23 June 2025

Puisi Untuk Pak Jokowi

Karya: laksmana


Baru kemarin, aku melalui hari-hari berperang

Yah, berperang bersama Pak Jokowi

Langkah tertatih menahan virus ganas

Yang bahkan saat ini kami tidak ingin ingat lagi nama virusnya


Baru kemarin, aku melihat festival budaya

Yah, festival budaya bangsa Indonesia selama sepuluh tahun penuh

Di hari kemerdekaan Republik Indonesia, di istana presiden


Baru kemarin, aku menyaksikan bangsa yang ajaib

Semua di sekitarku dipenuhi cahaya berwarna-warni baik siang mau pun malam

Menyambut ASEAN GAMES yang dipersiapkan dengan sangat sempurna

Hingga membanggakan masyarakat Indonesia


Baru kemarin, aku menyaksikan Pak Jokowi berjalan di Pasar Palmerah

Aku termenung lalu merenung

Apakah ini pekerjaan Pak Jokowi yang harus pergi ke Pasar sendiri? 

Pergi ke pasar untuk apa? 

Bukan untuk berpesta belanja, tetapi untuk apa? 

Ketakutan atas jeritan rakyat miskin

Menjerit-jerit mengganggu tidur Sang Presiden 

Penyebab pagi-pagi buta Pak Jokowi pergi ke pasar

Untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap di titik rendah

Serendah-rendahnya, asal setiap masyarakat

Mampu memenuhi kebutuhan dasarnya


Berapa banyak perjuangan Pak Jokowi menjadi tameng penyakit masyarakat? 

Berapa banyak zona bahaya yang dilalui Pak Jokowi? 

Berapa banyak jurang kematian yang diseberangi Pak Jokowi? 

Hati gundah melihat Pak Jokowi berjuang sendirian

Melihat keluar lalu melihat ke dalam

Kemudian mencari cara terbaik agar masyarakat Indonesia 

Agar Indonesia tetap stabil di tengah isu perpecahan antar negara


Tak terasa, satu hari demi satu hari

Satu bulan demi satu bulan

Satu tahun demi satu tahun

Waktu berjalan bagai berlari

Tak terasa sepuluh tahun bersama Pak Jokowi


Air mata pun menitik

Di tahun-tahun muda ku

Akankah ku menjadi saksi sejarah 

Bagaimana prestasi dibalas dengan culas? 

Prestasi dipaksa menjadi kasus? 

Sungguh menyedihkan sekali masyarakat dewasa ini

Bagaimana kita sudah tak kenal rasa bakti? 

Bagaimana bangsa sudah kehilangan rasa tahu diri? 


Pak Jokowi, bagaimana pun keadaan mu saat ini? 

Sungguh sangat berterima kasih atas ribuan jalan leluasa

Yang telah kau persembahkan bagi kami masyarakat Indonesia

Terima kasih atas keselamatan yang Kau berikan

Semua boleh disimpulkan ketika bagaimana Presiden menjadi penyelamat di tahun 2020


Selamat menikmati masa-masa pensiun Pak Jokowi

Dan selamat hari ulang tahun ke-64

Semoga Bapak senantiasa sehat-sehat selalu

Dan bahagia selalu

16 June 2025

Mari Kita Mendaur Ulang Kertas

Gambar Hanya Ilustrasi

Di tahun 2010, ada sebuah stasiun televisi yang sangat mengubah paradigma dunia yang juga menginspirasi ku. Stasiun televisi tersebut adalah saluran Cinta Kasih, Daai TV. Daai TV adalah stasiun televisi milik Yayasan Buddha Tzu Chi yang bergerak dibidang Lingkungan dan Kemanusiaan yang bersifat Humanis. Acara-acara televisi mereka banyak sekali mengisahkan hal-hal yang bermakna seperti saat itu isu Global Warming, penghijauan, daur ulang sampah (3R, Reuse, Reduce, Recycle), dan juga bagaimana kita bersumbangsih dan berkontribusi dalam kehidupan alam dan sesame manusia. Isu-isu tersebut sangat diangkat oleh stasiun televisi tersebut.

Aku sangat ingat, bagaimana saat itu stasiun Daai TV sangat menginspirasi ku, bocah SMP kelas 9. Aku sangat ingat dengan jelas, di semester dua di kelas 9, aku mulai praktek membuat bubur kertas yang dicampur lem. Bagi anak-anak yang lain, untuk membuat kertas daur ulang harus menggunakan lem fox tapi aku mengganti lem mahal tersebut dengan tepung sagu.

