 |
| Lukisan Kaisar Guang Xu |
Kaisar
Guang Xu (光緒帝) lahir di Kediaman Pangeran Chun, Kota Terlarang, pada tanggal 14 Agustus 1871.
Beliau terlahir dengan nama Zai Tian (載湉). Beliau
merupakan Kaisar ke-11 Dinasti Qing. Gelar Beliau adalah Kaisar Dezong dari
Qing. Beliau adalah Kaisar kedua terakhir sebelum berakhirnya masa Dinasti
Qing.
Orang tua
Kaisar Guang Xu adalah Pangeran Chun dan Yehenara Rong yang merupakan adik Perempuan
dari Ibu Suri Cixi. Kaisar Guang Xu resmi naik tahta pada tanggal 25 Februari
1875 di usia 4 tahun, setelah pendahulunya, Kaisar Tongzhi wafat.
Karena Kaisar
Guang Xu masih sangat belia, untuk sementara kekuasaan Dinasti Qing dikendalikan
oleh Ibu Suri Cixi. Sampai pada tahun 1889, Kaisar Guang Xu yang berusia 18
tahun, menikah dan barulah Kaisar Guang Xu mengambil alih kendali pemerintahan
secara mandiri. Istri baru Kaisar, Permaisuri Longyu, adalah sepupunya sekaligus
keponakan Ibu Suri Cixi. Mereka tidak memiliki anak.
Gerakan Reformasi 100 Hari
 |
| Kaisar Guang Xu dan Para Pejabat |
Kaisar Guang
Xu mencetuskan Reformasi Seratus Hari (百日维新) yaitu Gerakan reformasi nasional, budaya, politik, dan Pendidikan selama
103 hingga 104 hari di Tiongkok yang berlangsung dari 11 Juni hingga 21
September 1898.
Gerakan ini
diluncurkan oleh Kaisar Guang Xu yang masih sangat muda bersama penasihatnya,
Kang Youwei dan Liang Qichao. Reformasi ini dipicu oleh kekalahan memalukan Tiongkok dari Jepang dalam Perang Sino-Jepang
Pertama (1894-1895) serta meningkatnya ancaman imperialism barat.
Selama Gerakan
ini, Kaisar Guang Xu mengeluarkan lebih dari 40 hingga 180 dekrit kekaisaran
yang bertujuan merombak total sistem Tiongkok agar setara dengan negara modern
barat dan restorasi Meiji di Jepang.
Kaisar
Guang Xu menghapus sistem ujian pegawai negeri tradisional yang kaku, serta
mendirikan sekolah-sekolah modern. Beliau mendirikan Imperial University Of
Peking (sekarang Universitas Beijing).
Kaisar Guang
Xu juga memotong birokrasi, memberantas korupsi, dan menghapus
departemen-departemen pemerintahan serta posisi pejabat korup yang tidak
efisien.
Kaisar Guang
Xu juga memodernisasi Angkatan perang dengan taktik barat, mempercepat
industrialisasi, mempromosikan perdagangan swasta, dan membangun jalur kereta
api.
Kaisar Guang
Xu juga memberikan kebebasan berbicara.
Namun semua
ini ditentang oleh faksi konservatif di dalam istana. Mereka merasa terancam
dan menilai reformasi ini merusak nilai-nilai tradisional Konfusius dan memangkas
hak Istimewa kaum elit Manchu.
Pada tanggal
21 September 1898, Ibu Suri Cixi memimpin sebuah kudeta militer dengan dukungan
Jendral Ronglu. Yang akhirnya membuat Kaisar Guang Xu ditangkap dan diasingkan
ke istana pulau buatan (Zhong Nan Hai) sebagai tahanan rumah hingga akhir hayatnya.
Dieksekusinya
“Enam Budiman”. Adalah enam pemimpin reformis muda dieksekusi mati tanpa
pengadilan. Dan hampir semua kebijakan reformasi dicabut dan dibatalkan oleh
Cixi, kecuali pendirian Universitas Beijing.
Selir Mutiara
 |
| Selir Zhen atau disebut "Selir Mutiara" |
Kaisar Guang
Xu dalam hidupnya sangat menyayangi selir kesayangannya, yaitu Selir Zhen
(1876-1900) yang juga dikenal sebagai Selir Mutiara. Beliau dikenal karena
kecantikan, kecerdasannya, dan dukungan terhadap ide-ide Kaisar. Namun,
kehidupannya berakhir tragis ketika ia dilemparkan ke dalam sebuah sumur atas perintah
Ibu Suri Cixi.
 |
| Ibu Suri Cixi (di tengah) |
Kaisar Guang
Xu mengalami guncangan emosional yang hebat dan depresi berat ketika mengetahui
kematian Selir Zhen. Kaisar Guang Xu mengurung diri, menolak makan selama
beberapa waktu, dan terus-menerus menangis.
