Kemarin ketika Kelas Dharma dua hari di Vihara Tangerang, aku ada ajak ngobrol beberapa umat baru di Vihara. Banyak sekali anak muda yang baru lulus sekolah. Aku suka mengajak ngobrol mereka soal jurusan kuliah yang mereka pilih, mereka hendak kuliah di mana dan sebagainya.
Ada seorang anak yang baru dua bulan aktif di Vihara Kuang Sheng. Dia baru lulus sekolah dan pergi mendengarkan kelas dharma ini. Awalnya aku bertanya hal-hal mendasar seperti di atas, sampai akhirnya aku pun lebih fokus pada dua orang selain dirinya yang tak banyak berbicara kepada ku.
Aku asyik berbicara hingga kudapati, mejaku hanya tersisa tiga sampai empat orang saja. Dan anak muda itu sudah pasti pergi dari mejaku.
Yah, dia terlihat bosan dengan omonganku dan memilih ngobrol dengan teman sebayanya.
Dan karena itulah timbul kesan pertama, "sepertinya anak ini kurang sopan".
Sampai akhirnya, seharian itu aku tidak mau menatap wajahnya atau mengajaknya berbicara lagi.
Di sore hari ketika kelas bubar. Aku pergi ke arah ruangan tim pelayanan (Cao Tai). Aku mendapati seorang anak muda yang membawa dua bungkus makanan kecil yang sepertinya ia bawa dari rumah untuk malam hari menginap di Vihara kalau-kalau dia iseng pingin ngemil.
Dia adalah anak yang kumaksud tadi pagi. Berpas-pasan dengannya membuatku agak malas berurusan dengannya.
Tapi tiba-tiba dia menawari aku salah sebungkus cemilan yang ia bawa.
"Ko, mau nggak?", tanya dia.
Aku agak kaget, mataku terbelalak kebingungan.
"Oh, xiexie yah. Saya nggak mau", jawabku sambil tersenyum.
Aku mulai berpikir; "kesan pertama ku terhadap anak tadi pagi itu ternyata salah. Aku kebanyakkan berpikir atau jangan-jangan aku sudah mulai tua yah, jadi mudah tersinggung?", renungku dalam hati.
Akhirnya aku berlalu melanjutkan aktifitas ku lagi dan aku pergi mandi. Seusai mandi, aku hendak masuk kamar tidur menaruh baju.
Betapa terkejutnya aku, mendapati anak yang tadi membawa sebungkus Quaker Oat Instan dan hendak menawariku lagi, "koko mau nggak, oat buat entar malam?"
![]() |
| Quaker Oat Instan yang dikasih |
Tadinya aku nggak mau, tapi dia agak memaksaku menerimanya. Di sini aku agak teringat kemarin malam sebelum menginap, aku ingin membawa racikan cokelat dan krimer bubuk untuk diseduh di Vihara pada malam hari. Tapi aku terlalu malas meraciknya karena sudah mengantuk, akibatnya aku tidak membawa minuman seduh apa-apa untuk malam hari.
Tapi memang Lao Mu, Milefo sangat baik yah :') mengirimkan Quaker Oat Instan dari seorang anak laki-laki berusia 18 tahun. Umat pemula lagi di kelas dharma tersebut. Membuatku merasa, sepertinya jodoh anak muda di kelas kali ini mereka agak berbobot soal pikiran dan jalan hidup. Membuatku merasa ada perkembangan secara pikiran dan perilaku di setiap regenerasi. Mereka yang terlahir di tahun-tahun belakangan lebih berprinsip dibanding generasi diriku yang cenderung masih sangat labil dan benar-benar kekanak-kanakkan.
