16 December 2024

Zhong Yong (Jalan Tengah)

Disclaimer:

Saya hanya menulis apa yang saya dengar dan apa yang saya tangkap. Jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung mohon dimaafkan dan dimaklumi.



Penceramah: Pandita Lin (Lin Dian Chuan Shi)


“Zhong Yong” adalah Kitab kedua Kong Hu Cu kedua setelah “Da Xue”. Bagian dari lima Sutra Utama. Dari Kitab “Li Ji”. Pancaran ketiga yaitu Pancaran Putih membina diri dengan Falsafah Kong Hu Cu. Naskah “Zhong Yong” merupakan naskah hati dari seluruh Nabi.

Ingin memahami Alam Semesta harus memahami diri sendiri terlebih dahulu.


“Zhong”: Tengah (tidak menyimpang)

“Yong”: Tidak bergeser


Yaitu tentang; bila hati kita tidak condong atau bergeser maka sesuai dengan kebenaran. Dao mencerminkan Hati yang tenang, tidak memikirkan apa-apa sehingga diperlukan ajaran-ajaran. Firman Tuhan adalah Kuasa Tuhan di dalam diri kita adalah sifat Tuhan ada di dalam diri kita. Lima sifat mulia menggambarkan sifat Tuhan yang ada di dalam diri manusia. Ajaran adalah sarana untuk kita membina diri kepada jiwa sejati.

 

Yin dan Yang:

Sebaik-baiknya orang masih ada yang negatif.

Seburuk-buruknya orang masih ada positif.

 

“Dao yang sejati tidak boleh ditinggalkan”.

Lao Shi – Shi Mu mengatakan manusia adalah Buddha tersesat. Maksudnya bukan berbuat kejahatan, tetapi tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bukan Tao; kekayaan, kenamaan, kedudukan. Dao ada di tempat yang rendah.

Dia yang tidak terlihat dan terdengar adalah niat hati dan pikiran. Niat hati dan pikiran membentuk perilaku dan sifat terhadap orang lain. Harus waspada terhadap niat hati dan pikiran. Kita harus tidak munafik. Setiap waktu harus waspada dengan diri sendiri karena semua yang tidak terlihat tahu.

Perasaan yang dilandasi arif adalah kasih universal. Buddha membina diri pandai mengendalikan perasaan. Manusia awam tidak bisa mengendalikan diri. Membina diri tidak boleh membeda-bedakan karena itu artinya kita terbawa perasaan. Ji Gong Lao Shi mengatakan “Dao Chang" adalah tempat transit menuju surga.

Nikmatilah Pekerjaan

Pekerjaan adalah apa yang memunculkan protagonis internal kita.

 


Sukacita ada di dalam diri kita sendiri.

 

Ada sebuah ajaran yang katanya diberikan oleh pendeta Zen Rinzai kepada para bhiksunya di dalam pelatihannya: “Jadilah master ke mana pun kau pergi. Maka, di mana pun kau menemukan dirimu, segalanya akan menjadi seperti apa adanya.”

Terlepas dari apa pun kondisi atau situasinya, berusahalah selalu memunculkan diri sejati kita – protagonis internal kita – untuk menghadapi apa pun.

Ketika ada sesuatu yang sulit yang harus kita lakukan, sering kali kita ingin mengeluh. Kita biasanya berkata, “Kenapa aku yang melakukannya,” atau “mereka mau ngerjain aku.” Tetapi dengan sikap seperti ini, sangat sulit menemukan sukacita di dalam pekerjaan.

Orang yang melakukan apa yang terbaik untuk menikmati apa yang ada di hadapannya akan memiliki peluang terbesar untuk menemukan kedamaian di hati. Sering kali, apa pun yang sedang mereka nikmati – apa yang ada di hadapannya – memiliki potensi untuk beralih menjadi peluang.

Tempat kita menemukan diri kita di saat ini, peran yang sedang kita jalani, orang-orang yang kita temui hari ini, setiap hal kecil… Kita tak pernah tahu apa yang mungkin akan menjadi peluang. Berhentilah menyepelekan apa yang sedang kita lakukan, dan mulailah hidup.

13 December 2024

Lun Yii

Penceramah: Wang Jiang Shi


Disclaimer:

Saya hanya menulis apa yang saya dengar dan apa yang saya tangkap. Jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung mohon dimaafkan dan dimaklumi.

 



Rohani dan duniawi harus seimbang.

Segala kegiatan kita adalah proses belajar.

Walaupun tidak sekolah lagi, kita juga harus meningkatkan diri.

Kalau kita cekcok dengan sesama saudara kita itu juga tidak berbakti kepada orang tua.

Kalau kita rukun terhadap saudara tetapi berbuat tidak baik, itu juga tidak berbakti kepada orang tua.

