25 August 2025

Khan Thi Minh



Seorang gadis dari klan keluarga khan menikah dengan laki-laki dari keluarga Nguyen. Khan Thị Minh.

Dahulu kala di Vietnam pada tahun 1800an, ada satu keluarga bermarga Khan memiliki empat orang putri Bernama Khan Thi Minh putri tertua, Khan Thi Xinh sebagai putri kedua, Khan Thi Sao sebagai putri ketiga, dan Khan Thi Sang sebagai putri terakhir. Masing-masing telah menikah dan memiliki keluarga yang Bahagia. Mereka semua bersepakat untuk tinggal di satu distrik dan membentuk Paguyuban besar Bernama “Ngôi sao sáng "Khan" (Bintang Terang Khan). Seluruh leluhur keluarga “Khan” Adalah pahlawan perang saudara yang terjadi di Vietnam pada tahun 1789 hingga 1802.

Dikatakan mereka keluarga yang Bahagia, juga tidak terlalu Bahagia. Mereka hidup terjaga, takut terjadi penyerangan oleh penduduk dari klan sebelah. Dan mereka sangat berhati-hati dan awas dalam menjalani kehidupan mereka.

Perang saudara yang terjadi di Vietnam sangat parah. Mereka bisa saling menghabisi hanya karena perebutan harta keluarga yang sebenarnya bukanlah hak mereka (kebanyakkan dari mereka memperebutkan tanah dan wilayah kekuasaan klan). Perang mereka mirip-mirip dengan perang saudara Madura dan Dayak, sehingga banyak korban yang meninggal secara tragis. Khan Ti Minh Adalah seorang putri dari keluarga Khan yang sangat heroik dan berjasa dalam melindungi klan mereka di desa Lentera Phu Binh.

Di suatu malam yang tenang, di rumah Khan Ti Minh seperti biasa sedang makan malam bersama di ruang keluarga. Baru suaminya hendak mengambil nasi di mangkuk tiba-tiba ada suara ribut-ribut dari luar rumah. Mendengar hal itu Khan Ti Minh tanpa ragu langsung keluar dari rumah untuk mengecek apa yang sedang terjadi (Khan Ti Minh merupakan putri tertua yang harus memperhatikan anggota keluarga mereka) (ayah dan ibu Khan Ti Minh telah tiada karena perang saudara, maka tanggung jawab menjaga keluarga otomatis jatuh pada putri tertua) (kehidupan mereka hanya sebagai petani padi, banyak klan yang iri dan mengincar ladang mereka sebagai satu-satunya mata pencaharian mereka).

Khan Ti Minh yang merasa sebagai putri tertua langsung berinisiatif untuk menghalangi keributan massa yang mulai melemparkan batu dan membawa api untuk menyerang rumah klan keluarga mereka. Suami dari Khan Ti Minh  langsung memanggil saudara-saudara mereka. Yang pria langsung menghadapi mereka yang ingin menyerang keluarga mereka. Dan yang wanita disuruh pergi meninggalkan Lokasi.

Khan Ti Minh yang juga disuruh kabur, malah bersikeras dalam nama leluhurnya. Ia langsung mengambil senjata bambu beracun dan memukul-mukul mereka yang menyerang keluarganya. Yang laki-laki pun juga mengeluarkan senjata bambu mereka. Berusaha menyerang tapi ternyata jumlah mereka kalah banyak.

Khan Ti Minh yang sudah terlanjur di baris depan, akhirnya menginstruksikan agar semua keluarga mereka (termasuk yang laki-laki) agar mereka semua lari ke tempat yang lebih baik meninggalkan dia sebagai pancingan. Dan di saat itu juga Khan Ti Minh ditusuk parang oleh salah satu dari mereka. Melihat hal itu suami Khan Ti Minh marah dan mulai menyerang secara membabi buta hingga akhirnya polisi datang. Namun, sayang sekali, ketika polisi datang, Khan Ti Minh telah meninggal dalam keadaan terpotong-potong (kaki dan tangannya terpisah dari tubuhnya). Sedangkan suaminya hanya mengalami luka tusukkan di lambung (namun beberapa hari kemudian meninggal karena sakit dan kesedihan yang tak terbendung).

