akan sangat kuhargai hingga pasti aku tidak akan sembarangan memperlakukannya. 

Semoga kamu yang membaca cerita ini dapat terinspirasi untuk membantu keuangan keluarga melalui penghematan yang kamu lakukan. Meskipun kamu masih kecil, tapi pikiran selalulah tentang dunia yang sangat luas.