Berbakti lebih tinggi lagi dengan melimpahkan jasa pahala kepada orang tua.

3 introspeksi diri:

1. Apakah kita tulus membantu orang lain?

Membaca wejangan memberi kita petunjuk bagaimana membantu orang lain? Membaca wejangan juga menambah kearifan dan semangat ketika membantu orang lain.

2. Apakah dalam pergaulan dengan teman kita tidak mempercayai nya? Kita tidak boleh mengambil barang atau uang Fo Tang karena itu adalah sumbangan umat.

3. Apakah Pelajaran yang diberikan Guru sudah mengerti?

 

Untuk Fo Tang memang harus terbaik tetapi bukan yang termahal. Yang termahal belum tentu terbaik.

Jika kita melakukan suatu hal dengan tidak serius, kewibawaannya akan turun.

Tidak boleh benci, dendam karena menciptakan jodoh karma yang tidak baik.

Jangan Disusahkan Oleh Hal-hal Yang Belum Terjadi

Kecemasan itu tidak nyata.



Kecemasan: Di mana sebenarnya ia berada?

 

Buddhisme Zen dianggap dimulai oleh seorang bhiksu bernama Bodhidharma. Dia menularkan ajarannya kepada seorang murid bernama Huike.

Pada suatu waktu, Huike menceritakan kesulitannya kepada Bodhidharma.

“Pikiranku selalu dipenuhi kecemasan. Tolonglah aku untuk membuatnya diam.”

Bodhidharma menjawab, “Aku akan menenangkan kecemasan-kecemasan itu. Tetapi pertama-tama, bawakan mereka dulu kepada ku. Jika kau bisa meletakkannya di depan ku dan berkata, “Inilah kecemasan yang membebaniku,’ maka aku pasti akan menenangkan mereka’.”

Mendengar hal ini, Huike menyadari sesuatu untuk pertama kalinya. Realitasnya, kecemasan itu tidak nyata.

Ketakutan-ketakutannya tidaklah nyata, tetapi dia terus memeganginya. Dia menyadari Tindakan yang sisa-sia ini.

Kita tidak perlu disusahkan oleh hal-hal yang belum terjadi. Pikirkan saja apa yang sedang terjadi di saat ini.

Hampir semua kecemasan tidaklah nyata. Itu hanya ciptaan pikiran kita sendiri.

07 December 2024

Keteladanan Bai Shui Sheng Di

Disclaimer:

Saya hanya menulis apa yang saya dengar dan apa yang saya tangkap. Jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung mohon dimaafkan dan dimaklumi.


Bai Shui Sheng Di

Penceramah: Pandita Lu (Lu Dian Chuan Shi)

  • Lao Qian Ren belajar dari budi air. Maksudnya adalah belajar lebih rendah hati.
  • Lao Qian Ren tidak sembarangan meluapkan emosi. Lao Qian Ren hanya marah pada orang tertentu.
  • Kita harus berterima kasih kepada Qian Xian, karena beliau membawa Dao ke Indonesia. Tanpa beliau kita masih awam atau tidak mengerti Hakekat Kebenaran.
  • Jika ke Fo Tang/Vihara hanya makan/ngobrol, tidak melakukan apa-apa tidak bisa mencapai kesempurnaan.
  • Membawa umat ke Fo Tang/Vihara dimulai dari orang yang terdekat seperti orang tua kita, suami/istri kita, atau saudara-saudara kita.
  • Membina diri dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga, baru teman-teman.
  • Merusak/memecah barang Para Buddha – Para Suci sebenarnya berdosa, tetapi jika segera kita ganti maka selesai.
  • Melakukan kebaikkan jangan ketika ada Qian Xian/Pendahulu yang kita sukai, lalu kemudian di belakang mengeluh.
  • Jika ingin mengubah suatu kondisi, tidak boleh menipu diri sendiri/orang lain. Tidak boleh berpura-pura.
  • Mendengar Dharma begitu banyak tetapi kita tidak menjalankannya tidak bisa jadi panutan.
  • Jika hanya fisik yang datang ke Fo Tang/Vihara tetapi hati tidak ikut maka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak membina diri.
  • Ke Fo Tang harus dengan niat belajar. Jika ke Fo Tang tidak belajar sama dengan kosong.

-//-

Menemukan “Diri Kita Yang Lain”

BAGIAN DUA

 

30 CARA MENGINSPIRASI

KEPERCAYAAN – DIRI

DAN KEBERANIAN

UNTUK HIDUP

 

Mencoba mengubah sudut pandang.



Menemukan protagonis (tokoh utama) internal diri kita.

 


Protagonis kita memiliki potensi yang tak terbatas.