Ketika keadaan sudah kondusif, keluarga Khan kembali ke rumah mereka. Mereka sangat sedih melihat keadaan jasa Khan Ti Minh. Masih sekitar pukul empat pagi, ketiga saudara Perempuan Khan sambil menangis menyusun kembali jasad Khan Ti Minh di peti mati. Semerbak asap dupa menyebar mengalahkan bau kemenyan. Dini hari ini dengan hujan rintik mengiringi tangisan anggota keluarganya yang merasakan sendiri pengorbanan seorang putri sulung wanita yang menjaga keutuhan keluarganya.

Seluruh anggota keluarga berputar berjalan mengelilingi jasad Khan Ti Minh sambil menyiramkan air bunga sehingga jasadnya tetap harum. Bunga, uang kertas, barang-barang cantik nan mewah semua diberikan, namun semua percuma, tak bisa mengembalikan nyawa Sang Putri Sulung Khan. Di depan peti jenazah terpampang rupang Dewi Kwan Im (keluarga ini tidak mengenal ajaran Buddha tapi bersembahyang pada Dewi Kwan Im, sehingga zaman dahulu lebih banyak orang Vietnam belajar ajaran Dewi Kwan Im dan tidak tahu bahwa Kwan Im merupakan bagian dari ajaran Buddha sehingga terciptalah kelompok yang hanya berdevosi pada Dewi Kwan Im).

Para keluarga yang tidak mengerti biksu atau pemuka agama, hanya mampu terus memohon kepada Dewi Kwan Im, agar arwah Khan Ti Minh dituntun oleh Dewi Kwan Im pergi ke surga dan menjaga keluarga mereka dari Langit.

Sang Suami hanya mampu menangis duduk di kursi sandar dan memaki dirinya sendiri tidak menjaga keluarga dengan baik.

Sekitar pukul enam pagi, peti Khan Ti Minh pun dibawa ke peristirahatan terakhir.

Kisah Li Qiang, Dewa Penjaga Keluarga

Pada zaman dinasti Qing (kurang lebih tahun 1700-an) hiduplah seorang anak laki-laki yang berbakti kepada keluarganya (bukan hanya kepada ayah atau ibunya saja, tetapi juga kepada Sembilan kakak perempuannya).

Namanya Adalah Chen Li Qiang (陈力强). Li Qiang merupakan anak laki-laki yang diharap-harapkan, setelah ibunya melahirkan Sembilan anak Perempuan, dan yang ke-sepuluh Adalah Li Qiang.

Li Qiang sangat heroik sekali dalam menjaga keutuhan keluarganya. Li Qiang di usia delapan tahun pernah menolong kakak perempuannya yang ke delapan yang hendak dijual ke rumah bordil oleh ayahnya hanya karena tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Li Qiang yang melihat kakak perempuannya diseret untuk diserahkan kepada mucikari, langsung mengejar ayahnya dan langsung merebut tangan kakak perempuannya dari tangan ayahnya.

Ayahnya cukup stress dengan kondisi keuangan keluarganya dan akhirnya merasa tindakannya menjual anak perempuannya yang ke delapan Adalah jalan satu-satunya yang terbaik untuk memenuhi kehidupan keluarga mereka.

Di antara Sembilan kakak perempuannya, tujuh dari sepuluh kakak perempuannya telah menikah dengan orang yang mereka cintai. Hanya kakak yang ke delapan hidupnya agak sulit, karena beliau memikirkan ibunya yang sudah sangat tua dan renta. Namun karena belum menikah, sering sekali diejek oleh tetangga dan ayahnya merasa sangat malu.

Melihat ejekkan tetangganya, Li Qiang tidak tinggal diam. Ia sering  membalas ejekkan tersebut dengan mengerjai tetangganya sehingga tak jarang tetangga melaporkan kelakuan Li Qiang kepada ayahnya dan Li Qiang dipukul oleh ayahnya. Akan tetapi itu tidak merubah rasa hormatnya kepada ayah dan ibu Li Qiang. Ia dikenal oleh satu desa sangat membela keluarganya dan melindungi kakak perempuannya.

