Di Vihara ku yang beraliran Yi Guan Dao, kami terbiasa melakukan Sujud Nurani (Khow Thow) setiap pagi dan sore menjelang malam. Sekali melakukan sembah sujud, kami umat Yi Guan Dao minimal akan melakukannya seratus kali sujud. Tapi jika ada kegiatan besar atau meminta tolong Lao Mu ada urusan yang cukup besar dan gawat kami akan melakukan seribu kali khow tow.
Teringat Budi besar dari Zhong Hua Sheng Mu di masa lalu. Demi supaya Tao dapat terus disebarkan di pulau Formosa dengan lancar, demi menyelamatkan banyak roh sejati umat manusia, Zhong Hua Sheng Mu melakukan sepuluh ribu kali khow tow dan keesokkan harinya penyebaran Tao dapat dilanjutkan kembali. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian Yi Guan Dao menjadi salah satu organisasi ketuhanan yang paling besar di Taiwan dan tersebar di seluruh pelosok Taiwan. Meski pun akhirnya hal itu membuat Zhong Hua Sheng Mu menjadi jatuh sakit, tetapi Beliau tidak pernah menyesalinya bahkan puas melihat Yi Guan Dao dapat berkembang di seluruh dunia.
Melihat kesaksian itu, aku akhirnya selalu melakukan sujud Nurani setiap pagi dan sore. Setiap pagi seratus kali dan setiap sore lima ratus kali. Tapi jika ada urusan berkaitan dengan nyawa saudara, biasa aku akan mempersembahkan seratus delapan batang dupa dan melakukan seribu kali khow tow untuk saudaraku (aku melakukannya dengan sukarela dan tanpa imbalan).
Suatu ketika, kakak Perempuan ku mendadak sakit perut. Kemudian beliau memutuskan untuk cek USG di rumah sakit. Saat dicek, terdapat benjolan di Rahim yang didiagnosa dokter adalah kista. Kemudian dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di hari berikutnya.
Kakak Perempuan ku pun menelepon ibuku dan bercerita bahwa beliau takut terkena kista dan bingung entah harus bagaimana?
Mendengar hal itu, tanpa ragu, aku membakar seratus delapan batang dupa dan melakukan seribu kali khow tow dan membaca paritta sebanyak dua puluh delapan kali. Semua itu dilimpahkan untuk kakak Perempuan tertua ku. Kakak Perempuan ku adalah seorang Katolik, tetapi aku selalu mendoakan beliau dengan suaminya dengan cara Buddhist. Perbedaan keyakinan tidak membuat kami berhenti untuk saling mendoakan.
Keesokkan harinya, setelah selesai melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beliau kembali menelepon ibu ku dan kembali melaporkan bahwa sesuatu yang disebut kista ternyata adalah janin. Artinya kakak perempuanku tengah mengandung anak.
Aku dan keluargaku sangat senang sekali. Aku tak menyangka, khow tow ku ada gunanya dan membuat mukjizat begitu nyata. Padahal kami sudah sangat khawatir dan ketakutan. Sangat bersyukur kepada Buddha Maitreya dan Ibunda Suci telah memberikan ku selangkah keyakinan dalam pembinaan diri ini dan membebaskan ku dari rasa ketakutan dan memberi kedamaian bagi batin kami.