 

Untuk hidup lebih bebas, atau lebih ringan, Buddhisme Zen mengajarkan pentingnya tidak melabeli diri sebagai “jenis orang seperti ini atau itu”.

Perkenankan saya memberi contoh.

Ada “kita yang lain” di dalam diri kita. Versi kita yang satu ini lebih bebas daripada diri yang kita pikir kita kenal, dan kaya akan potensi. Inilah diri sejati kita. Di dalam diri kita hidup protagonis sejati kita.

Dalam istilah Zen, kata protagonis juga diterjemahkan sebagai “master”. Ada sebuah kisah terkenal dari bhiksu Zen yang menyapa dirinya sendiri dengan berkata, “Hei, master!” dan dirinya akan menjawab “Ya?” Lalu dia akan bertanya, “Kau sudah bangun?” dan dirinya akan menjawab lagi, “Ya!” Dengan sungguh-sungguh dia melanjutkan tanya-jawab ini.

Kita semua memainkan berbagai peran di Masyarakat. Mungkin kita seorang pekerja kantor, seorang ibu, atau seorang koki di restoran. Tidak diragukan, semua ini adalah “diri” beragam kita. Tetapi kita semua memiliki diri yang lain, protagonis sejati yang hidup di dalam diri kita.

Lakukan yang terbaik untuk membangunkan diri yang lain ini.

Melakukan Apa yang Bisa Kita Lakukan Di Saat Ini dengan Sebaik Mungkin

Ini akan menjurus ke hal-hal yang baik.



Jangan mengejar awan – kita tidak akan pernah bisa menangkapnya.

 

Ada sebuah kisah tentang mengejar awan, dan tentang awan yang pergi menjauh.

Kita sedang bekerja di ladang, di bawah teriknya matahari. Tanpa adanya awan untuk menghalangi sengatan matahari, kita harus bertahan menahan panas. Tetapi kemudian kita menatap ke langit, dan di kejauhan kita melihat serpihan putih.

“Ah, aku yakin akan lebih sejuk di bawah keteduhan awan itu. Aku harap awan itu akan segera datang ke sini,” pikir kita, dan kita bahkan mempertimbangkan untuk istirahat sampai awan tiba.

Tetapi kenyataannya, awan itu mungkin tidak akan pernah tiba untuk melindungi kita dari matahari, dan mungkin hari akan berakhir ketika kita berhenti bekerja, menanti keteduhan.

Alih-alih menunggu awan mendekat, usahakan melakukan apa yang perlu diselesaikan sekarang juga. Jika kita bekerja dengan tekun, mungkin kita akan lupa pada panasnya hari. Lalu, sebelum kita menyadarinya, awan akan tiba membawa keteduhannya yang menyegarkan.

Yang saya bicarakan di sini bukan hanya bisa diterapkan pada awan tetapi juga nasib dan keberuntungan. Tidak ada gunanya mencemburui orang lain yang telah terberkahi sejumput keberuntungan. Juga tidak ada gunanya mengeluhkan tidak adanya peluang bagi kita. Bekerja keraslah untuk menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan hari ini. Maka keberuntungan akan datang.

06 December 2024

Jangan Memikirkan Hal-Hal yang Tidak Menyenangkan Sebelum Tidur

“Zazen di tempat tidur” selama lima menit sebelum tidur.

 


Saatnya untuk me-“reset” pikiran.

 

Kita semua mengalami malam-malam ketika tidak bisa tidur, ketika kita digelisahkan oleh pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan atau diwabahi kecemasan atau tidak mampu meredakan kekhawatiran.

Itulah saat yang sempurna untuk mempraktikkan zazen.

Praktik zazen yang diam akan melepaskan transmitter-saraf serotonin di otak, yang berfungsi sebagai penstabil suasana hati dan telah terbukti efektif melawan depresi. Zazen bisa memberi efek terapi dengan meningkatkan serotonin ke otak tanpa obat.

Setelah otak berada dalam keadaan rileks, secara bertahap pembuluh-pembuluh darah juga akan merileks dan meningkatkan aliran darah. Ini menyebarkan kehangatan di seluruh tubuh.

Ketika kabut mental telah dibersihkan dan tubuh telah dihangatkan, otomatis kita akan menjadi mengantuk.

Ketika naik ke tempat tidur, lepaskan apa pun yang telah terjadi pada kita sejak bangun di pagi itu, dan bersyukurlah karena telah berhasil melewati satu hari lagi.

Ketika bangun keesokan paginya, kita akan merasa dibugarkan. Jangan menyepelekan efek dari zazen lima menit sebelum tidur.

Jangan Menunda Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini

Kita tidak bisa menyesali masa depan.



Belajar dari permintaan terakhir seorang bhiksu.

 

Di akhir periode Edo di Jepang (1603 – 1868), ada seorang bhiksu dan pendeta utama yang tersohor Bernama Sengai yang tinggal di Hakata, di pulau barat Kyushu.