Di usia Li Qiang yang ke dua belas tahun, akhirnya kakak perempuannya yang ke delapan menemukan tabatan hatinya dan menikah. Saat itu Li Qiang telah bekerja sebagai penempel poster (selembaran iklan produk kecantikkan wanita) di tembok-tembok pasar dan mengumpulkan uang untuk memberi angpau kepada pernikahan kakak perempuannya yang ke-delapan sebagai tanda agar keluarga Li Qiang tidak diremehkan oleh pihak mempelai laki-laki. Hal itu membuat mempelai pria sangat menghormati keluarga Li Qiang dan satu keluarga Li Qiang pun sangat terharu dan kakak ipar Li Qiang berjanji akan menjaga baik-baik kakak perempuannya.

Selain kakak perempuannya yang ke-delapan. Ada satu lagi kakak Perempuan Li Qiang yang pada akhirnya menjadi salah satu tanggung jawab Li Qiang hingga akhir hayatnya. Nama kakak perempuannya yang ke-sembilan Adalah Li Xiu (丽秀). Li Xiu merupakan anak Perempuan yang mengalami down syndrome. Sangat dijaga ketat oleh ibu dan Li Qiang sendiri sangat memaklumi kekurangan kakak perempuannya. Di usia ke-lima belas tahun ibunya mangkat dan Li Qiang di tahun yang sama juga membina rumah tangga dengan istrinya. Li Qiang di usia ke-lima belas tahun mampu membangun rumahnya yang tadinya gubuk kecil menjadi rumah semi-permanen. Tinggal bersama istri, ayah, dan Li Xiu, mereka saling menjaga hingga akhir hayatnya. Li Qiang memilik dua orang anak laki-laki dan satu anak Perempuan.

Li Qiang sendiri merasa dikaruniai kecerdikkan yang baik oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga Li Qiang memeluk agama Katolik. Di usia ke-empat belas tahun, Li Qiang mulai bekerja di pabrik susu bubuk kacang kedelai. Kedelai kering yang dijadikan bubuk merupakan terobosan baru minum susu kacang tanpa takut basi. Hanya dalam dua tahun ia dipercaya boss pabrik susu tersebut menjadi wakil direktur pabrik susu tersebut dan bekerja dengan sangat setia. Sehingga di usia ke-tiga puluh tahun, Li Qiang mencoba merintis pabrik susu bubuk dari sapi yang berlisensi dari luar negeri dan memproduksi susu bubuknya sendiri.

Dari sini kita bisa memetik pesan moral. Anak yang berbakti dan menghormati orang yang lebih tua, kelak pasti akan menjadi anak yang berguna dan berpengaruh di dunia. Tuhan sangat menyayangi anak yang berbakti dan menghormati orang tuanya.

Lalu bagaimana Li Qiang menjalankan bakti kepada Sembilan kakak perempuannya? Ketika usianya menginjak tiga puluh tahun, empat kakak perempuannya telah menjadi janda, sehingga Li Qiang sendiri sering mengirimkan uang bulanan dan barang kebutuhan kakak perempuannya setiap bulan. Tak lupa meski pun ia seorang Katolik sendiri, tetapi Li Qiang tetap melakukan salam tahun baru ke rumah Sembilan kakak perempuannya secara berurutan dari yang paling tua hingga yang paling akhir. Pastur juga mengajarkan untuk menghormati tradisi sembahyang leluhur, sehingga beliau sering melakukan hal tersebut di hari kematian ayah dan ibunya serta melakukannya di hari Cheng Ming.

14 August 2025

Si Mian Fo Dalam Empat Kepribadian Manusia

Dalam psikologi, terdapat empat kepribadian manusia yang menonjol. Dari empat kepribadian tersebut terdapat dua kepribadian manusia yang menonjol. Ada pun empat kepribadian tersebut:


1. Plegmatis

Plegmatis adalah kepribadian yang cenderung tenang dan cinta damai. Orang-orang dengan kepribadian ini cenderung menghentikan segala pertikaian di dalam dirinya. Misalnya jika ada keributan, plegmatis akan cenderung untuk berdiam diri (mencari aman) tidak ikut keributan.


