16 June 2025

Mari Kita Mendaur Ulang Kertas

Gambar Hanya Ilustrasi

Di tahun 2010, ada sebuah stasiun televisi yang sangat mengubah paradigma dunia yang juga menginspirasi ku. Stasiun televisi tersebut adalah saluran Cinta Kasih, Daai TV. Daai TV adalah stasiun televisi milik Yayasan Buddha Tzu Chi yang bergerak dibidang Lingkungan dan Kemanusiaan yang bersifat Humanis. Acara-acara televisi mereka banyak sekali mengisahkan hal-hal yang bermakna seperti saat itu isu Global Warming, penghijauan, daur ulang sampah (3R, Reuse, Reduce, Recycle), dan juga bagaimana kita bersumbangsih dan berkontribusi dalam kehidupan alam dan sesame manusia. Isu-isu tersebut sangat diangkat oleh stasiun televisi tersebut.

Aku sangat ingat, bagaimana saat itu stasiun Daai TV sangat menginspirasi ku, bocah SMP kelas 9. Aku sangat ingat dengan jelas, di semester dua di kelas 9, aku mulai praktek membuat bubur kertas yang dicampur lem. Bagi anak-anak yang lain, untuk membuat kertas daur ulang harus menggunakan lem fox tapi aku mengganti lem mahal tersebut dengan tepung sagu.

Di keluarga ku, mungkin hanya aku yang begitu kritis soal daur ulang kertas. Aku mulai menghancurkan koran-koran yang tak terpakai dengan air dan membuat bubur kertas kemudian menambahkan tepung sagu ke dalam bubur kertas, kemudian mendiamkannya semalam. Esok harinya aku mulai menyaring cairan kertas tersebut dengan saringan dapur yang cetek, kemudian menjemurnya di bawah sinar matahari hingga kering. Aku sangat puas, karena cukup banyak kertas daur ulang yang kuhasilkan.

Tentu hal ini hanya aku yang berinisiatif lakukan sendiri tanpa disuruh orang tua, sekolah, mau pun Vihara. Kertas daur ulang tersebut kupakai untuk kotrekan mata pelajaran Matematika.

Daur ulang kertas yang kedua. Dari kelas 7 hingga kelas 9, aku tidak pernah membuang buku catatan Pelajaran ku. Karena buku-buku dari kelas 7 harus aku simpan sampai kelas 9 sebagai bahan Pelajaran untuk Ujian Akhir Nasional. Dan karena banyak sekali sisa-sisa kertas kosong di buku-buku catatan yang lalu-lalu, aku merobek kertas-kertas yang masih kosong dan layak pakai tersebut dari buku-buku catatan yang aku simpan. Kemudian mengumpulkannya dan menjahitnya menjadi sebuah buku dengan cover buku bekas yang menurutku paling bagus dan kemudian meminta tolong nenek ku untuk menjahitnya agar tidak terlepas-lepas. Dan kemudian aku memakainya di sekolah sebagai buku catatan.

Aku sangat bangga sekali. Teman sebangku ku memuji ku sangat kreatif. Dan itulah hal pertama yang kulakukan yang sangat kuingat dan masih ku simpan di hati hingga saat ini.

Kembang Tahu Matahari

Gambar Hanya Ilustrasi

Hari itu aku sekitar kelas empat sekolah dasar. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke pabrik kembang tahu milik Kuang Sheng Fo Thang yaitu kembang tahu Matahari.

Pabrik kembang tahu Matahari terletak di TA yaitu… Tangga Asem, Sewan, Tangerang (bukan TA nya Jakarta Barat, Taman Anggrek, hehe…)

Di sana sangat seru sekali yaitu memperhatikan proses pembuatan kembang tahu. Tentu hal ini sangat seru sekali untuk anak kelas empat SD. Pertama kalinya pergi ke pabrik yang membuat sesuatu, yaitu Kembang Tahu.

Pabrik kembang tahu tersebut didirikan oleh Pandita Lim yang juga merupakan salah satu usaha Fo Thang. Secara pribadi, Pandita Lim juga memiliki pabrik tahu di rumahnya, dan pabrik kembang tahu dibuatnya sebagai biaya operasional Kuang Sheng Fo Thang.

Saat itu, banyak sekali kacang kedelai hingga berkarung-karung. Ada timbangan yang sangat besar untuk menimbang kacang-kacang kedelai. Waktu itu kami semua (umat yang ada di sana) iseng menimbang berat badan kami masing-masing dengan timbangan tersebut. Dan aku tak menyangka berat badanku… (rahasia… hehe…).

Ada pun proses pembuatan kembang tahu. Kacang kedelai digiling hingga menjadi susu kacang. Susu kacang dipanaskan hingga bagian permukaannya mengering. Setelah itu, bagian permukaannya yang kering diangkat perlahan dengan kayu dan kemudian dijemur untuk dikeringkan. Benar-benar seru sekali.

Selain menghasilkan kembang tahu yang premium. Pabrik juga menghasilkan ampas kembang tahu. Yaitu sisa ampas susu kacang kedelai yang mengering di dasar panci segi empat tempat memanaskan sari kacang kedelai. Sisa ampas kembang tahu kemudian dibawa pulang ke Kuang Sheng dan kemudian ampas kembang tahu diolah lagi menjadi ikan vegetarian yang digulung dengan nori. Kemudian dikukus dan digoreng. Rasanya sangat harum dan enak sekali. Ikan dari ampas kembang tahu ini juga sempat dijual di koperasi Kuang Sheng dan sangat laku sekali. Yang membuat ini adalah Chen Ayi ( Chen Cie Niang).

Kembang tahu kemudian diberi merek Matahari dan sempat dipasarkan di supermarket dan Pasar Lama, Tangerang. Tapi kemudian keseruan itu berakhir di tahun 2005, saat pabrik mulai kekurangan karyawan.