Ketika Sengai menjelang ajal, murid-muridnya berkumpul untuk mendengar permintaan terakhirnya. “Aku tidak mau pergi bersama kematian”, katanya, artinya dia tidak ingin mati. Tentu saja ini tidak sesuai dengan apa yang diperkirakan sebagai permintaan terakhir seorang guru Zen, jadi para murid semakin mendekat ke tempat tidurnya dan sekali lagi menanyakan kata-kata terakhirnya.

Dia berkata, “Tetap saja, aku tidak mau pergi bersama kematian.”

Bahkan bagi pendeta yang tersohor ini, yang memasuki pertapaan pada usia sebelas tahun dan mengabdikan diri untuk pelatihan rohani Zen selama 88 tahun hidupnya – dan yang dianggap sudah mencapai pencerahan – tetaplah ada kelekatan dengan dunia ini.

Seratus persen dari kita akan mati – ini adalah takdir manusia. Kita tahu ini, tetapi ketika menghadapi kematian, kita masih berpegangan kuat-kuat pada kehidupan. Ketika menemui akhir hidup saya sendiri, saya akan memiliki sesedikit mungkin kelekatan. Saya ingin meninggalkan dunia ini dengan pikiran bahwa hidup saya selama ini adalah hidup yang baik.

Saya harap saya bisa menghidupi konsep Zen bahwa cara kita hidup harus selaras dengan pemahaman kita tentang kehidupan dan bahwa kita harus berusaha keras mencapai hal-hal yang mampu kita capai.

Mengamati Matahari Terbenam

Bersyukur karena berhasil melewati satu hari lagi.

 


Menemukan “anak tangga matahari terbenam” kita sendiri.

 

Di sebuah wilayah tengah kota Tokyo, yang disebut Yanaka, terdapat sebuah tempat yang dikenal sebagai “anak tangga matahari terbenam”. Sebenarnya tangga ini biasa saja, tetapi jika duduk di sana dan menatap langit di saat yang tepat, kita bisa melihat terbenamnya matahari yang sangat indah.

Saya tidak tahu dari mana nama “anak tangga matahari terbenam” berasal, tetapi pada suatu saat, setiap orang mulai menyebutnya. Sekarang banyak orang yang pergi ke sana untuk mengamati matahari terbenam.

Saya membayangkan ada banyak tempat seperti itu di seluruh dunia. Di pedesaan Jepang, saya berani bertaruh kita bisa melihat keindahan matahari terbenam dari pematang sawah. Dan di kota, kita bisa naik ke atap, di mana matahari yang terbenam akan tampak lebih besar.

Kita tidak perlu bersusah payah pergi ke Yanaka. Akan mudah menemukan tempat-tempat yang bisa berfungsi sebagai “anak tangga matahari terbenam” kita sendiri.

Yang penting kita bisa duduk dan menatap matahari di saat tenggelam. Ketika malam turun, luangkan sejenak untuk menatap langit. Rasakan Syukur karena telah berhasil melewati satu hari lagi. Momen seperti ini akan menghangatkan jiwa kita.

05 December 2024

Membuat Taman Kecil di Teras

Sebuah praktik kecil untuk melatih kesadaran.

 

Kita dapat menajamkan pikiran, terlepas di mana kita berada.

 

Kami para bhiksu mengatakan, “Di bawah pohon, di atas batu.” Kita duduk, seorang diri, di atas batu atau di bawah pohon, dan melakukan zazen dalam diam. Ini membawa kita untuk bersatu dengan alam. Kita bisa meninggalkan semua pikiran yang lewat di kepala kita dan duduk melakukan zazen dengan pikiran yang kosong. Inilah lingkungan yang ideal untuk mempraktikkan zazen.

Memang sulit menemukan tempat seperti ini, bahkan bagi para bhiksu Buddhis. Ini sebabnya halaman kuil-kuil Zen memiliki taman.

Kita bisa membayangkan gunung-gunung dan di dalam pikiran mendengarkan aliran air Sungai. Pemandangan yang luas seperti ini dapat diciutkan menjadi versi mini dengan menciptakan sebuah taman kecil, dan kemegahan alam direproduksi di suatu ruang yang kecil. Akumulasi kearifan para bhiksu Buddhis tertangkap di seni taman-taman Zen.

Cobalah membuat taman seperti itu di rumah sendiri. Jika tidak punya halaman, kita bisa membuatnya di teras apartemen. Dan jika tidak punya teras, tepian jendela pun bisa. Kita hanya membutuhkan beberapa puluh sentimeter persegi. Di ruang itu, cobalah hadirkan pemandangan di pikiran kita.

