20 May 2026

Pembahasan Lun Yü; Moral Etika Dalam Kepemimpinan

Penceramah: Huang Ming Yü (Jiang Shi)

Konfusius

Lun yü sudah disebarkan selama 2500 tahun. Kita membina diri adalah mengubah tabiat. Ada tabiat dan emosi yang harus kita ubah. 

Membina diri bukan menunggu sampai tua, tetapi setiap saat kita harus membina diri. Kita harus menggenggam kesempatan ini.

Mempelajari Paritta bukan hanya tahu saja. Kata-kata para suci ibarat cermin bagi diri kita untuk instropeksi diri.

Huruf mandarin dari manusia ada dua goresan yaitu manusia asli dan manusia palsu. Manusia yang asli adalah jiwa sejati kita, manusia yang palsu adalah raga kita. Bisa juga artinya adalah diri kita sendiri dan orang lain. Sebelum menyempurnakan orang lain harus menyempurnakan diri sendiri terlebih dahulu. Orang yang sempurna dalam menjalankan tata krama apakah sudah menjalankan moral etika? Seseorang kalau dalam melakukan segala sesuatu tidak ada welas asih, semua itu hanyalah sandiwara.

Sebuah dinasti kalau berhasil atau tidak itu bisa terdengar dari musik ciptaannya. Zaman sekarang, musik tidak teratur dan kacau balau, hal itu membuat kita mengerti bahwa saat ini kehidupan umat manusia sangatlah kacau.

Cukup kita lantunkan kita bisa merasakan hawa atau energi dari lagu tersebut. Pada zaman dahulu, setiap raja pasti paham akan musik. Dahulu senar musik hanya lima tetapi saat ini senar musik menjadi tujuh. 

Konfusius memuji musik dan moral etika kita jika berasal dari hati kita. Jika kita tidak memiliki welas asih, bagaimana musik bisa dilantunkan dengan indah.

Jika kita tidak membina diri bagaimana melaksanakan Tao? Welas asih sangatlah penting. Jika seorang umat bertanya kepada kita, melalui pertanyaannya kita bisa tahu tahapan belajarnya sampai mana? Jadi jika kita ingin belajar, kita harus rajin bertanya.


Jika Tao dilaksanakan ditampakkan dengan kemewahan lebih baik dilakukan dengan cara sederhana saja. Meski pun kita melakukan upacara sembahyang dengan baik dan rapi tetapi belum tentu menampakkan ketulusan.

Bagi Konfusius untuk melakukan urusan kedukaan harus dengan hati yang sedih dan kedukaan yang dalam untuk melakukan upacara ini, bukan soal biaya yang besar dan kedukaan yang mewah dan memberitahu ke khalayak ramai. Yang terpenting adalah rasa sedih dan duka kita kepada orang tua kita.

Konfusius tidak ingin melihat lagi upacara tersebut. Karena sudah tidak ada hati nuraninya lagi. Apa yang ditampakkan bukan hanya kemewahan saja, tetapi hati juga perlu ditampakkan dalam menjalani sebuah upacara/ritual.

Organ terpenting adalah hati kita bukan jantung kita. 

Mendapatkan Tao itu tidak mudah. Salah satu syaratnya adalah mendapatkan raga sebagai manusia. Wejangan kebanyakan berasal dari negara Tiongkok, jika kita berasal dari negara-negara yang tidak mengenal Tao, mendengarkan Dharma dan mendapatkan Tao itu sangatlah sulit.

Sebagai pemimpin, kita dilihat oleh banyak orang. Sehingga sedikit kekurangan juga bisa disorot oleh orang lain.

Tata krama ada yang namanya senior dan junior. Jika tahu tata krama, kita akan tahu posisi kita ada di mana? Seorang ksatria tidak akan berebut. Kalau memang milik kita, tidak akan lari dikejar, kalau bukan milik kita, kita bersusah payah bagaimana pun juga tidak akan mendapatkannya. 

Yang namanya setia tidak akan ada perebutan. Kata Setia dalam Lun Yü ada tiga puluh kali. Meski pun sekolah tinggi, belum tentu menjadi ksatria. Seseorang jika bisa membaca wejangan suci dari Para Suci adalah seorang ksatria. Seseorang yang pernah mendengar Dharma adalah seorang ksatria.

Seseorang mencapai tahapan ksatria, adalah sosok yang tidak ingin berebutan dengan orang lain. 

Jika kita bertemu lawan kita, kita tetap harus menghormati beliau. Dan mempersilahkan beliau terlebih dahulu. Jika lawan kita kalah, kita menunggu ia turun dan memberi arak untuk minum (perlombaan/pertandingan).

Bukan karena lawan kita, kita ingin menghadapinya dengan mencelakakannya.

Kata-kata yang kita keluarkan harus sesuai dengan tata krama, agar orang yang mendengarnya bisa menerimanya.

Kita tidak boleh sok tahu, tetapi jika ada yang ingin kita sampaikan, nada bicara kita harus bisa sedikit dihaluskan.

Setiap dinasti, pasti ada beberapa budaya yang hilang. Dalam pelaksanaan Tao juga pasti begitu. Yang terpenting adalah tata krama kita, kita punya penghormatan kepada yang lebih tua, semangat kita dalam menjalankan Tao apakah masih sama dengan pendahulu kita dua puluh tahun yang lalu?

Huang Ciang She (Ming Yü) Ching Khou (berikrar vegetarian) sudah lima puluh tahun. Meskipun sudah tua dan kesehatan menurun, Huang Ciang She semaksimal mungkin akan mencatat semua hal yang terjadi di Guang Ji Gong agar orang yang dibelakang bisa membacanya. Jika tidak ditulis, semua hanya akan menjadi cerita saja.

Seorang pemimpin yang bijaksana pasti sangat berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu, sangat takut dan menghormati Tuhan. Kita sebagai seorang raja tahu menghormati langit dan bumi, tindak tanduknya pasti tidak sembarangan. Pasti negaranya bisa ditata dengan baik.

Saat kita berpuja bakti, kita harus sampai tingkatan menganggap Para Suci tersebut berdiri di hadapan kita. Itu baru berpuja bakti dengan tulus.

Jika kita tidak melakukan kebiasaan yang baik setiap hari, kita merasa aneh tidak? Kita harus melakukannya setiap hari (seperti berpuja bakti mau pun menyapa senior atau junior).