2. Sanguin

Orang yang memiliki tipe kepribadian sanguin adalah orang yang sangat ceria dan juga banyak bercerita. Orang dengan kepribadian ini biasa memecah kesunyian dan mengundang banyak tawa. Orang sanguin tidak suka jika berlarut-larut dalam kesedihan. Dan cenderung ingin hidup dengan bebas sesuai dengan keinginan hati mereka.


3. Melankolis


Hati-hati dengan orang berjiwa melankolis. Mereka suka melakukan segala hal dengan sempurna dan cenderung mudah stress dan sedih jika ada yang menyinggung atau mengkritik mereka. Kehadiran mereka berlawanan dengan kepribadian sanguin. Maka seringkali orang yang melankolis tidak cocok dengan orang yang berkepribadian sanguin. Mereka cenderung menganggap sanguin sangat mengganggu. Bahkan mereka bisa berpura-pura bahagia hanya demi menghibur orang-orang yang berada di lingkungannya padahal mereka sedang merasa sedih.



4. Koleris
Adalah orang-orang yang siap memimpin dunia. Adalah orang-orang yang percaya dengan keberadaan campur tangan mereka dunia bisa lebih baik. Akan tetapi jika kepribadian ini mendominasi dan terlalu menuruti sifat ini, akan menyebabkan arogansi yang cukup membahayakan. Mereka lebih suka untuk memerintah, daripada turun tangan langsung ke lapangan.

Itu adalah sifat atau kepribadian kita dalam ilmu psikologi.



Dalam Buddhisme dan Hinduisme, ada seorang Dewa atau Buddha bernama Brahmana (Si Mian Fo). Dalam ajaran Hinduisme, Brahma adalah Dewa yang sangat sempurna yang juga merupakan kasta tertinggi dalam kasta-kasta yang tertulis di agama Hindu. Brahmana dalam dunia manusia bagaikan orang-orang yang sudah meninggalkan keduniawian dan juga merupakan orang-orang suci yang selalu memberi petunjuk atau arahan dalam kehidupan.

Dalam agama Buddha ada seorang Brahma yang bisa kita sebut sebagai Buddha Empat Wajah (Si Mian Fo). Setiap wajah Brahma mewakili aspek permohonan yang berbeda, seperti cinta kasih, belas kasihan, kebahagiaan, dan ketenangan. Namun setelah saya pelajari dan saya amati, Buddha Si Mian Fo setiap wajahnya juga bisa mewakili empat kepribadian manusia itu sendiri.

Namun, pada dasarnya empat kepribadian tersebut hidup berdampingan di dalam diri kita, tetapi hanya dua yang menonjol di dalam diri kita. Figur Si Mian Fo adalah figur seorang manusia yang sempurna (secara kepribadian) dengan mengatur empat kepribadian tersebut sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi.

Saya percaya, dengan mengatur empat kepribadian dalam diri kita sendiri, otomatis kita bisa menjadi manusia yang seimbang dalam mengatur emosi. Empat emosi tersebut sangat diperlukan dalam mengatur kehidupan sehari-hari, apalagi bagi kepribadian seorang pemimpin.


Kepribadian Ganda


Kepribadian ganda adalah di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian dalam tubuhnya. Misalnya ada seseorang yang taat beribadah namun ketika ia keluar dari tempat ibadah, ia berubah menjadi predator seks (para pemuka agama yang terkena kasus asusila di Indonesia cukup banyak terjadi).

Lalu bagaimana kepribadian ganda tersebut terjadi?

Kepribadian ganda berasal dari perasaan sedih, menderita, yang terakumulasi bertahun-tahun. Dan mereka berpikir, perlu super power untuk menghadapi itu semua. Karena mereka merasa terdesak, tidak ada orang lain yang menolong mereka, selain diri mereka sendiri, maka kepribadian kedua itu muncul. Sehingga tidak heran dalam kasus ini banyak sekali kasus pembunuhan (kasus pembunuhan juga salah satu yang disebabkan oleh kepribadian ganda).


Ada dua kemungkinan:

1. Penderita tidak sadar

Biasanya dalam kondisi ini penderita disebut “gelap mata”. Kebanyakkan disebabkan karena “zona nyaman” penderita terganggu. Misalnya saat sedang bertengkar hebat, penderita gelap mata membunuh lawan bicaranya. Sehingga dalam menghadapi penderita ini, butuh pengendalian emosi yang baik.

 

2. Penderita sadar

Misalnya seseorang yang menjadi gay atau lesbi itu kebanyakkan adalah kepribadian ganda. Masa kecil mereka kebanyakkan kehilangan figur ayah (untuk gay) dan ibu (untuk lesbi). Sehingga ketika dewasa, trauma dan rasa “butuh kasih sayang akan sosok orang tua” itu keluar. Dan mereka “haus” akan kasih sayang ayah dan ibu. Dan ketika mereka berada di lingkungan yang salah atau salah pergaulan, mereka bisa memiliki kepribadian kedua yaitu menjadi gay atau lesbi. Dan mereka haus akan atensi dan perhatian, sehingga merasa dengan menjadi demikian mereka menjadi unik.

 

Lalu bagaimana membuat penderita kepribadian ganda menjadi lebih baik?

Kepribadian ganda tidak bisa disembuhkan. Kepribadian itu bisa datang lagi sewaktu-waktu meski pun sudah lama tidak muncul. Butuh lingkungan atau orang-orang yang mendukung penderita tersebut untuk kembali normal. Faktor pendukung seperti stress dan depresi juga dapat menyebabkan muncul atau kambuhnya kepribadian kedua.

Ada baiknya jika mengalami gejala kepribadian ganda seperti lupa sehabis melakukan sesuatu, atau merasakan emosi yang meledak-ledak di dalam diri anda dan tiba-tiba anda merasa emosi itu hilang secara mendadak. Segera konsultasikan keadaan jiwa mu ke psikolog atau psikiatri terpercaya.

Saya pribadi menyadari diri saya kepribadian ganda. Saya berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berdoa setiap kali saya merasa kepribadian kedua saya ingin muncul. Saya kembali kepada “diri saya sendiri” yang saya pahami itu adalah Tuan Rumah saya sendiri. Jangan lupa untuk menjauhkan diri dari hiruk pikuk barang sebentar, untuk mengembalikan energi yang selama ini terkuras. Meditasi di tengah keramaian kota juga merupakan hal yang baik (healing) (mengembalikan suasana hati mendapatkan kedamaian dalam ketenangan).

09 August 2025

Lahir Lebih Awal

Penulis: mesYas

Inspirasi: Born Too Late


Aku, mengharapkan Maitreya

Lahir lebih awal

Dan memperhatikan aku

Karena aku merasa sudah tidak sanggup

Dan Dialah, Mesias yang dieluh-eluhkan


Aku, mengharapkan Maitreya

Mengadakan revolusi

Atas dunia dan cintaNya

Menjawab semua keimanan ku

Dan aku terlahir bersamaNya


Aku melihat langkahNya

Dan aku mengikutiNya

Ia membawaku ke Taman Firdaus

Dan tak pernah kusesali

Doa ku di Taman Getsemani

 

Aku, mengharapkan Maitreya

Lahir lebih awal 

Hapus, Dia menghapus darahku

Hanya karena cintaNya

Ketika aku menangis


Aku, mengharapkan Maitreya

Lahir lebih awal

Aku tak bisa menunggu lagi

Entah kapan, aku bisa bertemu

Dengan Mesias di Masa Depan? 

Rhythm of the Rain

Penulis: Daoji

Inspirasi: Rhythm of the Rain


Aku teringat sesuatu saat hujan turun

Itu membuka nostalgia di kepalaku

Aku merindukan seseorang saat menangis

Tetapi tidak jelas seseorang itu siapa? 


Aku mendengar suara hujan dan mencium bau tanah

Kadang bercerita tentang duka atau bisa jadi hanya termenung

Memikirkan sesuatu di masa lampau dengan warna sepia

Siapa itu? Aku memohon dengan kearifan kepada hujan


Hujan Yang Adil tolong beritahu aku! 

Kapan guru dan murid bisa berkumpul bersama lagi? 

Guru dan murid bersama menitis

Tapi tak lagi saling mengenal


Kebersamaan hanya seperti cerita nostalgia

Bertanya kepada Tuhan; "apakah membina diri selama ini sia-sia? "

Jika hanya tertinggal kesan penderitaan, untuk apa membina diri? 


Ah, hujan mengingatkan kenangan! 