Sebuah tempat di mana pikiran kita bisa melarikan diri. Sebuah tempat di mana kita bisa menatap diri sejati kita.

Ruang itu bisa menjadi tempat kesukaan kita.

Bersentuhan dengan Alam

Menemukan kebahagiaan yang ada di tangan

 


Menciptakan miniatur taman di pikiran

 

Saya pernah mengajar sekelompok anak sekolah dasar untuk sebuah program televisi.

Saya mengusulkan kami membuat taman-taman mini.

Pertama-tama, saya memberitahu siswa untuk mencari tempat kesukaan mereka di sekolah dan, setelah berada di sana, untuk berusaha keras mengosongkan pikiran. Lalu, saya meminta setiap anak menghadirkan pengalaman mereka dengan alam ke dalam sebuah taman mini.

Dalam sebuah kotak berukuran sekitar 45 x 60 cm, mereka dibebaskan untuk menyusun tanah, kerikil, ranting, dan daun sesuka hati. Saya adalah perancang taman, dan bahkan dari sudut pandang saya, taman-taman mini yang dibuat oleh anak-anak itu sungguh mengagumkan.

Seorang anak menggambarkan air yang mengalir ke sebuah kolam; anak lainnya menempatkan ranting-ranting dalam posisi diagonal, dalam upaya meniru angin; masih ada anak lain yang berusaha keras menciptakan keteduhan… Anak-anak ini, yang hari-harinya dijejali dengan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler serta program pengayaan, benar-benar terserap di saat mereka menciptakan taman mininya. Mereka mengalami saat yang sangat menyenangkan bersama alam.

Cobalah bersentuhan dengan alam. Jika kita melihat sebutir batu di tanah, pungut dan genggamlah. Ketika melihat bunga-bunga mekar di sisi jalan, berhenti dan ciumlah wanginya.

Lalu, di dalam pikiran, ciptakan sebuah taman mini kita sendiri. Ini akan membuat kita relaks.

Meluangkan Waktu Untuk Sendirian

Langkah pertama ke arah hidup sederhana gaya Zen.

 


Manfaat dari “kesendirian di kota”.

 

“Tinggal di gunung” adalah gaya hidup yang diidealkan oleh orang Jepang. Itu dianggap gaya hidup paling indah dan terkadang disebut sebagai kehidupan yang terlepas dari dunia. Bhiksu terkenal Saigyo dan Ryokan diketahui menjalani kehidupan bertapa seperti itu.

Membaca sambil mendengarkan nyanyian burung dan gemericik aliran air. Menikmati minum sake sambil menatap pantulan bulan di gelas kita. Menyatu dengan kehidupan liar. Kemampuan untuk hidup dengan pikiran yang bebas, menerima segalanya sebagaimana adanya. Inilah cara hidup yang telah diidealkan

Seperti yang dijelaskan oleh bhiksu-penyair Kamo no Chomei di dalam karya Hojoki di abad ketiga belas, tinggal di gunung adalah tentang hidup dalam kesendirian, seorang diri di gunung. Para bhiksu Buddha Zen menganggap situasi ini ideal bagi pelatihan rohani.

Tetapi pada kenyataannya, situasi ini terbukti sangat menantang. Walaupun begitu, kita masih merindukan semangat kesendirian.

Menyesuaikan konsep tinggal di gunung untuk kehidupan modern, bahkan di tengah hiruk-pikuknya kota, bhiksu dan master teh tersohor Sen no Rikyu menciptakan istilah “menyendiri” di kota. Ini adalah model yang menjelaskan mengapa rumah-teh selalu ditempatkan agak jauh dari gedung utama.

Pertimbangkan untuk mempraktikkan konsep “menyendiri di kota.”

Suatu tempat di mana kita bisa memutuskan hubungan dengan orang lain dan meluangkan waktu seorang diri. Sebuah tempat di alam di mana kita bisa mendapatkan kembali kebebasan mental. Beberapa saat dalam kesendirian dapat menerangi jalan ke depan.

04 December 2024

Mengatupkan Tangan

Cara menenangkan pikiran yang sedang kesal.

 


Makna dari gassho: Tangan kiri mewakili kita; tangan kanan mewakili orang lain.


Ada saat-saat ketika kita mengatupkan kedua tangan dan diam-diam berdoa untuk seseorang atau merenungkan sesuatu. Saya menganjurkan kita meluangkan waktu untuk melakukan ini, bukan hanya ketika sedang mengunjungi makam atau situs agamis tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Apa itu gassho? Tangan kanan mewakili siapa pun selain kita sendiri. Mungkin itu Buddha atau Tuhan atau mungkin seseorang di sekitar kita. Tangan kiri mewakili kita. Gassho mengartikan pertemuan keduanya menjadi satu. Ini adalah perasaan hormat untuk orang-orang di luar diri kita – suatu tawaran kerendah-hatian.

