Pakaian Tradisional Masyarakat Indonesia Khususnya di Pulau Jawa
Pada zaman dahulu kala, sekitar tahun 1500 Masehi, kebaya merupakan pakaian kaum Keraton Jawa modern yang hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan, yang diadaptasi dari pakaian India dan Timur Tengah. Jauh sebelumnya para wanita hanya memakai kemben sebagai pakaian sehari-hari, yaitu selembar kain yang dililitkan di tubuh wanita yang memanjang hingga mata kaki.
Adalah seorang
wanita yang menemukan kemben di tahun-tahun sebelum masehi. Nama wanita
tersebut Adalah Gendhis. Dahulu nafsu birahi pria dengan wanita tidaklah
terkontrol. Sering kali terjadi kasus pencabulan terhadap wanita yang saat itu belum
mengenal kemben. Di Jawa Kuno, saat masa pra Sejarah, Gendhis Adalah seorang pahlawan
wanita di zaman Kerajaan Majapahit Kuno.
Saat hendak
berjalan-jalan keluar dari komplek istana, Gendhis melihat wanita-wanita nyaris
telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka. Saat itulah Gendhis segera
mencari para penjahit busana untuk kaum bangsawan dan mulai membayar agar para
penjahit membuat kain kemben dengan modal yang sedikit agar kaum wanita bisa
segera mengenakannya.
Kaum wanita-wanita
itu bukannya tidak tahu memakai kemben, tetapi mereka tidak mempunyai uang
untuk membeli kemben. Akhirnya Gendhis pun memberi tiga kain kemben yang
terbuat dari pelepah pisang kepada setiap wanita di desanya. Kabar itu pun
menyebar yang akhirnya membuat para kaum bangsawan pria berusaha memberikan hal
yang terbaik untuk wanita-wanita di pulau Jawa. Dari Jawa Timur (Malang) menyebar hingga ke
Banten, kemudian menyebar ke Sumatera, Sulawesi, dan lainnya.
Penggunaan
Kain Kemben sebagai pakaian tradisional khas Jawa bertahan cukup lama. Namun ternyata
kedatangan Kebaya yang belakangan sebagai pakaian tradisional malah lebih populer
dibanding kemben yang sering terlihat dikenakan oleh Dewa-Dewi Jawa di masa
lalu (seperti Nyi Roro Kidul sering terlihat di berbagai lukisan memakai Kemben
Hias).
Terinspirasi
dari pakaian Dewi-Dewi Hindu India (terutama Dewi Lakshmi), sekelompok
gadis-gadis muda Jawa itu boleh memakai kemben (saat itu bahan pelepah pisang
telah berkembang menjadi kain batik yang indah) (tahun 1400 M) yang ditutupi
oleh selembar kain katun bolong (yaitu kebaya).
Saat itu, sinar
matahari begitu Terik, percobaan pertama mereka memakai kain rayon (tidak
bolong) malah akhirnya membuat mereka gerah, dan kebaya menjiplak tubuh mereka
hingga terlihat warna kulit mereka. Hal ini membuat mereka tidak leluasa dan gerah
memakai kebaya berbahan rayon.
Oleh karena
itu mereka mengubah bahan kain mereka dengan kain katun bolong yang dijahit
mengikuti bentuk tubuh mereka (mereka terinspirasi pakaian adat wanita India)
bedanya mereka menjahit hingga menutupi pinggul dan perut mereka.



