16 December 2024

Zhong Yong (Jalan Tengah)

Disclaimer:

Saya hanya menulis apa yang saya dengar dan apa yang saya tangkap. Jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung mohon dimaafkan dan dimaklumi.



Penceramah: Pandita Lin (Lin Dian Chuan Shi)


“Zhong Yong” adalah Kitab kedua Kong Hu Cu kedua setelah “Da Xue”. Bagian dari lima Sutra Utama. Dari Kitab “Li Ji”. Pancaran ketiga yaitu Pancaran Putih membina diri dengan Falsafah Kong Hu Cu. Naskah “Zhong Yong” merupakan naskah hati dari seluruh Nabi.

Ingin memahami Alam Semesta harus memahami diri sendiri terlebih dahulu.


“Zhong”: Tengah (tidak menyimpang)

“Yong”: Tidak bergeser


Yaitu tentang; bila hati kita tidak condong atau bergeser maka sesuai dengan kebenaran. Dao mencerminkan Hati yang tenang, tidak memikirkan apa-apa sehingga diperlukan ajaran-ajaran. Firman Tuhan adalah Kuasa Tuhan di dalam diri kita adalah sifat Tuhan ada di dalam diri kita. Lima sifat mulia menggambarkan sifat Tuhan yang ada di dalam diri manusia. Ajaran adalah sarana untuk kita membina diri kepada jiwa sejati.

 

Yin dan Yang:

Sebaik-baiknya orang masih ada yang negatif.

Seburuk-buruknya orang masih ada positif.

 

“Dao yang sejati tidak boleh ditinggalkan”.

Lao Shi – Shi Mu mengatakan manusia adalah Buddha tersesat. Maksudnya bukan berbuat kejahatan, tetapi tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bukan Tao; kekayaan, kenamaan, kedudukan. Dao ada di tempat yang rendah.

Dia yang tidak terlihat dan terdengar adalah niat hati dan pikiran. Niat hati dan pikiran membentuk perilaku dan sifat terhadap orang lain. Harus waspada terhadap niat hati dan pikiran. Kita harus tidak munafik. Setiap waktu harus waspada dengan diri sendiri karena semua yang tidak terlihat tahu.

Perasaan yang dilandasi arif adalah kasih universal. Buddha membina diri pandai mengendalikan perasaan. Manusia awam tidak bisa mengendalikan diri. Membina diri tidak boleh membeda-bedakan karena itu artinya kita terbawa perasaan. Ji Gong Lao Shi mengatakan “Dao Chang" adalah tempat transit menuju surga.

Nikmatilah Pekerjaan

Pekerjaan adalah apa yang memunculkan protagonis internal kita.

 


Sukacita ada di dalam diri kita sendiri.

 

Ada sebuah ajaran yang katanya diberikan oleh pendeta Zen Rinzai kepada para bhiksunya di dalam pelatihannya: “Jadilah master ke mana pun kau pergi. Maka, di mana pun kau menemukan dirimu, segalanya akan menjadi seperti apa adanya.”

Terlepas dari apa pun kondisi atau situasinya, berusahalah selalu memunculkan diri sejati kita – protagonis internal kita – untuk menghadapi apa pun.

Ketika ada sesuatu yang sulit yang harus kita lakukan, sering kali kita ingin mengeluh. Kita biasanya berkata, “Kenapa aku yang melakukannya,” atau “mereka mau ngerjain aku.” Tetapi dengan sikap seperti ini, sangat sulit menemukan sukacita di dalam pekerjaan.

Orang yang melakukan apa yang terbaik untuk menikmati apa yang ada di hadapannya akan memiliki peluang terbesar untuk menemukan kedamaian di hati. Sering kali, apa pun yang sedang mereka nikmati – apa yang ada di hadapannya – memiliki potensi untuk beralih menjadi peluang.

Tempat kita menemukan diri kita di saat ini, peran yang sedang kita jalani, orang-orang yang kita temui hari ini, setiap hal kecil… Kita tak pernah tahu apa yang mungkin akan menjadi peluang. Berhentilah menyepelekan apa yang sedang kita lakukan, dan mulailah hidup.