Dengan mengatupkan kedua tangan, kita menumbuhkan rasa Syukur. Ini tidak menyediakan ruang untuk konflik. Kita tidak bisa menyerang seseorang ketika kedua tangan kita terkatup, kan? Permintaan maaf yang diajukan bersamaan dengan jabatan tangan akan meredakan kemarahan atau kekesalan. Di sinilah letak makna gassho.

Ada baiknya menetapkan sebuah ruang di dalam rumah di mana kita bisa bersama-sama berpegangan tangan. Tidak perlu sebuah altar atau kuil – bisa saja sebuah tiang atau sudut tempat kita menggantung semacam “jimat” – sebuah tempat ke mana kita bisa berpaling dan bergandengan tangan dalam diam. Praktik kecil ini bisa memiliki dampak yang mengejutkan untuk menenangkan jiwa.

Bernapas Perlahan-Lahan

“Zazen kursi” selama lima menit selama istirahat makan siang.




Untuk menenangkan pikiran, pertama-tama aturlah postur tubuh dan pernapasan.

 

Ketika duduk di depan meja kerja, tak terelakkan postur kita akan membungkuk. Karena pada dasarnya ini adalah posisi yang tidak alami, ini akan memengaruhi konsentrasi, dan hal-hal kecil bisa terasa mengesalkan atau melelahkan.

Jadi, saya mempunyai sebuah praktik rohani untuk kita. Selama lima menit di jam istirahat makan siang, cobalah melakukan zazen sambil duduk di kursi.

Dasar dari zazen adalah menyelaraskan postur, pernapasan, dan pikiran.

Pertama-tama, atur postur kita dengan menyelaraskan kepala dan tulang ekor. Jika dilihat dari samping, tulang punggung akan membentuk kurva-S, dan kita bisa menarik garis lurus dari kepala sampai tulang ekor.

Selanjutnya, perhatikan napas. Di bawah kondisi yang menekan di tempat kerja, mungkin kita akan tujuh atau delapan kali bernapas dalam satu menit. Dengan berfokus pada pernapasan, kita dapat secara alami menguranginya menjadi tiga atau empat napas per menit.

Setelah ini terjadi, otomatis pikiran kita akan tenang.

Praktik ini bisa membuat kepala dan hati kita terasa sangat segar. Yang diperlukan hanyalah “zazen kursi”selama lima menit di jam istirahat makan siang.

25 November 2024

Menjadi Mahir Dalam Mengubah Peraturan Diri

 Menciptakan gerbang-gerbang di dalam pikiran.

 


Ada hal-hal yang disebut “non-esensial yang perlu”.

 

Untuk mendekati sebuah kuil Zen atau kuil Shinto selalu ada beberapa gerbang – gapura merah besar yang kami sebut torii.

Sebelum mencapai ruang utama sebuah kuil Zen, kita akan melewati tiga gerbang – gerbang utama, gerbang tengah, ketiga – yang mewakili perjalanan ke arah pencerahan. Kuil Shinto juga mempunyai tiga torii.

Mengapa harus repot dengan struktur yang seakan-akan berlebihan itu?

Gerbang-gerbang itu kami sebut sebagai “penghalang rohani”. Dengan kata lain, mereka menghubungkan dua dunia yang terpisah. Saat melewati salah satu gerbang, kita semakin dekat dengan dunia yang murni – apa yang di dalam Buddhisme, kami anggap sebagai “tanah keramat”.

Ini sebabnya kuil-kuil Buddhis bercirikan tiga gerbang ini. Dengan menciptakan batas di antara dunia-dunia, kita akan terbantu untuk menyadari jarak di antara setiap dunia. Dan saat melewati setiap gerbang, kita mengalami sensasi menyeberang ke tanah keramat.

Kita bisa menganggap perjalanan kita ke tempat kerja seperti “non-esensial yang perlu”. Perjalanan ini bisa menyediakan waktu bagi kita untuk beralih diri-privat ke diri-kerja. Mungkin ini tampak berlebihan tetapi tidak bisa tergantikan.

22 November 2024

Jangan Menyia-nyiakan Waktu Mencemaskan Hal-hal yang Tidak Dapat Kita Kendalikan

Apa artinya menjadi lebih ringan secara rohani?



 

Saat ketika tiba-tiba kita meninggalkan diri kita.

 

Ketika melakukan zazen, seseorang tidak boleh memikirkan apa pun – itulah yang diajarkan pada kami, tetapi ternyata sangat menantang.

Pada prinsipnya, kita tidak memejamkan mata ketika melakukan zazen. Karena bisa melihat apa yang sedang terjadi di sekitar, akhirnya kita memikirkan sesuatu, terlepas dari seberapa keras kita berusaha. “Oh, si pendeta utama berjalan ke arahku. Aku harus duduk lebih tegak..” atau “Ah, tungkai kakiku terasa kebal..” atau berbagai pikiran lain yang melintas di pikiran.