Di keluarga ku, mungkin hanya aku yang begitu kritis soal daur ulang kertas. Aku mulai menghancurkan koran-koran yang tak terpakai dengan air dan membuat bubur kertas kemudian menambahkan tepung sagu ke dalam bubur kertas, kemudian mendiamkannya semalam. Esok harinya aku mulai menyaring cairan kertas tersebut dengan saringan dapur yang cetek, kemudian menjemurnya di bawah sinar matahari hingga kering. Aku sangat puas, karena cukup banyak kertas daur ulang yang kuhasilkan.

Tentu hal ini hanya aku yang berinisiatif lakukan sendiri tanpa disuruh orang tua, sekolah, mau pun Vihara. Kertas daur ulang tersebut kupakai untuk kotrekan mata pelajaran Matematika.

Daur ulang kertas yang kedua. Dari kelas 7 hingga kelas 9, aku tidak pernah membuang buku catatan Pelajaran ku. Karena buku-buku dari kelas 7 harus aku simpan sampai kelas 9 sebagai bahan Pelajaran untuk Ujian Akhir Nasional. Dan karena banyak sekali sisa-sisa kertas kosong di buku-buku catatan yang lalu-lalu, aku merobek kertas-kertas yang masih kosong dan layak pakai tersebut dari buku-buku catatan yang aku simpan. Kemudian mengumpulkannya dan menjahitnya menjadi sebuah buku dengan cover buku bekas yang menurutku paling bagus dan kemudian meminta tolong nenek ku untuk menjahitnya agar tidak terlepas-lepas. Dan kemudian aku memakainya di sekolah sebagai buku catatan.

Aku sangat bangga sekali. Teman sebangku ku memuji ku sangat kreatif. Dan itulah hal pertama yang kulakukan yang sangat kuingat dan masih ku simpan di hati hingga saat ini.

Kembang Tahu Matahari

Gambar Hanya Ilustrasi

Hari itu aku sekitar kelas empat sekolah dasar. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke pabrik kembang tahu milik Kuang Sheng Fo Thang yaitu kembang tahu Matahari.

Pabrik kembang tahu Matahari terletak di TA yaitu… Tangga Asem, Sewan, Tangerang (bukan TA nya Jakarta Barat, Taman Anggrek, hehe…)

Di sana sangat seru sekali yaitu memperhatikan proses pembuatan kembang tahu. Tentu hal ini sangat seru sekali untuk anak kelas empat SD. Pertama kalinya pergi ke pabrik yang membuat sesuatu, yaitu Kembang Tahu.

Pabrik kembang tahu tersebut didirikan oleh Pandita Lim yang juga merupakan salah satu usaha Fo Thang. Secara pribadi, Pandita Lim juga memiliki pabrik tahu di rumahnya, dan pabrik kembang tahu dibuatnya sebagai biaya operasional Kuang Sheng Fo Thang.

Saat itu, banyak sekali kacang kedelai hingga berkarung-karung. Ada timbangan yang sangat besar untuk menimbang kacang-kacang kedelai. Waktu itu kami semua (umat yang ada di sana) iseng menimbang berat badan kami masing-masing dengan timbangan tersebut. Dan aku tak menyangka berat badanku… (rahasia… hehe…).

Ada pun proses pembuatan kembang tahu. Kacang kedelai digiling hingga menjadi susu kacang. Susu kacang dipanaskan hingga bagian permukaannya mengering. Setelah itu, bagian permukaannya yang kering diangkat perlahan dengan kayu dan kemudian dijemur untuk dikeringkan. Benar-benar seru sekali.

Selain menghasilkan kembang tahu yang premium. Pabrik juga menghasilkan ampas kembang tahu. Yaitu sisa ampas susu kacang kedelai yang mengering di dasar panci segi empat tempat memanaskan sari kacang kedelai. Sisa ampas kembang tahu kemudian dibawa pulang ke Kuang Sheng dan kemudian ampas kembang tahu diolah lagi menjadi ikan vegetarian yang digulung dengan nori. Kemudian dikukus dan digoreng. Rasanya sangat harum dan enak sekali. Ikan dari ampas kembang tahu ini juga sempat dijual di koperasi Kuang Sheng dan sangat laku sekali. Yang membuat ini adalah Chen Ayi ( Chen Cie Niang).

Kembang tahu kemudian diberi merek Matahari dan sempat dipasarkan di supermarket dan Pasar Lama, Tangerang. Tapi kemudian keseruan itu berakhir di tahun 2005, saat pabrik mulai kekurangan karyawan.

10 June 2025

Toko Jamu "Tjap Nyonya Kaya" Milik Ryu Kintaro


Aku tidak pernah menyangka bahwa seorang anak laki-laki bisa membuka usaha dan meracik ramuan jamunya sendiri.