Pitter patter, pitter patter! 

Dengarkan suara hujan turun

Kamu Polos Seperti Bayi

Penulis: Matre

Inspirasi: Pretty Little Baby


Pretty little baby

(Ya ya ya!) 

Pretty little baby

(Ya ya ya!) 

Wajah yang benar-benar jujur

Yang benar-benar aku sayangi

Wajah yang begitu polos

Aku benar-benar bahagia

Pretty little baby

Melindungi mu seumur hidup


Kamu bisa tanyakan harga bunga di toko

Tapi setiap hari kau berikan "bunga" kepadaku

Seperti burung gereja yang memanggil burung pipit

Pretty little baby

Aku benar-benar menyayangi mu


Sekarang adalah masa pancaran putih

Saat jodoh baik atau buruk datang harus dengan hati bahagia menyambut

Tidak peduli terasa canggung atau menyenangkan

"While our heart is young and gay"


Temukan Aku di depan altar

Saat ikrar kita telah diucapkan

Maka seluruh hidup harus bertanggung jawab 

Pretty little baby

Ku mohon jangan tinggalkan Aku


Pretty little baby

Aku bilang: "kamu polos seperti bayi"

Pretty little baby

08 August 2025

Aku Yakin Bisa Menemukan Bunga Yang Indah

Penulis: Xie Yong Da Shi

Nada serapan: 부용화


Berjalan di tengah rumput ilalang 

Berjalan di tengah musim gugur

Pergi menuju, pergi menuju lembah

Melewati sungai


Di aliran sungai yang sejuk

Pergi meminum air dan mencuci wajah

Melalui setapak jalan penuh pohon-pohon tua

Aku yakin aku bisa menemukan Bunga yang indah


Bodhisatva Ti Cang Wang

Bodhisatva Ti Cang Wang

Awal mula surga terbentuk...

Di ujung kehidupan aku pasti menemukan Bunga yang indah

Bunga yang berharga....


Bodhisatva Ti Cang Wang pun tersenyum

Penuh welas asih menemani di setiap perjalanan

Melalui setapak jalan penuh kerikil

Aku yakin aku bisa menemukan Bunga yang indah


Bodhisatva Ti Cang Wang

Bodhisatva Ti Cang Wang

Awal mula surga terbentuk...

Di ujung kehidupan aku pasti menemukan Bunga yang indah

Bunga yang berharga...

Bunga yang sangat indah...

Serba-serbi Sekolah Minggu Du Jing Ban

Penulis: Xiaodi Wang

Nada serapan: 童年


Hari ini hari Minggu, saat ayah dan ibuku pergi ke Kampung Melayu

Aku berada di Vihara, di kelas favorit ku membaca paritta

Papan tulis yang selalu penuh tulisan yang tidak begitu ku mengerti

Kadang guru ku galak tapi beliau menjagaku sangat baik

Tak heran ketika ku besar beliau masih melihatku seperti anak kecil


Bila membaca paritta telah selesai, kami semua menonton tv dan bernyanyi bersama

Kami mengumpulkan uang Kas setiap minggu, supaya suatu hari bisa Fang Sheng bersama Umat Umum

Ruangan lega yang dipenuhi gambar-gambar biksu-biksu kecil mengapa bisa begitu mengesankan?

Pergi ke Vihara tiada bosan-bosannya karena bertemu dengan umat yang bermacam-macam


Bila kelas telah selesai, aku akan menunggu ayah-ibu ku menjemput di sore hari

Ibuku menjadi Pembawa Acara di Cetya Kampung Melayu dan ayahku yang mengantarnya

Pernah aku ikut antar-jemput mobil Vihara tapi aku merasa lebih baik menunggu ayah-ibu ku

Karena dari siang hingga senja banyak cerita tentang remaja Guang Sheng


Ko Aming meminjamkan ponsel nya kepadaku dan ponselnya menjadi milikku selama setengah hari

Ko Andri membonceng ku dengan motor Supra melewati rel Kereta Api pergi membeli "Jus Kode" untuk umat

Kalau berada lebih sore di Vihara, bisa melihat Koko dan Cie-cie sedang sibuk mempersiapkan acara Vihara

Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun

Tahun-tahun yang kita lalui bersama tidak akan pernah kusesali

Gadis Pembawa Lentera

Pada jaman dahulu kala dinasti Song akhir, ada seorang gadis bernama 张繡恩 (Zhang Xiu En) yang hidup bersama kakeknya. Sejak kecil orang tua Xiu En telah meninggal karena sakit sehingga akhirnya sejak berusia lima tahun harus tinggal bersama kakeknya di sebuah gunung bernama Pu Tuo Shan. 