Kaisar Guang
Xu sangat tidak berdaya ketika tahu bahwa ia tidak lagi memiliki kekuatan
politik untuk menghukum pelaku atau melawan Keputusan Ibu Suri Cixi. Sikapnya menjadi
sangat pasif, murung, dan menarik diri sepenuhnya dari kehidupan istana.
Kaisar Guang
Xu merupakan Kaisar yang setia kepada istri kesayangannya. Ia menolak menyentuh
Permaisuri pilihan Ibu Suri Cixi yaitu Permaisuri Longyu yang merupakan
keponakan Ibu Suri Cixi yang dinikahkan paksa dengannya. Setelah kematian Selir
Zhen, Kaisar Guang Xu mengabaikan Permaisuri Longyu hingga akhir hayatnya.
Kaisar Guang
Xu mendesak agar jenazah Selir Zhen diangkat dari sumur sempit tersebut. Jenazahnya
kemudian dimakamkan kembali dengan layak di kompleks Pemakaman Barat Qing.
Kaisar Guang Xu juga memberikan gelar anumerta Tingkat tinggi sebagai bentuk
penghormatan terakhirnya.
Hari-Hari Terakhir Kaisar Guang Xu
Setelah kegagalan
Reformasi Seratus Hari pada tahun 1898, Kaisar Guang Xu menghabiskan 10 tahun
terakhir hidupnya dalam isolasi total. Ia ditempatkan di rumah tahanan di
Paviliun Yintai, sebuah pulau kecil di kompleks istana Zhong Nan Hai.
Ia kehilangan
seluruh kekuatan politik dan hak kebebasannya. Penjagaannya sangat ketat dan ia
dilarang berkomunikasi dengan dunia luar. Kondisi kesehatannya terus memburuk
akibat depresi berat, frustasi, dan lingkungan isolasi yang tidak sehat.
Di suatu
pagi hari, ada sebuah kiriman makanan berupa semangkuk yoghurt (atau sup kental)
dikirimkan dari istana Ibu Suri Cixi ke pavilion tempat Kaisar Guang Xu
diisolasi. Karena makanan yang dikirim langsung dari Ibu Suri tidak boleh
ditolak atau diuji oleh pencicip makanan biasa, kaisar pun memakannya.
Awalnya, Kaisar
Guang Xu tampak relatif stabil. Namun tidak lama setelah mangkuk itu kosong,
tiba-tiba mengeluhkan sakit perut yang sangat parah. Ia juga mengalami
kesemutan yang hebat di bagian tangan. Berdasarkan catatan dokter kekaisaran,
wajah kaisar perlahan berubah menjadi Biru keunguan. Kaisar Guang Xu pun wafat pada tanggal 14 November 1908.
 |
| Pemakaman Kaisar Guang Xu |
Selama hampir
satu abad, catatan resmi Dinasti Qing menyatakan bahwa Kaisar Guang Xu
meninggal karena sakit parah yang berkepanjangan. Namun, hal yang mengganjal
juga terjadi sehari kemudian, yaitu wafatnya Ibu Suri Cixi. Kedua hal itu
memicu kecurigaan besar di kalangan sejarawan.
Sesaat setelah
Kaisar Guang Xu dipastikan tewas, Ibu Suri Cixi mengeluarkan dekrit kekaisaran
terakhirnya. Ia menunjuk Puyi, balita berusia 2 tahun yang merupakan keponakan
Guangxu, sebagai kaisar baru (Kaisar Xuantong). Langkah cepat ini sengaja
diambil agar kekuasaan tidak jatuh ke tangan faksi pro-reformasi.
Pada tahun
2008, peneliti Tiongkok melakukan tes forensic mutakhir terhadap sisa rambut,
tulang, dan pakaian jenazah Kaisar Guangxu. Hasil tes laboratorium menunjukkan
kadar arsenik dalam tubuh Kaisar Guang Xu mencapai 2.400 kali lipat lebih
tinggi dari Tingkat normal manusia. Temuan ini memastikan secara mutlak bahwa Kaisar
Guang Xu tewas karena diracun.
Meskipun bukti
racun sudah pasti, dokumen resmi tentang siapa yang menuangkan racun tersebut
tidak pernah ditemukan. Namun, mayoritas sejarawan menunjuk Ibu Suri Cixi
sebagai dalang utamanya.
Kaisar Guang
Xu, selama hidupnya terkenal memiliki ketertarikan mendalam pada teknologi
modern, termasuk jam. Kaisar Guang Xu sangat mengagumi mekanika zimingzhong –
jam yang dapat berbunyi dan bergerak sendiri. Koleksi bersejarah ini mencakup
karya-karya dari Inggris, Prancis, Swiss, serta lokakarya istana di Guang Zhou
dan Su Zhou.