Hari ini, Rabu tanggal 4 Juni 2025, pagi yang cerah. Hari ini aku berencana pergi ke sebuah toko jamu. Bukan karena tubuhku tidak enak, pinggang ku encok, atau yang lainnya. Melainkan aku penasaran dengan usaha jamu anak yang berumur Sembilan tahun, milik Ryu Kintaro.

Siapa itu Ryu Kintaro? Mungkin satu Indonesia hampir mengenalnya, karena ia banyak masuk acara televisi dan juga sangat viral di media sosial. Sepertinya hampir setiap orang mengenalnya sebagai wirausahawan cilik yang paling muda di Indonesia.

Baiklah aku mulai meneliti media sosialnya. Dan kupikir dia adalah anak yang menarik dan juga kreatif. Dia banyak diundang ke podcast-podcast artis-artis yang terkenal. Hal itulah yang membuatku penasaran dengan rasa jamu yang ia resepkan sendiri. Di sisi lain dia juga seorang yang sangat suka membaur dengan orang lain dan sangat rendah hati.

Kembali ke cerita ku pergi ke toko Jamu “Tjap Nyonya Kaya” milik Ryu Kintaro. Saat itu kira-kira jam sebelas siang, aku tiba di toko Jamu “Tjap Nyonya Kaya”. Aku disambut dengan ramah oleh karyawan kasir di toko tersebut. Beliau menyodorkan beberapa menu Jamu. Aku memilih-milih jamu mana yang menyesuaikan dengan  kondisi tubuh ku sekarang.

Kalau dulu setiap kali minum jamu, aku selalu minum jamu Beras Kencur. Tapi aku pernah melihat di Instagram “Tjap Nyonya Kaya”, kita bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan mbaknya mengenai jamu yang cocok dengan keadaan tubuh kita sekarang. Saat itu perutku agak kurang nyaman dan aku bertanya, “mana yang cocok untuk perut yang sakit maag? Jamu Banyu Kunyit dan jamu Banyu Kencur?”.

Jamu Banyu Kunyit

“Jamu Banyu Kunyit yang cocok untuk sakit maag, tuan”, katanya.

“Kalau begitu saya pesan jamu Banyu Kunyit satu”, jelasku pada mbak-nya.

“Di take away atau minum di sini?”, tanya beliau.

“Minum di sini”, kata ku.

Aku pun membayarnya dan menunggunya di meja.

Tidak sampai lima belas menit, segelas jamu dengan gelas yang estetik berwarna kuning itu datang. Aku sangat berekspetasi tinggi dengan jamu ini. Di atasnya ditabur potongan sereh yang diiris miring. Bukannya ingin membandingkan, tapi aku juga seseorang yang suka dengan jamu sedari aku masih sangat kecil. Tentu aku agak paham dengan rasa jamu yang pekat atau tidak.

Aku meminumnya seteguk, dan rasa hangat jahe langsung menyelimuti tenggorokan ku. Aku merasa indra perasa ku merasakan kunyit yang agak pekat. Tapi entah mengapa, aku merasa jamu Banyu Kunyit ini agak berbeda dengan jamu yang selama ini ku minum.

Tapi yang membuatku sangat mendapatkan pengalaman terbaiknya adalah, bahwa jamu ini diresepkan oleh seorang anak berumur Sembilan tahun, Ryu Kintaro. Hampir tidak percaya.

Saat itu aku datang ketika cuaca sangat panas dan entah mengapa toko jamu “Tjap Nyonya Kaya” sangat sepi pada hari biasa, hanya ada seorang gadis duduk di sana. Dan benar saja, atmosfirnya terasa berbeda dengan yang kubayangkan selama ini dan tempatnya memang sangat nyaman, tapi mungkin agak terbatas jikalau sedang ramai. Semoga kelak toko jamu "Tjap Nyonya" bisa memperluas kafe jamu nya.

02 June 2025

Kisah di Balik Cetya Rumah Saya

Setiap kenangan pasti ada ceritanya. Termasuk susah payah berjodoh dengan rupang-rupang Sien Fo ini. 

1. Rupang Maitreya

Awalnya, Cetya rumah saya hanya ada rupang Chi Kung Lao She. Namun sekitar tahun 2015-2016 kita mulai menambah rupang Maitreya dan Avalokitesvara. Adalah upaya keluarga untuk menambah semangat keluarga dalam bersembah-sujud kepada Para Buddha-Para Suci. Rupang Buddha Maitreya ini dibeli di Koperasi Guang En di Vihara Kuang Hua. Awalnya sebelum membeli rupang ini harganya Rp980.000. Tapi ketika membeli rupang ini, harga dolar naik sehingga harga rupang ini sekitar Rp1.200.000. Ketika itu mama saya ada kelas di Kuang Hua. Pulang dari sana, betapa kagetnya saya, tiba-tiba mama saya membawa kantung plastik transparan berisi rupang Maitreya. Saat itu di Vihara Kuang Sheng, penceramah Huang ada merekomendasi beberapa rupang Avalokitesvara yang ada di Kuang Sheng. Tapi karena belum berjodoh dengan penglihatan papa, papa belum mau memilih rupang Kwan Im yang ada di Vihara Kuang Sheng. 