Sejak berusia sebelas tahun En-en (nama kecil Xiu En) menyadari banyak sekali petapa Buddhisme ingin bertapa di gunung Pu Tuo Shan. Konon katanya, di Puncak Pu Tuo Shan ada seorang biksu yang berhasil mencapai kesadaran tertinggi dan orang-orang ingin berguru dengan biksu tersebut. 

Selama tinggal di kaki gunung tersebut, kakeknya tahu bahwa kabar itu benar. Tetapi pergi mendaki gunung hanya untuk membuktikan kebenaran itu justru malah membuat nyawa sia-sia. Banyak sekali pembina diri yang tidak berhasil pergi ke puncak gunung tersebut dan akhirnya mati sia-sia. 

Untuk itu sejak En-en masih kecil, kakeknya sudah mampu menguasai dan melacak pembina diri yang membutuhkan pertolongan ketika mendaki gunung Pu Tuo Shan. Dan En-en menyadari hal itu ketika berusia sebelas tahun. 

En-en mulai aktif menolong dan mencegah orang-orang untuk mendaki puncak gunung Pu Tuo Shan. Dan berusaha agar mereka menghentikan pertapaan ekstrim yang membuat nyawa mereka melayang. Mereka semua adalah laki-laki yang ingin membina sempurna. Namun kebanyakan celaka karena pendakian yang curam. 

Mengetahui kabar kakek dan En-en yang selalu mencegah pembina diri mendaki gunung. Mereka (pembina diri) pergi ke gunung di tengah malam yang mana juga memperbanyak jatuhnya korban jiwa. En-en dan kakeknya entah telah berapa banyak menguburkan pembina diri yang meninggal akibat mendaki gunung di tengah malam. 

Mengetahui hal itu, En-en pun mulai fokus menyatukan pikiran dan perasaan. Mempertajam insting dan firasat. Pergi keluar rumah setiap jam dua tengah malam dan membawa lentera untuk mencegah dan menolong para pendaki gunung. 

Hasilnya banyak sekali pendaki gunung yang dibawa pulang oleh En-en ke rumah kakeknya. Kebanyakkan dari mereka mengalami kelelahan ekstrim dan hiportemia akibat mendaki gunung tengah malam. Yang merupakan penyebab mereka meninggal di pagi hari. 

Bagi keluarga para pembina diri yang mendaki ke gunung Pu Tuo Shan, En-en dan kakeknya adalah harapan hidup orang-orang yang mereka sayangi. Meskipun tidak pernah melihat langsung, tapi keluarga pendaki gunung tersebut sangat berterima kasih pada Niang-niang (En-en disebut Niang-niang atau titisan Dewi Guan Yin) telah melindungi anggota keluarganya yang tersesat pandangannya. Sejak saat itu, membina diri tidak lagi identik dengan bertapa dan pergi menyendiri mencari ilmu di gunung atau di hutan-hutan. 

Di usia ke lima belas di bulan 7 tanggal 6, En-en harus merampungkan misinya sebagai penolong umat manusia yang sesat pemikirannya sebagai pembina diri. En-en meninggal dalam misinya ketika mencari pendaki gunung tengah malam. Ia terperosok jatuh ke jurang yang dalam dan meninggal di tengah hujan yang deras. Dan tragisnya, jenazahnya tak bisa diketemukan oleh kakeknya. 

Banyak pembina diri yang menginap di gubuk kakeknya berpikir pasti En-en adalah Dewi Guan Yin yang telah kembali ke surga dan tidak akan kembali lagi. Sontak kabar ini menyebar dan muncullah istilah "Guan Yin Pu Sa Pembawa Lentera". Karena En-en selalu membawa lentera setiap kali pergi menolong pembina diri di tengah malam.