26 June 2026

Keajaiban Dari Sujud Nurani (Khow Tow)

Di Vihara ku yang beraliran Yi Guan Dao, kami terbiasa melakukan Sujud Nurani (Khow Thow) setiap pagi dan sore menjelang malam. Sekali melakukan sembah sujud, kami umat Yi Guan Dao minimal akan melakukannya seratus kali sujud. Tapi jika ada kegiatan besar atau meminta tolong Lao Mu ada urusan yang cukup besar dan gawat kami akan melakukan seribu kali khow tow.

Teringat Budi besar dari Zhong Hua Sheng Mu di masa lalu. Demi supaya Tao dapat terus disebarkan di pulau Formosa dengan lancar, demi menyelamatkan banyak roh sejati umat manusia, Zhong Hua Sheng Mu melakukan sepuluh ribu kali khow tow dan keesokkan harinya penyebaran Tao dapat dilanjutkan kembali. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian Yi Guan Dao menjadi salah satu organisasi ketuhanan yang paling besar di Taiwan dan tersebar di seluruh pelosok Taiwan. Meski pun akhirnya hal itu membuat Zhong Hua Sheng Mu menjadi jatuh sakit, tetapi Beliau tidak pernah menyesalinya bahkan puas melihat Yi Guan Dao dapat berkembang di seluruh dunia.

Melihat kesaksian itu, aku akhirnya selalu melakukan sujud Nurani setiap pagi dan sore. Setiap pagi seratus kali dan setiap sore lima ratus kali. Tapi jika ada urusan berkaitan dengan nyawa saudara, biasa aku akan mempersembahkan seratus delapan batang dupa dan melakukan seribu kali khow tow untuk saudaraku (aku melakukannya dengan sukarela dan tanpa imbalan).

Suatu ketika, kakak Perempuan ku mendadak sakit perut. Kemudian beliau memutuskan untuk cek USG di rumah sakit. Saat dicek, terdapat benjolan di Rahim yang didiagnosa dokter adalah kista. Kemudian dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di hari berikutnya.

Kakak Perempuan ku pun menelepon ibuku dan bercerita bahwa beliau takut terkena kista dan bingung entah harus bagaimana?

Mendengar hal itu, tanpa ragu, aku membakar seratus delapan batang dupa dan melakukan seribu kali khow tow dan membaca paritta sebanyak dua puluh delapan kali. Semua itu dilimpahkan untuk kakak Perempuan tertua ku. Kakak Perempuan ku adalah seorang Katolik, tetapi aku selalu mendoakan beliau dengan suaminya dengan cara Buddhist. Perbedaan keyakinan tidak membuat kami berhenti untuk saling mendoakan.

Keesokkan harinya, setelah selesai melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beliau kembali menelepon ibu ku dan kembali melaporkan bahwa sesuatu yang disebut kista ternyata adalah janin. Artinya kakak perempuanku tengah mengandung anak.

Aku dan keluargaku sangat senang sekali. Aku tak menyangka, khow tow ku ada gunanya dan membuat mukjizat begitu nyata. Padahal kami sudah sangat khawatir dan ketakutan. Sangat bersyukur kepada Buddha Maitreya dan Ibunda Suci telah memberikan ku selangkah keyakinan dalam pembinaan diri ini dan membebaskan ku dari rasa ketakutan dan memberi kedamaian bagi batin kami.

Pembuktian Pusaka Pertama

Kejadian Pertama

Malam ini aku ada di Guang An Fo Tang. Besok, baru akan diadakan Pekan Pengembangan Jiwa di Vihara Jakarta, Guang An Fo Tang. Malam ini ada umat yang datang dari Vihara Lampung, Guang Xi Fo Tang hendak menginap di Guang An.

Kami umat Guang Ji Indonesia, peserta dan pengabdi mempunyai kebiasaan untuk menginap sehari sebelum kegiatan kita dilaksanakan. Tujuannya supaya kita tidak terlambat dalam mengikuti kegiatan besok yaitu morex (Morning Exercise) bersama.

Malam itu, umat yang datang dari Lampung berjumlah dua orang dan mereka sampai ketika subuh sekitar jam tiga malam. Sebuah perjuangan yang hebat, baru kali ini mendengar dua remaja baru berusia tiga belas tahun berjuang untuk pergi ke Jakarta untuk ikut PPJ SMP tiga hari tiga malam.

Sesampainya mereka di Guang An, mereka diarahkan untuk langsung tidur di Aula. Aku yang saat itu juga sengaja belum tidur untuk menyambut mereka, akhirnya pergi tidur bersama mereka dengan posisi berseberangan.

Aku termenung, malam ini aku sulit tidur. Hari pertama di Guang An Fo Tang (karena Guang An Fo Tang juga baru dibangun terletak di Perumahan Taman Palem, Jakarta Barat).

Aku pun teringat dengan cerita, Sang Buddha yang selalu sadar dan tidak pernah tertidur. Jikalau beliau malam harus beristirahat, Beliau lebih memilih samadhi dan meditasi. Mengatur pernafasan dalam posisi duduk dan sangat jarang dalam posisi tidur.

Saat itu, aku memutuskan untuk memejamkan mata dan fokus pada pusaka pertama tanpa melafalkan nama Buddha. Hanya memejamkan mata dan mulai untuk masuk dalam fase “safe mode” dan juga merasa sangat tenang tanpa berusaha berpikir apa pun.

Meski pun aku sendiri tidak bisa tidur sepanjang malam karena saya juga memiliki anxienty (gangguan kecemasan) tidur yang sangat parah (dulu aku bisa menangis jika tidak bisa tidur sehingga kurang leluasa untuk menginap di vihara). Tetapi sekarang setiap kali tidak bisa tidur, aku menggunakan cara meditasi fokus pada pusaka pertama dan berusaha untuk pasrah dan bersatu dengan alam. Kita adalah bagian dari alam semesta sehingga begitu merasakan Syukur yang amat luar biasa lewat perenungan yang terpusat pada Tiga Pusaka.

Ada remaja dari Lampung yang terbangun dan tidak bisa tidur sepanjang malam itu. Tuhan memberikan ku kesempatan untuk berbagi pengalaman ini dengannya. Dan dia mendengarkannya, dan pergi mempraktekkannya dan ia tidak terbangun lagi malam itu. Ia tertidur hingga pagi.

 

Kejadian Dua

Pertemuan Dharma Dua Hari kemarin, aku bertemu dengan seorang remaja yang baru lulus SMA. Aku menginap di Guang Sheng Fo Tang dan tidur berseberangan dengan anak tersebut.

Anak tersebut tidak bisa tidur lesehan di lantai, walaupun telah dilapisi dengan Kasur Palembang.  Anak tersebut mengeluh sakit pinggang dan punggung ketika tidur di lantai.

Aku menawarkannya untuk melapisi Kasur itu dengan selimut yang dilipat hingga cukup tebal, mana tahu bisa membantu mengurangi sakit pinggang dan punggungnya. Tetapi ia tidak mau.

Aku pun akhirnya menyarankan dia hanya untuk fokus pada pusaka pertama (tanpa membaca nama Buddha) dan akhirnya tak berapa lama ia pun tertidur nyenyak tidak terbangun lagi.

Kemudian tak berapa lama, ketika ia tidur menyamping menghadap ke kiri, aku menambahkan selimut yang dilipat cukup tebal, tepat di punggungnya. Dan malam itu pun, aku melakukan hal yang sama. Aku hanya duduk, fokus ke pusaka pertama, dan akhirnya tertidur hingga pagi pukul lima.