Di sebagian besar waktu, ini sangat normal. Dan bagaimana pun, memberitahu diri untuk, “Jangan berpikir” adalah juga sebuah pemikiran.

Tetapi setelah kita memiliki sedikit pengalaman dengan zazen, akan ada saat-saat – betapa pun singkatnya – ketika pikiran kita kosong. Kita akan menyadari bahwa kita tidak sedang memikirkan apa pun. Kita bahkan lupa tentang “diri” kita. Inilah saat-saat yang sedang saya bicarakan.

Pikiran kita akan menjadi transparan. Hal-hal yang biasanya membebani pikiran akan memudar. Tiba-tiba kita akan memiliki sensasi memasuki dunia kristal. Inilah yang saya maksud dengan menjadi lebih ringan secara Rohani.

21 November 2024

Mencoba Praktik Berdiri

Sebuah metode gaya-Zen dalam memanfaatkan waktu perjalanan.


Sebuah cara yang mudah untuk memotivasi diri.

 

Bagi orang-orang yang bekerja di luar rumah, perjalanan ke kantor bisa merupakan perjalanan yang penuh stress.

Tetapi saya ingin menganggap waktu yang dihabiskan untuk perjalanan sebagai sesuatu yang baik.

Bayangkan jika kantor dan rumah kita berada di satu gedung yang sama. Mungkin kita pikir itu sangat memudahkan karena kita tidak akan membuang waktu untuk perjalanan.

Tetapi, kita semua perlu “berganti persneling”. Hidup dan bekerja di Gedung yang sama akan mempersulit ini.

Di pagi hari, saat bersiap untuk berangkat bekerja, kita mengenakan wajah orang tua. Lalu kita berjalan ke stasiun kereta, berjejalan di dalam kereta, dan pada saat tiba di kantor, kita mengenakan wajah karyawan atau manajer. Sekarang kita siap menuang kerja keras ke satu hari yang lain.

Ketika waktu di perjalanan menjadi semacam jembatan di antara kehidupan rumah dan kehidupan kerja, kita akan bisa mengenakan “wajah” yang sangat berbeda, memasuki moda pengaturan yang sangat berbeda.

Jika kita ingin meningkatkan motivasi, saya menganjurkan mencoba “praktik berdiri”. Kita bisa melakukan ini sambil berpegangan pada pegangan di gerbong kereta. Saat berdiri di sana, fokuskan kesadaran kita pada titik di bawah pusar – tanden kita – dan mempraktikkan zazen. Ini sangat sederhana.

Apakah itu di perjalanan ke kantor atau di beberapa saat waktu luang di sepanjang hari, sedikit praktik rohani Zen ini bisa sangat menolong sekali.

Meditasi Duduk (Zazen)

 Efek dari duduk dan berpikir.

 


Manusia tidak mampu merenung secara mendalam di saat bergerak.

 

Di dalam pelatihan Zen, zazen adalah yang terpenting.

Orang tidak bisa bicara tentang Zen tanpa zazen. Kami memulai zazen, dan mengakhirinya dengan zazen. Itulah praktik Zen.

Kata Zen berasal dari kata Sansekerta dhyana, yang berarti “kontemplasi diam”.

Tindakan berpikir berasal dari konsep duduk diam. Manusia tidak mampu berpikir ketika bergerak. Kita hanya memiliki satu pikiran, dan ketika pikiran terfokus pada gerakan, kita akan sulit terlibat dengan pemikiran yang bermakna.

Bahkan ketika kita mencoba berpikir sambil berjalan, itu akan selalu berakhir dengan sesuatu yang praktis, misalnya pengaturan pekerjaan atau apa yang akan kita masak untuk makan malam. Kontemplasi yang mendalam tentang kebenaran mutlak di dunia atau makna hidup bukanlah sesuatu yang bisa dicapai sambil bergerak.

Untuk zazen, pertama-tama kita menata tubuh dalam postur yang benar, lalu berfokus pada pernapasan, dan akhirnya menstabilkan pikiran. Setelah mengatur ketiga hal ini, kita memulai praktik zazen.

Cobalah zazen duduk: Kosongkan pikiran dan biarkan pikiran kita mengapung ke atas, lalu pergi.

20 November 2024

Mengembuskan Napas Dengan Dalam

 Cara menyingkirkan emosi-emosi negatif.

 

Perbaiki pernapasan, maka pikiran kita juga akan membaik.

 

Di dalam kata Jepang untuk “bernapas” kokyu, huruf untuk “mengembuskan napas” mendahului huruf untuk “menghirup napas.” Artinya, tindakan mengembuskan napas mendahului tindakan menghirup napas.

