19 May 2026

Belajar Memberi Dari Seorang Anak Kecil



Ada seorang anak kecil yang ingin belajar memberi untuk anak-anak seusianya. Ibunya memiliki sebuah Rumah Makan yang sederhana.


Suatu saat sang anak melihat banyak sekali anak jalanan yang bermain di dekat Rumah Makan ibunya. Akan tetapi anak-anak jalanan tersebut tidak memiliki apa-apa untuk dimakan.


Melihat hal itu, anak pemilik rumah makan itu ingin membagikan sesuatu kepada anak-anak kecil itu. Tetapi ia tidak punya cukup uang untuk membeli makanan atau pun minuman untuk anak-anak jalanan tersebut.


Suatu ketika, ia iseng pergi ke minimarket untuk melihat apakah ada camilan atau minuman yang murah yang bisa dibagikan kepada anak-anak jalanan tersebut.


Ia melihat harapan. Ada sebungkus permen berisi dua puluh buah permen kecil-kecil. Tanpa pikir panjang, ia langsung membelinya dan dibagi-bagikan kepada anak-anak jalanan tersebut.


Melihat hal itu, akhirnya sang ibu bangga dan terharu melihat sikap anaknya. Sang ibu akhirnya selalu menyediakan permen di Rumah Makan nya dan selalu memberi permen tersebut kepada kurir atau karyawan Rumah Makan nya. Dan tak lupa membagikannya kepada anak-anak jalanan lainnya.

Belajar Untuk Memberi



Hari ini aku memulai kembali kehidupan ku sebagai karyawan Kedai Vege, Jakarta. Sudah setahun belakangan ini, aku tinggal di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Karena satu-dua hal, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tempat Kakak Perempuan ku.


Seperti biasa, karyawan yang juga rekan kerja ku, Sahrul, memasak sayur untuk dijual. Kami, Kedai Vege, menjual makanan prasmanan dan juga menu yang unik-unik. Sahrul juga suka membuat Risoles isi kentang dan wortel untuk dijual.


Suatu saat, aku melangkah keluar mendapati Risoles yang separuh dimakan "pelanggan" dibuang di depan pintu Kedai Vege. Sontak aku merasa sedih. Risoles itu susah-susah dibuat oleh Sahrul, pembuatannya rumit benar. Harus membuat isiannya kemudian membuat kulitnya. Belum Sahrul yang mati-matian mengisi dengan takaran yang pas dan menggulung Risoles tersebut dan membalurnya dengan tepung roti hingga digoreng dengan sempurna. Akan tetapi, perasaan penuh kasih sayang itu, hancur karena setengah Risoles yang dimakan "pelanggan" itu dibuang di depan pintu Kedai Vege.


Hatiku hancur membayangkan Sahrul melihat hal itu. Dan benar saja, Sahrul yang melihat hal itu berwajah masam dan selalu pergi ke luar-luar selagi ada waktu senggang seolah menenangkan diri. Belum lagi beban moril saat setiap malam sayuran prasmanan kami yang tersisa dibuang ke sampah.


Aku sangat sedih dan dalam hati berpikir, "ini adalah pemborosan dan menyia-nyiakan makanan".


Aku merasa sangat sayang dan berpikir; di sisi lain banyak sekali orang-orang yang membutuhkan makanan. Mereka untuk makan atau membeli makanan saja masih belum tentu mempunyai uang. Padahal mereka membutuhkan makanan untuk tenaga mereka untuk bekerja dan beraktifitas.


Kebetulan sayuran yang sering dibuang adalah sayuran-sayuran yang banyak antioksidan dan bagus untuk orang-orang yang bekerja jarang makan sayur. Sehingga aku memutuskan untuk memberi nasi dan sayuran itu secara gratis kepada orang yang membutuhkan.


Aku membungkusnya nasi dan sayuran dan gorengan yang sisa. Teteh-Teteh di Kedai Vege menyarankan ku untuk memberi Telur Semur atau Telur Balado supaya setiap hari sayuran kami bisa diganti-ganti.


Aku sungguh gembira dan bangga. Dengan demikian kami tidak memboroskan makanan lagi. Aku juga tidak ingin menganggap makanan adalah sampah. Aku merasa lega dan batinku merasa bahagia.


Aku berharap setiap orang bisa menghargai makanannya. Meski pun, makanannya mereka beli sendiri, tetapi itu adalah menyayangi rezeki yang mereka hasilkan sendiri yang Tuhan berikan melalui kerja keras mereka. Karena, di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi.