31 July 2023

Menjejerkan Sepatu Ketika Melepasnya

Ini akan memperindah hidup.

Ketidak-aturan di pikiran akan tampak di kaki.


Telah lama dikatakan bahwa kita dapat mengetahui banyak hal tentang sebuah rumah tangga dengan melihat ruang masuknya, terutama di rumah-rumah Jepang, tempat kami melepas sepatu ketika memasuki ruangan itu. Apakah alas-alas kaki terjejer dengan sempurna atau menumpuj berantakan - hanya dengan satu rincian kecil ini, kita dapat mengetahui situasi pikiran orang-orang yang tinggal di sana.

Di dalam Buddhisme Zen, kami mempunyai sebuah pepatah yang berarti, "Lihatlah dengan cermat apa yang ada di bawah kakimu". Kalimat ini memiliki arti harafiah, tetapi juga mengatakan bahwa orang yang tidak memperhatikan jejak langkahnya tidaklah dapat mengenali dirinya sendiri, dan tidak dapat mengetahui ke mana hidupnya menuju. Mungkin ini terdengar berlebihan, tetapi hal kecil seperti itu benar-benar bisa berpengaruh besar pada cara hidup kita.

Ketika pulang ke rumah, lepaslah sepatu dan jejerkan dengan rapi di pintu depan. Lakukan hal ini karena hanya membutuhkan tiga detik.

Tetapi dengan menumbuhkan kebiasaan ini, secara ajaib segala sesuatu di dalam hidup kita akan menjadi lebih jelas dan teratur. Ini akan memperindah hidup kita. Inilah ciri manusia.

Pertama, cobalah mengubah perhatian kita pada kaki.

Dengan menjejerkan sepatu, kita sudah mengambil satu langkah maju ke arah yang kita tuju.


(Dikutip dari "Seni Hidup Bersahaja" karya Shunmyo Masuno)


30 July 2023

Menikmati Udara Pagi

 Inilah rahasia hidup panjang para bhiksu.

Setiap hari adalah sama.

 

Ada yang mengatakan bahwa para bhiksu Buddha yang mempraktikkan Zen memiliki umur Panjang.

Tentu saja diet dan teknik pernapasan adalah faktor penyumbang, tetapi saya percaya bahwa gaya hidup yang tersusun dan teratur memberi pengaruh yang positif, secara Rohani dan ragawi.

Setiap pagi saya bangun pukul 05.00 dan hal pertama yang saya lakukan adalah mengisi paru-paru dengan udara pagi. Saat saya berjalan mengitari ruang utama kuil, ruang pertemuan, dan bilik-bilik pendeta, lalu membuka tirai hujan, tubuh saya mengalami perubahan-perubahan musim. Pukul 06.30 saya melakukan liturgi Buddhis dengan mendaraskan kitab suci, lalu saya sarapan. Berikutnya adalah mengurus apa pun urusan untuk hari itu.

Proses yang sama berulang setiap hari, tetapi setiap hari tidaklah sama. Rasa udara pagi, saat ketika fajar tiba, sentuhan angin di pipi, warna langit dan dedaunan di pohon – segala sesuatunya selalu berubah. Pagi adalah saat ketika kita sepenuhnya mengalami perubahan-perubahan ini.

Inilah sebabnya para bhiksu melakukan meditasi duduk (zazen) sebelum matahari terbit, untuk, secara ragawi, merasakan perubahan-perubahan di alam ini.

Pada praktik zazen pertama dari hari, kyoten zazen – zazen pagi – kami merawat pikiran dan tubuh kami dengan menghirup udara pagi yang indah.


(Dikutip dari "Seni Hidup Bersahaja" karya Shunmo Masuno)

29 July 2023

Bangun Lima Belas Menit Lebih Dini

Resep untuk saat ketika tidak ada ruang di hati kita.


Bagaimana kesibukan membuat kita kehilangan hati.

Ketika kita kekurangan waktu, kekurangan juga meluas ke hati. Dengan otomatis kita berkata, "Aku sedang sibuk - aku tidak punya waktu." Ketika merasa seperti ini, pikiran kita menjadi semakin kacau.

Tetapi apakah kita benar-benar sibuk? Bukankah kita sendiri yang mendesak diri untuk bergegas?

Dalam bahasa Jepang, kata "sibuk" ditulis dengan simbol-simbol untuk "kehilangan" dan "hati".

Kita bukan sibuk karena tidak cukup waktu. Kita sibuk karena tidak ada ruang di hati kita.

Terutama ketika segalanya sedang kacau-balau, cobalah bangun lima belas menit lebih dini dari biasanya. Tegakkan tulang punggung, dan bernapaslah panjang dari sebuah titik di bawah pusar - titik yang kita sebut tanden. Begitu pernapasan teratur, pikiran kita juga akan memasuki ketenangan.

Lalu, ketika kita menikmati secangkir teh atau kopi, lihatlah ke langit di luar jendela. Coba dengarkan cuitan burung-burung kecil.

Sungguh aneh - hanya dengan begitu, kita bisa menciptakan ruang di pikiran kita.

Bangun lima belas menit lebih dini akan dengan ajaib membebaskan kita dari kesibukan.


(Dikutip dari "Seni Hidup Bersahaja" karya Shunmyo Masuno)


28 July 2023

Meluangkan Waktu untuk Kekosongan

BAGIAN SATU

30 CARA UNTUK

MEMBUGARKAN

"DIRI-SAAT-INI"

Mencoba melakukan sedikit perubahan pada kebiasaan kita.


Pertama-tama, amati diri sendiri

Berada bersama diri sendiri sebagaimana adanya diri kita, tanpa terburu-buru dan dengan sabar.


Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita punya waktu untuk tidak memikirkan apa-apa? Saya membayangkan sebagian besar orang akan berkata, “Aku tidak punya waktu untuk melakukan itu.”

Kita terdesak oleh waktu, pekerjaan, dan segala sesuatu yang lain dalam hidup kita. Kehidupan modern jauh lebih sibuk dibandingkan dulu. Sepanjang hari, setiap hari, kita berusaha sebaik mungkin untuk hanya menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.

Jika kita menceburkan diri ke dalam rutinitas seperti ini, tanpa sadar namun pasti, kita akan kehilangan pandangan terhadap diri sendiri dan kebahagiaan sejati kita.

Di setiap hari, yang kita butuhkan hanya untuk sepuluh menit. Cobalah meluangkan waktu untuk kekosongan, untuk tidak memikirkan apa pun.

Cobalah untuk membersihkan pikiran, dan tidak terperangkap dalam hal-hal di sekitar kita.

Berbagai pikiran akan mengapung di benak kita, tetapi cobalah mengirimnya pergi, satu per satu. Ketika melakukannya, kita akan mulai memperhatikan saat ini, pergeseran-pergeseran kecil di alam yang memelihara kita untuk tetap hidup. Ketika tidak teralihkan oleh hal-hal lain, diri kita yang murni dan jujur akan bisa terungkap.

Luangkan waktu untuk tidak memikirkan apa-apa. Itulah Langkah pertama menuju penciptaan hidup yang sederhana.

 

(Dikutip dari “Seni Hidup Bersahaja” karya Shunmyo Masuno)