Fokuskan kesadaran kita pada sebuah titik di bawah pusar – tanden kita – di saat kita perlahan-lahan mengembuskan napas dengan penuh, penghirupan napas akan mengikuti dengan sendirinya. Biarkan pernapasan kita merileks, perbolehkan aliran ini mengambil alih. Ketika proses ini berulang dengan sendirinya, kita akan mulai merasa lebih tenang. Tubuh kita akan merasa lebih membumi dan terhubung dengan bumi.

Dengan kata lain, kita terbebaskan dari kegelisahan.

Ketika napas datang dari dada, tidak bisa tidak kita akan merasa mengapung. Ini menumbuhkan ketidak-sabaran, dan pernapasan kita menjadi semakin cepat. Kita terjebak di dalam spiral ketidak-sabaran dan kekesalan.

Ketika kita merasakan arus emosi negatif, misalnya kemarahan atau kecemasan, itulah saat yang sempurna untuk berfokus pada pernapasan dari perut.

Kita akan segera merasa lebih rileks, dan pikiran kita akan merasa disegarkan.

Mencoba Berjalan Telanjang Kaki

Cara menyingkirkan penyakit.

 


Itulah alasannya mengapa para bhiksu bertelanjang kaki.

 

Para bhiksu telanjang kaki selama 365 hari dalam setahun. Dan pakaian kami dibuat dari bahan yang sangat sederhana. Bahkan di tengah musim dingin, busana kami tetap sama.

Bagi calon bhiksu, ini bisa merupakan perjuangan yang berat, tetapi begitu bisa membiasakan diri, ini sangat membugarkan. Karena gaya hidup ini menguatkan tubuh secara alami, para bhiksu jarang terkena flu. Jika orang seusia saya mengenakan kaus kaki di musim dingin, kaki yang hangat tidak bisa menandingi kenikmatan kaki telanjang.

Itulah sebabnya ketika perlu ke luar, saya memastikan mengenakan sandal jepit.

Ini juga sangat baik bagi kesehatan.

Area di antara ibu jari dan jari kedua kaki dianggap sebagai tempat terpusatnya berbagai titik tekanan yang berkaitan dengan organ-organ internal dan otak. Ketika mengenakan sandal jepit, talinya merangsang titik-titik ini, dan ini seperti pijatan ketika kita berjalan.

Bertelanjang kakilah di rumah, dan kenakan sandal jepit ketika pergi ke luar.

Pertimbangkan untuk mencobanya di hari-hari libur.

21 October 2024

Kita adalah Cahaya

Kita adalah cahaya

Kunang-kunang yang bersinar

Gelapnya malam

Kumpulkan kepingan cahaya

Jadi gemerlap malam


Apakah kita suka memandang sebelah mata?

Atau kita telah gunakan keduanya?

Selalu berhati-hati


Hidup tidak mudah

Juga tidak sulit

Seperti maraton 

Berhenti setengah tanggung

Berlari hingga berakhir


Kita selalu melihat gelap

Tapi kita tak sadari

Kita adalah cahaya


Hati terus meragu

Tapi kaki harus terus melaju

Hidup penuh daya

Persiapkan baik-baik


Lihat dan hadapi kenyataan 

Maka sesal pun tiada

Sekali pun kita harus kalah

Itu pun karena mengalah


Kita berjalan menuju cahaya

Apakah kita masih

Memandang diri kita

Sebelah mata?


Di kepala kita

Ada bintang bersinar

Berlarilah ke bukit itu

Lihatlah secara menyeluruh

Cahaya di Depan Mata Mu

Bulan bersinar di atas kepala ku

Kegelapan memang selalu seperti itu

Pernahkah kamu sesak di dalam ruang gelap?

Ketika semua cahaya mati


Tidak ada cahaya yang memihak mu

Di sana hanya ada diri mu

Yang meraba di tengah kegelapan

Saat itu baru kamu sadari


Diri mu adalah cahaya

Teruslah mencari-cari

Berjalan-jalan hingga tiba di ujung jalan

Sedikit cahaya di celah kecil

Mengejutkan kedua mata mu


Ikuti cahaya di depan mata mu

Saat semakin kamu dibawanya keluar dari gelapnya labirin

Sekarang segala hal pada diri mu

Menjadi lebih baik daripada sebelumnya


Hidup mu menjadi lebih tenang

Kamu bisa melihat dirimu sendiri

Di genangan air bekas hujan

Kau melihat wajahmu sendiri

Dan menari-nari karena kamu menemukan cahaya mu


Wajah asli pun telah ditemukan

Orang-orang tersenyum kepada mu

Karena kamu telah ditemukan

Teruslah berbahagia