2. Rupang Avalokitesvara

Setelah membeli rupang Maitreya selanjutnya adalah pergi ke Pasar Lama mencari rupang Dewi Kwan Im. Di sebuah toko peralatan sembahyang yang sederhana, yang saat ini sudah tidak ada lagi. Ayahku membeli patung Avalokitesvara ini dengan harga yang cukup tinggi dari harga yang ditawarkan pedagangnya. Pedagang patung ini mengeluarkan harga Rp850.000 untuk harga rupang Kwan Im. Tetapi entah bagaimana kesepakatan itu justru malah berhasil di angka Rp980. 0000. Dan setelah itu dilapisi Kim Cua dan dimasukan ke dalam kotak merah. Hal yang menarik adalah saat itu bertemu dengan seseorang yang mengatakan alangkah baiknya beli patung yang terbuat dari batu atau kayu supaya ada isinya. Tetapi mama dan papa bersepakat membeli yang keramik karena justru hanya ingin mempelajari semangat dari Avalokitesvara. Bukan ingin mencari yang aneh-aneh. Meski pun begitu aku merasa Rupang Avalokitesvara ini kurang tersenyum dan lebih cenderung murung. Namun beberapa kali ketika kami hendak bersembah-sujud, rupang Kwan Im ini kadang tersenyum. 


3. Rupang Chi Kung Lao She

Chi Kung Lao She adalah rupang pertama altar saya. Saat itu tahun 1998, berdasarkan voting keluarga hanya papa saya saja yang memilih untuk pasang rupang Kwan Im. Mama dan kakak perempuan ku lebih berjodoh dengan Chi Kung Lao She. Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama, keluarga saya lebih berjodoh dengan Chi Kung Lao She di tahun 1998. Dan saat itu hanya ada rupang Chi Kung Lao She di altar kami yang pertama. Kami saat itu membeli satu set altar seharga Rp2.000.000 saja. Saat itu Pandita Lim menyumbang altar untuk Cetya rumah saya. Hanya saja mama ku bersikeras mengembalikan uang Rp2.000.000 itu kepada Pandita Lim. Tapi pada akhirnya Pandita Lim menyumbangkan kembali uang itu ke Vihara Kuang Sheng. 


4. Rupang Sang Buddha

Di tahun 2020, saya pribadi membeli rupang Sang Buddha. Di tahun-tahun sebelum 2020, saat saya masih ada di Kuang Sheng Fo Thang, saya banyak membaca cerita dan komik tentang Sang Buddha. Di saat bersamaan, jodoh saya dengan umat beraliran Buddha Theravada juga sangat baik. Kebetulan saya dulu bagian mading di Kuang Sheng, mading bagi saya adalah cara pertama saya untuk menyempurnakan umat baru. Saat itu banyak wejangan Sang Buddha yang saya desain terinspirasi dari Dhammapada dan umat remaja yang beragama Buddha. Di sini saya ingin sekali umat-umat beragama Buddha agar semangat dalam membina diri. Berdasarkan semangat itulah, jodoh saya dengan Sang Buddha semakin dalam dari tahun ke tahun. 


5. Rupang Ksitigarbha

Ksitigarbha adalah rupang terakhir yang saya beli secara online di tahun 2024. Saat membeli rupang beliau, saya tidak menyadari bahwa dua hari kemudian merupakan hari kelahiran Sang Ksitigarbha. Dan juga ketika dikirim, sang penjual ada menyelipkan uang Rp50.000,- dililitkan di tongkat Ti Cang Ku Fo.Ti Cang Ku Fo adalah Buddha Raja Neraka. Mengapa saya membeli rupang beliau? Saya terinspirasi dari semangat mama yang selalu melantunkan nama Ti Cang Ku Fo selama perjalanan di mobil. Kata mamaku jika melantunkan nama Ti Cang Ku Fo segala halangan akan dipermudah dan juga aku sangat menyukai Ti Cang Ku Fo dari masih kecil. Di sisi lain, kampung halaman ayah dan ibuku yang masyarakat di sana lebih banyak bersembahyang Ti Cang Ku Fo.